Sabtu, 04 Juli 2026

 

Melihat Masa Depan Prabowo-Gibran Lewat Cermin Marcos Jr-Sara Duterte

Ronny P Sasmita : Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution

KOMPAS.COM, 25 Juni 2026

 

 

                                                           

POLITIK sering kali memperlihatkan ironi yang menarik. Musuh lama bisa berubah menjadi sekutu, sementara sekutu yang tampak tak terpisahkan bisa berubah menjadi lawan paling sengit.

 

Filipina baru saja menyaksikan ironi semacam itu. Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr. dan Sara Duterte memenangkan Pemilu melalui koalisi yang nyaris tak terkalahkan.

 

Namun, hanya beberapa tahun kemudian, hubungan keduanya terjebak ke dalam konflik terbuka yang membelah elite politik nasional Filipina sampai hari ini.

 

Di Indonesia, pertanyaan serupa mulai muncul. Ketika Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memenangkan Pilpres 2024, banyak pihak melihat kemenangan tersebut sebagai puncak rekonsiliasi politik antara dua kekuatan yang selama bertahun-tahun berada di kubu berseberangan, yakni Prabowo dan keluarga Joko Widodo. Koalisi terlihat kokoh, bahkan nyaris tanpa celah.

 

Namun, sejarah politik mengajarkan satu hal yang sangat penting. Koalisi paling rentan justru sering lahir dari kemenangan terbesar.

 

Saat tujuan bersama telah tercapai, kepentingan yang sebelumnya disimpan rapat mulai muncul ke permukaan.

 

Ambisi yang dulu ditunda mulai mencari ruang untuk tumbuh. Dari titik inilah relasi politik biasanya memasuki fase yang semakin rumit dan sulit untuk dipahami.

 

Karena itu, membandingkan hubungan Marcos–Sara Duterte dengan relasi Prabowo–Gibran menjadi latihan akademik yang menarik.

 

Perbandingan semacam ini membantu membaca satu pertanyaan yang kini mulai mengemuka di Jakarta, apakah hubungan Prabowo dan keluarga Jokowi suatu hari akan mengalami nasib yang sama seperti hubungan keluarga Marcos dan keluarga Duterte?

 

Baik di Filipina maupun Indonesia, koalisi pemenang lahir dari logika yang hampir serupa. Keduanya terbentuk melalui penyatuan dua pusat kekuatan politik yang sebelumnya berdiri sendiri dan memiliki basis dukungan berbeda.

 

Di Filipina, keluarga Marcos membawa pengaruh historis yang kuat di Luzon. Sementara keluarga Duterte merupakan kekuatan dominan di Mindanao.

 

Ketika Bongbong Marcos dan Sara Duterte memutuskan berpasangan pada Pemilu 2022, mereka tidak hanya membangun koalisi politik, tapi menyatukan dua mesin elektoral terbesar yang pernah dimiliki Filipina pada saat itu.

 

Formula yang tidak jauh berbeda muncul di Indonesia menjelang Pilpres 2024. Setelah dua kali dikalahkan Jokowi dalam pemilihan presiden, Prabowo perlahan bertransformasi dari oposisi menjadi mitra politik pemerintah.

 

Prosesnya dimulai sejak Jokowi mengajaknya masuk kabinet sebagai Menteri Pertahanan pada 2019.

 

Selama lima tahun berikutnya, hubungan keduanya semakin erat. Prabowo memperoleh akses pada lingkaran kekuasaan yang sebelumnya tertutup baginya.

 

Sebaliknya, Jokowi menemukan figur yang dinilai mampu menjaga stabilitas politik dan melanjutkan sejumlah agenda strategis setelah dirinya meninggalkan Istana.

 

Puncaknya terjadi ketika Gibran Rakabuming Raka maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo. Di titik ini, koalisi Hambalang dan Solo resmi terbentuk.

 

Secara elektoral, kombinasi tersebut sangat efektif. Prabowo membawa pengalaman, jejaring partai, dan popularitas nasional. Gibran membawa efek elektoral Jokowi yang masih sangat kuat. Hasilnya adalah kemenangan satu putaran yang relatif meyakinkan.

 

Jika dilihat secara komparatif, terdapat satu kesamaan mendasar antara UniTeam di Filipina dan koalisi Prabowo–Gibran di Indonesia. Keduanya dibangun bukan oleh kedekatan ideologis, tapi kebutuhan strategis.

 

Marcos membutuhkan Sara Duterte untuk memperluas basis dukungan. Sara membutuhkan Marcos untuk membuka jalan menuju panggung nasional.

 

Prabowo membutuhkan legitimasi politik Jokowi. Jokowi membutuhkan Prabowo untuk memastikan transisi kekuasaan berjalan aman dan berbagai proyek pemerintahannya tetap berlanjut.

 

Dalam ilmu politik, model seperti ini sering disebut sebagai coalition of convenience, yakni koalisi yang dibangun karena kebutuhan praktis untuk memenangkan kekuasaan.

 

Koalisi semacam ini biasanya sangat efektif dalam Pemilu, tetapi tidak selalu stabil dalam pemerintahan.

 

Masalah biasanya mulai muncul ketika kemenangan telah diraih. Saat itu, pertanyaan menjadi berubah, bukan lagi “bagaimana memenangkan Pemilu”, tapi “siapa yang akan menentukan masa depan kekuasaan”.

 

Di Filipina, fase tersebut menjadi awal dari keretakan. Di Indonesia, tanda-tanda serupa mulai dibicarakan, meskipun masih jauh dari tahap konflik terbuka.

 

Lalu, mengapa Marcos dan Duterte Pecah? Banyak analisis menyederhanakan konflik Marcos dan Duterte sekadar pertarungan dua keluarga politik. Padahal, persoalannya jauh lebih kompleks.

 

Sejak awal, hubungan keduanya sesungguhnya mengandung kontradiksi yang sulit diselesaikan.

 

Sara Duterte memasuki pemerintahan bukan sebagai wakil presiden biasa. Di belakangnya berdiri Rodrigo Duterte, mantan presiden dengan pengaruh yang masih sangat besar. Artinya, terdapat dua pusat legitimasi yang sama-sama kuat di dalam satu pemerintahan.

 

Masalah menjadi semakin rumit ketika Marcos mulai membangun identitas politiknya sendiri. Dalam kebijakan luar negeri, misalnya, ia mengambil posisi yang lebih dekat kepada Amerika Serikat dan lebih tegas terhadap China.

 

Pendekatan ini berbeda dari orientasi Rodrigo Duterte yang selama masa pemerintahannya cenderung lebih akomodatif terhadap Beijing. Perbedaan kebijakan itu kemudian berkembang menjadi perbedaan kepentingan politik.

 

Situasi semakin memburuk ketika proses hukum internasional terhadap Rodrigo Duterte mulai dibuka. Bagi keluarga Duterte, sikap pemerintahan Marcos dianggap tidak cukup melindungi mantan presiden tersebut.

 

Dari sinilah hubungan yang semula dibangun atas dasar kepentingan bersama berubah menjadi konflik yang sangat personal.

 

Di titik tertentu, pertarungan itu tidak lagi berbicara tentang kebijakan negara, tapi berubah menjadi pertarungan eksistensial antara dua dinasti politik besar.

 

Indonesia hingga kini belum memperlihatkan kondisi serupa. Memang muncul berbagai spekulasi mengenai hubungan Prabowo dan Gibran. Sebagian pengamat membaca adanya kecenderungan Prabowo untuk semakin mandiri dari pengaruh Jokowi.

 

Beberapa partai koalisi bahkan mulai berbicara mengenai peluang Prabowo dua periode tanpa secara otomatis mengaitkannya dengan Gibran sebagai pasangan yang sama. Namun, perkembangan ini masih berada dalam koridor politik yang wajar.

 

Tidak ada kritik terbuka antara kedua pihak. Tidak ada pertarungan institusional. Tidak ada pula konflik besar yang menyangkut kelangsungan politik salah satu keluarga. Yang terlihat saat ini lebih merupakan proses diferensiasi politik.

 

Sebagai presiden, Prabowo tentu memiliki kebutuhan untuk membangun identitasnya sendiri. Tidak ada presiden yang ingin terus dipandang sebagai bayang-bayang pendahulunya.

 

Dalam konteks ini, semakin kuat posisi Prabowo sebagai kepala negara, semakin besar pula kemungkinan ia mengambil langkah-langkah yang mencerminkan kepentingan dan visinya sendiri. Hal tersebut merupakan fenomena normal dalam hampir semua sistem demokrasi.

 

Indonesia Tidak Mengalami Nasib Filipina

 

Meski memiliki sejumlah kemiripan, terdapat perbedaan fundamental yang membuat hubungan Prabowo–Gibran tidak otomatis akan berakhir seperti hubungan Marcos–Sara Duterte.

 

Perbedaan pertama terletak pada budaya politik. Filipina memiliki tradisi politik yang jauh lebih terbuka dan konfrontatif.

 

Konflik elite sering ditampilkan secara langsung di depan publik. Kritik dilontarkan secara terang-terangan. Perseteruan politik mudah berubah menjadi drama nasional yang berlangsung setiap hari di media.

 

Indonesia memiliki budaya politik berbeda. Konflik memang ada, tetapi biasanya disampaikan melalui simbol, manuver organisasi, atau pesan-pesan tidak langsung. Ketegangan sering disembunyikan di balik bahasa yang sopan dan diplomatis.

 

Perbedaan kedua adalah struktur kekuasaan. Sara Duterte memiliki basis politik yang relatif independen dari Marcos. Ia membawa jaringan politik keluarga Duterte yang telah mengakar selama puluhan tahun.

 

Dengan atau tanpa Marcos, keluarga Duterte tetap merupakan kekuatan nasional yang besar.

 

Situasi Gibran berbeda. Pengaruh politiknya masih sangat terkait dengan figur Jokowi. Bahkan hingga saat ini, kekuatan politik Gibran belum terbukti mampu berdiri sepenuhnya tanpa dukungan jaringan yang dibangun ayahnya selama satu dekade terakhir.

 

Perbedaan ketiga adalah tidak adanya konflik eksistensial. Hubungan Marcos dan Duterte hancur karena muncul isu yang menyentuh kepentingan paling mendasar keluarga Duterte.

 

Konflik semacam itu belum terlihat dalam hubungan Prabowo dan keluarga Jokowi. Yang ada saat ini lebih berupa perbedaan kalkulasi menuju 2029. Dan justru di sinilah letak perbedaan paling penting.

 

Persaingan politik tidak selalu berujung permusuhan. Dalam banyak kasus, ia justru menjadi bagian normal dari proses penyesuaian kekuasaan.

 

Karena itu, kemungkinan terbesar bukanlah pecahnya hubungan Prabowo dan Gibran secara dramatis seperti yang terjadi di Filipina.

 

Yang lebih mungkin adalah munculnya negosiasi yang semakin intens mengenai pembagian pengaruh politik menjelang Pemilu berikutnya.

 

Hubungan keduanya mungkin tidak akan selalu sehangat masa Pilpres 2024. Jarak politik mungkin akan bertambah. Kepentingan masing-masing pihak mungkin akan semakin berbeda.

 

Namun, selama manfaat kerja sama masih lebih besar daripada biaya konflik, insentif untuk mempertahankan koalisi akan tetap dominan.

 

Dengan kata lain, Indonesia memang memiliki beberapa elemen yang mengingatkan pada kisah Marcos dan Duterte. Namun, Indonesia tidak memiliki seluruh syarat yang membuat aliansi Filipina itu runtuh.

 

Di Manila, perbedaan berkembang menjadi perang antardinasti. Di Jakarta, perbedaan yang sama kemungkinan besar akan tetap dikelola sebagai kompetisi dalam satu keluarga besar kekuasaan.

 

Dan dalam politik Indonesia, perbedaan yang dikelola sering kali jauh lebih penting daripada konflik yang diumumkan secara terbuka.

 

Setidaknya ini kesimpulan sementara saya untuk saaat ini, kesimpulan saya yang sudah bertahun-tahun bolak-balik ke Filipina, melakukan berbagai penelitian, membaca cukup banyak informasi dan buku tentang sejarah politik Filipina, berbicara dengan cukup banyak analis dan profesor politik di beberapa universitas kelas atas di Metro Manila, mulai dari University of the Philippines, De La Sale University, Ateneo De Manila University, sampai University of Mindanao di Provinsi Davao dan University of Cebu di Provinsi Cebu.

 

Sumber : https://nasional.kompas.com/read/2026/06/25/05450091/melihat-masa-depan-prabowo-gibran-lewat-cermin-marcos-jr-sara-duterte?page=all#page2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar