|
Republik Banana
Indonesia Editorial 1 : Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 12
Juli 2026
|
· Polisi agresif menggeledah 13 lokasi
yang terafiliasi dengan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Febrie
Adriansyah. · Penggeledahan terjadi setelah jaksa
menetapkan dua jenderal polisi sebagai tersangka korupsi makan bergizi
gratis. · Presiden Prabowo bisa menyerahkan
korupsi MBG dan pemerasan jaksa ke Komisi Pemberantasan Korupsi. KETIKA
korupsi merajalela, saling bongkar perkara antara polisi dan jaksa tampak
bermanfaat bagi pemberantasan kejahatan ini. Publik jadi tahu para pelaku
korupsi adalah aparatur hukum sendiri. Namun penegakan hukum berlandaskan
dendam dan alat gertak mudah diselesaikan secara politik. Jika ini terjadi,
harapan orang banyak dalam sekejap sirna. Polisi
agresif menggeledah 13 lokasi yang terafiliasi dengan Jaksa Agung Muda Tindak
Pidana Khusus Febrie Adriansyah pada akhir pekan lalu setelah dua jenderal
polisi menjadi tersangka korupsi proyek makan bergizi gratis (MBG). Kejaksaan
Agung sedang giat membongkar korupsi MBG yang menyeret para petinggi Badan
Gizi Nasional (BGN). Sekretaris Deputi Bidang Informasi dan Kerja Sama BGN
Brigadir Jenderal Lalu Muhammad Iwan Mahardan menjadi tersangka tepat di Hari
Bhayangkara pada 1 Juli 2026. Polisi
memakai dalih pengusutan tiga kasus korupsi yang diduga melibatkan Febrie.
Bahannya hasil interogasi Ferry Hongkiriwang, pengusaha yang diduga polisi
sebagai teman dekat Febrie. Ferry ditangkap karena menganiaya polisi
antiteror yang menguntitnya pada pertengahan 2025. Kepada
polisi, Ferry mengungkap bahwa Febrie mendapat jatah pemerasan tersangka
korupsi PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
Belakangan, polisi mendapatkan bahan lain tentang pemerasan tersangka korupsi
PT Krakatau Steel dan dugaan konflik kepentingan pengadaan batu bara untuk
pembangkit PT Perusahaan Listrik Negara. Dari
kafe Ferry di Jakarta Selatan dan rumah Febrie di Sentul, Bogor, Jawa Barat,
polisi menyita pelbagai barang bukti. Di antaranya 74 kilogram emas dan uang
bernilai hampir setengah triliun rupiah. Seusai penggeledahan yang videonya
tersebar di media sosial itu, giliran jaksa dan puluhan tentara bersenjata
laras panjang menyambangi kantor Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya
meminta barang-barang bukti tersebut dikembalikan. Rumah
Febrie yang lain di Jakarta Selatan juga dijaga puluhan prajurit dengan
senjata siap tempur. Kejaksaan Agung berdalih penjagaan oleh tentara sesuai
dengan Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2025 tentang Perlindungan Negara
terhadap Jaksa dalam Melaksanakan Tugas dan Fungsi Kejaksaan Republik
Indonesia. Aturan ini memang menyebutkan tentara bisa melindungi jaksa jika
harta dan nyawanya terancam. Keterlibatan
tentara dalam perseteruan polisi-jaksa ini tak lepas dari patron politik
lembaga masing-masing. Febrie adalah Ketua Pelaksana Satuan Tugas Penertiban
Kawasan Hutan yang dipimpin Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, jenderal
tentara yang punya pengaruh kuat di Tentara Nasional Indonesia. Perseteruan
lama polisi dengan tentara sejak pemisahan keduanya pada 1998 kini menemukan
muara dalam perseteruan elitenya ketika berkonflik dengan saling bongkar
kasus korupsi. Presiden
Prabowo Subianto bergeming menyelesaikan konflik terbuka anak buahnya ini,
seperti ketika ia mengambangkan perseteruan polisi-tentara dalam kerusuhan
demonstrasi Agustus 2025. Polisi menemukan banyak bukti perusuh adalah
intelijen tentara, sementara polisi juga represif menangani demonstrasi
hingga menewaskan pengemudi ojek online Affan Kurniawan. Tak ada pengusutan
berarti terhadap para pelaku. Dengan
patronase politik aparatur hukum itu, Prabowo sebetulnya bisa menengahi
dengan menyerahkan penyidikan korupsi MBG dan dugaan pemerasan di Kejaksaan
kepada Komisi Pemberantasan Korupsi. Meskipun penyidik KPK terdiri atas
polisi dan jaksa, setidaknya lembaga ini tak berkhidmat langsung kepada
mereka yang sedang berseteru. Korban
pertikaian sekaligus persekongkolan ini adalah rakyat Indonesia. Kita melihat
perilaku elite korup dan pemakaian kekuasaan untuk melindungi kepentingan
busuk masing-masing secara telanjang. Sama seperti dalam penanganan kematian
Affan Kurniawan yang menjadi korban keganasan polisi, publik Indonesia akan
kecele oleh ujung pertikaian ini jika Prabowo memanfaatkannya untuk
menguatkan loyalitas mereka dengan penyelesaian di luar hukum. Prabowo
mungkin mendapat manfaat politik dari pertikaian anak buahnya. Tapi tak dapat
diabaikan pula analisis yang menyebutkan ia sesungguhnya tidak sepenuhnya
bisa mengatasi keadaan. Hanya di
Republik Banana, istilah penulis O. Henry tahun 1904 untuk negara miskin yang
hanya mengandalkan ekspor pisang tapi korup di Amerika Tengah, penyelewengan
menjadi senjata penopang kekuasaan. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/indonesia-republik-banana-2275235 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar