|
Kupas Bawang Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 21 Agustus 2026
Heran. Soal
”kupas bawang” masih terus mendominasi percakapan jagat maya. Istana pantas
sewot. Begitu banyak isu besar yang ingin ditonjolkan sebagai prestasi Presiden
Prabowo namun yang jadi pembicaraan tetap saja: kupas bawang dengan upah Rp
700.000/kg.
Meme soal kupas
bawang itu tidak hanya dalam bahasa Indonesia tapi sampai ke bahasa Inggris.
Bahkan ada meme yang berbentuk video dengan tokoh Elon Musk. Digambarkan, Elon
ingin pindah bisnis menjadi perusahaan pengupas bawang: omzetnya bisa lebih
USD4 triliun berdasar Rp 700.000/kg --mengalahkan bisnis Teslanya.
Pun sampai
dunia pewayangan. Sinden Agnes yang i-nyi lima dan masih siswi SMA di Sleman,
guyonnya juga kupas bawang. Agnes malam itu nyinden di pagelaran wayang kulit
dengan dalang muda Gadhing Pawukir --anak dalang kondang Seno Nugroho. Sambil
nyinden Agnes bilang jadi buruh kupas bawang dengan gaji Rp 700.000/kg.
Dijadikan
cemoohan seperti itu saya bisa ikut merasakan apa yang dirasakan Istana. Jerih
payah kerja hampir dua tahun seperti musnah seketika hanya oleh satu anak
kalimat dalam pidato lebih satu jam Presiden Prabowo di depan anggota MPR 14
Agustus lalu: kupas bawang dengan upah Rp 700.000/kg.
Maka saya pun
memperhatikan: apa saja yang dilakukan orang-orang di lingkaran Istana.
Terutama untuk memperbaiki kerusakan yang sudah telanjur terjadi. Apakah yang
dilakukan sudah sesuai dengan teori lama damage recovery. Atau justru ada teori
baru.
Yang pertama,
Ibu Susanah, wanita Bogor yang diperkenalkan di sidang tahunan MPR sebagai
pengupas bawang itu belum pulang kembali ke rumahnyi. Rupanya dia disembunyikan
baik-baik: daripada digeruduk wartawan.
Yang kedua,
mengimbau media untuk tidak lagi fokus pada kupas bawang. Betapa banyak isi
pidato Presiden Prabowo yang penting-penting yang bisa jadi berita. Misalnya
1.000 tambang ilegal akan terus dibabat biarpun ada jenderal-jenderal di balik
yang ilegal itu. Imbauan ini kelihatannya tidak manjur.
Yang ketiga,
teks asli pidato resmi Presiden Prabowo dirilis. Dalam teks pidato itu jelas
tidak ada tertulis Rp 700.000/kg. Yang tertulis adalah Rp 700/kg. Maka bisa
disimpulkan bahwa Presiden Prabowo hanya slip of the tounge. Terpeleset lidah.
Presiden
Prabowo Subianto menyampaikan pidato mengenai efisiensi dan pendaftaran
Perlinsos Digital dalam Sidang Tahunan MPR RI di Jakarta.-Dok. Setpres-
Sebenarnya itu
sangat manusiawi. Siapa pun lidahnya bisa keseleo. Di Amerika yang lidahnya
paling sering keseleo adalah Presiden George W. Bush. Misalnya kata ”are”
diucapkan ”is” seolah tidak tahu grammar dalam bahasa Inggris. Ia juga pernah
mengucapkan ”misunderestimated”, padahal dalam bahasa Inggris yang ada
”misunderstand”.
Saking
seringnya keseleo lidah sampai ada ejekan khusus untuk Bush: bush-isme. Meski
begitu nama Bush tidak pernah benar-benar jatuh karena itu. Ia tetap dianggap
presiden yang berprestasi dan karena itu terpilih untuk periode kedua.
Presiden Joe
Biden juga sering salah ucap. Orang pun memaklumi: Biden sudah tua.
Maka menghadapi
”damage” kupas bawang harusnya Istana tidak perlu berlebihan. Kenapa tidak
diakui saja terus terang bahwa itu slip of the tounge. Kejujuran itu rasanya
tidak akan membuat nama Presiden Prabowo jatuh. Justru presiden dinilai
gentleman. Maksimum orang akan berkomentar ”padahal belum setua Joe Biden”.
Kecenderungan
suka ngelesi sebaiknya memang harus segera diakhiri. Reaksi atas kritik
mahalnya harga BBM, misalnya, tidak boleh lagi dengan kalimat "salahnya
sendiri kok tidak pakai motor listrik".
Sebenarnya
menarik juga kalimat itu. Ada nada bercandanya. Ada nilai kebenarannya. Bahkan
benar sekali. Tapi di mata sebagian orang itu bisa dianggap
"ngelesi".
Memang masih
ada sedikit ganjalan di teks otentik pidato presiden itu. Soal Rp 700.000/kg
sudah clear: yang tertulis Rp 700/kg. Tapi soal "pengupas bawang"
masih ada dalam teks. Ini juga harus di-clear-kan. Bu Susanah bukan pengupas
bawang. Dia penjahit kain majun --kain sisa potongan yang bisa dipakai lap--
dan pencuci peralatan makan di dapur MGB. Sama sekali tidak disebut kupas
bawang. Tapi ini bisa dijelaskan dengan jenaka: pernah sesekali bantu kupas
bawang.
Berarti tetap
ada yang salah dalam pembuatan teks pidato itu. Setidaknya kurang correct. Ini
pelajaran yang sangat baik bagi para penulis pidato. Apalagi pidato presiden.
Mungkin semua orang sibuk menjelang 17 Agustus tapi pemeriksaan pidato presiden
harus berlapis. Itu pun tetap saja ada peluang untuk salah.
Keseleo lidah
tidak otomatis terkait dengan umur. Semangat yang menggebu juga bisa menjadi
penyebab keseleo lidah. Apalagi kalau sudah biasa membaca angka-angka besar.
Atau membanggakan capaian-capaian yang besar. Maka angka Rp700 dirasa kurang
besar.
Saya sendiri
punya kecenderungan over semangat seperti itu. Tapi karena saya bukan
siapa-siapa paling yang protes sebatas para perusuh Disway.
Saya ingat
peristiwa kecil saat mulai menjabat sesuatu. Setiap datang di satu acara saya
disodori teks pidato. Tidak pernah saya baca. Ternyata ada dua orang yang
tugasnya khusus membuat pidato saya. Di minggu kedua mereka tidak pernah lagi
membuat teks pidato. Toh tidak dibaca.
Saya pun ingat
ada semacam appeal dari jagad maya: sebaiknya, kalau pidato, Presiden Prabowo
menggunakan teks saja. Agar tidak salah ucap. Tapi yang baru saja terjadi
justru ketika pidato Presiden Prabowo pakai teks.
Berpidato
memang punya ”anak haram” keseleo lidah. Menulis punya ”anak haram” salah
tulis. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/964022/kupas-bawang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar