Senin, 13 Juli 2026

 

Di Balik Adu Kuat Jaksa Versus Polisi

Mustafa Silalahi :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 12 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Penyidikan kasus pemerasan yang menyeret Febrie Adriansyah akhirnya dilimpahkan ke Kejaksaan Agung.

 

·      Polisi menuduh jaksa mencari-cari kesalahan Polri dalam kasus korupsi MBG.

 

·      Jaksa memeriksa orang-orang dekat Kepala Polri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

 

KAFE de’CLAN Signature di Jalan Cipete Raya, Jakarta Selatan, sudah tak asing bagi banyak pihak. Maka saat polisi menggeruduk kafe itu pada Rabu, 8 Juli 2026, kami langsung tahu penggeledahan tersebut menyasar Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung saat itu, Febrie Adriansyah.

 

Kafe de’CLAN dulu bernama restoran Gontran Cherrier yang menyajikan makanan khas Prancis. Tempo pernah mengungkap cerita tentang pengawal Febrie yang menangkap basah anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian RI pada 19 Mei 2024 di sana. Polisi muda itu dituduh menguntit Febrie. Cerita lengkapnya ada dalam artikel “Kasus Besar di Balik Teror Densus 88 ke Kejaksaan Agung”.

 

Peristiwa ini mengungkap hubungan pengusaha bernama Ferry Yanto Hongkiriwang yang disebut sebagai pemilik restoran itu dengan Febrie. Nama Ferry kembali muncul saat peristiwa penganiayaan polisi di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, pada 25 Juli 2025. Kejadian itu bermula dari sejumlah polisi yang dituduh menguntit Ferry di sana. Laporan selengkapnya ada dalam artikel “Siapa Ferry Hongkiriwang Pemicu Konflik Jaksa-Polisi”.

 

Saat itu kami mendengar kabar bahwa Ferry sudah buka-bukaan tentang dugaan pemerasan dalam sejumlah kasus korupsi yang diduga dilakukan Febrie kepada polisi. Tapi tak ada tanda-tanda polisi bakal melanjutkan penyidikan kasus itu. Hubungan kedua lembaga juga terlihat baik-baik saja.

 

Tapi kali ini polisi terlihat sungguh-sungguh. Mereka menurunkan puluhan personel dari Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya. Dari 13 lokasi yang digeledah, termasuk rumah Febrie di Sentul, Bogor, Jawa Barat, polisi menemukan fulus dalam berbagai mata uang dan emas 74 kilogram yang semuanya bernilai lebih dari setengah triliun rupiah.

 

Saya meminta Fajar Pebrianto menulis artikel utama pekan ini. Dia juga yang menuliskan soal penguntitan jilid pertama dan kedua. Tapi pengumpulan bahan kami kerjakan keroyokan. Linda Trianita, wartawan Tempo yang pertama kali mendapat info soal penguntitan jilid pertama, ikut turun gunung. Ia membawa reporter untuk bertemu dengan seorang jenderal di Markas Besar Polri.

 

Kami “memasang” Jihan Ristiyanti di Kejaksaan Agung untuk menggali informasi apa pun soal kasus ini. Febriyan bertemu dengan sejumlah jaksa dan polisi lain. Sementara itu, Riani Sanusi Putri ditugasi meliput pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Kepala Polri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin, dan pejabat lain di Wisma Danantara, Jakarta Selatan.

 

Ada dua hal yang kami ingin cari. Pertama, mengapa polisi baru sekarang terlihat galak terhadap Febrie Adriansyah? Pemeriksaan Ferry Hongkiriwang sudah terjadi setahun lalu. Bukti-buktinya pun sebenarnya sudah lengkap. Tapi penyidikan malah mandek. Kedua, apa yang sudah dilakukan Febrie Adriansyah sehingga membuat polisi terusik?

 

Rupanya, salah satu alasannya adalah polisi menganggap jaksa “offside” saat menangani penyidikan korupsi makan bergizi gratis (MBG). Jaksa tak “kulonuwun” saat menetapkan Brigadir Jenderal Lalu Muhammad Iwan Mahardan sebagai tersangka.

 

Padahal Iwan polisi aktif lulusan Akademi Kepolisian tahun 1994. Jaksa juga memeriksa pengelola dapur MBG yang terafiliasi dengan Polri. Febrie pun ditengarai mengincar sejumlah petinggi Polri dalam berbagai kasus.

 

Cerita soal kuat-kuatan antara penyidikan jaksa dan polisi itu dapat Anda baca dalam artikel yang ditulis Fajar berjudul “Peran Elite di Sekitar Presiden dalam Konflik Polisi-Jaksa”. Tulisan ini juga membahas dugaan modus Febrie Adriansyah memeras saksi kasus korupsi.

 

Artikel kedua adalah cerita soal rekam jejak karier Febrie di Kejaksaan Agung yang ditulis Jihan. Febrie mulai bersinar saat bertugas di Jampidsus. Nilai hartanya pun ikut melonjak hingga berlipat-lipat saat bertugas di sana. Ini artikel selengkapnya, “Febrie Adriansyah: Karier Moncer Jaksa Segunung Harta”.

 

Tulisan terakhir soal dapur MBG yang terafiliasi dengan Polri yang menjadi incaran jaksa di daerah-daerah. Polisi merasa dicari-cari kesalahannya karena lembaga lain juga punya dapur MBG yang sama banyaknya. Liputan lengkapnya dapat Anda baca dalam “Perkara yang Menyulut Polisi Menggertak Febrie Adriansyah”.

 

Selamat membaca.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/hukum/polisi-bidik-kesalahan-febrie-adriansyah-2275286

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar