|
Militerisasi yang Salah Alamat di Koperasi
Desa Merah Putih Jannus
TH Siahaan : Doktor
Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. |
KOMPAS.COM, 30 Juni 2026
|
APAKAH tidak ada yang terasa janggal di sini? Koperasi Desa Merah
Putih, yang semestinya diisi dengan pelatihan sesi tata kelola dan manajemen
keuangan, para calon pengelolanya justru digiring mengikuti latihan ala
militer. Sebuah kejanggalan yang, entah kenapa, seperti dianggap
lumrah-lumrah saja. Betapa tidak, dalam waktu kurang dari dua pekan, lima calon
manajer koperasi desa meninggal dunia saat menjalani latihan dasar militer. Mereka adalah anak-anak muda yang ingin bekerja dan ikut
membangun kampungnya, sama sekali bukan calon prajurit yang sedang disiapkan
untuk maju ke medan perang. Nama-nama mereka: Anisa Muyassaroh, Yonanda Muhammad Taufiq,
Novia Rahmadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dan Nola Dya Sari. Mereka bahkan belum resmi menjadi manajer, baru berstatus calon
yang sedang dilatih. Mestinya hari ini mereka sedang sibuk belajar mengelola
lembaga keuangan mikro, bukan malah pulang ke rumah orang tuanya tanpa nyawa. Kementerian Pertahanan menyebut penyebabnya bermacam-macam, ada
henti jantung, heat stroke, dan tuberkulosis. Coba kita renungkan lagi. Koperasi desa itu sebetulnya entitas
ekonomi kecil yang sifatnya lokal, jauh dari kategori lembaga keuangan besar
yang sistemik seperti institusi perbankan. Yang akan dikerjakan para manajernya pun seputar mengurus simpan
pinjam, menyusun pembukuan, menimbang layak tidaknya seorang anggota diberi
kredit, hingga menghidupkan unit usaha kecil di desa. Pelatihan Fisik dan Ketahanan Tidak ada satu pun dari urusan itu yang ada hubungannya dengan
kemampuan baris berbaris dan berbagai aktivitas fisik padat yang dilakukan di
barak militer dari subuh hingga malam. Tidak ada uang anggota yang selamat hanya gara-gara manajernya
kuat berlari pagi atau push-up, pull-up dan sit-up. Yang menyelamatkan uang
anggota justru hal lain, seperti ketelitian mencatat, keberanian menolak
pinjaman berisiko, dan kejujuran melaporkan apa adanya. Di sinilah letak salah alamatnya. Patuh pada aturan dan prosedur
tentu wajib bagi siapa pun yang mengurus uang. Namun, yang dicetak latihan militer bukan kepatuhan semacam itu,
melainkan kepatuhan pada perintah atasan. Padahal, koperasi justru lebih
butuh orang yang cakap mengelola dan berani mengambil keputusan. Persoalannya pun tidak berhenti pada latihan fisiknya yang
berisiko itu. Yang justru lebih bikin waswas adalah soal mental seperti apa
yang sebenarnya sedang dicetak lewat model pelatihan semacam ini. Sebab latihan militer memang dirancang untuk menanamkan kepatuhan
penuh pada komando, dan ujungnya adalah manusia yang refleksnya menunggu
perintah dari atas. Mental yang terbentuk pun jadi mental “asal bapak senang” atau
“yes sir”, apa-apa minta izin dulu, apa-apa takut keliru di hadapan atasan,
dan apa-apa menunggu aba-aba. Buat sebuah barisan prajurit, sosok seperti ini barangkali ideal.
Namun, untuk koperasi, sosok semacam itu justru merugikan. Manajer koperasi yang baik justru dituntut kebalikannya. Ia harus
punya inisiatif, berani memutuskan sendiri, dan punya naluri dagang untuk
memutar modal anggota menjadi usaha yang hidup. Ia juga mesti berani menagih dengan tegas dan melawan tekanan
dari siapa pun demi melindungi uang anggotanya. Pendeknya, koperasi butuh
orang bermental pemimpin, bukan bermental bawahan. Bahaya dari mental seperti ini akan terlihat paling jelas nanti
pada angka. Bayangkan suatu hari ada rasio keuangan yang secara teori sudah
bermasalah, entah karena kredit macetnya membesar atau likuiditasnya menipis. Manajer yang terlanjur dicetak penurut dan takut dimarahi
pengurus, besar kemungkinan malah memilih diam atau menunda lapor, semata
karena takut dianggap gagal. Padahal di dunia keuangan, sikap sebaliknya yang justru
menyelamatkan. Berani menyampaikan kabar buruk lebih awal membuat masalah
masih sempat ditangani selagi masih kecil. Sebab begitu angka jelek disembunyikan, masalahnya akan terus
membesar, dan ujungnya koperasi bisa kolaps lalu uang anggota pun ikut
hilang. Nah, di sinilah ironinya terasa pahit. Pelatihan yang katanya
hendak menanamkan integritas, lewat mental tunduknya, malah berpotensi
melahirkan kebiasaan tutup-menutupi. Padahal, integritas keuangan menuntut orang yang berani berkata
ada yang tidak beres, bukan orang yang refleks pertamanya menyenangkan
atasan. Repotnya lagi, mental semacam ini bertemu dengan watak budaya
kita sendiri yang memang sudah sungkanan dari sananya. Di negeri ini, banyak orang terbiasa mengawali apa-apa dengan
minta maaf, padahal tidak salah apa pun, semata karena tidak enakan. Belum
lagi kebiasaan minta izin lebih dulu untuk hal sepele, manakala sebetulnya
cuma takut dianggap mengganggu. Kecenderungan sungkan semacam ini sebenarnya sudah lama menjadi
pekerjaan rumah bagi dunia usaha kita. Bukannya dikurangi, kecenderungan itu
malah diperkuat oleh pelatihan ala militer itu. Yang lahir kemudian bukan pengelola yang gesit memutar roda
ekonomi desa, tapi manajer yang refleks pertamanya meminta maaf sambil
menunggu petunjuk. Kekhawatiran ini pun bukan mengada-ada, sebab ada pijakan
teorinya. Christopher G. Robbins, akademisi dari Eastern Michigan University,
sudah membahasnya dalam buku Expelling Hope: The Assault on Youth and the
Militarization of Schooling. Ia menunjukkan apa yang biasanya terjadi manakala logika militer
dipaksa masuk ke institusi sipil, dan buku itu bahkan memenangi Critics’
Choice Award 2008 dari American Educational Studies Association. Temuan Robbins ini rasanya akrab sekali dengan keadaan kita.
Begitu pendekatan militer masuk ke ruang yang semestinya membentuk warga yang
mandiri, yang terjadi bukan penguatan, tetapi malah pengikisan tujuan asli
ruang itu. Orang di dalamnya bisa berubah, dari calon agen yang merdeka
menjadi sekadar bawahan yang manut pada perintah. Koperasi seperti dirusak
bahkan sebelum sempat beroperasi. Pengamat koperasi Suroto, Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi
Strategis, bahkan terang-terangan menyebut program ini salah konsep sejak
awal. Menurut dia, di pusat pelatihan koperasi mana pun di dunia, yang
dominan semestinya materi soal ideologi koperasi, tata kelola, dan kemampuan
teknis perkoperasian. Ia menyayangkan komposisinya yang malah dibalik, manakala materi
koperasi cuma dijadikan suplemen tempelan setelah materi kemiliteran. Betul, ada benarnya jika latihan ala militer disebut perlu untuk
menanamkan karakter disiplin, integritas, dan etos kerja. Niatnya boleh jadi benar, tapi disiplin profesional di dunia
keuangan bukan lahir sehari dua hari dari latihan fisik di lapangan dan
dibekali aneka materi di ruang barak militer. Ia tumbuh dari sistem kerja yang akuntabel, dari audit yang
berjalan, dan dari sanksi tegas setiap ada penyimpangan. Semua itu sepaket
dengan proses panjang dari pelatihan dan pengelolaan keuangan mikro itu
sendiri. Persoalan berikutnya menyangkut seleksi, dan ini yang tidak kalah
penting. Penyelenggara bersikukuh semua peserta sudah lolos pemeriksaan
kesehatan sebelum diberangkatkan. Namun, klaim itu langsung rontok sendiri, sebab nyatanya ada
peserta yang ternyata mengidap tuberkulosis sampai meninggal di tengah
pelatihan. Bukankah sudah lazim dalam seleksi masuk yang diadakan
pemerintah, bahwa tes kesehatan itu bagian penting, bahkan wajib? Yang lebih bikin geleng kepala, sempat terungkap ada puluhan ibu
hamil yang juga ikut lolos seleksi dan masuk ke pelatihan, baru kemudian
dipulangkan. Manakala saringan sekasar itu saja masih bisa ditembus, wajar
belaka jika klaim bahwa semua peserta sudah layak secara medis ikut
kehilangan kredibilitasnya. Artinya ada masalah serius sejak tahap seleksi, dan akibatnya
baru terlihat belakangan setelah jatuh korban. Dari sini muncul satu ironi yang layak direnungkan dengan kepala
dingin, bukan dengan buru-buru menuding. Sebuah program yang katanya dirancang untuk menempa keberanian
justru dibangun di atas prinsip semua harus ikut dan semua harus kompak. Dalam suasana seperti itu, ruang untuk rehat sejenak atau melapor
sedang tidak sanggup, nyaris tidak tersedia. Apakah mereka diberi kesempatan
untuk menyatakan kondisi kesehatannya saat itu? Ini bukan tudingan bahwa ada pihak yang lalai, sebab soal itu
jelas ranah penyelidikan resmi. Namun, publik tentu boleh bertanya, apakah
suasana yang dibangun program ini menyediakan ruang yang cukup bagi seseorang
untuk berhenti tanpa rasa malu. Lucunya lagi, latihan ketahanan malah menjelma menjadi tempat
yang paling tidak ramah pada kejujuran soal batas ketahanan diri. Skala program ini pun membuat kelalaian sekecil apa pun langsung
berakibat besar. Tercatat ada 35.476 calon manajer yang ikut serentak dalam
program pembekalan selama 45 hari. Mengerahkan puluhan ribu orang dengan pengawasan medis yang
rapuh, ujung-ujungnya cuma menjadi resep bagi tragedi yang berulang. Yang membuat publik kian gusar justru respons sebagian
pejabatnya. Ada yang buru-buru berkata latihannya tidak terlalu keras, lalu
menduga peserta meninggal karena memang sudah sakit sebelum mengikuti
pelatihan. Logika seperti ini berbahaya, sebab ia memindahkan beban
kesalahan kepada korban, padahal korban itu diberangkatkan negara dalam
status dinyatakan sehat. Maka, pertanyaannya sekarang bukan lagi sekadar apakah latihannya
kelewat berat atau tidak. Pertanyaan yang lebih mendasar, kenapa cara ini
yang dipilih sejak semula untuk mencetak orang yang tugasnya berhitung dan
berdagang, bukan bertempur. Selama itu belum dijawab dengan jujur, evaluasi apa pun tidak
akan menyentuh akar masalahnya. Lalu, apa yang sebenarnya bisa diperbuat? Tidak ada obat ajaib
memang, tapi ada beberapa langkah konkret yang masuk akal. Pertama, cabut saja komponen latihan dasar militer dari kurikulum
calon manajer koperasi, lalu ganti dengan magang wajib di koperasi yang sudah
sehat dan berjalan. Pengalaman langsung di lapangan jauh lebih relevan dan bermanfaat
ketimbang sekadar simulasi ketahanan fisik. Kedua, kendali kurikulumnya dipindah ke tangan yang memang tepat.
Penyusunan materi dan standar kelulusan semestinya dipegang Kementerian
Koperasi bersama lembaga sertifikasi keuangan mikro, bukan didominasi
institusi pertahanan. Biarlah tiap pihak mengajarkan apa yang memang menjadi
keahliannya. Ketiga, ganti tolok ukur kelulusannya. Jangan lagi soal ketahanan
fisik, melainkan kompetensi yang benar-benar bisa diukur. Seorang calon manajer semestinya dinyatakan lulus karena mampu
menyusun laporan keuangan sederhana, menimbang risiko pinjaman, dan
menjalankan pembukuan digital. Justru itu yang langsung akan ia pakai begitu
mulai bertugas. Keempat, seandainya pembentukan karakter tetap dianggap perlu,
latihlah mental yang benar. Mental inisiatif dan keberanian mengambil
keputusan, bukan mental tunduk dan menunggu perintah. Cukup berupa orientasi singkat soal etika, kepemimpinan, dan
pelayanan kepada anggota, tanpa beban fisik yang sampai harus membahayakan
nyawa. Kelima, dan ini yang paling mendasar, bangun pengawasan kesehatan
yang independen dan berlapis untuk tiap pelatihan massal yang diselenggarakan
negara. Pemeriksaan jangan berhenti di tahap seleksi awal, melainkan
harus berjalan terus selama pelatihan. Negara yang sudah memberangkatkan, sudah semestinya menjamin tiap
peserta pulang dalam keadaan selamat. Lima nama yang terlanjur pergi memang tidak bisa kita panggil
pulang lagi. Namun, setidaknya kita masih punya pilihan, supaya mereka tidak
gugur sia-sia demi kekeliruan yang dibiarkan terus berlangsung. Akui saja dengan jujur, disiplin ala militer ini sejak awal
memang salah alamat, sebab koperasi tidak pernah meminta dikirimi prajurit.
Ia hanya butuh pengelola yang cakap dan berani. ● |
Sumber
: https://money.kompas.com/read/2026/06/30/073500526/militerisasi-yang-salah-alamat-di-koperasi-desa-merah-putih?page=all#page2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar