|
AS-Iran, Damai atau Jeda Konflik? Darmansjah
Djumala : Dewan Pakar
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar
Negeri dan Dosen Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. |
KOMPAS.COM, 22 Juni 2026
|
SETELAH diharubiru oleh perang lebih dari tiga bulan, akhirnya
Amerika Serikat dan Iran mau duduk bersama dan menyepakati untuk menghentikan
saling serang. Penandatanganan itu akhirnya dilakukan pada 17 Juni lalu. Banyak pihak menyambut langkah tersebut sebagai terobosan
diplomatik yang berpotensi mengurangi risiko eskalasi di kawasan yang selama
beberapa dekade menjadi salah satu titik paling rawan dalam politik global. Namun di balik optimisme tersebut, masih terdapat pertanyaan
mendasar: apakah kesepakatan itu benar-benar menjadi awal dari perdamaian
yang berkelanjutan, atau hanya jeda sementara sebelum pecah konflik yang
lebih besar dan lebih kompleks? Di Timur Tengah, keberhasilan suatu perjanjian sering kali tidak
hanya ditentukan oleh para pihak yang menandatanganinya, tetapi juga oleh
aktor-aktor lain yang memiliki kepentingan langsung terhadap hasil
perundingan. Dari nama kesepakatan itu saja sudah tergambar seberapa kuat
komitmen kedua pihak untuk benar-benar damai. Kesepakatan itu disebut – paling tidak oleh media – memorandum of
understanding (MoU). Ini artinya hanya pernyataan kesepahaman. Bukan
perjanjian (agreement). Berbeda dengan perjanjian damai yang bersifat final dan mengikat,
MoU hanya merupakan kerangka kesepahaman yang membuka jalan bagi negosiasi
lebih lanjut. Jadi, dokumen yang ditandatangani
pada 17 Juni itu bukanlah akhir dari proses diplomatik, melainkan awal
dari tahapan baru yang lebih rumit. Iran memiliki alasan kuat untuk menyetujui kesepakatan tersebut. Tekanan ekonomi yang berkepanjangan dan keinginan mengurangi
tekanan sanksi ekonomi AS menjadi faktor yang mendorong Teheran mengambil
jalur diplomasi. AS ingin menekan risiko konflik yang mengganggu stabilitas energi
global dan membebani anggaran pertahanan. AS juga ingin mengalihkan perhatian ke prioritas geopolitik lain. Ada kecenderungan dalam kebijakan luar negeri AS untuk mengurangi
keterlibatan militer jangka panjang di Timur Tengah. Dalam konteks ini, MoU dapat dipandang sebagai titik temu antara
kepentingan strategis kedua negara. Namun kesamaan kepentingan itu belum cukup untuk menghasilkan
perdamaian yang langgeng. Masih ada kendala strategis lain; yaitu faktor
Israel. Tantangan terbesar bagi kesepakatan AS-Iran justru fakta, Israel
tidak menjadi pihak dalam kesepakatan tersebut. Bagi Iran, konflik regional tidak dapat dipisahkan dari hubungan
antara Israel dan kelompok-kelompok yang selama ini menjadi sekutu Teheran,
terutama Hezbollah di Lebanon. Bagi Iran, stabilitas kawasan tidak hanya ditentukan oleh
hubungan Washington-Teheran, tetapi juga oleh berakhirnya berbagai front
konflik yang melibatkan Israel. Sebaliknya, Israel melihat persoalan secara berbeda. Pemerintah
Israel memandang Hezbollah sebagai ancaman eksistensial yang nyata dan
langsung. Karena itulah Israel beranggapan bahwa operasi militer terhadap
Hezbollah harus tetap dilakukan terlepas dari kesepakatan antara AS-Iran. Di sinilah muncul persoalan mendasar yang berpotensi menghambat
keberhasilan MoU. AS mungkin boleh saja mencapai kesepakatan dengan Iran. Namun
Washington tidak selalu bisa mengendalikan Israel. Hubungan kedua negara memang sangat erat, tetapi sejarah
menunjukkan bahwa Israel tetap dapat mengambil keputusan strategis
berdasarkan perhitungan kepentingan nasionalnya sendiri. Tatkala Israel melanjutkan operasi militer di Lebanon Selatan dan
mempertahankan penguasaan wilayah-wilayah strategis yang dipersengketakan,
maka sumber ketegangan antara Israel dan Iran dengan proksinya tidak akan
hilang. Dalam kondisi demikian, MoU hanya akan menghasilkan perdamaian
terbatas: konflik langsung antara Amerika Serikat dan Iran mereda, tetapi
konflik regional tetap berlangsung. Bagaimanapun, perdamaian seperti itu tentu lebih baik
dibandingkan perang terbuka. Salah satu pertanyaan penting dalam beberapa bulan mendatang
adalah bagaimana Iran akan menyesuaikan kebijakan regionalnya setelah MoU
ditandatangani. Sulit membayangkan Teheran akan meninggalkan Hezbollah
sepenuhnya. Kehilangan Hezbollah akan dipandang sebagai kemunduran geopolitik
yang signifikan bagi Iran. Apalagi jika Israel terus merangsek ke wilayah strategis Lebanon
Selatan menggempur Hezbollah, pemerintah Iran akan menghadapi dilema:
mempertahankan kesepakatan dengan AS atau menunjukkan solidaritas yang lebih
kuat kepada sekutu-sekutunya di kawasan.
Sementara bagi AS sendiri, tantangan terbesar bukan sekadar
mempertahankan kesepakatan, melainkan mengelola konsekuensi strategisnya. Washington harus menyeimbangkan upaya normalisasi hubungan dengan
Iran tanpa menimbulkan kekhawatiran Israel dan negara sekutunya di Teluk,
yang selama ini mengandalkan payung keamanan AS. Jika keseimbangan ini tidak dikelola dengan baik, MoU berisiko
menjadi sumber ketegangan baru, bukan fondasi
damai bagi kawasan dalam jangka panjang. Setelah penandatanganan MoU, perhatian dunia akan tertuju pada
fase negosiasi lanjutan selama sekitar 60 hari. Periode inilah yang sebenarnya akan menentukan masa depan
hubungan AS-Iran. Berbagai isu paling sensitif masih menunggu penyelesaian. Selat Hormuz, program nuklir Iran, mekanisme verifikasi,
pengurangan sanksi, serta keamanan regional merupakan persoalan yang jauh
lebih sulit dibandingkan sekadar menyepakati penghentian konflik. Keberhasilan negosiasi akan sangat bergantung pada kemampuan
kedua pihak membangun kepercayaan secara bertahap. Enam puluh hari ke depan kemungkinan akan menjadi periode yang
penuh kehati-hatian sekaligus ketegangan. Kesepakatan AS-Iran layak disambut sebagai perkembangan positif.
Di tengah berbagai konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah, setiap
langkah yang mengurangi risiko perang patut diapresiasi. Namun optimisme perlu diimbangi dengan realisme. Kesepakatan ini
memiliki peluang cukup besar untuk menghentikan konfrontasi langsung antara
AS dan Iran. Tetapi, keberhasilannya menciptakan stabilitas regional yang
lebih luas masih bergantung pada banyak faktor yang justru tidak dibahas di
meja perundingan. Selama masalah Israel, Lebanon, dan jaringan proksi Iran belum
menemukan titik temu yang lebih permanen, perdamaian di Timur Tengah akan
tetap bersifat parsial dan rentan terhadap gejolak baru. Penandatanganan MoU AS-Iran sebaiknya tidak dipandang sebagai
garis finish dari sebuah konflik, melainkan sebagai langkah pertama dalam
perjalanan diplomatik yang masih panjang. Akhir kalam, waktulah yang akan menjawab apakah kesepakatan itu
merupakan awal perdamaian antara AS dan Iran, atau hanya jeda konflik sebelum
babak ketegangan berikutnya kembali dimulai. ● |
Sumber
: https://www.kompas.com/global/read/2026/06/22/055500970/as-iran-damai-atau-jeda-konflik-?page=all#page2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar