|
Banting Setir ke
Adopsi Anak Indonesia oleh Orang Belanda Raymundus
Rikang : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 12
Juli 2026
|
· Redaksi Tempo mengumpulkan cerita
mengenai adopsi massal anak Indonesia oleh orang Belanda sejak Maret 2026. · Kami berbicara dengan anak-anak adopsi,
orang tua angkat, dan saudara kandung mereka yang ada di Indonesia. · Polemik perpres yang memasukkan budaya
LGBTQ sebagai ancaman nonmiliter juga tersaji sebagai laporan Desk Politik
pekan ini. KATA
jurnalis Desk Politik, Francisca Christy Rosana, liputan pekan ini begitu
menguras energi. Ia dan tim reportase sebetulnya telah menyiapkan sebuah
cerita mengenai jejaring politik seorang pesohor sejak pekan lalu. Sampai
penggeledahan kafe yang terafiliasi dengan mantan Jaksa Agung Muda Tindak
Pidana Khusus, Febrie Adriansyah, di Cipete, Jakarta Selatan, terjadi,
Chicha—begitu panggilan Francisca di redaksi—sudah siap mengemas liputannya
menjadi laporan utama. Namun
eskalasi konflik antara jaksa dan polisi yang terus meningkat membuat redaksi
mesti mengubah topik laporan utama pada Kamis siang, 9 Juli 2026. Tim Desk
Politik tentu tak keberatan karena tema yang digarap Desk Hukum dan Kriminal
itu lebih aktual. Pembaca pasti menantikan cerita yang dikumpulkan redaksi
Tempo mengenai kiprah Febrie di Kejaksaan Agung. Bagaimana
dengan liputan tentang gurita politik seorang pesohor yang disiapkan Desk
Politik? Menurut rapat redaksi, topik itu sayang untuk diterbitkan sebagai
laporan reguler. Toh, topiknya juga awet. Jadilah kami menyimpan sejenak
laporan itu dan mesti mencari topik pengganti. Redaktur
Desk Politik Egi Adyatama datang dengan liputan pengganti yang bahannya sudah
lama ia kumpulkan, yakni cerita mengenai adopsi massal anak Indonesia oleh
orang Belanda yang terjadi pada 1970-1980. Egi menghimpun cerita ini sejak
Maret 2026. Pemilihan
tema ini juga bertepatan dengan rencana Yayasan Ibu Indonesia—organisasi
nirlaba yang mendampingi anak korban adopsi—meresmikan rumah singgah bernama Welcome
Home di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada pekan kedua
Juli 2026. Kami
memperoleh cerita adopsi massal anak-anak Indonesia ketika pengurus Yayasan
Karunia Liberta yang bekerja sama dengan Yayasan Ibu Indonesia mengontak Egi.
Mereka memberi tahu bahwa anak-anak yang empat dekade lalu diadopsi keluarga
Belanda sedang melacak keberadaan keluarga mereka. Mereka berharap peliputan
oleh media bisa membuka jalan untuk menemukan sanak saudara yang berada di
Indonesia. Tema ini
tentu saja menarik. Egi dan tim berkontak dengan Ketua Yayasan Ibu Indonesia
Berber Swart yang memberi akses kepada tim liputan untuk berbicara dan
mendengar cerita dari anak-anak yang diadopsi orang Belanda. Kisah para anak
adopsi kemudian menggelinding karena kami mendapat kontak dengan orang tua
angkat di Belanda hingga saudara kandung anak adopsi yang bermukim di
Indonesia. Menelusuri
nuansa sosial-politik di Belanda yang melatari adopsi massal pada 1970-1980,
kami menemukan laporan investigasi yang ditulis Committee Investigating
Intercountry Adoption atau COIA, komite independen yang dibentuk
pemerintah Kerajaan Belanda pada 2018. Di Negeri Kincir Angin, otoritasnya
sudah mengakui bahwa ada pelanggaran dalam praktik adopsi terhadap anak-anak
dari sejumlah negara berkembang, seperti Indonesia dan Sri Lanka. Laporan
mengenai adopsi massal anak Indonesia itu bisa dibaca dalam artikel berjudul
“Bagaimana 4.000 Anak Indonesia Diadopsi Massal Orang Belanda”. Ada juga
tulisan mengenai upaya anak-anak adopsi melacak orang tua dan keluarga mereka
dalam artikel “Gerilya Anak-anak Adopsi Belanda Mencari Orang Tua Indonesia”. Selain
menghadirkan liputan mengenai adopsi anak Indonesia, kami menulis soal
kegaduhan Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum
Pertahanan Negara 2025-2029. Aturan itu mencantumkan penyebaran budaya
lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ) sebagai ancaman
nonmiliter. Regulasi itu membuat komunitas LGBTQ mengalami represi. Laporan
yang ditulis jurnalis Desk Politik, Daniel Ahmad Fajri, itu bisa dibaca dalam
artikel “Asal-usul Keriuhan LGBT sebagai Ancaman Nonmiliter”. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/gerilya-anak-adopsi-belanda-2275243 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar