|
Tiga Inklusif Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 20 Agustus 2026
Hampir pasti
peluang Menteri Agama Prof Dr Nasaruddin Umar tertutup untuk bisa terpilih
sebagai ketua umum tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Tidak
mungkin beliau meletakkan jabatan sebagai menteri untuk mencalonkan diri di
Muktamar NU di Jombang minggu depan (27-31 Agustus).
Kian ke sini
calon utama yang santer disebut tinggal dua orang: Gus Kikin dari Tebuireng
Jombang dan Gus Yahya, incumbent.
Melihat bahwa
keduanya seperti sedang berhadapan langsung barulah muncul calon lain yang
menyebut dirinya "poros tengah": Gus Rozin dari pesantren Maslakul
Huda, Kajen, Pati, Jateng.
Tentu sempat
muncul calon-calon lain. Tapi sifatnya lebih karena ada yang mendorong untuk
maju. Misalnya tokoh Golkar yang juga Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron
Wahid mendorong KH Zulfa Mustofa. Beliau adalah ulama yang sempat jadi penjabat
ketua umum PBNU di tengah konflik syuriah dan tanfidziyah. Eksistensi
"penjabat ketua umum'' ini menguap karena ternyata bukan jalan keluar dari
konflik.
Ketua Umum
Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar mendorong kiai dari Jateng, KH
Yusuf Chudlori. Nama ini kian hari juga kian surut.
Berarti tiga
calon yang kelihatannya akan bersaing ketat: Gus Yahya, Gus Kikin, dan Gus
Rozin. Tiga-tiganya ''darah biru'' NU. Semuanya cucu kiai besar di dunia NU.
Bahkan tiga-tiganya bisa dibilang tokoh inklusif.
Saking
inklusifnya, Gus Yahya (KH Yahya Cholil Staquf) sampai disemprot sebagai antek
Yahudi. Gus Yahya telah berjuang sangat keras untuk mengubah NU: agar tidak
hanya kaya di akhirat tapi juga bisa kaya di dunia; lewat tambang batu bara.
Siapa tahu cita-cita yang belum terwujud itu bisa terjadi di masa kepengurusan
periode keduanya.
Gus Kikin? Ia
juga sangat inklusif. Gus Kikin (KH Abdul Hakim Mahfudz) yang juga ketua PWNU
Jatim adalah kiai yang juga pengusaha migas. Saya tidak pernah menyangka Gus
Kikin akhirnya mau pulang kampung dan mau didaulat jadi kiai di Tebuireng,
Jombang. Padahal ia sudah begitu mapan sebagai pengusaha yang tinggal di
Jakarta. Memang, setelah Gus Sholah (Salahuddin Wahid, adik Gus Dur) meninggal,
tinggal Gus Kikin-lah dhuriyah yang paling senior di Tebuireng.
Gus Rozin juga
inklusif. Juga tidak ambisius –awalnya. Gus Rozin (Abdul Ghaffar Rozin) maju
karena terpanggil sebagai memimpin NU yang netral. Yakni yang tidak terlibat
konflik besar antara rais aam syuriah (KH Miftakhul Akhyar) dan ketua umum
Tanfidziyah (Gus Yahya).
Gus Rozin
adalah lulusan Monash University, Australia setelah kuliah di Paramadina. Ia
juga pernah mondok di pesantren Kwagean, Kediri setelah lulus ibtidaiah sampai
aliyah di Kajen. Doktornya dari UIN Walisongo, Semarang. Ia juga pernah
mendalami filsafat di lembaga Katolik Driyakarya.
Semua berdarah
biru yang inklusif. Itulah wajah baru kepemimpinan NU di tingkat pusat. Apakah
tiga-tiganya jadi maju tentu akan bisa dilihat tanggal 29 Agustus. Tanggal itu
acara-acara awal muktamar sudah selesai. Pendaftaran calon pun dibuka. Bisa
mendaftar sendiri juga bisa didaftarkan.
Yang lebih
krusial kelihatannya justru di level kepengurusan dewan syuriah –berkedudukan
lebih tinggi daripada kepengurusan eksekutif tanfidziyah.
Pemilihan rais
aam (ketua) dewan syuriah tidak lagi lewat pemungutan suara di lantai muktamar.
Rais Aam dipilih oleh ''majelis kiai se Indonesia'' secara tertutup. Istilahnya
Ahlul Halli wal 'Aqdi (AHWA). Masing-masing dewan syuriah NU di cabang (tingkat
kabupaten/kota) dan di wilayah (tingkat provinsi) mengajukan sembilan nama.
Berarti akan terkumpul ratusan nama. Yang namanya ditulis terbanyak otomatis
sebagai rais aam. Delapan lainnya jadi anggota dewan syuriah.
Selama ini tiga
nama kiai besar yang muncul ke permukaan: incumbent KH Miftakhul Akhyar,
Surabaya; KH Said Agil Siroj (mantan ketua umum tanfidziyah); dan KH Ma'ruf
Amin, mantan wakil presiden RI.
Secara teori,
cara pemilihan seperti itu sangat bagus. Bisa menghindarkan politik uang. Tapi
tidak sepenuhnya begitu. Belakangan ini syuriah di daerah-daerah dikumpulkan
oleh kekuatan tertentu: diarahkan untuk memilih siapa. Lalu ditinggali amplop
–yang penting isi amplop itu.
Bahkan dari
rekaman pembicaraan telepon yang sampai ke saya terdengar ''mainnya'' agak
kasar. Blangko pencalonan yang sudah diisi nama calon dibagikan. Untuk
dimintakan tanda tangan. Lalu ada kesulitan: mereka tidak membawa stempel.
Malam itu juga dibikinkan stempel.
Semuanya dibuat
tiga rangkap. Rangkap yang akan diserahkan ke panitia sudah dikumpulkan di satu
orang tim sukses.
Tentu yang
seperti itu belum tentu bisa terlaksana di lapangan. Apa lagi kalau tiba-tiba
ada serangan fajar yang peluru amplopnya lebih tebal.
Muktamar NU
tinggal seminggu lagi. Para pemain dan broker sedang sibuk-sibuknya. Ini NU.
Bukan Muhammadiyah. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/963811/tiga-inklusif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar