|
Mengurai Benang Kusut Perjanjian “Versailles
2026” antara Amerika dan Iran Jannus
TH Siahaan : Doktor
Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. |
KOMPAS.COM, 24 Juni 2026
|
PERANG Iran 2026, yang bergolak sejak 28 Februari hingga 17 Juni
2026, mencatatkan diri sebagai salah satu konfrontasi kinetik paling
destruktif di Timur Tengah pada abad ke-21. Konflik ini meletus setelah negosiasi tidak langsung terkait
program nuklir dan rudal balistik Iran menemui jalan buntu pada awal tahun. Melalui operasi udara skala besar bersandi Operation Epic Fury
oleh Pentagon dan Operation Roaring Lion oleh Israel, koalisi langsung
menyasar infrastruktur militer, fasilitas nuklir, serta pusat kepemimpinan di
Teheran. Dampak pembuka yang paling mengguncang adalah terjadinya
dekapitasi kepemimpinan politik dan militer tertinggi Iran. Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei tewas di kediamannya pada
hari pertama serangan, disusul tewasnya pejabat kunci seperti Sekretaris
Dewan Pertahanan Nasional Ali Shamkhani dan Panglima IRGC Mohammad Pakpour. Iran membalas masif dengan ratusan rudal balistik dan pesawat
tanpa awak ke wilayah Israel, pangkalan Amerika Serikat, serta negara-negara
Arab Teluk, yang memicu kerusakan masif dan korban jiwa yang luar biasa di
kedua belah pihak. Kehancuran regional yang mengancam ekonomi global ini akhirnya
memaksa para aktor mencari jalan keluar diplomatik. Di bawah mediasi intensif Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Turkiye,
dan Mesir, lahirlah Memorandum Saling Pengertian Islamabad (Islamabad MoU)
setelah negosiasi maraton antara Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua
Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada April hingga Juni 2026. Kesepakatan damai sementara ini ditandatangani secara unik pada
Rabu malam, 17 Juni 2026, oleh Presiden Donald Trump di Istana Versailles
Perancis dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Teheran. Langkah taktis selanjutnya kini digeser ke Burgenstock Resort,
Swiss, untuk implementasi teknis. Namun, perjalanan menuju Swiss langsung tersendat karena JD Vance
terpaksa menunda keberangkatannya demi meredakan gejolak politik domestik di
Washington. Faksi elang Republik dan lobi pro-Israel mengecam keras konsesi
ekonomi masif yang diberikan Trump kepada Teheran, mencerminkan betapa
rapuhnya fondasi politik domestik Amerika Serikat dalam mendukung draf
perdamaian darurat ini. Keputusan Presiden Donald Trump untuk melunakkan posisinya
terhadap Iran adalah hasil dari kalkulasi transaksional yang sangat taktis. Pada 2025, Amerika Serikat secara kaku menuntut pembongkaran
total program rudal balistik dan penghentian seluruh pengayaan uranium Iran. Namun, dalam perjanjian Juni 2026 ini, Trump justru mengizinkan
Teheran mempertahankan pengayaan uranium tingkat rendah untuk kebutuhan sipil
serta membiarkan kontrol persenjataan rudal balistik tetap berada di tangan
Iran. Pergeseran drastis ini murni didorong oleh ancaman depresi
ekonomi global akibat penutupan Selat Hormuz oleh militer Iran yang sempat
menghentikan arus pasokan minyak mentah dunia dan memicu kepanikan pasar
saham global. Bagi Trump, pembukaan kembali jalur pelayaran vital tanpa
hambatan tarif merupakan prioritas mutlak yang mengalahkan ambisi geopolitik
jangka panjang untuk menumbangkan rezim Teheran. Isu sensitif seperti pembatasan nuklir jangka panjang sengaja
didelegasikan ke komite teknis selama 60 hari ke depan demi stabilitas harga
energi secara instan. Di pihak Teheran, penerimaan atas perdamaian sementara ini
diambil bukan dari posisi yang kuat, tapi sebagai langkah realistis untuk
menyelamatkan rezim dari keruntuhan domestik. Kematian Ayatollah Ali Khamenei sempat memicu krisis legitimasi
yang cukup parah. Meskipun faksi garis keras bergerak cepat menunjuk Mojtaba
Khamenei sebagai Pemimpin Agung yang baru pada 9 Maret 2026, suksesi dinasti
ini ditolak oleh masyarakat sipil Iran yang masih membara akibat penindasan
protes berdarah pada Januari 2026. Struktur politik Iran juga bergeser pasca-pembunuhan politikus
moderat Ali Larijani, yang posisinya sebagai Sekretaris Dewan Keamanan
Nasional Agung (SNSC) digantikan oleh jenderal senior IRGC, Mohammad Bagher
Zolghadr. Masuknya Zolghadr menandai dominasi mutlak sayap militer IRGC
atas keputusan perang dan perdamaian. Korps Garda Revolusi dan faksi garis keras akhirnya melunak
setelah pemboman koalisi menghancurkan infrastruktur vital negara, mulai dari
kompleks baja raksasa Mobarakeh hingga jaringan kilang minyak dan instalasi
listrik. Sadar bahwa melanjutkan perang di tengah sanksi yang mencekik
akan memicu revolusi domestik ketiga, IRGC mendukung langkah diplomatik
kelompok moderat untuk mendapatkan ruang napas taktis serta aliran likuiditas
guna menstabilkan mata uang Rial dan meredakan inflasi. Pihak yang paling meradang atas tercapainya Islamabad MoU adalah
Israel di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu. Yerusalem memandang perjanjian ini sebagai ancaman eksistensial
terbesar karena membiarkan infrastruktur nuklir dan kemampuan rudal balistik
Iran tetap utuh. Untuk menggagalkan kesepakatan ini sebelum diresmikan di Swiss,
Israel meluncurkan strategi perlawanan dua cabang (two-pronged sabotage
strategy). Pertama, melalui provokasi militer di Lebanon Selatan. Israel
secara konsisten meningkatkan intensitas serangan udara dan operasi darat di
wilayah tersebut, mengabaikan klausul pertama memorandum yang menuntut
penghentian perang permanen di semua lini. Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, bahkan menegaskan
kedaulatan pertahanan perbatasan Israel tidak akan dipengaruhi oleh
kesepakatan Washington-Teheran. Dengan terus menggempur Lebanon, Israel berharap memicu balasan
skala besar dari Hezbollah atau Iran, yang secara otomatis akan memaksa
Amerika Serikat membatalkan perjanjian damai dan kembali ke mode tempur
kinetik. Kedua, Israel menjalankan manuver politik belakang layar di
Washington dengan mengerahkan jaringan lobi pro-Israel untuk menekan Trump. Pejabat Israel menggunakan pengaruh media kanan seperti Mark
Levin untuk menggambarkan perjanjian tersebut sebagai bentuk penyerahan diri
yang memalukan. Mereka menyerang rencana pembentukan Dana Rekonstruksi Iran
senilai 300 miliar dolar dan melabelinya sebagai "dana gelap"
(slush fund) untuk membangun kembali kapasitas militer proksi Iran. Namun, upaya menjegal di Kongres ini menemui jalan buntu setelah
Senator Republik Lindsey Graham secara mengejutkan berbalik arah mendukung
Trump, dengan menyatakan bahwa perjanjian damai tersebut bermanfaat bagi
stabilitas keamanan jangka panjang Amerika Serikat. Secara teknis, draf fase pertama (60 hari pertama) mengatur
pertukaran komitmen yang sangat spesifik. Amerika Serikat wajib menghentikan blokade laut terhadap
pelabuhan Iran dalam waktu 30 hari dan menerbitkan waiver sanksi ekspor
minyak bumi oleh OFAC. Sebagai imbalannya, Iran wajib menghentikan operasi asimetris di
Teluk Persia, menarik ancaman terhadap pangkalan AS, serta membuka kembali
Selat Hormuz secara instan tanpa tarif transit. AS juga berkomitmen mencairkan aset kedaulatan Iran yang
dibekukan di luar negeri senilai total 100 miliar dolar secara bertahap, di
mana Iran memprioritaskan 24 miliar dolar di awal untuk meredakan inflasi
domestik. Namun, pelepasan dana ini diikat ketat dengan progres pengenceran
(down-blending) stok uranium kadar tinggi (60 persen) Iran di bawah
pengawasan IAEA. Di luar komitmen energi dan nuklir, klausul paling kontroversial
adalah pembentukan program rekonstruksi ekonomi Iran senilai minimal 300
miliar dolar. Angka fantastis ini muncul sebagai alternatif setelah AS menolak tuntutan
awal Iran yang meminta kompensasi kerusakan perang sebesar 400 miliar dolar
langsung dari kas negara AS. Untuk menghindari beban anggaran pembayar pajak, administrasi
Trump merancang dana ini murni bersumber dari sektor swasta internasional
melalui Dana Pembangunan dan Rekonstruksi yang baru aktif setelah kesepakatan
final fase kedua ditandatangani. Saat ini, lebih dari 50 persen target dana telah berkomitmen
secara informal oleh konsorsium multinasional dari Korea Selatan, Jepang,
Singapura, Malaysia, hingga AS. Namun, Iran hanya bisa mengakses investasi swasta ini jika
memenuhi kepatuhan nuklir penuh dan pembongkaran fasilitas pengayaan tertentu
berdasarkan verifikasi IAEA. Di sinilah letak kerapuhan fundamental dari Islamabad MoU.
Meskipun fase pertama diproyeksikan berjalan lancar karena kedua belah pihak
sama-sama membutuhkan stabilitas ekonomi jangka pendek, transisi menuju
negosiasi fase kedua dipastikan akan menghadapi jalan buntu yang sangat
terjal. Ada tiga titik kritis geopolitik yang berpotensi meruntuhkan
kerangka kerja ini sebelum batas waktu 60 hari berakhir. Pertama adalah hambatan tarif di Selat Hormuz pasca-60 hari. Iran
telah mengirimkan sinyal tegas bahwa pembukaan gratis selat tersebut hanya
berlaku selama masa transisi. Ketua Parlemen Ghalibaf dan faksi IRGC menegaskan akan
memberlakukan tarif lintas atau "biaya layanan" bagi kapal
komersial dengan alasan pemeliharaan keamanan bersama Oman. Langkah sepihak ini jelas melanggar Konvensi PBB tentang Hukum
Laut (UNCLOS) yang menetapkan Selat Hormuz sebagai selat internasional yang
bebas biaya. Amerika Serikat dipastikan akan menolak keras pengenaan biaya
transit ini, gesekan yang berisiko tinggi memicu kembali konfrontasi
bersenjata di laut. Titik kritis kedua adalah isu penarikan pasukan Israel dari
Lebanon. IRGC menegaskan bahwa implementasi berkelanjutan dari komitmen
nuklir Iran bergantung sepenuhnya pada penghentian total operasi militer
Israel dan penarikan seluruh pasukan IDF dari Lebanon selatan. Iran sengaja menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tawar untuk
memaksa AS menekan Israel. Namun, karena Israel bukan pihak penandatangan formal dan menolak
mundur, ketidakmampuan Trump memaksa Netanyahu akan dijadikan alasan oleh
faksi garis keras di Teheran untuk membatalkan komitmen nuklirnya. Situasi di lapangan kian pelik karena Hezbollah juga menolak
skema penyerahan senjata. Terakhir, hambatan teknis verifikasi nuklir dan rudal balistik
pada fase kedua akan memicu perdebatan yang sangat alot. Faksi ultragaris keras di parlemen Iran, yang dipelopori oleh
Ayatollah Mahmoud Nabavian, menentang keras pemberian izin inspeksi mendadak
tanpa batas kepada IAEA dan menganggapnya sebagai spionase Barat yang
dilegalkan. Di sisi lain, tekanan politik domestik dari Kongres AS terhadap
Trump untuk tidak memberikan pelonggaran sanksi permanen tanpa pembongkaran
total infrastruktur nuklir Iran akan membatasi ruang gerak diplomatik Gedung
Putih. Dengan demikian, analisis geopolitik yang mendalam menunjukkan
bahwa Memorandum Saling Pengertian AS-Iran Juni 2026, bukanlah perjanjian
perdamaian komprehensif yang stabil, tapi sekadar gencatan senjata taktis
darurat yang dipaksakan oleh realitas ekonomi global. Penandatanganan di Versailles mencerminkan kemenangan pragmatisme
ekonomi atas idealisme keamanan tradisional, di mana Trump bersedia
mengorbankan tuntutan denuklirisasi maksimal demi menstabilkan pasar minyak
dunia dengan segera. Ketiadaan mekanisme penyelesaian untuk masalah pelik di Lebanon, potensi
penerapan tarif ilegal di Selat Hormuz oleh IRGC, serta penolakan Israel
untuk tunduk pada visi Washington membuat transisi menuju fase kedua berada
dalam bayang-bayang kegagalan sistemik. Tanpa adanya kompromi luar biasa yang melibatkan seluruh aktor
regional, perdamaian sementara ini diproyeksikan akan runtuh kembali sebelum
tahun 2026 berakhir, membuka jalan bagi sekuel konflik militer yang jauh
lebih destruktif di Timur Tengah. Kerapuhan sebagaimana prediksi di atas langsung terbukti hanya dalam
hitungan hari setelah seremonial di Versailles. Memasuki tanggal 20 Juni 2026, Iran secara sepihak menyatakan
kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons atas eskalasi serangan udara
Israel yang terus menggempur wilayah Lebanon Selatan. Langkah Teheran ini seketika membekukan jalur pelayaran
internasional, kapal-kapal komersial yang panik terpaksa mematikan sistem
identifikasi otomatis (Automatic Identification System/AIS) mereka dan
merapat ke garis pantai Oman demi menghindari deteksi militer Iran. Meskipun di sisi lain, Departemen Keuangan AS (OFAC) tetap
mengeksekusi janji mereka dengan resmi menerbitkan waiver sanksi ekspor
minyak mentah Iran pada 21 Juni, penutupan selat vital ini merusak pondasi
awal stabilitas energi yang sangat diincar oleh Trump. Eskalasi ini memicu reaksi kemarahan luar biasa dari Washington
yang mengancam akan menghancurkan proses diplomasi di Burgenstock. Pada 21 Juni 2026, Presiden Donald Trump melontarkan ancaman
keras untuk menginvasi Iran jika penutupan Selat Hormuz terus dilanjutkan,
lengkap dengan peringatan vulgar bahwa para delegasi negosiasi Iran yang saat
ini berada di Swiss "tidak akan pernah bisa pulang kembali ke negara
mereka". Pernyataan ini secara otomatis melanggar klausul anti-ancaman
militer yang disepakati dalam draf awal. Dengan ketegangan yang makin meningkat bahkan sebelum fase 60
hari resmi berjalan, Islamabad MoU kini tidak lagi berada dalam bayang-bayang
kegagalan jangka panjang, tapi sedang bergerak menuju kolaps sistemik total akibat
ketidakmampuan meredam konflik kinetik di Lebanon dan watak transaksional
agresif kedua belah pihak. ● |
Sumber
: https://www.kompas.com/global/read/2026/06/24/052500270/mengurai-benang-kusut-perjanjian-versailles-2026-antara-amerika-dan-iran?page=all#page2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar