|
Mesin Desil Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 20 Agustus 2026
|
Desil dibuat
untuk menghadirkan keadilan. Tapi ketika datanya keliru, angka bisa berubah
menjadi pintu yang terkunci. Pagi di Salabintana punya cara sendiri
untuk membuat manusia berpikir lebih jernih. Setelah semalam tidur di dalam
tenda berkasur —di bawah langit Sukabumi yang dinginnya seperti AC tanpa
remote — saya berbincang dengan Aliyah, seorang guru TAUD (Tahfidz Anak Usia
Dini). Dari percakapan ringan tentang
kehidupan kampung daerahnya, obrolan kami tiba-tiba masuk ke sebuah kata yang
belakangan terasa menentukan nasib orang banyak. Desil. Aliyah bercerita, ia
dan warga mengeluhkan sistem desil dalam DTSEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi
Nasional). Keluhannya bukan semata soal bantuan
sosial semata, melainkan sampai pendidikan anak. Posisi desil kini menentukan
peluang seorang anak untuk masuk sekolah negeri, termasuk di Jawa Barat. Di
situlah istilah statistik yang biasanya hanya hidup di meja BPS mendadak
masuk ke ruang keluarga. Ia menentukan apakah seorang anak boleh berharap
pada sekolah tertentu. Kita memang sedang memasuki zaman
ketika kemiskinan tidak lagi cukup diceritakan lewat rumah yang bocor, sepeda
motor tua, atau dompet yang cepat kosong. Kemiskinan kini harus berangka dan
berperingkat. Desil 1, 2, 3, hingga 10. Negara dengan penduduk hampir 300
juta jiwa tentu tak mungkin membagi bantuan hanya berdasarkan ingatan kepala
desa. Data diperlukan agar bantuan tidak salah alamat. Secara sederhana, desil adalah
pembagian penduduk ke dalam sepuluh kelompok kesejahteraan. Desil 1 adalah 10
persen kelompok paling bawah, sedangkan desil 10 adalah 10 persen tertinggi.
Jadi, desil bukan menunjukkan pendapatan persis dalam rupiah, melainkan
"posisi relatif" seseorang dalam populasi. Di sinilah masalah pertama mulai
tampak. Orang miskin hidup secara konkret, sedangkan desil hidup secara
statistik yang dihitung dengan mesin. Orang membayar uang sekolah dengan uang
tunai yang benar-benar ada atau tidak ada, sementara statistik bekerja dengan
skor dan variabel. Bayangkan seorang warga bernama Ibu
Rani, masih di Sukabumi. Ia tinggal di rumah sederhana milik orang tuanya,
sehingga dalam data ia tercatat tidak memiliki beban sewa. Suaminya bekerja
serabutan, dan di halaman terparkir sebuah sepeda motor lama untuk bekerja. Dari sudut pandang Rani, hidupnya
sangat berat. Namun dari sudut pandang algoritma, rumah tanpa beban sewa dan kepemilikan
motor justru menjadi sinyal bahwa keluarganya tidak berada di lapisan
terbawah. Desil bukanlah kamera CCTV kehidupan.
Ia adalah hasil pengolahan data untuk menempatkan keluarga pada posisi
relatif tertentu. Sangat mungkin seseorang merasa hidupnya susah, sementara
sistem menempatkannya pada desil yang tinggi. Sensus di lapangan pun kerap
berhadapan dengan kenyataan sosial yang rumit. Petugas yang datang kadang
ditolak. Bahkan mereka diusir hingga nangis-nangis —karena warga khawatir
pendataan akan menghasilkan desil yang salah. Bayangkan warga yang tinggal di rumah
mertua atau menyewa kamar kos. Di sana ada televisi, kulkas, dan motor.
Petugas mencatat apa yang tampak di mata, padahal semua fasilitas itu milik
mertua atau pemilik kos. Jika petugas tak menggali siapa pemilik aset
sebenarnya, data bisa menjadi sangat rapi sekaligus sangat keliru. DTSEN lahir melalui Inpres Nomor 4
Tahun 2025 untuk menyatukan data kemiskinan yang selama bertahun-tahun
berjalan terpisah seperti rombongan kambing yang hilang arah. BPS diberi
mandat mengintegrasikan data ini. Namun satu data tidak otomatis berarti
data yang sempurna. Pada DTSEN Volume 2 tahun 2026, BPS melakukan
"penyempurnaan klasifikasi" pada puluhan ribu keluarga. Kalimat
halus itu menegaskan satu hal: sebelumnya memang ada data yang perlu diperbaiki. Cilakanya, masyarakat tidak tahu
bagaimana sebuah angka dihasilkan. Warga hanya melihat status: "Saya
desil 6." Saat bertanya mengapa, jawaban paling membuat frustrasi
adalah: "Karena sistem." Dalam masyarakat modern,
"sistem" sering menjadi nama lain dari seseorang yang tidak kita
kenal. Persoalan ini menjadi semakin sensitif
dalam Penerimaan Murid Baru (SPMB 2026), termasuk di Jawa Barat. Petunjuk
teknis menetapkan calon murid dari keluarga tidak mampu yang terdata pada
desil 1 mendapat afirmasi kuota 25 persen dengan mempertimbangkan jarak
domisili. Bagi pemerintah, mengarahkan anak
miskin ke sekolah terdekat adalah bentuk perlindungan. Namun bagi orang tua,
hal itu terasa seperti kehilangan hak memilih. Ketika sistem tidak dijelaskan
dengan baik, keadilan bisa terasa sebagai hukuman. Jangan sampai orang tua
melihat layar komputer bertuliskan “terkunci”, lalu merasa masa depan anaknya
ikut dikunci. Keluhan warga tentang desil sebenarnya
perlu dibaca sebagai alarm kualitas tata kelola data. Kita tidak perlu
kembali ke zaman ketika bantuan dibagi berdasarkan "siapa yang dikenal
perangkat desa". Statistik tetap sangat kita perlukan, tetapi statistik
harus mempunyai pintu koreksi. Jika warga merasa datanya keliru,
negara tidak boleh berhenti pada jawaban: "Data kami sudah dari
pusat." Harus tersedia mekanisme koreksi yang sederhana, cepat, dan
transparan. Warga berhak tahu indikator apa yang
membuat mereka berada di desil tersebut. Untuk urusan sekolah, mekanisme
keberatan harus selesai sebelum penerimaan murid berakhir—bukan setelah anak
kehilangan kesempatan. Seorang anak tidak pernah memilih
lahir dari keluarga desil berapa. Kebijakan afirmasi harus kembali kepada
tujuan awalnya. Ia bukan dimaksud mengklasifikasikan orang miskin, melainkan
membuka pintu bagi anak yang membutuhkan. Ada satu pelajaran penting dari
percakapan pagi di Salabintana. Kita sering mengira persoalan digital adalah
persoalan mesin. Padahal di balik setiap baris data selalu ada manusia:
Aliyah, Rani, seorang ayah yang penghasilannya naik-turun, dan seorang anak
yang sedang membayangkan seragam sekolah barunya. Mesin boleh menghitung dengan dingin,
tetapi kebijakan tidak boleh kehilangan kehangatan. Negara membutuhkan angka
untuk melihat 289 juta manusia sebagai populasi, tetapi warga membutuhkan
negara untuk melihat dirinya sebagai manusia. Desil boleh menentukan prioritas,
jangan sampai desil menentukan harga diri. Jika layar komputer mematok
seorang anak pada desil tertentu, pertanyaan terpenting bukanlah
"Mengapa anak ini masuk angka itu?", melainkan: "Apakah dengan
angka itu kita sudah membuat hidup anak ini lebih adil?" Jika jawabannya belum, yang harus
diperbaiki bukanlah anaknya, melainkan datanya. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar