|
Alih Kekuasaan Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 02 Agustus 2026
Semua peserta
dibagi tujuh grup usaha. Masing-masing grup diberi nama: Salim Family, Hartono
Family, Lee Family, Riyadi Family, Budiman Family, Pangestu Family, Kwok
Family.
Mereka
mendapatkan tiga materi workshop: dari Hadi Cahyadi, Bambang Sutantio, dan saya
sendiri.
Hadi adalah
doktor dari Universitas Tarumanegara dengan disertasi tentang perusahaan
keluarga.
Bambang, Anda
sudah tahu: pemilik grup usaha besar Cimory (Disway 3 Juni 2026: Jago Cimory).
Sedang saya sendiri tidak perlu Anda kenal.
Setelah acara
makan siang masing-masing grup berdiskusi sendiri. Diberi waktu setengah jam.
Mereka seolah-olah anggota keluarga pengusaha papan atas Indonesia itu. Mereka
harus menyusun satu dokumen keluarga yang disebut "konstitusi
keluarga" –family constitution.
Masing-masing
dibebaskan untuk menganggap diri mereka sebagai generasi pertama, generasi
kedua, atau pun generasi ketiga di perusahaan konglomerat itu. Lalu harus
menyusun konstitusi keluarga.
Dalam setengah
jam mereka sudah harus sepakat. Lalu secara bergantian tampil di depan forum
untuk mempresentasikan konstitusi keluarga masing-masing.
Begitulah
jalannya workshop konstitusi keluarga yang dilaksanakan Harian Disway sepanjang
satu hari Sabtu kemarin.
Di dunia nyata
tentu tidak mungkin konstitusi keluarga disusun dalam satu jam.
"Yang
paling singkat enam bulan," ujar Hadi Cahyadi.
Bahkan ada yang
gagal total: tidak ada kesepakatan di antara anggota keluarga. Kalau sampai
seperti itu diperlukan pihak ketiga. Penasihat. Atau konsultan. Hadi adalah
konsultan Family Constitution.
"Yang
paling berharga dari kesepakatan itu adalah proses perundingannya," ujar
Hadi.
Dalam proses
menuju kesepakatan itu terjadi diskusi keluarga yang sangat intensif. Kadang
sampai sangat keras.
Persoalan yang
selama itu tidak muncul di keluarga tiba-tiba muncul. Yang selama itu hanya
jadi bisik-bisik keluarga dibicarakan terbuka. Dengan demikian potensi konflik
di masa depan sudah langsung dicarikan kesepakatannya saat itu juga.
Proses diskusi
yang alot biasanya menyangkut "siapa yang disebut keluarga". Apakah
menantu termasuk keluarga. Dari praktik selama ini umumnya disimpulkan
"menantu bukanlah anggota keluarga".
Yang lebih alot
lagi kalau diskusi sudah sampai pada "apakah anggota keluarga boleh
bekerja di perusahaan". Kalau boleh bagaimana persyaratannya?
Umumnya mereka
sepakat "boleh". Tapi ada syaratnya.
Syarat itulah
yang tiap keluarga tidak sama.
Misalnya ada
yang mewajibkan punya pengalaman kerja di perusahaan non keluarga paling tidak
dua tahun. Ditambah punya pengalaman bekerja di perusahaan keluarga minimal
tiga tahun. Tidak bisa, misalnya, anak bos yang baru lulus dari luar negeri
langsung ke level atas.
Yang
menggembirakan, ujar Hadi, sudah muncul kesadaran bahwa meritokrasi harus
diterapkan di antara anggota keluarga. Ini satu kemajuan besar. Tidak lagi anak laki-laki pertama yang harus
memimpin perusahaan keluarga. Padahal belum tentu mampu.
Maka siapa yang
boleh menjadi CEO perusahaan keluarga juga harus diperdebatkan di proses
penyusunan konstitusi keluarga. Umumnya mereka sepakat sebaiknya CEO tetap di
tangan keluarga tapi lewat sistem meritokrasi. Juga lewat penyiapan yang cukup:
pendidikan, pelatihan, magang, mentoring. Dan mentor terbaik adalah founder
perusahaan itu sendiri: sang ayah.
Tapi banyak
juga yang sepakat CEO tidak harus dari anggota keluarga.
"Dalam
kenyataan, diskusi di keluarga itu sangat painful," ujar Hadi.
Dari workshop
ini setidaknya masing-masing peserta punya apresiasi terhadap pentingnya
konstitusi keluarga. Peserta datang dari berbagai kota: Medan, Bandung,
Jakarta, Semarang, Surabaya. Ada yang punya pabrik plastik di 25 kota. Dari
tahun ke tahun omzetnya masih terus naik. Perusahaannya terus berkembang.
Ada juga yang
punya 16 rumah sakit. Dia ajak anaknya yang baru lulus dari kuliah di Tokyo.
Ada pengusaha cat yang selama lima tahun terakhir omzetnya naik tiga kali
lipat.
Pengusaha cat
itu mengajak anaknya: masih berusia 14 tahun. Namanya Jayson. Ia tidak sekolah.
Sejak lulus SD memilih home schooling. "Agar bisa membantu papa bekerja
memajukan usaha," ujar Jayson.
Sejak kecil
Jayson melihat papanya kerja terlalu keras. Siang malam. Ia ingin seperti
papanya. Saat saya minta bicara tentang proses kerja di perusahaan papanya,
Jayson sama sekali bukan seperti anak usia 14 tahun. Ia sudah seperti seorang
manajer pabrik yang punya pengalaman panjang.
"Sekarang
Jayson sedang saya libatkan dalam proses keuangan di perusahaan," ujar
sang ayah: lulusan S-1 manajemen Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.
Banyak
sekali pertanyaan peserta untuk Bambang Cimory. Baru sekali ini saya
menyaksikan Bambang berbicara di depan forum. Ternyata sangat menarik.
Cara
Bambang menceritakan bagaimana proses alih kekuasaan di grup Cimory sangat
mengesankan. Cara penyampaiannya pun sangat hidup. Saya ingat yang pernah saya
katakan dulu: seorang CEO yang baik adalah juga harus seorang guru yang pintar.
Dengan begitu ia bisa membuat anak buah bergerak seirama dengan misinya.
Bambang punya
tiga anak. Awalnya mereka harus bekerja di perusahaan milik orang lain yang
tingkat stresnya selangit. Yakni yang biasa menetapkan target capaian yang
tinggi.
Setelah itu
barulah masuk ke perusahaan keluarga. Proses selanjutnya mulai dibebani business
development. Di sinilah ketiganya belajar memahami segala aspek perusahaan:
produksi, marketing, SDM, sampai keuangan.
Lewat semua itu
barulah Bambang mulai melakukan proses peralihan kekuasaan: dari dirinya ke
anak-anaknya. Bambang membagi perusahannya menjadi tiga berdasar kelompok
usaha. Masing-masing anak memimpin satu kelompok usaha.
Bambang tidak
mau tiga anaknya di satu perusahaan: satu jadi dirut, satu jadi direktur
produksi/marketing, satunya lagi direktur keuangan. Masing-masing harus
mandiri.
Agar di antara
tiga kelompok itu tidak saling bunuh dilakukan kepemilikan silang. Satu orang
jadi pemegang saham mayoritas di satu kelompok usaha, dua lainnya jadi pemegang
saham lebih kecil. Dengan demikian mereka bersaing membesarkan grup usaha
masing-masing tapi juga bisa melakukan sinergi.
Di workshop ini
banyak peserta yang datang suami-istri. Bambang sendiri juga mengajak istri
–yang di awal pertumbuhan Cimory berperan sebagai "penjaga gawang".
Dialah yang memeriksa seluruh pengeluaran perusahaan sampai mengecek kebenaran
harga-harga, langsung ke supplier.
Bambang
termasuk berani melakukan alih generasi. Yakni saat ia masih berusaha 60 tahun
–sekitar 7 tahun lalu. Ia bangga dan bahagia atas keputusannya itu. Padahal
sekarang pun ia masih sangat sehat dan berpikir jernih.
"Jangan
sampai keduluan pikun baru ambil putusan," ujar Hadi. "Keputusannya
nanti dianggap tidak adil," tambahnya.
Membagi dan
menyerahkan perusahaan kadang lebih pusing daripada yang tidak punya
perusahaan. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/960444/alih-kekuasaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar