Sabtu, 04 Juli 2026

 

Ilusi Karisma dan Sekoci Politik Jokowi

Jannus TH Siahaan : Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik.

KOMPAS.COM, 03 Juli 2026

 

 

                                                           

KETIKA panggung kekuasaan formal runtuh karena batas konstitusi, sejarah sering kali mencatat dua jenis jalan yang diambil oleh para mantan pemimpin tertinggi.

 

Jalan pertama adalah jalan keheningan, di mana sang mantan penguasa memilih mundur menepi dan menyepi ke belakang layar menjadi seorang begawan, merawat legasi lewat memoar, atau mengasingkan diri dari ingatan publik demi membiarkan rezim baru mengonsolidasikan diri.

 

Jalan kedua adalah jalan intervensi aktif, sebuah jalan yang dipilih dengan dingin ketika mantan penguasa menolak menjadi sekadar artefak sejarah dan memilih untuk tetap berada di episentrum badai politik praktis.

 

Jalan kedua inilah yang kini sedang ditempuh oleh Joko Widodo melalui keputusannya untuk "turun gunung", menyingsingkan lengan baju, dan bersafari politik dari satu daerah ke daerah lain, termasuk ke Lampung baru-baru ini, demi membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), partai politik yang dipimpin putra bungsunya Kaesang Pangarep.

 

Banyak pengamat buru-buru menyimpulkan bahwa kegelisahan domestik ini merupakan gejala klasik dari post-power syndrome, kecemasan psikologis yang melanda mantan pejabat akibat hilangnya ornamen-ornamen protokoler, kepatuhan mutlak bawahan, dan sorotan konstan kamera media.

 

Namun, jika dibedah dengan kacamata psikologi politik secara lebih mendalam, menyematkan label tersebut pada langkah politik teranyar ini adalah penyederhanaan keliru.

 

Apa yang sedang dipertontonkan bukanlah keputusasaan psikologis yang pasif-defensif, tapi strategi active power-preservation atau pemeliharaan kekuasaan aktif yang sangat kalkulatif.

 

Bagi seorang pemimpin yang telah menikmati puncak kekuasaan eksekutif selama satu dekade penuh dengan tingkat kepuasan publik yang konsisten tinggi, kekuasaan bukan lagi jabatan yang tertera dalam surat keputusan, tapi habitus yang sudah mendarah daging.

 

Turunnya sang mantan presiden ke lapangan untuk mengasuh PSI adalah respons rasional terhadap kecemasan politik yang sangat nyata.

 

Di dalam lanskap politik Indonesia yang cair dan sering kali tidak kenal ampun, seorang mantan penguasa tanpa tameng politik formal akan sangat rentan terhadap bahaya balas dendam politik (political revenge) dari lawan-lawan lama atau bahkan dari sekutu baru yang arah kepentingannya telah bergeser.

 

Oleh karena itu, penguasaan atas instrumen politik mandiri menjadi keharusan demi proteksi hukum dan jaminan bahwa pengaruh personal tidak akan menguap begitu saja menjadi lame duck.

 

Dalam perspektif filsafat politik realisme yang digagas oleh Niccolò Machiavelli, misalnya, manuver ini adalah pengejawantahan murni dari virtù, kemampuan luar biasa dari seorang aktor politik untuk menaklukkan fortuna atau nasib baik yang berubah-ubah demi mempertahankan kejayaan personal dan kelompoknya.

 

Namun, di balik kecerdikan taktis tersebut, dari sudut pandang etika publik dan kualitas demokrasi substantif, misalnya lagi, langkah ini justru memicu kritik tajam mengenai pembusukan institusional (institutional decay) dan menguatnya gejala neo-patrimonialisme.

 

Fenomena ini menunjukkan bahwa unit analisis tertinggi dalam kalkulasi politik nasional hari ini bukan lagi penguatan ideologi partai atau meritokrasi dalam regenerasi kader publik, tapi keberlanjutan trah atau dinasti politik.

 

Pengamanan posisi Gibran Rakabuming Raka di puncak kekuasaan eksekutif mendampingi rezim baru, yang disusul oleh penempatan Kaesang Pangarep di pucuk pimpinan PSI, menjadi bukti empiris bahwa institusi politik modern sedang mengalami komodifikasi secara radikal.

 

PSI, yang pada awal kelahirannya gemar mengidentifikasi diri sebagai representasi anak muda yang progresif, organik, dan anti-mahar, kini dipaksa mengalami pergeseran fungsi secara sangat ekstrem.

 

Terjadi semacam hostile takeover atau pengambilalihan paksa secara simbolis atas identitas partai tersebut, di mana PSI kini bertransformasi menjadi "Partai Penjaga Gawang" bagi kepentingan jangka panjang keluarga sang patron.

 

Pertanyaan strategis yang kemudian muncul ke permukaan adalah apakah safari politik fisik ini mampu secara mekanis mengonversi popularitas personal sang tokoh menjadi suara elektoral yang signifikan bagi PSI hingga melampaui ambang batas parlemen empat persen?

 

Untuk menjawabnya secara komprehensif, sosiologi politik menyediakan pisau analisis yang cukup tajam melalui teori otoritas karismatik dari Max Weber.

 

Daya tarik utama yang dimiliki mantan wali kota Surakarta ini adalah bentuk otoritas karismatik unik, yang dibungkus dengan rapi dalam narasi populisme yang merakyat.

 

Ketika ia turun ke daerah-daerah seperti Lampung, ada upaya sistematis untuk melakukan transfer karisma dari figur pribadi ke institusi partai.

 

Kendati demikian, dalam ilmu politik, transfer karisma semacam ini selalu membentur dinding tebal yang disebut sebagai masalah rutinisasi karisma (routineization of charisma).

 

Karisma tersebut bersifat melekat erat pada persona individu, bukan pada institusi partai yang diusungnya.

 

Massa yang berbondong-bondong memadati lapangan di Lampung datang didorong oleh kerinduan dan kekaguman pada sosok mantan presiden, bukan karena ketertarikan pada platform politik atau ideologi yang ditawarkan oleh PSI.

 

Akibatnya, efek elektoral dari kehadiran fisik ini sering kali bersifat efemeral atau sementara. Begitu panggung kampanye dibongkar dan sang tokoh kembali ke Solo, ikatan emosional massa di tingkat akar rumput rentan menguap karena absennya struktur lokal partai yang mampu merawat energi karismatik tersebut secara permanen.

 

Kegagalan mekanis ini juga dapat dijelaskan melalui teori pilihan rasional (rational choice theory), misalnya.

 

Pemilih modern, terutama di daerah perdesaan dan luar Jawa, tidak semata-mata digerakkan oleh ikatan emosional yang buta, tapi oleh kalkulasi utilitarian yang sangat rasional terkait manfaat konkret yang bisa mereka peroleh.

 

Selama sepuluh tahun menjabat, loyalitas massa kultural berhasil dirawat melalui kebijakan-kebijakan populis yang berwujud cukup nyata, mulai dari pembagian bantuan sosial secara masif hingga pembangunan infrastruktur strategis seperti jalan tol.

 

Namun, ketika sang tokoh mengampanyekan PSI, pemilih rasional di tingkat bawah akan dihadapkan pada disonansi insentif.

 

Sebagai partai yang saat ini berada di luar parlemen nasional, PSI tidak memiliki akses terhadap anggaran negara untuk menjalankan pork barrel politics atau politik gentong babi yang mampu membagikan insentif riil jangka pendek kepada konstituen.

 

Kehadiran fisik sang mantan presiden tidak memiliki kekuatan magis untuk mengubah kalkulasi rasional pemilih yang membutuhkan jaminan kesejahteraan konkret di tingkat lokal.

 

Akibatnya, dalam bilik suara, potensi terjadinya fenomena split-ticket voting atau pembelahan suara menjadi sangat tinggi.

 

Pemilih bisa saja tetap memuja dan loyal pada legasi sang mantan presiden. Namun, ketika harus mencoblos kertas suara untuk DPR RI, pilihan mereka akan kembali jatuh pada calon legislatif dari partai-partai tradisional besar yang memiliki mesin politik lokal yang mapan dan rajin memberikan bantuan langsung ke desa-desa mereka.

 

Kelemahan mendasar PSI terletak pada apa yang disebut oleh filsuf Perancis, Michel Foucault, sebagai jaringan kapiler kekuasaan.

 

Kekuasaan yang efektif tidak hanya bekerja di level makro atau permukaan melalui baliho raksasa, amplifikasi media sosial, dan kunjungan tokoh nasional, tapi harus meresap hingga ke pembuluh darah terkecil demokrasi, yaitu struktur pengurus di tingkat RT, RW, dan desa.

 

PSI selama ini terlalu asyik bermain dalam ruang politik tontonan (spectacle politics) yang elitis dan urban, sehingga mengabaikan pembangunan infrastruktur organisasi yang mengakar di daerah-mesimen tradisional.

 

Tanpa adanya jaringan kapiler yang kuat di lapangan, safari politik sang mantan presiden bagaikan menyiramkan air di atas batu yang terik, hanya akan membasahi permukaan untuk sesaat, menciptakan keramaian visual yang bisa saja mengesankan di media, namun akan segera mengering tanpa pernah meresap menjadi modal politik yang institusional.

 

Secara global, fenomena mantan penguasa yang menolak pensiun dan memilih membesarkan partai kecil demi mengamankan dinasti bukanlah barang baru dalam katalog politik internasional.

 

Pola serupa dapat dijumpai pada dinamika politik Thaksin Shinawatra di Thailand yang terus mengendalikan parpol dari balik layar demi memuluskan jalan putrinya, Paetongtarn Shinawatra, ke kursi perdana menteri.

 

Hal yang hampir identik juga dipraktikkan oleh Rodrigo Duterte di Filipina yang menggunakan basis massa fanatik regionalnya untuk mengamankan posisi sang putri, Sara Duterte, di kancah nasional, atau Alvaro Uribe di Kolombia yang mendirikan partai baru dari nol sebagai perisai pelindung dari tuntutan hukum pasca-jabatan.

 

Seluruh preseden global ini menunjukkan benang merah filosofis yang sama, yakni ketidakpercayaan mutlak dari seorang mantan penguasa untuk melepaskan kendali masa depan negara kepada pihak luar tanpa adanya jangkar pengaman dari darah daging sendiri.

 

Fenomena ini menunjukkan bekerjanya legalisme autokratis (autocratic legalism), kondisi di mana instrumen demokrasi yang sah seperti pemilu dan pendirian partai dimanipulasi sedemikian rupa bukan untuk tujuan luhur perluasan partisipasi publik, tapi demi melayani agenda sempit pelestarian kekuasaan keluarga.

 

Jadi singkatnya, safari politik keliling Indonesia yang dilakoni oleh sang mantan presiden memang akan memberikan suntikan elektoral instan bagi PSI melalui sisa-sisa daya pikat personalnya.

 

Namun, strategi ini memiliki batas jenuh yang sangat jelas (diminishing returns). Jika PSI gagal mentransformasikan kehadiran fisik sang tokoh menjadi penguatan struktur partai yang mandiri dan sosiologis di akar rumput, maka impian untuk menembus ambang batas parlemen akan tetap menjadi target yang akan terseok-seok untuk digapai.

 

Lebih jauh dari sekadar urusan lolos atau tidaknya partai ke Senayan, manuver turun gunung ini meninggalkan catatan kritis bagi masa depan demokrasi Indonesia.

 

Ketika partai politik harus meminjam "nyawa" dan membonceng karisma dari seorang mantan penguasa demi kelangsungan hidup jangka pendeknya, maka pada saat yang sama partai tersebut sedang menggadaikan fungsi hakikinya sebagai pilar demokrasi.

 

Pertanyaanya kini, apakah seluruh manuver ini akan berhasil mengamankan sebuah legasi besar, atau justru secara tragis mereduksi kelas sang mantan pemimpin dari seorang negarawan yang dihormati semua faksi menjadi sekadar politisi faksional yang terjebak dalam pragmatisme kekuasaan keluarga. Mari kita tunggu saja. ●

 

Sumber : https://nasional.kompas.com/read/2026/07/03/08350061/ilusi-karisma-dan-sekoci-politik-jokowi?page=all#page2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar