|
Trump dan AS Kalah Pamor dari Xi Jinping dan
China Irene
Sarwindaningrum : Wartawan Kompas |
KOMPAS, 16 Juli 2026
|
China dan Xi Jinping kini lebih disukai daripada AS dan Donald
Trump, termasuk di Indonesia. Sejumlah masyarakat Eropa juga lebih
mengunggulkan China. Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat dipandang lebih positif
daripada China oleh masyarakat dunia. Namun, pandangan itu berbalik tahun
ini. Pamor China dan Presiden Xi Jinping kini mengungguli AS dan Presiden
Donald Trump. Survei terbaru Pew Research Center menunjukkan, masyarakat di 25
dari 36 negara dan wilayah memandang China lebih positif dibandingkan AS.
Negara-negara itu mencakup Kanada, Meksiko, dan Indonesia. Hanya di enam
negara, AS masih dipandang lebih positif daripada China, di antaranya Israel. Survei diadakan pada Februari-Mei 2026, ketika AS dan Israel
melancarkan perang terhadap Iran. Hasil survei dirilis pada Rabu (15/7/2026)
waktu Washington atau Kamis (16/7/2026) waktu Indonesia. Di 22 dari 36 negara, lebih banyak responden juga menyatakan
lebih percaya kepada Xi daripada Trump dalam menangani urusan dunia. Hal itu
terlihat di Kanada, Meksiko, serta sejumlah negara besar Eropa, termasuk
Perancis, Jerman, dan Inggris. Meski demikian, masyarakat di banyak negara
memiliki tingkat kepercayaan yang rendah terhadap kedua pemimpin itu. Pandangan yang berbalik juga terjadi di Indonesia. Sebanyak 72
persen responden Indonesia kini berpandangan positif terhadap China. Hanya 29
persen yang berpandangan positif terhadap AS. China unggul hingga 43 poin. Padahal pada 2023, sebanyak 55 persen responden Indonesia
berpandangan positif terhadap AS. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan
pandangan terhadap China yang mencapai 49 persen Kesenjangan serupa terlihat dalam penilaian terhadap kedua
pemimpin. Sebanyak 62 persen responden Indonesia menyatakan percaya Xi akan
melakukan hal yang benar dalam menangani urusan dunia. Kepercayaan terhadap
Trump hanya mencapai 20 persen. Indonesia termasuk negara yang lebih banyak respondennya menilai
Pemerintah China menghormati kebebasan pribadi rakyatnya dibandingkan
Pemerintah AS. Pola yang sama terlihat di Bangladesh, Malaysia, Thailand,
serta Tepi Barat dan Jerusalem Timur. Laura Silver, Direktur Madya Riset Sikap Global Pew dan salah
seorang peneliti dalam studi tersebut, mengatakan, ini pertama kali selama
sekitar 20 tahun Pew memantau opini global bahwa China dipandang lebih
positif daripada AS. Dalam sejumlah survei sebelumnya, pandangan terhadap Beijing dan
Washington pernah berada pada tingkat yang hampir sama. Namun, China belum
pernah dipandang secara signifikan lebih positif daripada AS hingga tahun
ini. Menurut Silver, pergeseran tersebut terjadi seiring memudarnya
ingatan terhadap pandemi Covid-19. Hal ini disertai memburuknya pandangan
global terhadap AS. ”Ada hubungan nyata antara pecahnya perang dan anggapan bahwa AS
sama sekali tidak berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas, serta
masyarakat semakin tidak percaya kepada Donald Trump,” kata Silver. Rendahnya penerimaan juga dipengaruhi sejumlah langkah agresif
AS. Langkah itu, antara lain, tuntutan Trump untuk menguasai Greenland,
operasi militer AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, serta
penanganan AS terhadap perang Israel-Hamas di Gaza. Selain diuntungkan oleh memudarnya ingatan tentang pandemi,
posisi China juga menguat ketika dibandingkan dengan AS. ”Sebagai
perbandingan, China dipandang sebagai mitra yang lebih dapat diandalkan di
banyak tempat. China juga lebih mungkin dipandang berkontribusi terhadap
perdamaian dan stabilitas global,” katanya. Kedutaan Besar China di Washington menyatakan, survei terbaru itu
menunjukkan bahwa pencapaian tata kelola dan kemajuan pembangunan China
diakui secara luas. Gedung Putih belum segera menanggapi permintaan komentar. Sekutu AS Perubahan paling tajam terjadi di sejumlah negara sekutu AS,
termasuk Kanada. Dalam survei terbaru, hanya 33 persen warga Kanada yang
berpandangan positif terhadap AS, turun dari 57 persen pada 2023. Pada periode
yang sama, pandangan positif warga Kanada terhadap China meningkat dari 14
persen menjadi 44 persen. Hal ini diduga terkait kebijakan tarif Tump. Tahun lalu, Trump
memberlakukan serangkaian tarif terhadap barang-barang Kanada. Ia juga pernah
menyatakan bahwa Kanada dapat menjadi negara bagian ke-51 milik AS. Pandangan masyarakat di sejumlah negara besar Eropa, termasuk
Perancis, Jerman, Spanyol, Italia, Swedia, dan Belanda, juga berbalik
mengunggulkan China. Di Inggris, sebanyak 6 dari 10 orang berpandangan
positif terhadap AS pada 2023. Kini, masyarakat Inggris memandang China dan AS pada tingkat yang
hampir sama. Tiga tahun lalu, selisih pandangan positif terhadap kedua negara
mencapai 32 persen dengan AS mengungguli China. Dari enam negara yang masyarakatnya masih memiliki pandangan
lebih positif terhadap AS, Israel mencatat tingkat dukungan tertinggi.
Sebanyak 8 dari 10 warga Israel memandang AS secara positif, dibanding hanya
19 persen yang berpandangan positif terhadap China. Lima negara lainnya adalah Jepang, India, Korea Selatan,
Filipina, dan Polandia. Namun, pandangan masyarakat positif terhadap AS di
negara-negara tersebut meredup dalam beberapa tahun terakhir. Pew menyurvei lebih dari 42.000 orang di 35 negara serta Tepi
Barat dan Jerusalem Timur. Margin kesalahan survei berkisar antara 2,3 dan
5,5 poin persentase, bergantung pada lokasi survei. Sejak 2025 Pergeseran posisi China dan AS telah terlihat sejak 2025. Survei
Gallup di 132 negara dan wilayah pada 2025 menunjukkan, tingkat penerimaan
terhadap kepemimpinan China mencapai 36 persen, melampaui AS di 31 persen.
Setahun sebelumnya, tingkat penerimaan terhadap kepemimpinan AS masih unggul
dengan 39 persen, sedangkan China 32 persen. Keunggulan lima poin persentase itu merupakan yang terbesar bagi
China dalam hampir 20 tahun pengukuran Gallup. Namun, Gallup menegaskan,
keunggulan tersebut lebih banyak didorong oleh merosotnya penilaian terhadap
AS daripada peningkatan dukungan kepada China. Pada 2025, ketidaksetujuan terhadap kepemimpinan AS juga naik
menjadi 48 persen. Tingkat ini merupakan yang tertinggi yang pernah dicatat
Gallup. Adapun ketidaksetujuan terhadap China tetap 37 persen. Menanggapi survei Gallup, Li Haidong, profesor di Institut
Hubungan Internasional, China Foreign Affairs University, mengatakan,
masyarakat Global South telah merasakan manfaat nyata dari kerja sama dengan
China, termasuk melalui proyek-proyek Inisiatif Sabuk dan Jalan. ”Masyarakat Global South telah merasakan secara mendalam komitmen
China untuk menepati janji dan mewujudkannya melalui tindakan serta dengan
tulus mengagumi upaya besar China dalam mendorong kemakmuran ekonomi,
meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan memperkuat pengaruh internasional
Global South,” kata Li, dikutip dari media China People’s Daily Overseas
Edition. Menurut dia, melalui berbagai kerja sama yang konkret, masyarakat
di negara-negara Global South tidak hanya memperoleh manfaat langsung, tetapi
juga semakin memahami kebijakan luar negeri China yang menekankan bantuan
timbal balik dan pembangunan bersama. Senada dengan itu, Jin Ling, Direktur Institut Tata Kelola Global
dan Organisasi Internasional di China Institute of International Studies
mengatakan, kesinambungan kebijakan dan kepastian arah pembangunan China
turut memperkuat kepercayaan masyarakat Global South. ”Survei-survei ini menunjukkan bahwa masyarakat di sejumlah
negara, khususnya di Global South, memperoleh pemahaman yang semakin mendalam
mengenai stabilitas dan keterprediksian China,” kata Jin. Li juga mengaitkan perubahan opini publik tersebut dengan
menguatnya tatanan dunia multipolar. Menurut dia, China akan terus
menjalankan multilateralisme serta mendorong tata kelola global berdasarkan
konsultasi, kontribusi bersama, dan pembagian manfaat. (AP) ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar