|
Korupsi
Berjilid-jilid Proyek Makan Bergizi Gratis Mustafa
Silalahi : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 05
Juli 2026
|
· Sony Sonjaya membocorkan nama puluhan
pejabat yang memiliki dapur dan cawe-cawe dalam pendirian SPPG. · Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S.
Deyang diduga terafiliasi dengan SPPG di Madiun dan Depok. · Dapur fiktif yang mendapatkan insentif
dari BGN muncul di banyak daerah. MESKI
Kejaksaan Agung sudah menetapkan tujuh tersangka hingga awal Juli 2026,
penyidikan korupsi program makan bergizi gratis (MBG) tak akan tuntas dalam
waktu cepat. Skandal yang terjadi di Badan Gizi Nasional (BGN) ini
berlangsung masif. Program bernilai ratusan triliun rupiah itu ditengarai
menjadi bancakan berjemaah elite BGN sejak tahun lalu. Wartawan
Tempo sudah menurunkan laporan utama soal peran mantan tiga pucuk pemimpin
BGN dalam kasus korupsi MBG dalam edisi 7 Juni 2026. Pekan lalu, kami juga
menurunkan cerita soal peran Istana Negara di balik penyelidikan kasus
korupsi MBG di Kejaksaan Agung dan Komisi Pemberantasan Korupsi. Pekan
ini, kami menurunkan cerita mengenai skandal pendirian satuan pelayanan
pemenuhan gizi (SPPG). Saat ini ada sekitar 29 ribu SPPG yang sudah berdiri.
Sejak berdiri pada Agustus 2024, BGN membuat sistem dan aturan yang
tumpang-tindih soal pembangunan dapur MBG. Celah ini lantas dimanfaatkan
banyak pihak untuk mencari keuntungan di balik pemberian izin SPPG. Investasi
dapur MBG memang menggiurkan. Pertama, pemilik dapur tak perlu capek-capek
mencari konsumen karena pemerintah sudah menyediakan jatah 1.000-3.000
penerima paket MBG setiap hari untuk satu SPPG. Kedua, pemilik dapur akan
mendapatkan insentif Rp 6 juta setiap hari. Fulus ratusan juta rupiah
dipastikan mengalir ke rekening SPPG setiap bulan. Ada
gula, ada semut. Investasi SPPG menjadi rebutan banyak pihak, termasuk elite
BGN. Dalam laporan utama kali ini kami mengungkap afiliasi Kepala BGN Nanik
Sudaryati Deyang dengan sepuluh dapur MBG yang berada di kampung halamannya
di Madiun, Jawa Timur, dan dekat rumahnya di Depok, Jawa Barat. SPPG di
dua lokasi itu mulanya berada di bawah Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional.
Nanik pernah menjadi pengurus yang didirikan Prabowo Subianto itu. Dalam
berbagai kesempatan, Nanik membantah tudingan menerima keuntungan dari
yayasan yang mengelola SPPG. Informasi
soal dugaan afiliasi Nanik dengan sejumlah dapur MBG menjadi salah satu
materi pemeriksaan Sony Sonjaya, mantan kolega Nanik saat sama-sama menjabat
Wakil Kepala BGN. Sony juga menyodorkan sejumlah bukti kepada penyidik
Kejaksaan Agung yang menangani kasus ini. Semua
pegawai BGN dilarang memiliki atau mengelola dapur MBG. Alasannya, ada
konflik kepentingan. Soal afiliasi dengan dapur MBG ini sebenarnya menjadi
materi penyidikan jaksa. Itu sebabnya tiga mantan petinggi BGN turut dijerat
dengan Pasal 604 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana baru tentang penyalahgunaan
wewenang untuk kepentingan pribadi atau orang lain. Sony
Sonjaya turut melaporkan puluhan pejabat dan tokoh masyarakat lain yang
pernah meminta tolong dibantu mendirikan SPPG. Satu orang setara menteri dan
tiga wakil menteri di Kabinet Merah Putih pernah menghubunginya langsung soal
ini. Jumlah
mereka ada 29 orang. Belakangan, jumlahnya bertambah menjadi 41 orang. Ibu
salah seorang menteri juga pernah meminta bantuan Sony untuk mendirikan dapur
MBG. Cerita lengkap soal para tokoh yang memiliki dapur MBG itu ditulis Fajar
Pebrianto dalam artikel “Siapa Saja Pejabat dan Elite BGN yang Menikmati
Proyek MBG”. Belakangan,
terungkap ada banyak dapur MBG fiktif di berbagai daerah. Di Cilacap, Jawa
Tengah, dan Tangerang Selatan, Banten, jumlahnya mencapai puluhan.
Dapur-dapur itu fiktif karena titik koordinatnya terdaftar di tengah laut. Sebagian
besar dicap fiktif karena tak kunjung beroperasi meski dapur sudah berdiri
berbulan-bulan lalu. Masalahnya, dapur-dapur itu diduga tetap mendapatkan
insentif dari BGN meski belum beroperasi. Riani Sanusi Putri mengulasnya
secara lengkap dalam artikel di bawah judul “Modus Lain Korupsi MBG: Dapur
Fiktif Penikmat Insentif”. Besarnya
insentif dapur MBG telah mencuri perhatian banyak investor. Tapi sebagian
dari mereka nyaris tertipu. Gara-garanya, titik dapur yang dijanjikan
ternyata tumpang-tindih dengan SPPG lain. Ini terjadi akibat sistem BGN yang
masih centang-perenang. Sejumlah
pengusaha gigit jari karena dapur yang mereka bangun tak kunjung bisa
beroperasi lantaran BGN menghentikan pemberian izin pendirian dapur baru
gara-gara korupsi MBG terungkap. Cerita lengkapnya ditulis Febriyan dalam
artikel “Korupsi MBG sampai Potong Anggaran Menu per Porsi”. Laporan
ini kami lengkapi dengan wawancara dengan Kepala Pusat Penerangan Hukum
Kejaksaan Agung Anang Supriatna. Dia memaparkan prioritas penyidik saat ini.
Ia pun mengakui jaksa sudah menerima laporan dari Sony Sonjaya. Anda bisa
membacanya di tautan “Bagaimana Jaksa Menyelidiki Dugaan Korupsi MBG Nanik
Deyang”. Dalam
meliput megakorupsi MBG tersebut, kami menemukan sejumlah dokumen penting
yang selama ini tertimbun di BGN. Kami juga bertemu dengan banyak narasumber
yang memberikan bocoran soal perilaku korup elite BGN. Kami sedang
mempelajari satu per satu dokumen dan informasi tersebut. Jika sudah siap,
kami sajikan secara mendalam. ● Sumber :
https://www.tempo.co/hukum/korupsi-mbg-pejabat-elite-bgn-2273612 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar