|
Bagaimana
Mahasiswa Menggalang Demonstrasi Egi Adyatama : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 05
Juli 2026
|
· Mahasiswa berkonsolidasi untuk
menggalang protes terhadap kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto. · Mereka tak membuat grup komunikasi
untuk menghindari serangan digital. · Mahasiswa berkolaborasi dengan
organisasi masyarakat sipil untuk meluaskan gerakan. SABAN
Sabtu malam, puluhan mahasiswa Universitas Gadjah Mada berkumpul di
Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa
Yogyakarta. Mereka membahas strategi gerakan mahasiswa untuk mengawasi
program pemerintahan Prabowo Subianto. Kelompok
mahasiswa yang mengisi forum itu antara lain Serikat Mahasiswa UGM—organisasi
yang bersalin nama dari Badan Eksekutif Mahasiswa UGM. “Pertemuan itu untuk
membangun kepercayaan di antara para mahasiswa,” ujar Ketua Serikat Mahasiswa
UGM Bintang Mesa pada Selasa, 30 Juni 2026. Salah
satu hasil konsolidasi Serikat Mahasiswa UGM adalah penolakan acara temu
wicara dengan sejumlah menteri di Kabinet Merah Putih yang datang ke UGM pada
Senin, 15 Juni 2026. Saat itu para mahasiswa merangsek ke panggung dan
menghentikan acara yang dihadiri Kepala Badan Pengentasan Kemiskinan Budiman
Sudjatmiko, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta Menteri Agraria dan Tata
Ruang Nusron Wahid tersebut. Menurut
Mesa, forum itu sekadar menjadi corong pemerintah karena tak ada sesi khusus
untuk tanya-jawab dengan para hadirin. Mahasiswa juga mengecam posisi politik
Budiman yang pernah menjadi aktivis dalam Reformasi 1998 tapi kini justru
menjadi bagian dari pemerintahan Prabowo Subianto—jenderal Komando Pasukan
Khusus yang pernah menculik aktivis seperti Budiman. Setelah
Serikat Mahasiswa UGM membubarkan temu wicara itu, akun media sosial
organisasi menerima serangan digital. “Sejumlah orang yang tak kami kenal
juga menanyakan alamat detail,” kata Mesa. Konsolidasi
gerakan mahasiswa juga dilakukan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas
Indonesia. Kepala Departemen Aksi dan Propaganda BEM UI Albani Ilmi
mengatakan ada krisis kepercayaan terhadap BEM UI dalam tiga tahun terakhir. Sebab,
BEM UI diterpa problem dualisme kepengurusan, dugaan kooptasi gerakan, hingga
kedekatan sejumlah pengurus dengan aparat. “Kami mencoba membangun ulang
kepercayaan dengan menyikapi berbagai isu nasional yang saat ini berkembang,”
tutur Albani pada Kamis, 2 Juli 2026. Albani
mengatakan BEM UI membangun konsolidasi secara bertahap sebelum menggelar
aksi. Mereka lebih dulu mengadakan diskusi kelompok terpumpun yang
mempertemukan mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, dan lembaga penelitian
untuk memetakan isu. Forum
itu dibuat bukan untuk menyusun tuntutan, melainkan menjalin komunikasi dan
membangun kepercayaan sebelum membentuk koalisi. “Setelah itu BEM UI lebih
intensif berhubungan dengan organisasi yang memiliki kesamaan sikap,”
ujarnya. Sejak
Mei 2026, BEM UI setidaknya sudah delapan kali menggelar aksi massa. Yang
terbaru, mereka menggelar aksi simbolik di Markas Besar Kepolisian Republik
Indonesia untuk memprotes pengesahan revisi Undang-Undang Polri pada Rabu, 1
Juli 2026. Mereka membawa keranda mayat sebagai simbol reformasi Polri sudah
mati. Aksi
massa paling besar digelar saat sekitar seribu mahasiswa UI berunjuk rasa di
Bundaran Hotel Indonesia pada Jumat, 12 Juni 2026. Mereka menuntut pemerintah
menyetop program makan bergizi gratis dan koperasi desa merah putih,
menurunkan harga bahan kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak, serta menolak
militerisme di ranah sipil. Di
Surabaya, mahasiswa berkoalisi dengan organisasi masyarakat sipil. Perwakilan
Koalisi Masyarakat Sipil Surabaya, Kandi Aryani, mengatakan mahasiswa
selektif dalam memilih kawan koalisi karena khawatir ada penyusup. “Mereka
memilih bergabung dengan koalisi masyarakat sipil yang sudah dipercaya,” kata
Kandi pada Kamis, 2 Juli 2026. Kepala
Biro Kampanye Hak Asasi Manusia Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak
Kekerasan Surabaya Zaldi Maulana menuturkan, peleburan gerakan mahasiswa
dengan koalisi masyarakat sipil membuat berbagai isu dapat dikawal secara
lebih konsisten. “Gerakan tak terpusat pada satu organisasi,” ujar Zaldi. Koalisi
Masyarakat Sipil Surabaya tidak memiliki grup percakapan daring yang permanen
untuk menghindari serangan digital. Grup hanya dibuat saat menyiapkan aksi,
lalu dibubarkan setelah demonstrasi selesai. “Kami tahu gerakan seperti ini
rentan disusupi intelijen,” tutur anggota Koalisi yang juga dosen Universitas
Airlangga, Surabaya, Kandi Aryani. Konsolidasi
mahasiswa dengan kelompok masyarakat sipil juga dilakukan di Yogyakarta.
Serikat Mahasiswa UGM menggandeng Forum Cik Di Tiro, gerakan masyarakat sipil
yang diisi akademikus dan seniman. Mereka menggelar demonstrasi bersama
jaringan masyarakat sipil lain. Yang
teranyar, mereka berunjuk rasa di Bundaran UGM pada Jumat, 3 Juli 2026, untuk
memprotes kenaikan harga minyak dan pelatihan dasar militer bagi calon
manajer koperasi desa merah putih yang membuat lima orang meninggal. Aktivis
Forum Cik Di Tiro, Pitra Hutomo, mengatakan konsolidasi bersama lintas
kelompok bisa menjadi strategi untuk memperkecil potensi gerakan dikooptasi
segelintir tokoh. “Kami menghindari penokohan,” ujar Pitra. BEM UI
pun tak mendorong tokoh tertentu dalam gerakan mereka. Setelah unjuk rasa di
Bundaran Hotel Indonesia, mereka mengunggah serangkaian video yang berisi
pesan bahwa perlawanan rakyat baru saja dimulai. Pesan itu disampaikan sosok
bertopeng putih yang mengenakan jubah hitam. Albani
Ilmi mengatakan sosok bertopeng sengaja dipilih untuk menghilangkan penokohan
dalam isu yang dibawa BEM UI. Menurut dia, gerakan yang dilekatkan pada satu
figur lebih rentan dikooptasi. “Kalau perlu topeng itu dipakai BEM atau
masyarakat sipil lain untuk menunjukkan bahwa pesan tersebut merupakan suara
rakyat,” kata Albani. Mahasiswa
juga mulai menjalin komunikasi dengan para buruh. Dalam peringatan Hari
Buruh, misalnya, BEM UI berkomunikasi dengan Kongres Aliansi Serikat Buruh
Indonesia (KASBI). KASBI
memilih berunjuk rasa di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Senayan,
Jakarta. Sementara itu, organisasi lain, seperti Konfederasi Serikat Pekerja
Indonesia dan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, memilih merayakan Hari Buruh
di Monumen Nasional bersama pemerintah. “Posisi kami saat itu tak mau ikut
May Day Fiesta yang dibuat pemerintah,” tutur Albani. Presiden
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia Said Iqbal mengatakan mahasiswa sudah
tak lagi mengajak serikat buruh berkonsolidasi dalam sejumlah unjuk rasa. Ia
menduga ada perbedaan agenda yang diperjuangkan tiap kelompok. Kata
Said, unjuk rasa yang terjadi belakangan ini tak dihadiri kelompok buruh
karena isunya belum beririsan dengan pekerja. “Demonya belum menyentuh isu
mendasar kepentingan buruh,” ujar Said, yang baru saja dilantik sebagai
Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/konsolidasi-demonstrasi-mahasiswa-2273587 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar