|
Enam Puluh Hari Menguji AS-Iran Darmansjah
Djumala : Dewan Pakar
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar
Negeri dan Dosen Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. |
KOMPAS.COM, 01 Juli 2026
|
AMERIKA Serikat dan Iran menandatangani Nota Kesepahaman
(MOU/Memorandum of Understanding) pada 17 Juni lalu, untuk mengakhiri konflik
terbuka antara kedua negara dalam waktu 60 hari. Dokumen yang ditandatangani secara digital oleh Presiden Donald
Trump dan Presiden Masoud Pezeshkian itu terdiri dari 14 butir kesepakatan,
mulai dari penghentian operasi militer di semua front, pembukaan Selat
Hormuz, pencabutan blokade angkatan laut AS, pengawasan nuklir Iran, hingga
pencabutan sanksi terhadap Iran. Dunia pun menyambut baik, berharap 14 butir kesepakatan tersebut
karena mampu menciptakan damai di Timur Tengah. Harapan boleh saja diucapkan. Tapi ada tantangan di depan: apakah
masa 60 hari mampu menghasilkan damai permanen, atau sekadar menunda perang
yang lebih besar? Butir pertama MOU tersebut. memuat kesepakatan untuk menghentikan
segera dan permanen operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon,
serta memastikan integritas teritorial dan kedaulatan Lebanon. Klausul ini penting karena tanpa penghentian kekerasan di
lapangan, negosiasi damai akan berjalan di atas tanah yang masih berasap
beraroma mesiu. Dalam diplomasi perang, penghentian tembakan bukan sekadar jeda
militer; ia adalah prasyarat politik untuk membangun kepercayaan minimum. Sebab, keberhasilan MOU ini bukan hanya ditentukan oleh
Washington dan Teheran, tetapi juga oleh sejauh mana aktor-aktor lapangan,
terutama Israel, menahan diri. Bukan tanpa alasan jika butir pertama menekankan penghentian
operasi militer. Proses negosiasi hanya bisa berjalan baik jika tidak ada lagi
kekerasan yang terus mengubah fakta di lapangan. Butir ini sejalan dengan tuntutan Iran agar kesepakatan AS-Iran
juga mencakup keamanan dan stabilitas kawasan, terutama di Lebanon. Bagi Teheran, tidak masuk akal bicara stabilitas Selat Hormuz
sementara di tempat lain masih berlangsung serangan militer dan pendudukan
wilayah oleh Israel, seperti yang terjadi di Lebanon Selatan. Apalagi, baru berselang tiga hari dari penandatanganan, Israel
justru maju merangsek lebih jauh ke wilayah Lebanon. Serangan udara Israel kembali mengguncang Lebanon Selatan pada 19
dan 20 Juni. Ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan isi teks kesepakatan.
Tapi, siapa yang mengendalikan realitas keamanan di lapangan. Dari 14 butir kesepakatan itu, butir pertama memang paling
krusial karena ia merujuk kepada serangan dan pendudukan Israel di Lebanon Selatan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bahkan mengatakan pasukan
Israel akan tetap berada di Lebanon Selatan tanpa batas waktu. Pernyataan itu memperlihatkan satu hal penting: Israel tidak
merasa terikat pada penafsiran Iran terhadap MOU tersebut. Dalam kacamata Tel Aviv, Lebanon Selatan bukan sekadar wilayah
konflik, melainkan sabuk keamanan strategis untuk mencegah Hizbullah
memulihkan kapasitas militernya dan menahan pengaruh Iran di perbatasan utara
Israel. Mengapa Israel menyerang dan menduduki Lebanon Selatan di tengah
perang AS-Iran? Ada pertimbangan geopolitik. Israel memandang Hizbullah sebagai
ancaman eksistensial karena kelompok itu memiliki ribuan rudal yang mampu
menjangkau wilayah Israel. Tersebab Hizbullah didukung Iran, maka setiap kompromi antara AS
dan Iran dipandang berpotensi memperkuat musuh utama Israel. Dengan logika itu, serangan dan pendudukan Lebanon Selatan dapat
dibaca sebagai upaya Israel mempertahankan keunggulan strategisnya sambil
mencegah terbentuknya tatanan keamanan baru yang terlalu menguntungkan
Teheran. Di sisi lain, Iran menganggap Hizbullah sebagai garis pertahanan
terdepan menghadapi Israel. Dukungan terhadap Lebanon Selatan merupakan bagian dari strategi
“forward defense”, yaitu mempertahankan pengaruh regional dengan membangun
jaringan kekuatan non-negara di Timur Tengah. Karena itu, konflik Israel-Hizbullah selalu menjadi faktor
pengganggu utama setiap negosiasi AS-Iran. Dalam konteks ini, Lebanon bukan sekadar medan tempur tambahan,
tetapi simpul geopolitik yang mempertemukan kepentingan tiga pihak sekaligus:
Israel, Iran, dan Amerika Serikat. Israel juga mengisyaratkan rencana untuk menguasai wilayah
Lebanon Selatan hingga Sungai Litani dengan alasan keamanan perbatasan. Dalam perspektif geopolitik klasik, Timur Tengah selalu menjadi
arena perebutan pengaruh global. AS ingin mempertahankan dominasi strategis dan akses energi; Iran
ingin menjadi kekuatan regional independen; sementara Israel ingin menjaga
superioritas keamanan dan mencegah musuh berbasis proksi menguat di
sekelilingnya. Serangan Israel ke Lebanon bukan hanya reaksi taktis, melainkan
sebagai bagian dari strategi untuk memastikan bahwa hasil perundingan AS-Iran
tidak mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan. Dengan adanya faktor Israel, prospek 60 hari ke depan dalam
proses negosiasi AS-Iran tampak penuh tantangan. H.A. Hellyer, ilmuwan politik dari Royal United Services
Institute di Inggris, menyebut Israel bisa menjadi pengganggu utama dalam
upaya perdamaian AS-Iran. Menurutnya, petualangan militer Israel, baik yang diarahkan
terhadap Iran maupun yang tercermin dalam kehancuran yang terus berlangsung
di Lebanon, merupakan ancaman terbesar bagi penyelesaian diplomatik. Hellyer menilai, proses damai ini bahkan bisa runtuh sebelum
negosiasi substantif mengenai isu nuklir dimulai, jika Israel dan Iran
terseret ke dalam konfrontasi langsung. Pandangan itu relevan karena perang di Timur Tengah jarang
berdiri dalam satu sumbu tunggal. Dalam banyak kasus, konflik utama justru makin memburuk akibat
ulah aktor-aktor sekunder yang punya kapasitas mengubah arah eskalasi. Hizbullah sendiri mengingatkan Israel punya waktu 60 hari untuk
meninggalkan Lebanon tanpa perlu
negosiasi. Di sisi lain, Iran juga telah memberi sinyal bahwa penarikan
penuh pasukan Israel dari Lebanon akan menjadi bagian dari tahap berikutnya
dalam perundingan. Artinya, Lebanon bukan sekadar catatan pinggir, melainkan ujian
awal bagi kredibilitas kesepakatan AS-Iran. Banyak pakar menilai Israel menjadi ganjalan dalam 60 hari
perundingan. Kesepakatan damai AS-Iran masih sangat rentan karena agresi
Israel bisa mengubah gencatan senjata menjadi perang regional. Pandangan para pakar ini mengarah pada satu kesimpulan: MOU
AS-Iran tidak akan kokoh bila tidak disertai kendali atas perilaku Israel di
Lebanon Selatan. Artinya, stabilitas kawasan tidak cukup dibangun lewat teks
perjanjian; ia harus ditopang oleh penahanan diri para aktor bersenjata di
lapangan. Enam puluh hari ke depan akan menjadi ujian nyata apakah MOU
dapat menghasilkan perdamaian permanen. Kesepakatan di MOU sendiri belum final. Ia hanya menyiapkan
kerangka kerja untuk meretas jalan damai. Tapi belum apa-apa, situasi di kawasan kembali memanas. AS dan
Iran sudah saling serang kembali. Mereka saling tuduh: siapa memulai dan siapa membalas serangan. Terlepas dari saling tuduh itu, satu hal yang jelas: kedua belah
pihak belum lulus dari ujian 60 hari seperti dititahkan kesepakatan 17 Juni. Sebab, butir pertama MOU - penghentian operasi militer sesegera
mungkin dan secara permanen di semua lini - telah diciderai oleh saling
serang dalam beberapa hari terakhir. Jika AS-Iran terus saling serang dan Israel terus memerangi dan
menduduki Lebanon Selatan, maka MOU AS-Iran berisiko menjadi dokumen damai
yang rapuh, indah di atas kertas, tetapi lemah di realitas. Dan dalam politik Timur Tengah, kelemahan seperti itu sering kali
hanya menunggu waktu untuk meledak kembali. ● |
Sumber
: https://www.kompas.com/global/read/2026/07/01/090200870/enam-puluh-hari-menguji-as-iran-?page=all#page2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar