Selasa, 07 Juli 2026

 

Jangan Takut pada Kritik Mahasiswa

Editorial 2 :  Redaksi Tempo Mingguan

TEMPO MINGGUAN, 05 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Prabowo Subianto menganggap kritik sebagai manuver pihak yang kalah dan hendak mengganggu pemerintah.

 

·      Ia menuding demonstrasi mahasiswa dibiayai pihak yang tidak menyukai pemerintah.

 

·      Unjuk rasa adalah cara konstitusional untuk menyampaikan kegelisahan publik.

 

BAGI Presiden Prabowo Subianto, kritik tampaknya lebih sering dibaca sebagai ancaman ketimbang masukan. Alih-alih melihatnya sebagai koreksi demi kepentingan publik, ia justru menganggap kritik sebagai manuver pihak yang kalah dan hendak mengganggu pemerintah. Dalam logika semacam itu, oposisi bukan bagian dari demokrasi, melainkan gangguan yang perlu disingkirkan.

 

Gelombang demonstrasi mahasiswa berulang kali muncul di berbagai daerah sepanjang Juni 2026. Mereka mempersoalkan program makan bergizi gratis yang dinilai menghabiskan anggaran negara dalam jumlah sangat besar tanpa tata kelola yang meyakinkan. Mahasiswa juga menyoroti pemerintahan yang kian semrawut, sarat tumpang-tindih kewenangan, serta menunjukkan kecenderungan makin militeristik.

 

Namun respons Prabowo justru memperlihatkan kegelisahan. Saat bertemu dengan nelayan dan petani di Gorontalo pada 24 Juni 2026, ia menuding demonstrasi mahasiswa dibiayai pihak yang tidak menyukai pemerintah. Dua hari berselang, di hadapan ribuan pemimpin perguruan tinggi di Jakarta, ia menyatakan mahasiswa tidak semestinya turun ke jalan memprotes kebijakan negara. Seolah-olah demokrasi hanya boleh dipraktikkan lima tahun sekali, tepat di bilik suara.

 

Pandangan itu bertolak belakang dengan semangat kebebasan akademik yang menjadi roh perguruan tinggi. Demonstrasi merupakan salah satu bentuk partisipasi warga negara sekaligus pengejawantahan pengabdian kepada masyarakat. Ketika saluran aspirasi dianggap buntu, unjuk rasa adalah cara konstitusional untuk menyampaikan kegelisahan publik.

 

Nada serupa segera bergema dari para pembantu presiden. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan kampus semestinya memberi solusi, bukan mendukung demonstrasi. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan bahkan menemui pimpinan perguruan tinggi Muhammadiyah agar mahasiswa tidak turun ke jalan. Seakan-akan tugas kampus cukup menghasilkan riset, sementara kritik harus disimpan rapat di perpustakaan.

 

Sikap ofensif pemerintah mencerminkan kekhawatiran terhadap gerakan mahasiswa. Sejarah memang menunjukkan mahasiswa kerap menjadi motor perubahan. Gerakan 1966 mempercepat berakhirnya Orde Lama, sedangkan demonstrasi 1998 mengakhiri 32 tahun kekuasaan Soeharto. Namun pelajaran sejarah semestinya bukan membuat pemerintah takut kepada mahasiswa, melainkan lebih terbuka mendengar mereka.

 

Kesan paranoia itu tampak dalam serangkaian demonstrasi pada Juni lalu. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menangkap seorang personel intelijen Kepolisian Daerah Yogyakarta yang berada di tengah aksi pada 17 Juni 2026. Di sejumlah daerah, demonstrasi juga dihadapkan pada kelompok sipil pendukung pemerintah, termasuk unsur Komponen Cadangan binaan Kementerian Pertahanan. Kehadiran kelompok tandingan hanya memperbesar kesan bahwa kritik diperlakukan sebagai ancaman keamanan, bukan gejala demokrasi.

 

Strategi semacam ini justru berisiko memecah masyarakat. Ketika mahasiswa yang mengkritik pemerintah berhadapan dengan kelompok mahasiswa yang dimobilisasi untuk memberi dukungan, aroma politik adu domba sulit dihindari. Pemerintah seharusnya tidak sibuk mengelompokkan warga menjadi pendukung dan pengganggu.

 

Prabowo kini adalah presiden sebuah negara demokrasi, bukan komandan di medan operasi. Latar belakang militer tak boleh menjadi alasan membawa pola komando ke dalam pengelolaan negara. Seorang negarawan tidak membalas kritik dengan kecurigaan, tapi dengan argumentasi, perbaikan kebijakan, dan kesediaan mendengar. Sebab, pemerintah yang percaya diri tak pernah takut kepada suara mahasiswa.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/kolom/prabowo-subianto-demonstrasi-mahasiswa-2273589

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar