|
Berbagai
Cara Meredam Demonstrasi Mahasiswa Hussein Abri
Dongoran : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 05
Juli 2026
|
· Presiden Prabowo berpidato selama lima
jam di depan rektor setelah demonstrasi merebak di berbagai kota. · Prabowo menyebut mahasiswa belum
mendapat penjelasan yang utuh mengenai kinerja pemerintahannya. · Ada aksi massa tandingan yang mendukung
program-program Prabowo. SAMBIL
duduk di kursi yang tertata di panggung Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains,
Teknologi, dan Industri Indonesia, Presiden Prabowo Subianto memaparkan
sejumlah program andalannya. Di hadapan lebih dari 2.000 rektor, akademikus,
dan peneliti yang hadir di Jakarta International Convention Center pada
Jumat, 26 Juni 2026, itu, Prabowo menjelaskan kinerja pemerintahan. Ia
sebelumnya meminta para jurnalis yang meliput acara tersebut keluar dari
ruangan. Seraya berkelakar, Prabowo menyilakan wartawan menikmati kopi di
luar ruangan karena ia ingin berbicara dari hati ke hati. Pada hari itu,
Prabowo berpidato selama hampir lima jam. “Saya terkesan oleh data yang
disampaikan Bapak Presiden,” ujar Kepala Pusat Riset Hukum Badan Riset dan
Inovasi Nasional Nawawi Asmat kepada Tempo pada Kamis, 2 Juli 2026. Nawawi
menghitung, Prabowo berbicara dengan bantuan lebih dari 200 salindia yang
tampil di layar jumbo. Topik yang dibahas Prabowo beragam, dari geopolitik,
kondisi ekonomi, hingga pengelolaan sumber daya alam. Ia juga menyinggung
program andalannya, seperti makan bergizi gratis dan koperasi desa merah putih.
Menurut Nawawi, Presiden tak membuka sesi tanya-jawab pada hari itu. Nawawi
mengatakan Prabowo menjelaskan urgensi pemberian makan bergizi gratis untuk
mengatasi kasus tengkes. Prabowo, kata Nawawi, meyakini keberhasilan program
ini karena sejumlah negara juga menerapkan program makan siang di sekolah.
“Penolakan makan bergizi yang terjadi di berbagai daerah tak dibahas sama
sekali,” tuturnya. Prabowo
juga menyampaikan informasi yang sensitif. Itulah alasan ia menyilakan
wartawan meninggalkan aula. Dua akademikus yang hadir dalam pertemuan itu
bercerita, Prabowo mengutarakan kegelisahannya soal hubungan diplomatik
Indonesia dengan negeri jiran, khususnya Singapura. Menurut
narasumber tersebut, Prabowo sempat memutar video pendek mengenai pernyataan
mantan pemimpin negara tetangga yang meremehkan kekuatan Indonesia. Dua guru
besar yang berada di ruang pertemuan menuturkan, Prabowo menyampaikan
pandangannya mengenai mahasiswa. Prabowo, kata dua profesor ini, mengatakan
mahasiswa belum memahami secara utuh program yang dikerjakan Kabinet Merah
Putih. Karena
itu, ia meminta bantuan para pemimpin perguruan tinggi untuk ikut menjelaskan
capaian pemerintah kepada mahasiswa. Seorang pejabat di Istana dan pimpinan
lembaga negara yang mengetahui jalannya Sarasehan Kebangsaan membenarkan
informasi tersebut. Kepala
Badan Riset dan Inovasi Nasional Arif Satria, yang hadir dalam pertemuan
Presiden Prabowo dengan para akademikus, mengatakan pemerintah perlu
mengkomunikasikan program melalui berbagai saluran. Forum
pertemuan dengan para rektor, menurut Arif, penting bagi pemerintah sebagai
sarana untuk memperoleh masukan. “Agar publik mengetahui dan memahami,”
ujarnya kepada Tempo pada Jumat, 3 Juli 2026. Sarasehan
Kebangsaan digelar setelah munculnya rentetan unjuk rasa mahasiswa yang
memprotes kinerja pemerintah. Di Jakarta, para mahasiswa Universitas
Indonesia dan sejumlah kampus lain berdemonstrasi menuntut proyek makan
bergizi gratis dan koperasi desa merah putih dihentikan. Aksi
massa serupa meluas di sejumlah kota besar, seperti Bandung, Jawa Barat;
Surabaya dan Malang, Jawa Timur; serta Medan, Sumatera Utara. Seorang
pejabat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi—tuan rumah
Sarasehan Kebangsaan—bercerita, acara Konvensi Sains sebetulnya sudah
terjadwal pada Agustus 2026. Namun,
sepekan sebelum Sarasehan Kebangsaan atau pada pekan ketiga Juni, Istana
meminta Kementerian Pendidikan Tinggi menyelenggarakan pertemuan dengan para
rektor dan guru besar. Permintaan itu muncul di tengah gelombang unjuk rasa
mahasiswa di berbagai kota. Menurut
narasumber yang sama, Kementerian Pendidikan akhirnya membuat Sarasehan
Kebangsaan sebagai acara pembuka Konvensi Sains yang baru akan berlangsung
pada Agustus 2026. Pada tahun-tahun sebelumnya, tak ada forum pendahuluan
seperti Sarasehan Kebangsaan itu. Wakil
Menteri Pendidikan Tinggi Fauzan menuturkan, perubahan jadwal acara Konvensi
Sains terjadi karena melihat evaluasi pada tahun lalu. Kata Fauzan, para
menteri yang menjadi pembicara sulit meluangkan waktu pada bulan Agustus. Fauzan
menyebutkan Istana tak mengajukan permintaan khusus mengenai jadwal Konvensi
Sains. “Menyesuaikan dengan waktu Bapak Presiden saja,” tutur mantan Rektor
Universitas Muhammadiyah Malang itu melalui pesan WhatsApp pada Jumat, 3 Juli
2026. Dalam
kesempatan terpisah, para menteri di Kabinet Merah Putih juga berupaya
menjelaskan kinerja pemerintah. Salah satunya Menteri Pertanian Amran
Sulaiman. Dalam surat berkop Kementerian Pertanian tertanggal 26 Juni 2026,
Amran mengundang pejabat Universitas Gadjah Mada, dari rektor sampai pengurus
badan eksekutif mahasiswa, untuk datang ke rumahnya di Pancoran, Jakarta
Selatan. Pertemuan itu berlangsung tiga hari setelah Prabowo hadir dalam
pembukaan Sarasehan Kebangsaan. Seorang
peserta rapat di rumah Amran bercerita, Menteri Pertanian itu awalnya
menjelaskan program ketahanan pangan. Setelah itu, ia meminta para dosen dan
mahasiswa mendukung salah satu program prioritas Prabowo. Amran juga
menyarankan UGM memberikan solusi ketika melontarkan kritik kepada
pemerintah. Juru
bicara UGM, I Made Andi Arsana, merespons pesan Tempo, tapi enggan
menjelaskan pertemuan antara Amran dan pimpinan kampus. “Kami konsultasikan
dulu,” ujarnya pada Kamis, 2 Juli 2026. Sedangkan Amran serta Kepala Biro
Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Pertanian Arief Cahyono belum
menanggapi pesan pendek dan panggilan telepon Tempo. Meski
demikian, dalam situs resmi UGM, Amran mengajak civitas academica UGM
mendukung penghiliran hasil riset demi mencapai kedaulatan pangan. Amran juga
berkomitmen menghibahkan dana sebesar Rp 40 miliar kepada UGM untuk
pengembangan enam komoditas strategis, seperti kedelai dan bawang putih.
“Jika kita bisa menghasilkan bibit unggul, mengapa harus beli dari luar?” kata
bos perusahaan Tiran Group itu. ●●● UPAYA
pemerintah menggalang universitas tak hanya dilakukan melalui pimpinan
perguruan tinggi. Mahasiswa yang berunjuk rasa di kantor-kantor pemerintah
juga diredam. Salah satunya terjadi pada mahasiswa Universitas Bung Karno,
Jakarta. Ketua
Tim Investigasi Demonstrasi Universitas Bung Karno, Eko Suryo, bercerita
bahwa ada sejumlah orang yang menghubungi anggota badan eksekutif mahasiswa
di tingkat fakultas yang turun ke jalan. Mengaku sebagai alumnus Universitas
Bung Karno, orang tak dikenal ini meminta mahasiswa menggeser lokasi unjuk
rasa dari kawasan Istana Negara ke gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Menurut
Eko, mahasiswa Universitas Bung Karno tak memenuhi permintaan itu. Namun
Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Bung Karno Muhammad Abdimaludin mengaku
kepada Eko bahwa ia sempat menerima duit sebesar Rp 20 juta dari seorang
alumnus yang diserahkan melalui anggota kepolisian. Abdimaludin
salah satu perwakilan mahasiswa yang bertemu dengan Wakil Presiden Gibran
Rakabuming Raka di kantor Wakil Presiden, Jakarta, ketika unjuk rasa
memprotes makan bergizi gratis bergulir di Ibu Kota. Pertemuan dengan Gibran
berlangsung pada Senin, 15 Juni 2026. Sehari
seusai pertemuan mahasiswa dengan Gibran atau Selasa, 16 Juni 2026, muncul
kelompok yang mengaku sebagai Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Bersatu.
Mereka menyatakan dukungan terhadap program makan bergizi gratis. Juru bicara
Aliansi BEM Bersatu, Rahmat Djimbula, juga menuding demonstrasi yang dilakukan
mahasiswa Universitas Indonesia dan kampus lain bersifat politis. Sejumlah
kampus yang disebut Aliansi BEM Bersatu belakangan membantah kabar ihwal
keberadaan organisasi mahasiswa di tingkat fakultas. Bantahan itu, antara
lain, datang dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nasional.
“Kami tak punya organisasi BEM di tingkat fakultas,” ujar Dekan FISIP
Universitas Nasional Aos Yuli Firdaus. Aksi
massa tandingan yang mendukung program Presiden Prabowo Subianto juga
menjamur di berbagai kota. Di antaranya Jakarta; Kabupaten Tangerang, Banten;
Depok, Jawa Barat; dan Batam, Kepulauan Riau. Tiga politikus Partai Gerindra
bercerita, aksi dukungan terhadap makan bergizi gratis dan koperasi merah
putih merupakan bagian dari instruksi di lingkup internal partai. Menurut
narasumber tersebut, sejak desakan mahasiswa dan masyarakat sipil kepada
pemerintah untuk menyetop MBG membesar, anggota partainya mendiskusikan cara
meredam isu itu di grup-grup percakapan WhatsApp. Diskusi
itu muncul di grup WhatsApp Gerindra di tingkat pusat hingga daerah.
Narasumber yang tergabung dalam grup itu menyebutkan upaya efektif menangkal
narasi menolak MBG adalah membuat gerakan melawan aksi tersebut. Menurut
narasumber itu, banyak kader Gerindra memiliki jaringan di organisasi
kemasyarakatan. Keterlibatan
kader Partai Gerindra dalam gerakan mendukung makan bergizi itu tampak dari
kepala daerah yang hadir dalam aksi massa. Pada Ahad, 21 Juni 2026, dua
anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Batam dari Partai Gerindra, yakni Muhammad
Rudi dan Anwar Anas, mengikuti pawai mendukung makan bergizi gratis. Anwar
sempat berorasi yang isinya menyatakan proyek makan bergizi telah
mengantarkan Prabowo menjadi presiden. Rudi
yang ikut berpawai meminta Tempo menghubungi pengurus pusat Partai Gerindra
mengenai instruksi menggelar aksi massa mendukung program Prabowo. Sementara
itu, Ketua Harian Sufmi Dasco Ahmad dan Sekretaris Jenderal Sugiono belum
merespons permintaan wawancara hingga Sabtu, 4 Juli 2026. Pemerintah
juga mendorong para politikus pendukung Prabowo menjawab kritik dari
mahasiswa melalui acara dialog di televisi. Seorang petinggi partai koalisi
bercerita, ia pernah dihubungi Deputi Bidang Strategi dan Sistem Komunikasi
Badan Komunikasi Pemerintah Fahd Pahdepie yang memintanya menjadi narasumber
mengenai program prioritas presiden. Menurut
politikus ini, Badan Komunikasi menginginkan ada perwakilan pemerintah yang
bisa menjawab kritik mahasiswa dan peneliti mengenai tata kelola makan
bergizi gratis—program Prabowo yang dituntut para demonstran dari universitas
agar pelaksanaannya dihentikan. Pelaksana
Tugas Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Kurnia Ramadhana mengatakan
tugas lembaganya adalah berkoordinasi dengan institusi pemerintah untuk
merespons permasalahan komunikasi. “Kami berupaya mendengarkan dan
menjelaskan duduk persoalan ketika ada kritik dan saran dari masyarakat,”
katanya pada Sabtu, 4 Juli 2026. ●●● LOBI-LOBI
agar mahasiswa tak berunjuk rasa disampaikan langsung kepada pimpinan
perguruan tinggi. Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Zuly Qodir mengaku pernah ditelepon
petinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Pejabat tinggi
itu memperingatkan Zuly agar kampus dan mahasiswa tak terlalu galak kepada
pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Kepada
pejabat itu, Zuly menjawab demonstrasi merupakan bagian kebebasan akademik.
“Yang penting tidak rusuh,” ujar Zuly menceritakan ulang percakapan itu
kepada Tempo pada Selasa, 30 Juni 2026. Zuly menuturkan, panggilan telepon
itu masuk dua hari setelah UMY mengeluarkan surat edaran yang mendukung
mahasiswa untuk berdemonstrasi pada Rabu, 17 Juni 2026. Seorang
akademikus UMY bercerita, penelepon Zuly adalah Wakil Menteri Pendidikan
Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan. Adapun Fauzan menampik jika disebut
telah menelepon Zuly. “Seingat saya tidak pernah,” tuturnya. Tekanan
ke universitas diduga juga terjadi di Universitas Indonesia dalam pembatalan
acara Konferensi Republik pada Ahad, 28 Juni 2026. Sekretaris Umum Konferensi
Republik Yanuar Nugroho bercerita, pembatalan itu terjadi pada Sabtu malam,
27 Juni 2026. Menurut
Yanuar, mobil yang membawa barang dilarang masuk oleh petugas keamanan UI.
“Surat acara akhirnya tidak berlaku,” kata Yanuar pada Rabu, 1 Juli 2026.
Yanuar menduga ada tekanan ke UI sehingga mereka membatalkan acara. Setelah
gagal menggelar acara, Yanuar sempat bertanya kepada sejumlah akademikus UI
mengenai alasan pembatalan. Namun mantan Deputi Kantor Staf Presiden itu tak
mendapat penjelasan yang memadai dari kampus soal penyebab pembatalan acara.
Kepada teman-temannya di UI, Yanuar juga menjelaskan bahwa Konferensi
Republik tak mengarah ke pembentukan organisasi kemasyarakatan ataupun partai
politik. Direktur
Hubungan Masyarakat, Media, Pemerintah, dan Internasional UI Erwin Agustian
Panigoro membantah ada dugaan intervensi terhadap acara Konferensi Republik.
Erwin menyebutkan UI belum menyetujui penggunaan gedung Fakultas Kedokteran
karena ada syarat administrasi dan prosedur yang tak sesuai. “Kami sudah
menyampaikan kepada pemohon,” ujarnya pada Senin, 29 Juni 2026. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/prabowo-meredam-demonstrasi-mahasiswa-2273588 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar