Kamis, 21 Mei 2015

Vonis Mati dan Masa Depan Mesir

Vonis Mati dan Masa Depan Mesir

Ibnu Burdah  ;   Koordinator Program S3 Kajian Timur Tengah,
Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga
KORAN TEMPO, 20 Mei 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Vonis mati terhadap Mursi, Presiden Mesir pertama yang terpilih secara demokratis, dan sejumlah pimpinan teras Al-Ikhwan al-Muslimun (IM) baru-baru ini jelas merupakan rekayasa pengadilan Mesir untuk kepentingan rezim militer yang berkuasa. Demikian pula vonis mati terhadap Mohammad Badie, Mursid 'amm IM, dan sekitar 14 pemimpin IM yang diumumkan beberapa bulan sebelumnya.

Mereka, atau sebagian dari mereka, bahkan berada di pihak korban dalam aksi kekerasan yang dilakukan aparat Mesir pada Agustus 2013 di sekitar Masjib Rab'ah al-Adawiyah tersebut. Saat itu, mereka melakukan aksi duduk besar-besaran di wilayah Rab'ah untuk memprotes pengambilalihan kekuasaan yang dilakukan militer Mesir. Mereka menuntut agar kekuasaan Presiden Mursi, yang dipilih melalui pemilu demokratis, dikembalikan. Namun mereka akhirnya dibubarkan secara paksa oleh militer dengan menggunakan alat-alat berat. Peristiwa tragis yang menyebabkan ribuan orang meninggal itu kini menjadi simbol perlawanan sipil terhadap rezim Sisi.

Mengapa rezim Sisi nekad menjatuhkan vonis mati bagi Mursi dan para pemimpin Ikhwan yang sudah dipenjara? Bahkan, tersiar kabar bahwa eksekusi terhadap para pemimpin dan pengikut Ikhwan tersebut sudah dimulai. Apakah kira-kira vonis itu akan membuat Mesir lebih aman dan dapat dikendalikan sehingga ekonomi negara itu, yang sudah demikian terpuruk, dapat dibangkitkan kembali, sebagaimana pernyataan Sisi berulang kali? Atau justru sebaliknya, Mesir akan menghadapi situasi yang berat lagi sebagaimana pada saat-saat penjatuhan Mubarak dan penjatuhan Presiden Mursi?

Santer diberitakan bahwa negosiasi antara rezim dan para pemimpin Ikhwan itu berjalan intensif di penjara. Bahkan, sebagian aksi proses tersebut dilakukan lewat mediasi pihak asing. Rezim Sisi menyadari benar kekuatan Ikhwan saat ini. Mereka merupakan pemenang pemilu pertama Mesir yang dilakukan secara demokratis. Mereka tumbuh dan besar meski dalam situasi yang sangat sulit. Akar, batang, cabang, daun, dan buah Ikhwan sudah menancap kuat di bumi Mesir. Karena itu, hingga kini, saat organisasi itu dicap sebagai organisasi teroris, kelompok ini masih bertahan.

Namun para pemimpin Ikhwan yang telah dipenjara sepertinya tak bisa ditundukkan. Mereka tetap saja berkeras tak mau mengakui eksistensi rezim militer pimpinan Sisi. Bahkan, saat sidang yang disorot kamera, para pemimpin Ikhwan selalu meneriakkan slogan-slogan kemenangan atau mengacungkan empat jari sebagai simbol perlawanan. Bahkan, Presiden Mursi masih menganggap dirinya sebagai Presiden Mesir yang sah. Ia sering tampil di depan pengadilan dengan mengenakan baju layaknya presiden, meski ia dan para pemimpin Ikhwan itu dikerangkeng.

Vonis mati mungkin dimaksudkan untuk mempengaruhi pendirian kukuh para pemimpin Ikhwan itu agar mau berkompromi dengan kenyataan yang ada sekarang. Kenyataan bahwa yang berkuasa adalah Jenderal Sisi, dan militer kembali menguasai sumber-sumber ekonomi Mesir. Itulah kepentingan utama rezim sekarang, yakni mempertahankan kekuasaan serta penguasaan terhadap sumber ekonomi Mesir.

Vonis ini mungkin juga merupakan ancaman serius bagi pemerintah militer Sisi terhadap gerakan rakyat Mesir yang hingga kini belum reda. Kelompok-kelompok anti-pemerintahan militer dari berbagai aliran, termasuk dari Kelompok Pemuda 6 April, pelopor Revolusi 25 Januari, terus menggelorakan perlawanan.

Mereka memang sulit mengadakan demonstrasi besar-besaran, terutama di tempat strategis seperti Tahrir dan Lapangan Nahdhah. Namun mereka melakukan segala cara untuk menyampaikan pesan perlawanan ini kepada seluruh rakyat Mesir. Meski diberangus dan dibatasi secara amat ketat, media-media baru, seperti Twitter dan Facebook, menjadi andalan bagi penyebaran benih-benih gagasan.

Benih-benih gagasan perlawanan ini begitu masif dan terus menyebar dengan caranya sendiri. Penulis yakin bahwa gagasan untuk melawan rezim militer sudah hampir menjadi common belief di kalangan rakyat Mesir, terutama anak mudanya. Keyakinan bersama ini hanya memerlukan momentum dan pemicu (trigger) untuk terjadinya sebuah gerakan berskala besar sebagaimana sebelumnya. Masa depan Mesir sepertinya mengarah pada gerakan rakyat jilid III.

Dan jika hal itu terjadi, ongkos yang mesti dibayar rakyat Mesir sungguh sangat besar. Mereka sudah berkorban untuk penjatuhan rezim Mubarak, lalu mereka berkorban atau diperalat untuk menjatuhkan Mursi, dan kini mereka mungkin harus berkorban lagi untuk menegakkan "harga diri" serta mengembalikan kedaulatan rakyat yang lagi-lagi telah dirampas oleh rezim.*

***

Penulis yakin bahwa gagasan untuk melawan rezim militer sudah hampir menjadi common belief di kalangan rakyat Mesir, terutama anak mudanya. Keyakinan bersama ini hanya memerlukan momentum dan pemicu (trigger) untuk terjadinya sebuah gerakan berskala besar sebagaimana sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar