|
Peta Buta Lapangan Kerja bagi Generasi Muda Jannus
TH Siahaan : Doktor
Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. |
KOMPAS.COM, 28 Juni 2026
|
SIAPA yang dadanya tidak ikut sesak melihat anak-anak muda
mengantre mencari kerja, ditemani orang tua mereka yang datang sekadar
memberi dukungan moral? Para orang tua membesarkan dan menguliahkan anaknya dengan biaya
yang tidak murah. Namun, kini anak yang mereka harapkan sukses pascatuntas
perkuliahannya justru kesulitan mencari sesuap nasi, jauh dari bayangan saat
dulu mengantar mereka masuk ke kampus. Begitulah keadaannya saat ini, berat dan sulit. Bahkan, setelah
mendapatkan pekerjaan pun, dengan gaji yang tidak seberapa, masih juga harus
terpotong ini dan itu. Adilkah ini buat mereka para generasi muda yang katanya sebagai
masa depan bangsa dan tulang punggung Indonesia emas? Pemandangan seperti itu nyata dan terjadi di banyak kota. Di job
fair Kota Tangerang akhir Juni 2026 lalu, di antara ribuan pelamar muda,
berdiri pula sejumlah orang tua. Salah satunya seorang ibu yang menemani anaknya yang baru lulus,
sebab ia ingin kelak, manakala anaknya dapat kerja, anaknya ingat ada jejak
perjuangan ibunya juga di sana. Ada pula sarjana dari kampus ternama yang datang ditemani ibunya,
semata agar mental sang anak kuat menghadapi antrean panjang yang
mengharuskannya berlama-lama menunggu. Dulu, melamar kerja adalah penanda seorang anak mulai berdiri
sendiri. Kini momen itu pelan-pelan berubah rupa, sebab anak butuh ditemani
dan orang tua ikut berdebar mengawal di belakangnya. Mereka melamar ke gerai ritel, ke jaringan kuliner, ke mana saja
yang masih membuka pintu. Ijazah yang dulu dibanggakan, tapi kini hanya
tersimpan rapat di dalam map. Ada keheningan tertentu di antrean itu,
keheningan orang yang berharap sambil menahan malu. Lalu, datang angka-angka yang seolah menghibur. Badan Pusat
Statistik mencatat tingkat pengangguran terbuka per Februari 2026 turun ke
4,68 persen, dan terdengar melegakan sampai kita lihat siapa saja yang ada di
dalamnya. Dari sekitar 7,24 juta orang yang menganggur, justru lulusan
perguruan tinggi yang angkanya berada di atas rata-rata nasional. Ijazah, yang dulu dianggap tiket, ternyata tak lagi menjamin
kursi. Bagi yang sudah bekerja pun, rata-rata upah buruh menurut lembaga yang
sama masih berkisar tiga jutaan rupiah sebulan, sebelum dipotong ini dan itu. Seorang sosiolog bernama Ronald Dore sudah menamai gejala ini
sejak puluhan tahun lalu, dan ia menyebutnya sebagai penyakit ijazah. Diagnosisnya sederhana dan terasa akrab bagi kita, sebagaimana
sering kita saksikan sendiri. Makin terlambat negara berbenah, makin sibuk
rakyatnya berburu selembar gelar, dan makin tipis pula harga gelar itu. Kita rupanya murid yang patuh, sebab sawah lalu rumah dijual dan
tabungan dikuras demi ijazah yang nilainya menyusut tiap musim wisuda. Yang menyakitkan, di banyak tempat harga sosial gelar malah lebih
tinggi daripada isinya. Orang mengejar status sarjananya, bukan ilmunya,
sementara bangku kuliah mengajarkan hal yang teoretis dan dunia kerja meminta
keterampilan yang lain. Maka lulusan menumpuk, lowongan yang cocok sedikit,
dan antrean pun mengular. Anak muda tetap disuruh kuliah dan tetap disuruh melamar, sebab
di luar itu pilihannya nyaris tidak ada. Tidak kuliah dianggap menutup pintu,
sementara kuliah pun belum tentu membukanya. Terjebak, tapi tetap harus
melangkah. Sebagian anak muda bahkan mulai menghitung ulang. Ada yang
mengurungkan niat melanjutkan kuliah, sebab biayanya berat sementara hasilnya
tak lagi pasti. Pilihan yang dulu dianggap sudah jelas, kini terasa seperti
semacam taruhan. Di sinilah pertanyaan adilkah di atas mulai menemukan jawabannya.
Victor Tan Chen, sosiolog yang lama menyimak hidup para penganggur, menyebut
keadaan macam ini sebagai meritokrasi yang pincang. Kita terus diberi tahu bahwa siapa yang rajin pasti naik dan
siapa yang gigih pasti dapat, padahal kenyataannya tak sebersih itu. Mereka yang sudah di atas saling menjaga posisi dan mewariskan
koneksi kepada anak-anaknya. Sementara yang di bawah disuruh, bahkan seolah
dipaksa untuk percaya bahwa nasibnya murni buah tangannya sendiri. Aturan mainnya tampak adil di permukaan, padahal papan caturnya
sudah miring sejak awal. Lihatlah tangga itu dari dua ujungnya. Di anak tangga paling
bawah, ijazah diminta tanpa ampun, dan tanpa selembar kertas itu lamaran
bahkan tidak akan pernah dilirik. Namun, semakin ke atas, kertas itu justru
makin kehilangan harganya. Dari 580 wakil rakyat yang kini duduk di Senayan, menurut data
KPU yang diolah Badan Pusat Statistik, tercatat 63 orang berbekal ijazah SMA
dan ratusan lainnya bahkan tidak mencantumkan riwayat pendidikannya. Untuk menduduki kursi Dewan yang terhormat, tamat SMA memang
sudah cukup. Sementara di luar gedung itu, sarjana berlapis S2 dan S3 justru
masih kebingungan mencari kerja. Kursi komisaris di perusahaan milik negara pun setali tiga uang.
Penelusuran lembaga pemantau mendapati sekitar enam dari sepuluh kursi itu
dihuni kalangan birokrat dan politisi, dan tidak sedikit yang diisi atas
dasar kedekatan serta balas budi politik. Di bawah orang diukur dari gelarnya, sedangkan di atas orang
diukur dari kenalannya dan jasa politiknya. Di situlah kata adil mulai terdengar seperti lelucon yang tidak
lucu. Coba timbang ironinya, sebab untuk menduduki kursi yang ikut menentukan
nasib orang banyak, ijazah SMA tidak jadi soal dan penghasilannya bisa
puluhan juta rupiah sebulan. Bahkan setelah berbagai tunjangan dipangkas menyusul gelombang
protes, penghasilan bersih seorang anggota Dewan tetap masih di kisaran enam
puluh lima juta rupiah, jauh di atas upah minimum di daerah mana pun. Sementara di luar sana, tidak sedikit lulusan S2 dan S3 yang
mengisi pekerjaan kasar dan mengandalkan tenaga, dengan upah sekadarnya.
Tidak ada yang rendah dari pekerjaan apa pun yang halal, dan yang terasa
ganjil hanyalah jurang penghargaannya. Lihat pula nasib guru, orang yang sejak dulu kita sama-sama akui
jasanya menyalakan pelita di kepala anak-anak kita. Menurut Badan Pusat Statistik, rata-rata guru honorer hanya
menerima sekitar sembilan ratus ribu rupiah sebulan. Bahkan, survei mendapati
tujuh dari sepuluh di antara mereka bergaji di bawah dua juta, jauh di bawah
upah minimum. Belum lagi sekalipun berstatus honorer mereka mengarungi lautan
dalam demi menunaikan kewajiban mengajar. Baru-baru ini di antara guru
tersebut ada dua guru hilang di lautan menjadi korban keganasan ombak
perairan Maluku. Sudah terbalik, bukan, dunia kita ini? Akibatnya pahit, sebab yang gagal kerap merasa itu salahnya
sendiri. Anak muda yang sudah lelah mengantre masih harus menanggung rasa
bahwa dirinya seorang pecundang, padahal keadaannya jauh di luar kendalinya. Beban yang semestinya kita pikul bersama malah ditimpakan
sendiri-sendiri ke pundak yang paling muda. Dan bekasnya tidak berhenti hari ini saja, sebagaimana sering
luput dari perhitungan kita. Menganggur di awal usia kerja meninggalkan luka
panjang, dari penghasilan yang cenderung lebih rendah bertahun-tahun ke depan
sampai kesehatan yang tergerus oleh rasa cemas. \ Apa yang tampak seperti jeda sebentar di masa muda bisa menjadi
garis yang membayangi seluruh perjalanan hidup. Maka keluarga pun ikut menanggung, jauh setelah hari wisuda
berlalu. Tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun habis untuk biaya yang
belum tentu kembali. Dan orang tua, sebagaimana kita lihat di job fair itu,
tetap memilih berdiri di samping anaknya. Maka jadilah pemandangan yang ganjil manakala direnungkan. Di
satu layar kita dengar kabar gembira, bahwa jutaan lapangan kerja baru
katanya dibuka di dapur-dapur program dan angka pengangguran katanya menurun. Di layar sebelahnya, sarjana ternyata masih berdiri di antrean
ditemani ibunya, dan kalaupun dapat kerja gajinya tipis dan masih kena
potong. Pekerjaan memang tercipta, tapi belum tentu pekerjaan yang dicari
anak-anak muda yang telah bersusah payah meraih gelarnya. Coba tengok sebentar Jerman, Austria, atau Swiss, yang
pengangguran mudanya rendah dan adem justru karena mereka tidak memaksa semua
orang kuliah. Di sana, jalur keterampilan dan magang dihormati setara dengan
jalur akademik, dan anak muda diberi jalan yang benar-benar bersambung ke
pekerjaan. Sementara di sini, kita ramai-ramai mencetak sarjana, lalu
termangu memikirkan hendak ditaruh di mana mereka semua. Itulah peta buta yang kita wariskan kepada generasi muda. Ramai
rambunya, riuh papan namanya, tapi tak satu pun benar-benar menunjukkan arah. Padahal, keadaan ini bukan nasib yang turun dari langit. Setiap
perubahan ekonomi dan teknologi menyisakan pertanyaan yang sama, yaitu
keuntungannya untuk siapa dan siapa yang diajak duduk di meja saat keputusan
diambil. Manakala janji dibagi rata di musim kampanye, tapi kebijakan
hanya menetes ke sebagian kecil manusia, yang muda pelan-pelan terdorong
keluar dari ruangan tempat nasibnya sendiri dibicarakan. Ada satu hal yang sering luput dari perhitungan kita.
Menelantarkan anak muda yang menganggur tidak cuma melukai mereka, tapi
pelan-pelan juga memadamkan suara dan kepercayaan mereka. Diperlakukan dengan hormat mereka tetap percaya, sedangkan
dipersulit dan dipermalukan mereka hanya diam lalu menjauh. Sebuah negeri yang membiarkan generasi mudanya berhenti berharap
sedang menabung persoalan yang jauh lebih besar daripada angka pengangguran. Persoalannya menyangkut apakah anak-anak muda itu masih percaya
bahwa kerja keras itu ada gunanya. Sebab kepercayaan yang padam jauh lebih
sulit dipulihkan daripada lowongan yang hilang. Lalu apa yang bisa kita perbuat, sebagaimana selalu menjadi
pertanyaan yang sulit dijawab? Tidak ada satu obat mujarab nan ajaib, tapi ada beberapa lapis
yang bisa dikerjakan bersama, dari yang paling dekat dengan diri sampai yang
paling jauh menyangkut kuasa. Lapis pertama yang paling dekat ialah berhenti menyalahkan diri
sendiri, sebab antrean panjang itu bukan aib pribadi, dan menyadari hal itu
saja sudah cukup meringankan langkah. Lapis kedua ialah pendidikan, dan di sini kita perlu berhenti
menggiring semua orang ke satu jalur yang sama. Jalur keterampilan dan magang mesti dibuat terhormat dan
benar-benar nyambung ke dunia kerja, sebagaimana sudah terbukti berhasil
diterapkan di negeri-negeri maju tadi. Lapis ketiga ialah dunia kerja, agar aturannya lebih adil,
upahnya layak untuk hidup, dan pintunya tidak hanya terbuka bagi yang
kebetulan punya kenalan/koneksi. Lapis keempat dan yang paling dalam ialah negara. Pastikan arah
ekonomi dan setiap program yang digulirkan memang melayani yang muda, dan
beri mereka tempat untuk bersuara. Jangan sampai mereka hanya dihitung sebagai angka yang katanya
membaik, lalu dilupakan setelah pidato selesai. Pada akhirnya, yang diminta anak-anak muda itu sebenarnya
sederhana. Mereka hanya ingin diberi sedikit kelapangan, berupa kesempatan
yang masuk akal, penghargaan atas usaha, dan keadilan yang tidak berhenti di
atas mimbar. Selebihnya mereka akan berjalan sendiri, sebagaimana sudah mereka
tunjukkan selama ini. Orang tua yang setia menemani di barisan antrean itu sudah
menunjukkan kepada kita bahwa cinta itu masih ada dan belum habis. Tinggal kita jawab bersama pertanyaan yang sejak tadi menggantung
di udara. Adilkah ini buat mereka? ● |
Sumber
: https://nasional.kompas.com/read/2026/06/28/07060741/peta-buta-lapangan-kerja-bagi-generasi-muda?page=all#page2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar