|
Di
Republik Banana, Aparat Saling Kunci Menyidik Korupsi Bagja Hidayat
: Wakil Pemimpin
Redaksi Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 12 Juli 2026
|
· Penulis O. Henry menciptakan frasa
'Republik Banana' untuk menjuluki negeri fiktif di Amerika Tengah yang miskin
dan korup. · Istilah itu kemudian menjadi metafora
politik untuk menjuluki negara yang hukumnya lemah, dikuasai oligarki, dan
korupsi merajalela. · Indonesia bukan Anchuria, negeri fiktif
O. Henry, meski aparatur hukumnya saling gertak memakai penyidikan kasus
korupsi. INDONESIA
bukan Anchuria, negeri fiktif karangan O. Henry dalam kumpulan cerita pendek
Cabbages and Kings yang terbit pada 1904. Di negeri itu, tampaknya merujuk
pada Honduras yang menjadi tempat Henry bersembunyi dari kejaran hukum
Amerika Serikat, segala hal terjadi: kudeta, penyelewengan hukum, korupsi,
pencurian, dan kejahatan lain. Frasa
“cabbages and kings” kemudian menjadi idiom dalam bahasa Inggris yang berarti
“membicarakan segala macam hal dari soal kecil (kubis) sampai urusan besar
(raja-raja)”. Namun frasa paling terkenal dari antologi itu adalah kalimat
pembuka cerita “The Admiral”: “In the constitution of this small, maritime
banana republic was a forgotten section....” “Republik
Banana” melekat pada O. Henry dan kini menjadi satire politik untuk menjuluki
negara miskin yang korup, hukumnya lemah, dan politikusnya menyeleweng
dibekingi tentara. Anchuria negara merdeka, tapi kehidupan mereka
dikendalikan kekuatan asing dengan suap kepada politikus yang tak memegang nilai-nilai.
Jika ada penguasa yang mencoba menyeleweng dari kepentingan asing,
pengusaha-pengusaha multinasional merancang kudeta dan menyiapkan politikus
boneka. Andalan
utamanya ekspor pisang, satu-satunya komoditas yang bisa dijual untuk
menghidupkan ekonomi. Karena korupsi dan penyelewengan, sumber devisa yang
terbatas itu pun dikorupsi oleh penguasa. Lengkap sudah Anchuria menjadi
negara kecil yang terjebak kemiskinan dan kolonialisme pribuminya sendiri. Indonesia
jelas bukan Anchuria. Indonesia negara besar, kekayaan alamnya melimpah dan
beragam, konstitusinya menjunjung keadilan dan penegakan hukum, penguasanya
peduli kepada rakyat miskin dengan menyediakan makan gratis setiap hari. Para
pemimpin Indonesia memikirkan pemerataan dengan membuat puluhan ribu
koperasi. Tentara merampas area konsesi hutan para pengusaha nakal. Aparatur
hukum gencar memberantas korupsi. Ketika
warga sipil tak sanggup mengelola proyek besar makan-makan, polisi turun
tangan; tentara bergotong-royong membangun koperasi hingga ke puncak-puncak
gunung. Sewaktu makan bergizi gratis yang uangnya dikumpulkan dari
tetes-tetes keringat rakyat Indonesia dikorupsi elite-elite Badan Gizi
Nasional, jaksa sigap mengusut dan menahan mereka. Para pemimpin lalim pun
masuk jeruji besi. Sebaliknya,
ketika para jaksa itu juga korup, polisi bergerak cepat mengusutnya, menyita
harta kekayaan yang diduga hasil pemerasan penyidikan kasus-kasus korupsi
besar. Pendeknya, aparatur hukum tak pandang bulu membongkar kejahatan, kendati
nyawa menjadi taruhan. Mereka tak segan adu gertak memakai kekuatan
bersenjata dan menunjukkannya kepada publik untuk mendapatkan pujian. Indonesia
memang bukan Anchuria. Cerita di negeri fiktif Amerika Tengah itu mengilhami
para analis politik untuk menyebut negara-negara yang dikuasai oligarki,
ekonomi yang bergantung pada komoditas sumber daya alam, hukumnya lemah
(bahkan dipakai sebagai tameng untuk melindungi kejahatan para penguasa dan
aparaturnya), korupsi merajalela, dan institusi demokrasi ada tapi tak
berfungsi sebagai pengontrol kekuasaan. Istilah
Republik Banana pun tak sekadar merujuk pada negeri yang mengandalkan ekonomi
pada ekspor pisang, tapi juga metafora untuk kekuasaan populis yang tak mau
pusing menciptakan teknologi. Toh, alam sudah menyediakan segalanya untuk
dikuras habis-habisan. Soal kerusakan dan masa depan generasi, nanti biar
mereka sendiri yang memikirkan. Di Republik Pisang, pengusaha berpura-pura
berpihak kepada kepentingan orang banyak, padahal itu kedok untuk menyembunyikan
watak represifnya. Tentu
saja, Indonesia bukan Anchuria. Tapi, jika Anda membaca laporan utama pekan
ini, tentang fenomena saling gertak polisi dan jaksa memakai hukum dan
kewenangan, Anda mungkin akan mengusap dada. Pengusutan jaksa terhadap
korupsi MBG dibalas dengan pengusutan polisi atas dugaan pemerasan kasus
korupsi oleh jaksa. Dalam sepak bola, ada rumus umum yang dipakai semua
kesebelasan: pertahanan terbaik adalah menyerang. Indonesia,
sekali lagi, bukan Anchuria, melainkan “anchur sudah”.... ● Sumber :
https://www.tempo.co/prelude/saling-kunci-menyidik-korupsi-2275245 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar