Selasa, 14 Juli 2026

 

Pemugaran Rumah Raden Saleh dalam Sejarah Cikini

Reza Maulana :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 12 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, seperti bersinonim dengan Taman Ismail Marzuki.

 

·      Sebelum 1960-an, Cikini dikenal sebagai lokasi kebun binatang.

 

·      Pada abad ke-19, Cikini identik dengan pelukis Raden Saleh, tuan tanah sekaligus penyumbang lahan untuk kebun binatang pertama di Hindia Belanda tersebut.

 

APA yang terlintas ketika mendengar nama Cikini? Sebagian orang mungkin langsung mengingat Taman Ismail Marzuki, stasiun kereta, rumah sakit, atau deretan kafe yang tak pernah sepi di Jakarta Pusat. Padahal nama kawasan ini jauh lebih tua daripada bangunan-bangunan yang kini memenuhi setiap jengkalnya.

 

Cikini diyakini berasal dari kata ci yang dalam bahasa Sunda berarti air atau sungai dan kini, nama tumbuhan yang dahulu banyak dijumpai di sana. Seperti banyak nama tempat lain di Jakarta yang diawali “Ci-”, toponimi ini mengingatkan bahwa wilayah yang kini menjadi pusat kota itu pernah didominasi bentang alam, bukan gedung dan jalan raya.

 

Pada abad ke-19, Cikini identik dengan Raden Saleh. Keterkaitan itu bukan semata karena rumah tinggalnya berdiri di sana. Maestro seni lukis itu bahkan menghibahkan sekitar 10 hektare lahannya di Cikini untuk dijadikan kebun binatang. Dibuka pada 1864, Kebun Binatang Cikini menjadi taman margasatwa pertama di Hindia Belanda.

 

Bertahan selama satu abad, kebun binatang itu dipindahkan ke Ragunan, Jakarta Selatan, pada 1964 oleh pemerintah kota karena lokasi lama tak lagi memadai. Taman Margasatwa Ragunan diresmikan pada 22 Juni 1966 oleh Gubernur Ali Sadikin.

 

Dua tahun kemudian, Ali Sadikin mengambil keputusan lain yang mengubah wajah Cikini. Di bekas kompleks kebun binatang, ia meresmikan Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 10 November 1968.

 

Sejak saat itu, TIM berkembang menjadi pusat kegiatan seni dan kebudayaan Jakarta yang menginspirasi sejumlah daerah membangun pusat kesenian dengan model serupa. Jejak kebun binatang hanya tersisa pada nama warung makan legendaris di Jalan Cikini IV: Gado-gado Bonbin—akronim kebon binatang.

 

Lebih dari 50 tahun berselang, orang mengenal Cikini karena TIM, bukan lagi karena Raden Saleh. Wajar saja. Kota selalu membentuk ingatan baru bagi warganya. Kawasan yang dahulu identik dengan rumah seorang pelukis, lalu dengan kebun binatang, kini lebih dikenal sebagai ruang pertunjukan, galeri seni, dan tempat berkumpul.

 

Walhasil, dalam satu abad, Cikini berganti wajah tiga kali: kawasan tempat tinggal Raden Saleh, kebun binatang pertama di Hindia Belanda, dan pusat kesenian Jakarta.

 

Perubahan itu juga hadir dalam urusan administratif. Jalan Cikini VII, misalnya, sejak 2022 berganti nama menjadi Jalan Tino Sidin. Penggantian nama jalan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu nyaris tanpa penjelasan dan memancing penolakan sebagian warga. Sedikit demi sedikit, penanda lama menghilang, berganti dengan penanda baru yang lebih akrab bagi generasi berikutnya.

 

Karena itulah pemugaran rumah Raden Saleh terasa penting. Bukan semata-mata karena bangunannya telah menjadi cagar budaya, melainkan lantaran rumah itu juga membantu mengembalikan satu lapisan sejarah kota yang perlahan memudar.

 

Rumah gedong itu menjadi penanda bahwa jauh sebelum Cikini menjadi pusat kesenian Jakarta, seorang pelukis besar lebih dulu membentuk sejarah kawasan tersebut. Warisannya bukan hanya melalui kanvas, melainkan juga pada ruang yang hingga kini bertahan di tengah perubahan kota.

 

Dalam rubrik Arsitektur edisi pekan ini, wartawan Tempo, Savero Aristia, mengulas proses restorasi rumah Raden Saleh. Dia mendatangi bangunan yang sebelumnya menjadi bagian dari Primaya Hospital PGI Cikini serta mewawancarai para arsitek yang terlibat dan pegiat pelestarian cagar budaya.

 

Artikel berjudul “Sejarah yang Terkuak dari Restorasi Rumah Raden Saleh” itu sekaligus membuka kembali sebuah rumah yang turut membentuk sejarah kota.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/teroka/rumah-raden-saleh-dalam-sejarah-cikini-2275288

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar