|
Lebih dari Seribu
Hari Lagi Prabowo Berkuasa Stefanus
Pramono : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 12
Juli 2026
|
· Pada masa pemerintahan Prabowo
Subianto, nasib pemberantasan korupsi kian abstrak. · Korupsi bukan bahan bakar pembangunan. · Perubahan hanya bisa terjadi lewat
mobilisasi masyarakat sipil. PRESIDEN
Prabowo Subianto belum dua tahun berkuasa. Hingga Ahad, 12 Juli 2026, saat
saya mengetik newsletter ini, ia baru memerintah 630 hari. Jika sehat dan tak
berhalangan tetap, atau tidak dilengserkan, Prabowo bisa saja memenuhi masa
kerjanya selama 1.826 hari hingga 2029. Apa pun
sikap Anda terhadap rezim saat ini, mari kita doakan semoga siapa pun
presiden kita nanti selalu sehat dan membawa masyarakat lebih sejahtera. Doa
dan harapan yang baik tentu harus diamini dan diupayakan supaya tercapai.
Bukan begitu, Saudara-saudara? Hampir
21 bulan Prabowo memimpin, mungkin kita prihatin melihat nasib pemberantasan
korupsi yang kian lemah. Yang terbaru, konflik menyala di antara korps
penegak hukum: Kejaksaan Agung dan Kepolisian RI. Ada
banyak drama dari dua abdi negara yang sama-sama berbaju cokelat itu. Adu
kuat. Saling kunci. Lobi-lobi. Ego lembaga. Ada yang menang dan ada yang
menangis. Yang hilang dalam tontonan itu—Anda bisa membacanya dalam laporan
utama majalah Tempo pekan ini—adalah rasa malu. Celakanya,
korupsi pun makin menggila. Bahkan pada program prioritas Presiden Prabowo
yang digembar-gemborkan untuk kepentingan rakyat: makan bergizi gratis. Salah
satu pelakunya orang dekat Presiden, eks Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan
Hindayana. Tidak
untuk dibanggakan, Indonesia bukan satu-satunya negara yang pemberantasan
korupsinya eblek-eblek, istilah yang saya gunakan saat mengedit naskah
berkualitas buruk. François Valérian, Chair of Transparency International,
lembaga pegiat antikorupsi dengan lebih dari seratus cabang di dunia,
menyebutkan banyak negara lain juga demikian. Berbeda
dengan Fadli Zon, kini Menteri Kebudayaan, Valérian menyatakan korupsi bukan
bahan bakar pembangunan. Ia menilai korupsi pada program populis, seperti
makan bergizi gratis, menumbalkan masyarakat miskin yang hidupnya banyak
bergantung pada anggaran negara. Valérian
pun menyampaikan pandangannya tentang program Patriot Bond yang rawan menjadi
ruang pencucian uang. Ia juga menjelaskan revolusi yang diinisiasi anak muda
di banyak negara karena gerah terhadap korupsi yang merampas masa depan
mereka. Lalu
gimana cara menghadapi korupsi yang suburnya mengalahkan proyek lumbung
pangan itu? Menurut
Valérian—Anda bisa membacanya dalam artikel “TI: Korupsi Bukan Mesin
Penggerak Pertumbuhan Ekonomi”—perlu mobilisasi masyarakat sipil lewat
gerakan damai untuk membuat perubahan. Sebab, kekuasaan tak dapat mereformasi
diri sendiri tanpa tekanan warga negara. Kalau
menurut saya, kita berhak geregetan atau marah terhadap korupsi yang kian
menggurita. Tinggal curahkan saja pakai cara yang benar. Menurut Gemini, AI
milik Google, emosi jangan dipendam karena bisa memicu masalah fisik, seperti
melemahnya imun. In this
economy, rasanya lebih baik kita tetap menjaga kondisi tubuh agar tidak
sakit. Ada atau tidak ada perubahan, Presiden Prabowo masih akan memimpin
lebih dari seribu hari lagi. Terasa lama? Nikmatin aja. ● Sumber :
https://www.tempo.co/wawancara/pemberantasan-korupsi-prabowo-subianto-2275289 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar