|
Sinyal
Bahaya di Awal Semester Kedua Yopie Hidayat
: Anggota
Tim Evaluator Editorial Tempo. |
TEMPO MINGGUAN, 12 Juli 2026
|
· Nilai tukar rupiah terus merosot hingga
mendekati 18.100 per dolar Amerika Serikat meski Bank Indonesia menaikkan
BI-Rate. · Stabilitas eksternal ekonomi Indonesia
mulai terancam tatkala surplus perdagangan berubah menjadi defisit. · Minat investor asing makin bergeser ke
instrumen berjangka waktu lebih pendek. MEMASUKI semester II 2026, ekonomi
Indonesia tampak masih tenang-tenang saja. Namun beberapa indikator keuangan
dan sektor riil yang terbit sebulan terakhir terus mengirim sinyal bahaya
yang patut mendapat perhatian. Peringatan paling gamblang datang dari
pergerakan nilai tukar rupiah. Rupiah terus merosot hingga mendekati 18.100
per dolar Amerika Serikat pada akhir pekan lalu. Padahal Bank Indonesia sudah
menerapkan kebijakan pengetatan moneter yang termasuk paling agresif. Hanya dalam satu bulan, BI menaikkan
BI-Rate dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen. Satu momen kenaikan suku bunga
bahkan diputuskan dalam rapat Dewan Gubernur BI di luar jadwal normal. Hal
ini menggambarkan gawatnya situasi. Tapi, pada kenyataannya, kebijakan
agresif BI itu belum mampu membalik tren pelemahan rupiah. Kenaikan BI-Rate
yang begitu cepat dan cukup besar seharusnya mampu menahan pelemahan rupiah.
Jika upaya itu tetap majal, artinya ada banyak perkara penting lain, dari
krisis fiskal hingga panasnya situasi geopolitik global, yang belum
terpecahkan dan terus menekan rupiah. Data di pasar saham juga memberikan
pesan keras. Hingga akhir pekan lalu, investor asing masih melakukan
penjualan bersih Rp 75,73 triliun sejak awal tahun. Citra pasar modal
Indonesia memang masih bonyok menunggu hasil evaluasi MSCI Inc—penyedia
indeks global—yang bakal terbit pada November 2026. Saat menanti keputusan
penting itu, investor asing mengadopsi pandangan pesimistis kaum muda
Indonesia: kabur aja dulu. Beberapa indikator sektor riil juga
menunjukkan pemburukan serius. Yang paling menonjol ada pada indeks manajer
pembelian atau purchasing managers’ index (PMI) Indonesia di sektor
manufaktur. Hasil survei S&P Global menunjukkan PMI manufaktur Indonesia
merosot dari 50,0 pada Mei menjadi 46,9 pada Juni. Artinya, sektor manufaktur
Indonesia sedang mengerut atau mengalami kontraksi. Survei S&P Global itu menunjukkan
angka pesanan baru yang diterima pabrik-pabrik turun paling tajam dalam
setahun terakhir, sementara pesanan ekspor ambles ke titik terdalam sejak
Agustus 2021. Dampaknya, selama Juni 2026, terjadi pengurangan tenaga kerja
secara besar-besaran. Data menunjukkan pengurangan itu menjadi yang tercepat
sejak September 2021. Pada saat yang sama, neraca perdagangan
bulanan juga defisit, setelah menikmati surplus tanpa putus selama enam
tahun. Surplus perdagangan merupakan bantal utama penahan stabilitas kurs
rupiah. Ketika terjadi surplus, pemasukan dolar dari ekspor lebih besar
ketimbang pengeluaran karena impor. Ketika surplus tergerus menjadi defisit,
aliran dolar keluar lebih besar. Stabilitas eksternal ekonomi Indonesia mulai
terancam. Di tengah berbagai sinyal negatif itu,
ada kabar baik dari pasar obligasi pemerintah. Investor asing kembali membeli
Surat Berharga Negara (SBN). Jika dihitung sejak awal tahun hingga Kamis, 9
Juli 2026, secara neto ada dana asing yang masuk senilai Rp 9,3 triliun. Namun jangan terlalu cepat puas akan
perkembangan itu. Sebab, pada saat yang sama, terjadi perubahan perilaku
investor yang sangat signifikan dalam berinvestasi. Minat investor asing kini
makin bergeser ke instrumen berjangka lebih pendek. Pada akhir tahun lalu, porsi dana asing
yang tertanam di SBN bertenor 2-5 tahun sebesar 28,57 persen. Per 7 Juli
2026, porsinya naik sangat tajam menjadi 37,21 persen. Sementara itu, pada
periode yang sama, porsi dana asing yang tersimpan di SBN berjangka 5 tahun
ke atas melorot dari 61,36 persen menjadi 52,23 persen. Pesan dari data ini amat jelas:
investor asing masih doyan SBN karena tergiur imbal hasil tinggi. Namun
mereka tetap belum cukup yakin untuk menginvestasikan dana ke instrumen
dengan jangka waktu lebih panjang. Apalagi imbal hasil SBN berjangka di bawah
5 tahun kini hampir tak ada bedanya dengan SBN berjangka panjang. Semua indikator tersebut sebenarnya
menyampaikan pesan senada. Ekonomi Indonesia tidak tenang seperti yang tampak
di permukaan. Ada banyak persoalan, seperti api dalam sekam yang masih
membara. Yang memprihatinkan, hingga kini belum tampak upaya serius untuk
memadamkannya. ● Sumber : https://www.tempo.co/ekonomi/msci-kurs-rupiah-pmi-manufaktur-bi-rate-2275122
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar