Selasa, 14 Juli 2026

 

Sinyal Bahaya di Awal Semester Kedua

Yopie Hidayat :  Anggota Tim Evaluator Editorial Tempo.

TEMPO MINGGUAN, 12 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Nilai tukar rupiah terus merosot hingga mendekati 18.100 per dolar Amerika Serikat meski Bank Indonesia menaikkan BI-Rate.

 

·      Stabilitas eksternal ekonomi Indonesia mulai terancam tatkala surplus perdagangan berubah menjadi defisit.

 

·      Minat investor asing makin bergeser ke instrumen berjangka waktu lebih pendek.

 

MEMASUKI semester II 2026, ekonomi Indonesia tampak masih tenang-tenang saja. Namun beberapa indikator keuangan dan sektor riil yang terbit sebulan terakhir terus mengirim sinyal bahaya yang patut mendapat perhatian.

 

Peringatan paling gamblang datang dari pergerakan nilai tukar rupiah. Rupiah terus merosot hingga mendekati 18.100 per dolar Amerika Serikat pada akhir pekan lalu. Padahal Bank Indonesia sudah menerapkan kebijakan pengetatan moneter yang termasuk paling agresif.

 

Hanya dalam satu bulan, BI menaikkan BI-Rate dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen. Satu momen kenaikan suku bunga bahkan diputuskan dalam rapat Dewan Gubernur BI di luar jadwal normal. Hal ini menggambarkan gawatnya situasi.

 

Tapi, pada kenyataannya, kebijakan agresif BI itu belum mampu membalik tren pelemahan rupiah. Kenaikan BI-Rate yang begitu cepat dan cukup besar seharusnya mampu menahan pelemahan rupiah. Jika upaya itu tetap majal, artinya ada banyak perkara penting lain, dari krisis fiskal hingga panasnya situasi geopolitik global, yang belum terpecahkan dan terus menekan rupiah.

 

Data di pasar saham juga memberikan pesan keras. Hingga akhir pekan lalu, investor asing masih melakukan penjualan bersih Rp 75,73 triliun sejak awal tahun. Citra pasar modal Indonesia memang masih bonyok menunggu hasil evaluasi MSCI Inc—penyedia indeks global—yang bakal terbit pada November 2026. Saat menanti keputusan penting itu, investor asing mengadopsi pandangan pesimistis kaum muda Indonesia: kabur aja dulu.

 

Beberapa indikator sektor riil juga menunjukkan pemburukan serius. Yang paling menonjol ada pada indeks manajer pembelian atau purchasing managers’ index (PMI) Indonesia di sektor manufaktur. Hasil survei S&P Global menunjukkan PMI manufaktur Indonesia merosot dari 50,0 pada Mei menjadi 46,9 pada Juni. Artinya, sektor manufaktur Indonesia sedang mengerut atau mengalami kontraksi.

 

Survei S&P Global itu menunjukkan angka pesanan baru yang diterima pabrik-pabrik turun paling tajam dalam setahun terakhir, sementara pesanan ekspor ambles ke titik terdalam sejak Agustus 2021. Dampaknya, selama Juni 2026, terjadi pengurangan tenaga kerja secara besar-besaran. Data menunjukkan pengurangan itu menjadi yang tercepat sejak September 2021.

 

Pada saat yang sama, neraca perdagangan bulanan juga defisit, setelah menikmati surplus tanpa putus selama enam tahun. Surplus perdagangan merupakan bantal utama penahan stabilitas kurs rupiah. Ketika terjadi surplus, pemasukan dolar dari ekspor lebih besar ketimbang pengeluaran karena impor. Ketika surplus tergerus menjadi defisit, aliran dolar keluar lebih besar. Stabilitas eksternal ekonomi Indonesia mulai terancam.

 

Di tengah berbagai sinyal negatif itu, ada kabar baik dari pasar obligasi pemerintah. Investor asing kembali membeli Surat Berharga Negara (SBN). Jika dihitung sejak awal tahun hingga Kamis, 9 Juli 2026, secara neto ada dana asing yang masuk senilai Rp 9,3 triliun.

 

Namun jangan terlalu cepat puas akan perkembangan itu. Sebab, pada saat yang sama, terjadi perubahan perilaku investor yang sangat signifikan dalam berinvestasi. Minat investor asing kini makin bergeser ke instrumen berjangka lebih pendek.

 

Pada akhir tahun lalu, porsi dana asing yang tertanam di SBN bertenor 2-5 tahun sebesar 28,57 persen. Per 7 Juli 2026, porsinya naik sangat tajam menjadi 37,21 persen. Sementara itu, pada periode yang sama, porsi dana asing yang tersimpan di SBN berjangka 5 tahun ke atas melorot dari 61,36 persen menjadi 52,23 persen.

 

Pesan dari data ini amat jelas: investor asing masih doyan SBN karena tergiur imbal hasil tinggi. Namun mereka tetap belum cukup yakin untuk menginvestasikan dana ke instrumen dengan jangka waktu lebih panjang. Apalagi imbal hasil SBN berjangka di bawah 5 tahun kini hampir tak ada bedanya dengan SBN berjangka panjang.

 

Semua indikator tersebut sebenarnya menyampaikan pesan senada. Ekonomi Indonesia tidak tenang seperti yang tampak di permukaan. Ada banyak persoalan, seperti api dalam sekam yang masih membara. Yang memprihatinkan, hingga kini belum tampak upaya serius untuk memadamkannya. ●

 

Sumber : https://www.tempo.co/ekonomi/msci-kurs-rupiah-pmi-manufaktur-bi-rate-2275122

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar