|
Pemugaran Rumah Raden
Saleh dalam Sejarah Cikini Reza Maulana : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 12
Juli 2026
|
· Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, seperti
bersinonim dengan Taman Ismail Marzuki. · Sebelum 1960-an, Cikini dikenal sebagai
lokasi kebun binatang. · Pada abad ke-19, Cikini identik dengan
pelukis Raden Saleh, tuan tanah sekaligus penyumbang lahan untuk kebun
binatang pertama di Hindia Belanda tersebut. APA yang
terlintas ketika mendengar nama Cikini? Sebagian orang mungkin langsung
mengingat Taman Ismail Marzuki, stasiun kereta, rumah sakit, atau deretan
kafe yang tak pernah sepi di Jakarta Pusat. Padahal nama kawasan ini jauh
lebih tua daripada bangunan-bangunan yang kini memenuhi setiap jengkalnya. Cikini
diyakini berasal dari kata ci yang dalam bahasa Sunda berarti air atau sungai
dan kini, nama tumbuhan yang dahulu banyak dijumpai di sana. Seperti banyak
nama tempat lain di Jakarta yang diawali “Ci-”, toponimi ini mengingatkan
bahwa wilayah yang kini menjadi pusat kota itu pernah didominasi bentang
alam, bukan gedung dan jalan raya. Pada
abad ke-19, Cikini identik dengan Raden Saleh. Keterkaitan itu bukan semata
karena rumah tinggalnya berdiri di sana. Maestro seni lukis itu bahkan
menghibahkan sekitar 10 hektare lahannya di Cikini untuk dijadikan kebun
binatang. Dibuka pada 1864, Kebun Binatang Cikini menjadi taman margasatwa
pertama di Hindia Belanda. Bertahan
selama satu abad, kebun binatang itu dipindahkan ke Ragunan, Jakarta Selatan,
pada 1964 oleh pemerintah kota karena lokasi lama tak lagi memadai. Taman
Margasatwa Ragunan diresmikan pada 22 Juni 1966 oleh Gubernur Ali Sadikin. Dua
tahun kemudian, Ali Sadikin mengambil keputusan lain yang mengubah wajah
Cikini. Di bekas kompleks kebun binatang, ia meresmikan Taman Ismail Marzuki
(TIM) pada 10 November 1968. Sejak
saat itu, TIM berkembang menjadi pusat kegiatan seni dan kebudayaan Jakarta
yang menginspirasi sejumlah daerah membangun pusat kesenian dengan model
serupa. Jejak kebun binatang hanya tersisa pada nama warung makan legendaris
di Jalan Cikini IV: Gado-gado Bonbin—akronim kebon binatang. Lebih
dari 50 tahun berselang, orang mengenal Cikini karena TIM, bukan lagi karena
Raden Saleh. Wajar saja. Kota selalu membentuk ingatan baru bagi warganya.
Kawasan yang dahulu identik dengan rumah seorang pelukis, lalu dengan kebun
binatang, kini lebih dikenal sebagai ruang pertunjukan, galeri seni, dan
tempat berkumpul. Walhasil,
dalam satu abad, Cikini berganti wajah tiga kali: kawasan tempat tinggal
Raden Saleh, kebun binatang pertama di Hindia Belanda, dan pusat kesenian
Jakarta. Perubahan
itu juga hadir dalam urusan administratif. Jalan Cikini VII, misalnya, sejak
2022 berganti nama menjadi Jalan Tino Sidin. Penggantian nama jalan oleh
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu nyaris tanpa penjelasan dan memancing
penolakan sebagian warga. Sedikit demi sedikit, penanda lama menghilang,
berganti dengan penanda baru yang lebih akrab bagi generasi berikutnya. Karena
itulah pemugaran rumah Raden Saleh terasa penting. Bukan semata-mata karena
bangunannya telah menjadi cagar budaya, melainkan lantaran rumah itu juga
membantu mengembalikan satu lapisan sejarah kota yang perlahan memudar. Rumah
gedong itu menjadi penanda bahwa jauh sebelum Cikini menjadi pusat kesenian
Jakarta, seorang pelukis besar lebih dulu membentuk sejarah kawasan tersebut.
Warisannya bukan hanya melalui kanvas, melainkan juga pada ruang yang hingga
kini bertahan di tengah perubahan kota. Dalam
rubrik Arsitektur edisi pekan ini, wartawan Tempo, Savero Aristia, mengulas
proses restorasi rumah Raden Saleh. Dia mendatangi bangunan yang sebelumnya
menjadi bagian dari Primaya Hospital PGI Cikini serta mewawancarai para
arsitek yang terlibat dan pegiat pelestarian cagar budaya. Artikel
berjudul “Sejarah yang Terkuak dari Restorasi Rumah Raden Saleh” itu
sekaligus membuka kembali sebuah rumah yang turut membentuk sejarah kota. ● Sumber :
https://www.tempo.co/teroka/rumah-raden-saleh-dalam-sejarah-cikini-2275288 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar