Selasa, 07 Juli 2026

 

Pola Berulang Meredam Kritik Masyarakat Sipil

Raymundus Rikang :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 05 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Presiden Prabowo Subianto punya pola setiap kali menghadapi kritik publik yang meluas.

 

·      Dia mengumpulkan kelompok yang mengkritiknya dan berceramah selama berjam-jam di hadapan mereka.

 

·      Tantangan liputan kali ini adalah mencari akademikus yang bersedia menceritakan isi taklimat Prabowo di tengah unjuk rasa mahasiswa.

 

SETIAP kali pemerintahan Prabowo Subianto dirundung kritik, pihak Istana Negara dengan segera mengumpulkan kelompok yang paling vokal melayangkan protes. Pada Januari 2026, misalnya, pemerintah mengundang lebih dari 1.000 akademikus di tengah sorotan terhadap kinerja pemerintah dalam menangani isu krusial, seperti banjir dan tanah longsor di Sumatera.

 

Sebulan kemudian, Presiden Prabowo mengundang mantan Menteri Luar Negeri dan diplomat karena dikecam publik setelah ia memutuskan bergabung dengan Dewan Perdamaian yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Selain itu, dia mengumpulkan para ulama untuk menjelaskan alasan Indonesia masuk ke Dewan Perdamaian dan menegaskan komitmen mendukung Palestina.

 

Pola serupa terulang ketika pemerintahan Prabowo didera unjuk rasa mahasiswa sepanjang Juni 2026. Mahasiswa yang datang dari berbagai badan eksekutif mahasiswa memprotes program andalan Prabowo yang memboroskan anggaran, seperti makan bergizi gratis dan koperasi desa merah putih. Mereka menuntut pemerintah menyetop proyek yang menghabiskan ratusan triliun rupiah itu.

 

Seperti yang sudah diperkirakan, tatkala gelombang demonstrasi mahasiswa meluas, Prabowo mengumpulkan rektor, akademikus, dan peneliti di Jakarta pada 26 Juni 2026. Yang datang diklaim mencapai 2.600 orang. Prabowo berbicara dengan mereka selama lima jam secara tertutup. Tak boleh ada wartawan yang masuk dan merekam pidato Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.

 

Di sinilah tantangannya. Kendati peserta yang hadir mencapai ribuan, sukar mencari hadirin yang bersedia berbicara on the record kepada tim liputan yang dikoordinasikan jurnalis Tempo, Hussein Abri Dongoran. Beberapa nama dosen yang kami kontak tak bersedia menceritakan isi pertemuan tertutup dengan Presiden. Begitu ada yang mau berdiskusi dengan Hussein, seorang dosen dari sebuah universitas di Jawa Timur meminta namanya tak ditulis.

 

Padahal kami mendapat informasi penting yang perlu dikonfirmasi dosen yang menghadiri sarasehan dengan Prabowo. Tiga narasumber yang ditemui secara terpisah menyebutkan Prabowo sempat menyatakan program-programnya acap tak dipahami secara utuh sehingga menimbulkan protes dari berbagai kalangan.

 

Meski demikian, para dosen yang tak bersedia menceritakan secara on the record kepada kami berupaya menyodorkan nama koleganya yang diperkirakan mau bertemu dengan wartawan.

 

Menjelang tenggat, Hussein bisa memperoleh informasi itu. Dari dosen-dosen di kampus negeri dan swasta pula kami mendapat informasi bahwa upaya meredam aksi massa penolakan makan bergizi gratis juga dilakukan para menteri, baik lewat sambungan telepon maupun melalui pertemuan khusus. Laporan itu terbit di bawah judul “Berbagai Cara Meredam Demonstrasi Mahasiswa”.

 

Selain menghadirkan artikel mengenai taktik pemerintah meredam unjuk rasa, kami mengulas cerita soal alasan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menjadi kambing hitam unjuk rasa. Artikel tulisan Francisca Christy Rosana, yang memiliki jaringan narasumber dengan politikus PDIP yang luas, ini terbit di bawah judul “Benarkah PDIP di Balik Demonstrasi Mahasiswa”.

 

Laporan pekan ini juga dilengkapi dengan cerita para mahasiswa mengkonsolidasikan gerakan di daerah. Artikel dengan judul “Bagaimana Mahasiswa Menggalang Demonstrasi” ini ditulis Egi Adyatama.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/taktik-penguasa-meredam-mahasiswa-2273611

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar