Minggu, 10 Mei 2015

Nuklir, Energi Masa Depan Indonesia

Nuklir, Energi Masa Depan Indonesia

Hanifah Mursyidan Baldan  ;  Pembina Yayasan Mahkota Insan Cita
MEDIA INDONESIA, 05 Mei 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

BAGAI dedaunan yang luruh di senja hari, beragam aspek ketahanan nasional seakan terjatuh meninggalkan kita satu demi satu, lepas dari tangkainya, terkubur di bumi yang merah. Entah karena kurang bersyukur, atau tata kelola yang keliru. Namun, nyatanya kecenderungan ini telah menjadi fenomena yang menggejala. Mulai dari krisis pangan, krisis finansial, hingga apa yang saat ini menjadi komoditas utama perekonomian dunia juga menjadi sumber utama konflik dunia, yaitu krisis energi.

Sektor energi memang memiliki posisi dan peran strategis dalam tata kelola dunia di abad mutakhir. Pertumbuhan ekonomi negara-negara maju saat ini seakan tidak dapat dipisahkan dari energi. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi sebuah negara, semakin tinggi pula intensitas penggunaan energi. Lihat saja Amerika Serikat yang menyerap sekitar 2.331 juta ton minyak, atau setara 22,8% dari total konsumsi minyak mentah dunia, lalu Tiongkok dengan 1.386 juta ton (13,6%), Rusia dan Jepang masing-masing mengonsumsi 6,5% dan 5%. 
Sementara Indonesia sebagai negara yang sedang intensif memacu pertumbuhan ekonominya mengonsumsi 1,1%. Data konsumsi ini baru dalam sektor minyak saja, belum lagi gas, batu bara, dan sumber energi lainnya.

Energi alternatif

Bagi Indonesia, sektor energi betul-betul telah menjadi primadona ekonomi. Dunia mencatat, bahwa di sektor migas, Indonesia termasuk dalam jajaran 20 besar negara penghasil minyak terbesar di dunia. Pada 1977, Indonesia berhasil mencapai produksi (lifting) minyak tertinggi sebesar 1.686 bph.

Pada 2005, Indonesia ialah produsen gas alam terbesar jika dibandingkan dengan seluruh negara di Asia Oceania, Afrika, (2.606 Trillion Cubic Feet), dan termasuk dalam 10 negara penghasil gas terbesar di dunia (Rusia, AS, Kanada, Iran, Aljazair, Inggris, Norwegia, Montenegro, Belanda, dan Indonesia). Data lainnya menyebutkan bahwa pada 2008, Indonesia berada pada urutan ke-7 negara pengekspor gas terbesar di dunia. Selain itu, Indonesia termasuk dalam 20 besar negara penghasil minyak mentah terbesar di dunia.

Sayangnya, lifting minyak domestik tidak sepadan dengan tingkat konsumsi energi masyarakat, karena nyatanya ada keterbatasan sumber daya alam, khususnya bahan bakar fosil. Sementara kegiatan eksplorasi untuk menemukan sumber-sumber migas dan minerba yang baru membutuhkan investasi (cost recovery) yang tidak sedikit.

Dalam posisi seperti ini, maka kemandirian ekonomi menuntut siapa pun dan negara mana pun untuk mengembangkan ketahanan energi. Energi baru dan terbarukan (EBT), seperti panas bumi, biodiesel, dan lain-lain hanya berkontribusi 30% dari kebutuhan energi kita. Maka, harus ada solusi jangka panjang dalam memenuhi kebutuhan energi nasional dan salah satu jenis energi masa depan yang memungkinkan untuk dikembangkan di Indonesia ialah energi nuklir. Nuklir menjadi pilihan pembangkit listrik dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan listrik.

Penggunaan nuklir sebagai sumber pasokan energi, telah lama diaplikasikan di banyak negara. Tercatat negara-negara, seperti Prancis, Jepang, Norwegia, dan AS telah mampu memanfaatkan energi ini untuk kebutuhan listrik nasional mereka. Di Prancis, pasokan listrik nasionalnya 77,68% berasal dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Bila dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, Indonesia sebetulnya telah lebih dulu memiliki dan menguasai teknologi nuklir. Sumber daya manusianya juga bisa dikatakan lebih unggul dibanding negara lainnya. Namun, faktanya hingga hari ini, Indonesia masih belum berani mengembangkannya.

Padahal, Vietnam yang tergolong cukup baru mengembangkan energi nuklir, secara mengejutkan mulai membangun dua pembangkit listrik tenaga nuklir. Sementara Singapura, Thailand, dan Malaysia disebut-sebut juga mulai mengikuti langkah Vietnam tersebut. Kenapa harus nuklir?

Ada beberapa alasan kenapa kemudian Indonesia layak mengembangkan energi nuklir, selain dari alasan sejarah dan konstitusi yang melandasinya, diantaranya, yakni Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat terkait erat dengan pengembangan sektor energi.Indonesia memang termasuk energy intensive, yakni tiap 1% peningkatan GDP akan meningkatkan 1,8% peningkatan permintaan terhadap energi.

Sayangnya, sektor energi di Indonesia sangat highly subsidizes (17,6%-25% belanja pemerintahan untuk subsidi BBM dan listrik). Hal ini membuat ambisi pemerintah untuk meningkatkan laju elektrifikasi menjadi berbiaya tinggi. Berbeda halnya apabila kita memilih untuk mengembangkan energi nuklir. Meski di awal membutuhkan biaya cukup besar, untuk selanjutnya pengembangan energi nuklir untuk menghasilkan listrik akan sangat low cost (Prof Akhmad Fauzi, 2011).

Kedua, meski membutuhkan modal cukup besar di awal, dari segi manfaat, energi ini tentu saja lebih efisien, yakni setiap 20 gram uranium hampir setara dengan 2 ton batu bara. Ketiga ialah fakta bahwa negara yang telah mengembangkan energi nuklir untuk memasok kebutuhan energi listriknya memiliki tingkat kemajuan ekonomi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara yang masih memanfaatkan energi fosil untuk memenuhi pasokan listriknya.

Persoalan kemudian, dari pengembangan nuklir untuk pasokan energi ini karena adanya anggapan bila nuklir identik dengan bom nuklir dan radiasinya. Padahal, teknologi apa pun memiliki potensi manfaat dan kerusakan yang sama, tinggal bagaimana manusianya.

Terkait dengan keengganan pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk segera mengembangkan nuklir ini, wajarlah bila banyak pihak, terutama dari kalangan masyarakat di negara maju menganggap aneh Indonesia.

Hal ini seperti dikatakan oleh Ketua Umum Asosiasi Wanita Indonesia Sains dan Teknologi, Dewi Motik tatkala menghadiri sebuah kongres di Norwegia, bahwa negara kita dianggap aneh karena belum juga mau mengembangkan energi nuklir untuk energi alternatif. “Mereka bilang, aneh kamu kok belum pake nuklir,“ kata Motik (Kompas, 14/4).

Karena itulah, yang terpenting dilakukan saat ini ialah upaya edukasi dan sosialisasi terkait dengan manfaat yang diperoleh bila Indonesia mengembangkan energi nuklir ramah dan aman. PLTN merupakan salah satu pilihan dalam rangka memenuhi kebutuhan energi nasional yang terus meningkat.

Dalam rangka pemenuhan kebutuhan energi yang terus meningkat, khususnya kebutuhan listrik, maka pembangunan PLTN di Indonesia menjadi pilihan. Untuk itu, pembangkit listrik tenaga nuklir guna memenuhi kebutuhan listrik harus dipersiapkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar