|
Pola Berulang Meredam
Kritik Masyarakat Sipil Raymundus
Rikang : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 05
Juli 2026
|
· Presiden Prabowo Subianto punya pola
setiap kali menghadapi kritik publik yang meluas. · Dia mengumpulkan kelompok yang
mengkritiknya dan berceramah selama berjam-jam di hadapan mereka. · Tantangan liputan kali ini adalah
mencari akademikus yang bersedia menceritakan isi taklimat Prabowo di tengah
unjuk rasa mahasiswa. SETIAP
kali pemerintahan Prabowo Subianto dirundung kritik, pihak Istana Negara
dengan segera mengumpulkan kelompok yang paling vokal melayangkan protes.
Pada Januari 2026, misalnya, pemerintah mengundang lebih dari 1.000
akademikus di tengah sorotan terhadap kinerja pemerintah dalam menangani isu
krusial, seperti banjir dan tanah longsor di Sumatera. Sebulan
kemudian, Presiden Prabowo mengundang mantan Menteri Luar Negeri dan diplomat
karena dikecam publik setelah ia memutuskan bergabung dengan Dewan Perdamaian
yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Selain itu, dia
mengumpulkan para ulama untuk menjelaskan alasan Indonesia masuk ke Dewan
Perdamaian dan menegaskan komitmen mendukung Palestina. Pola
serupa terulang ketika pemerintahan Prabowo didera unjuk rasa mahasiswa
sepanjang Juni 2026. Mahasiswa yang datang dari berbagai badan eksekutif
mahasiswa memprotes program andalan Prabowo yang memboroskan anggaran,
seperti makan bergizi gratis dan koperasi desa merah putih. Mereka menuntut
pemerintah menyetop proyek yang menghabiskan ratusan triliun rupiah itu. Seperti
yang sudah diperkirakan, tatkala gelombang demonstrasi mahasiswa meluas,
Prabowo mengumpulkan rektor, akademikus, dan peneliti di Jakarta pada 26 Juni
2026. Yang datang diklaim mencapai 2.600 orang. Prabowo berbicara dengan
mereka selama lima jam secara tertutup. Tak boleh ada wartawan yang masuk dan
merekam pidato Ketua Umum Partai Gerindra tersebut. Di
sinilah tantangannya. Kendati peserta yang hadir mencapai ribuan, sukar
mencari hadirin yang bersedia berbicara on the record kepada tim liputan yang
dikoordinasikan jurnalis Tempo, Hussein Abri Dongoran. Beberapa nama dosen
yang kami kontak tak bersedia menceritakan isi pertemuan tertutup dengan
Presiden. Begitu ada yang mau berdiskusi dengan Hussein, seorang dosen dari
sebuah universitas di Jawa Timur meminta namanya tak ditulis. Padahal
kami mendapat informasi penting yang perlu dikonfirmasi dosen yang menghadiri
sarasehan dengan Prabowo. Tiga narasumber yang ditemui secara terpisah
menyebutkan Prabowo sempat menyatakan program-programnya acap tak dipahami
secara utuh sehingga menimbulkan protes dari berbagai kalangan. Meski
demikian, para dosen yang tak bersedia menceritakan secara on the record
kepada kami berupaya menyodorkan nama koleganya yang diperkirakan mau bertemu
dengan wartawan. Menjelang
tenggat, Hussein bisa memperoleh informasi itu. Dari dosen-dosen di kampus
negeri dan swasta pula kami mendapat informasi bahwa upaya meredam aksi massa
penolakan makan bergizi gratis juga dilakukan para menteri, baik lewat
sambungan telepon maupun melalui pertemuan khusus. Laporan itu terbit di
bawah judul “Berbagai Cara Meredam Demonstrasi Mahasiswa”. Selain
menghadirkan artikel mengenai taktik pemerintah meredam unjuk rasa, kami
mengulas cerita soal alasan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menjadi
kambing hitam unjuk rasa. Artikel tulisan Francisca Christy Rosana, yang
memiliki jaringan narasumber dengan politikus PDIP yang luas, ini terbit di
bawah judul “Benarkah PDIP di Balik Demonstrasi Mahasiswa”. Laporan
pekan ini juga dilengkapi dengan cerita para mahasiswa mengkonsolidasikan
gerakan di daerah. Artikel dengan judul “Bagaimana Mahasiswa Menggalang
Demonstrasi” ini ditulis Egi Adyatama. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/taktik-penguasa-meredam-mahasiswa-2273611 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar