|
TAKDIR DI BALIK LIONEL MESSI MEMANDIKAN BAYI LAMINE YAMAL 19 TAHUN
LALU - Kini
Keduanya Berhadapan di Final Piala Dunia 2026 Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
ORBITINDONESIA.COM, 19 Juli 2026
|
Seorang
bayi berusia sekitar lima bulan menangis pelan ketika tubuh mungilnya
dimasukkan ke dalam bak plastik berisi air hangat. Di
hadapannya berdiri seorang pemuda berambut panjang, berusia dua puluh tahun,
yang tampak kikuk memandikan bayi itu. Seorang fotografer mengabadikan momen
tersebut. Setelah itu, semua pulang tanpa merasa baru saja menyaksikan
sejarah. Sembilan
belas tahun kemudian, dunia tercengang. Bayi
itu telah menjadi Lamine Yamal. Pemuda itu telah menjelma Lionel Messi. Kini
keduanya berdiri saling berhadapan di final Piala Dunia 2026. -000- Ada
foto yang indah karena komposisinya. Ada foto yang berharga karena nilai
sejarahnya. Namun sangat sedikit foto yang memperoleh makna terbesarnya bukan
ketika tombol kamera ditekan, melainkan bertahun-tahun sesudahnya. Foto
Lionel Messi memandikan bayi Lamine Yamal termasuk dalam kategori yang
terakhir. Menjelang
final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol, foto itu kembali
memenuhi halaman media dunia. Bukan karena direkayasa oleh kecerdasan buatan.
Bukan pula karena manipulasi digital. Foto tersebut adalah dokumentasi asli
yang diambil fotografer Joan Monfort pada Desember 2007 di ruang ganti Camp
Nou. Saat
itu, Monfort mendapat tugas dari harian olahraga Sport di Barcelona untuk
memotret kalender amal tahunan yang diselenggarakan bersama UNICEF dan
Yayasan FC Barcelona. Gagasannya sederhana. Sejumlah pemain Barcelona akan
berinteraksi dengan bayi-bayi yang dipilih melalui undian dari
keluarga-keluarga di wilayah Catalunya. Salah
satu keluarga yang beruntung berasal dari kota Mataró. Seorang ibu bernama
Sheila Ebana membawa bayi laki-lakinya yang baru berusia sekitar lima bulan.
Nama bayi itu Lamine Yamal Nasraoui Ebana. Lionel
Messi ketika itu baru berusia dua puluh tahun. Ia belum mengangkat Piala
Dunia. Ia belum memenangkan delapan Ballon d’Or. Statusnya
masih seorang bintang muda yang sedang menanjak, meskipun ia telah
memenangkan dua gelar La Liga dan satu trofi Liga Champions bersama
Barcelona. Menurut
Joan Monfort, Messi tampak pemalu dan canggung ketika diminta memandikan
seorang bayi yang sama sekali tidak dikenalnya. Pada awalnya, ia bahkan tidak
tahu bagaimana harus menggendong bayi itu. Tidak
ada pidato. Tidak ada nubuat. Tidak ada simbol yang sengaja diciptakan. Hanya
seorang pemain muda yang menjalankan kegiatan amal. Setelah
kalender itu diterbitkan, foto tersebut praktis terlupakan. Selama
bertahun-tahun, hampir tidak ada yang membicarakannya. Barulah
ketika Lamine Yamal muncul sebagai fenomena Barcelona dan kemudian menjadi
salah satu pemain muda paling bersinar di Eropa, ayahnya membagikan foto lama
itu di media sosial dengan keterangan, “awal dari dua legenda”. Tiba-tiba
dunia melihat sesuatu yang dahulu tidak terlihat. Sebuah
cerita yang ditulis perlahan oleh waktu. Kini
narasi itu mencapai puncaknya. Messi memimpin Argentina. Yamal memimpin
Spanyol. Seorang legenda dari satu generasi dan penerus dari generasi
berikutnya berdiri sebagai lawan di panggung sepak bola terbesar. Joan
Monfort pernah mengaku bahwa dahulu ia tidak percaya pada takdir. Namun
setelah melihat bagaimana kehidupan kedua tokoh dalam fotonya berkembang, ia
mulai bertanya-tanya apakah semua itu benar-benar sekadar kebetulan. Messi
pun merasa takjub. Dahulu ia memandikan seorang bayi. Kini bayi itu telah
menjelma menjadi salah satu pemain terbaik dunia yang harus dihadapinya di
final. Foto
itu menjadi viral bukan karena isinya berubah. Yang
berubah adalah maknanya. Sejarah
memang sering bekerja seperti itu. Kita baru memahami arti sebuah peristiwa
setelah waktu menyusun kepingan-kepingannya menjadi sebuah kisah yang utuh. -000- Saya
memandangi foto itu berulang kali. Bukan hanya sebagai pecinta sepak bola,
melainkan sebagai seseorang yang selama puluhan tahun mencoba memahami
bagaimana sejarah bekerja. Sepanjang
hidup, saya sering menyaksikan pertemuan-pertemuan kecil yang tampaknya biasa
saja. Sebuah percakapan singkat. Sebuah makan siang sederhana. Sebuah
perkenalan yang berlangsung hanya beberapa menit. Bertahun-tahun
kemudian, saya baru menyadari bahwa dari momen yang tampak sepele itu lahir
persahabatan, perubahan karier, bahkan keputusan-keputusan yang mengubah
jalan hidup banyak orang. Pengalaman
semacam itu membuat saya semakin rendah hati di hadapan waktu. Kita
sering merasa sedang menjalani hari yang biasa. Padahal mungkin kita sedang
berdiri di sebuah persimpangan sejarah pribadi. Saya
teringat begitu banyak tokoh yang pernah saya jumpai ketika mereka belum
dikenal publik. Saya juga pernah melihat orang-orang yang dahulu tampak akan
menjadi bintang besar, tetapi kemudian perlahan hilang ditelan zaman. Dari
sana saya belajar satu hal. Manusia
tidak pernah memiliki sudut pandang Tuhan. Kita
hanya melihat satu halaman. Sejarah membaca seluruh buku. Boleh
jadi Joan Monfort hanya sedang menekan tombol kamera. Namun pada saat yang
sama, waktu sedang mulai menulis sebuah novel. -000- Lalu
pertanyaannya menjadi lebih besar. Apakah semua ini takdir? Ataukah hanya
sebuah kebetulan yang luar biasa? Bangsa
Yunani menyebutnya moira, garis yang ditenun para dewi. Bangsa Arab
menyebutnya qadar, ketetapan yang tersembunyi. Bangsa
Jawa menyebutnya pepesthen, kepastian yang tak tampak. Dari peradaban mana
pun manusia berasal, ia selalu menciptakan kata untuk hal yang sama, yakni
intuisi bahwa hidup lebih besar daripada kebetulan, meskipun sains belum
pernah menemukan buktinya secara empiris. Ilmu
pengetahuan berhati-hati menggunakan kata “takdir”. Sains bekerja dengan
sebab-akibat, probabilitas, dan pola yang dapat diuji. Dalam
bahasa statistik, jutaan peristiwa acak terjadi setiap hari. Dari jutaan
kemungkinan itu, sesekali muncul rangkaian kebetulan yang terasa begitu
mustahil sehingga manusia sulit menerimanya sebagai kebetulan biasa. Namun
filsafat menawarkan lapisan lain. Persoalannya
bukan hanya apakah takdir dapat dibuktikan, melainkan bagaimana manusia
memberi makna kepada peristiwa yang dialaminya. Viktor
Frankl pernah menunjukkan bahwa manusia tidak hidup hanya dari fakta. Manusia
hidup dari makna yang diberikan kepada fakta. Foto
Messi dan Yamal tidak mengubah masa lalu. Namun foto itu mengubah cara kita
membaca masa lalu. Di
situlah letak keindahannya. Barangkali
hidup bukan tentang mengetahui seluruh rencana semesta. Hidup adalah tentang
menjalani setiap peristiwa dengan sungguh-sungguh, sebab kita tidak pernah
tahu peristiwa kecil mana yang kelak menjadi bab paling menentukan dalam
kisah hidup kita. -000- Namun,
benarkah semua ini merupakan tanda bahwa dunia bergerak mengikuti suatu
rancangan yang tersembunyi? Ataukah
manusia, karena takut pada kekacauan, selalu tergoda menemukan pola pada
peristiwa-peristiwa yang sebenarnya lahir dari kebetulan? Di
titik itulah sains hadir. Bukan untuk merampas keindahan dari sebuah kisah,
melainkan untuk mengingatkan bahwa rasa takjub tidak selalu harus berakhir
menjadi keyakinan. Sains
tidak membunuh misteri. Ia hanya membersihkan kaca tempat kita memandangnya. Untuk
memahami batas yang samar antara takdir yang kita rasakan dan kebetulan yang
dapat dihitung, dua buku menawarkan jalan masuk yang sangat menarik. Dua
Buku untuk Memahami Mengapa Kebetulan Kadang Terlihat Seperti Takdir. Buku
pertama berjudul The Black Swan, karya Nassim Nicholas Taleb, terbit pada
2007. Taleb
mengajukan satu gagasan yang mengubah cara kita memahami sejarah. Menurutnya,
kehidupan manusia sangat sering dibentuk oleh peristiwa yang langka, tidak
terduga, tetapi membawa dampak luar biasa besar. Ia menyebutnya Black Swan,
Angsa Hitam. Masalah
terbesar manusia, menurut Taleb, bukan hanya karena kita tidak mampu
memprediksi masa depan. Masalahnya adalah bahwa dari jutaan peristiwa yang
terjadi, kita tidak pernah mengetahui peristiwa mana yang kelak akan menjadi
penting. Setelah
sebuah kejadian berlangsung, otak manusia segera menyusun cerita yang membuat
semuanya tampak masuk akal. Padahal sebelum peristiwa itu terjadi, hampir
tidak seorang pun mampu meramalkannya. Foto
Lionel Messi memandikan bayi Lamine Yamal merupakan ilustrasi yang nyaris
sempurna atas gagasan Taleb. Pada
2007, tidak ada analis sepak bola, pelatih, ataupun fotografer yang dapat
memperkirakan bahwa bayi itu akan menjadi salah satu pemain terbaik
generasinya. Tidak
ada pula yang dapat membayangkan seberapa jauh Messi kelak menjelma menjadi
salah satu ikon terbesar dalam sejarah Barcelona dan Argentina. Lebih
mustahil lagi membayangkan keduanya akan bertemu sebagai lawan dalam final
Piala Dunia hampir dua dekade kemudian. Taleb
mengingatkan agar kita berhati-hati terhadap ilusi narasi. Setelah rangkaian
kejadian selesai, kita mudah berkata, “Memang sudah seharusnya demikian.” Padahal
sejarah selalu dipenuhi jutaan kemungkinan lain yang tidak pernah terjadi. Namun
justru karena ketidakpastian itu, kehidupan menjadi begitu indah. Kita
dipanggil untuk menjalani setiap hari dengan sepenuh hati, sebab kita tidak
pernah mengetahui peristiwa kecil mana yang kelak menjadi Angsa Hitam dalam
perjalanan hidup kita. -000- Buku
kedua berjudul The Drunkard’s Walk: How Randomness Rules Our Lives, karya
Leonard Mlodinow, terbit pada 2008. Mlodinow
membawa pembaca memasuki dunia probabilitas dengan bahasa yang sederhana,
tetapi menggugah. Ia menunjukkan bahwa manusia secara naluriah tidak nyaman
menghadapi kebetulan. Karena
itu, kita terus-menerus mencari pola, bahkan ketika pola itu mungkin tidak
pernah ada. Menurut
Mlodinow, otak manusia memang dirancang untuk menemukan makna. Dalam proses
evolusi, kemampuan tersebut membantu manusia bertahan hidup. Namun kemampuan
yang sama juga menyebabkan kita sering melihat hubungan sebab-akibat di
tempat yang sebenarnya hanya dipenuhi kebetulan statistik. Namun
Mlodinow tidak mengatakan bahwa hidup tidak bermakna. Sebaliknya,
ia mengajak kita membedakan antara fakta objektif dan makna subjektif. Secara
ilmiah, banyak peristiwa merupakan hasil dari kombinasi peluang yang sangat
kecil. Namun secara manusiawi, kita tetap dapat memberi makna kepada
pengalaman itu. Foto
Messi dan Yamal menjadi contoh yang sangat menarik. Secara
statistik, foto itu mungkin hanyalah hasil dari satu undian keluarga UNICEF,
satu sesi pemotretan, dan perjalanan hidup dua manusia yang memiliki bakat
luar biasa. Namun
bagi jutaan orang di seluruh dunia, foto tersebut berbicara lebih jauh
daripada angka probabilitas. Ia
menjadi simbol estafet generasi, harapan, dan misteri kehidupan yang tidak
pernah sepenuhnya dapat dijelaskan oleh matematika. Mlodinow
mengingatkan bahwa kebijaksanaan bukanlah memilih antara sains dan makna. Kebijaksanaan
adalah mengetahui batas keduanya. Ilmu
menjelaskan bagaimana sesuatu terjadi. Makna menjelaskan mengapa sesuatu
menyentuh hati manusia. -000- Ada
orang-orang yang akan menolak seluruh renungan di atas. Mereka
berkata bahwa semua ini hanyalah kebetulan statistik. Dari miliaran manusia
dan jutaan foto yang diambil setiap tahun, sangat mungkin muncul satu kisah
yang tampak luar biasa. Tidak
ada alasan untuk membawa konsep takdir ke dalamnya. Yang bekerja hanyalah
hukum probabilitas. Pandangan
itu layak dihormati. Memang
benar, sains tidak menemukan bukti bahwa foto tersebut merupakan tanda gaib.
Tidak ada eksperimen ilmiah yang mampu membuktikan bahwa Messi ditakdirkan
memandikan penerus simboliknya. Seluruh
fakta dapat dijelaskan melalui rangkaian sebab-akibat yang rasional. Namun
di sinilah letak perbedaannya. Esai
ini tidak berusaha membuktikan keberadaan takdir melalui foto tersebut. Esai
ini mengajak kita merenungkan sesuatu yang lebih dalam. Mengapa
manusia, dari zaman Yunani hingga era kecerdasan buatan, selalu terdorong
mencari makna di balik kebetulan? Karena
manusia bukan hanya makhluk biologis. Manusia
juga makhluk yang hidup melalui cerita. Sejarah
dibangun bukan hanya oleh data, tetapi juga oleh narasi yang memberi arah
kepada data itu. Bangsa-bangsa
bertahan bukan semata-mata karena ekonomi. Mereka bertahan karena memiliki
kisah bersama. Keluarga
tidak dipersatukan hanya oleh hubungan darah. Mereka dipersatukan oleh
kenangan yang dimaknai bersama. Foto
Messi dan Yamal menjadi kuat bukan karena ia membuktikan adanya takdir. Foto
itu menjadi kuat karena mengingatkan kita bahwa hidup selalu lebih besar
daripada kemampuan kita menjelaskannya. -000- Semakin
bertambah usia saya, semakin saya menyadari bahwa hidup bukanlah teka-teki
yang harus diselesaikan seluruhnya. Hidup
adalah perjalanan yang harus dijalani dengan kesungguhan. Saya
pernah menyusun rencana yang begitu rinci, tetapi kehidupan memilih jalan
yang sama sekali berbeda. Saya
juga pernah memasuki sebuah pertemuan tanpa harapan apa pun, lalu justru dari
sanalah lahir kerja sama yang mengubah arah hidup saya. Ada
orang-orang yang datang hanya sebentar, tetapi meninggalkan pengaruh selama
puluhan tahun. Ada
pula orang-orang yang setiap hari bersama kita, tetapi tidak pernah
benar-benar mengubah apa pun. Karena
pengalaman-pengalaman itulah, saya semakin berhati-hati memperlakukan setiap
perjumpaan. Mungkin
orang yang hari ini hanya kita sapa sepintas kelak menjadi sahabat terdekat. Mungkin
buku yang hari ini kita baca sambil lalu mengubah cara kita memandang dunia. Mungkin
keputusan kecil yang kita anggap sepele justru menentukan arah hidup anak
cucu kita. Dan
mungkin pula, seperti Joan Monfort ketika menekan tombol kameranya pada
Desember 2007, kita sedang merekam sejarah tanpa pernah menyadarinya. Tidak
seorang pun mampu melihat seluruh rancangan kehidupan. Namun
setiap orang dapat memilih untuk menjalani bagian kecil yang dipercayakan
kepadanya dengan penuh integritas. Barangkali
di situlah makna terdalam dari foto Messi dan Yamal. Bukan
bahwa masa depan telah ditentukan secara pasti, melainkan bahwa masa depan
sering kali tumbuh diam-diam di dalam peristiwa yang hari ini kita anggap
biasa. -000- Sembilan
belas tahun lalu, dunia hanya melihat seorang pemain muda memandikan seorang
bayi. Hari
ini, dunia melihat dua generasi berdiri di panggung yang sama, saling menatap
sebelum peluit final Piala Dunia dibunyikan. Apakah
itu takdir? Apakah
itu kebetulan? Barangkali
pertanyaan tersebut tidak akan pernah memperoleh jawaban yang benar-benar
memuaskan. Namun
satu hal pasti. Hidup
selalu menyimpan kemungkinan yang jauh lebih besar daripada yang mampu
dibayangkan oleh pikiran manusia. Sejarah
tidak hanya dibentuk oleh peristiwa-peristiwa besar yang sejak awal dikenali
sebagai sejarah. Sejarah
sering kali justru lahir dari peristiwa-peristiwa kecil yang tampak biasa,
lalu baru dikenali sebagai titik balik setelah waktu menyelesaikan
pekerjaannya. Karena
itu, jangan pernah meremehkan hari ini. Waktu
memiliki cara yang sunyi untuk mengubah momen biasa menjadi sejarah luar
biasa. Mungkin,
tanpa kita sadari, hari ini kita sedang hidup di halaman pertama dari sebuah
kisah yang kelak akan dikenang dunia. ● REFERENSI 1. The Black Swan: The Impact of the Highly
Improbable Nassim
Nicholas Taleb Random
House, 2007. 2. The Drunkard’s Walk: How Randomness Rules Our
Lives Leonard
Mlodinow Pantheon
Books, 2008. Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/gmIg66ndnZ/denny-ja-takdir-di-balik-lionel-messi-memandikan-bayi-lamine-yamal-19-tahun-lalu
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar