Sabtu, 16 Mei 2015

Tatkala Yesus Naik ke Surga

Tatkala Yesus Naik ke Surga

Weinata Sairin  ;  Teolog
MEDIA INDONESIA, 15 Mei 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

“... AKU pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu“ (Yoh 14:2b)
PERGI’ ialah sebuah kata kerja, sehingga ‘pergi’ selalu memiliki pengertian yang dinamis. Pergi berarti tidak berdiam diri, duduk santai; pergi justru memanifestasikan dalam tindakan yang bergerak, berangkat menuju ke suatu tempat, arah, atau wilayah. Pergi acap kali mengandung makna melaksanakan sesuatu, menjalankan tugas tertentu. Apalagi, dalam zaman yang serbaefisien, sebuah kepergian tanpa makna tidak lagi menjadi sesuatu kemendesakan. Pergi membutuhkan risiko, pergi memerlukan cost yang tidak sedikit; dan untuk kasus-kasus tertentu, pergi memerlukan seni dan keberanian. Tatkala Abram diperintahkan Allah untuk pergi dari negerinya ke suatu tempat yang akan ditunjukkan kepadanya, Abram membutuhkan bukan saja kemauan dan keberanian, melainkan juga iman. (Kej 12) Iman, kepercayaan yang teguh kepada Allah.

Yunus disuruh Allah pergi ke Niniwe untuk berdakwah bagi penduduk kota yang kejahatannya telah memuncak, tetapi Yunus tidak pergi ke situ, melainkan pergi ke kota lain. Ia membangkang terhadap tugas suruhan Allah (Yun 1:1-3). Dalam Perjanjian Lama, Allah acap kali memberi perintah kepada para nabi, antara lain Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, untuk pergi melaksanakan tugas, yakni menyadarkan umat agar hidup dalam ketaatan kepada Allah.

Ketika pada 14 Mei 2015, gerejagereja dan umat Kristen di seluruh dunia memperingati Hari Kenaikan Yesus ke Surga, maka peristiwa itu sebenarnya berbicara tentang kepergian Yesus ke rumah Bapa untuk menyediakan tempat bagi mereka yang percaya kepada-Nya.

Kepergian Yesus ke rumah Bapa di surga bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba, karena jika Yesus tiba-tiba saja pergi tanpa pemberitahuan, akan muncul multi-interpretasi. Maklum, tokoh sekaliber Yesus selalu menjadi sorotan publik, tindakan-Nya, ucapan-Nya, jadwal kegiatan-Nya selalu dianalisis dengan cermat baik oleh kawan maupun oleh orang-orang yang tidak senang kepada-Nya. Yesus sadar betul bahwa murid-murid perlu diberi tahu seluruh skenario besar tentang pelayanan Yesus di tengahtengah dunia jauh-jauh hari.

Itulah sebabnya, sejak awal Yesus memberi tahu mereka bahwa diri-Nya akan mengalami jalan sengsara, menghadapi penderitaan, dan disalibkan, tetapi akan bangkit kembali untuk kemudian naik ke surga (Mat 16:21; Yoh 3:13). Namun, murid-murid selalu dalam posisi yang tidak memahami sosok Yesus. Orang seperti Petrus, misalnya, tak suka mendengar jika Yesus tokoh idolanya itu menyatakan akan menderita dan dibunuh.

Hal itu tidak sesuai dengan gambaran ideal tentang Yesus yang ia miliki; oleh sebab itu, ia menegur Yesus agar cerita sendu seperti itu jangan dijadikan wacana (Mrk 8:31-32).

Dalam realitas seperti itulah mengapa kepergian Yesus ke rumah Bapa seakan merupakan sesuatu yang ‘surprise’ bagi murid-murid, peristiwa yang mengagetkan. Murid-murid terpana, terperangah, dan menatap ke langit, menyaksikan Yesus yang terangkat sementara awan menutup-Nya dari pandangan para murid.

Kepergian Yesus ke rumah Bapa yang diperingati oleh gereja-gereja melalui Hari Kenaikan Yesus ke Surga, menampilkan beberapa pesan yang amat mendasar. Pertama, peristiwa kenaikan Yesus ialah pemuliaan terhadap Yesus Kristus.
Yesus yang lahir dengan hina di kandang domba, yang seluruh sejarah kehidupan-Nya diwarnai oleh penderitaan yang amat dalam, Ia yang dihujat dan dilecehkan oleh penguasa pada saat-saat proses peradilan, bahkan mati di kayu salib, tetapi pada Hari Kenaikan, Ia dimuliakan, Ia ditinggikan, Ia memiliki kuasa, Ia mempunyai power. Alkitab mengatakan bahwa Ia ada “di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke surga sesudah segala malaikat, kuasa, dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya” (1 Ptr 3:22).

Gereja dan umat Kristen harus bersyukur atas pesan-pesan Alkitab seperti ini. Yesus yang menjadi Tuhan dan Kepala Gereja ialah Yesus Kristus yang memiliki kemuliaan dan kuasa. Penderitaan, rasa terpuruk, posisi marjinal, dan minoritas, situasi diskriminasi yang selama ini seolah menjadi stigma dari kekristenan, dalam perspektif kenaikan Yesus ke surga memiliki perspektif yang sama sekali baru. Gereja dan umat kristiani memiliki kekuatan baru yang menjadikan kekristenan sebuah komunitas yang bermakna dan diperhitungkan.

Kedua, kenaikan Yesus ke surga, menempatkan gereja dan umat kristiani pada posisi zaman baru, yaitu zaman penantian kedatangan Yesus kedua kali, yang akan datang sebagai hakim yang adil.

Dalam kurun waktu antara kenaikan dan kedatangan kedua kali itulah gereja hidup dan mengukir karya di bumi.

Ketegangan seperti itu seharusnya mampu mendorong kreativitas gereja dan umat kristiani untuk mengembangkan bentuk-bentuk pelayanan baru di tengah realitas dunia yang sedang berubah.

Ketiga, kenaikan Yesus ke surga bukan sebuah ilusi atau cerita fi ktif dari dunia kekristenan. Peristiwa itu riil dan konkret. Yesus berkata: “tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain daripada Dia yang telah turun dari surga, yaitu anak manusia” (Yoh 3:13). Yesus naik ke surga hanya karena Ia memang berasal dari surga.

Kenaikan Yesus ke surga bukan sekadar kembali ‘ke negeri leluhur’ atau ‘pulang ke asal’. Misi-Nya amat jelas, yakni “Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (Yoh 14:2b). Kepegian-Nya ialah kepergian yang menyediakan. Ia pergi dengan misi yang mulia menyediakan tempat bagi umat manusia yang percaya kepada-Nya.

Alkitab menyatakan dengan amat jelas, yakni “Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang” (Ibr 13:14).

Tatkala Yesus naik ke surga, gereja dan umat Kristen tidak boleh terpana, hanya menatap ke langit, tetapi berjuang di bumi ini bagi setiap umat manusia yang berada di pinggir-pinggir kehidupan, yang terjerat bisnis melawan hukum, yang menghadapi pelecehan, dan yang menderita karena pelanggaran HAM. Gereja mesti berkarya di bumi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar