Selasa, 14 Juli 2026

 

Sejarah yang Terkuak dari Restorasi Rumah Raden Saleh

Savero Aristia Wienanto :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 12 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Raden Saleh Syarif Bustaman, pelopor seni lukis modern Indonesia, mendesain sendiri rumahnya di Cikini, Jakarta Pusat, pada pertengahan abad ke-19.

 

·      Selama lebih dari 150 tahun, bekas kediaman itu banyak berganti kepemilikan dan penggunaan.

 

·      Kini rumah Raden Saleh dipugar dan dikembalikan sedekat mungkin ke bentuk semula.

 

DARI balik tembok dan pilar rumah tua di sudut Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, itu, tersimpan jejak pelukis yang membentuk sejarah seni rupa Indonesia. Di sanalah Raden Saleh Syarif Bustaman (1811-1880) menerjemahkan imajinasinya bukan hanya di atas kanvas, melainkan juga ke dalam arsitektur.

 

Dulu rumah seluas 1.200 meter persegi tersebut menjadi bagian dari lahan 10 hektare milik Raden Saleh dan istrinya. Tak jauh dari sana, pernah berdiri kebun binatang pribadi mereka yang kini menjadi kawasan Taman Ismail Marzuki.

 

Kini rumah itu sedang dipugar di bawah arahan arsitek Arya Abieta dan Febe Liana. Akses ke bangunan ditutup sementara. Para pekerja tampak mondar-mandir menyelesaikan berbagai detail restorasi.

 

Sejak 2017, rumah tersebut ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya tingkat nasional. Restorasi dilakukan untuk mengembalikan karya paling personal Raden Saleh, yaitu rumah yang merekam perjalanan hidup, pergaulan lintas budaya, sekaligus pandangan estetik sang maestro.

 

Menurut Setyo Priyo Nugroho, dosen seni murni Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Raden Saleh adalah pelopor seni lukis modern Indonesia. Ia menjadi bumiputra pertama yang menempuh pendidikan seni secara formal di Eropa dan memperkenalkan teknik melukis Barat ke Nusantara. "Raden Saleh adalah tokoh yang sangat penting," kata Setyo kepada Tempo pada Selasa, 23 Juni 2026.

 

Namanya dikenang lewat karya monumental seperti Penangkapan Pangeran Diponegoro, Perburuan Banteng, dan Kebakaran Hutan. Di Eropa, dia dijuluki Pangeran dari Jawa dan Sang Pelukis Raja.

 

Warisan Raden Saleh tidak berhenti pada lukisan. Bagi Setyo, rumah di Cikini itu merupakan kepanjangan kreativitas sang seniman. Hunian itu menjadi refleksi kepribadiannya sekaligus memperlihatkan penerjemahan pengalaman hidupnya di Eropa ke dalam ruang.

 

Arsitek Febe Liana menyebut rumah Raden Saleh sebagai hunian yang nyaris tak memiliki padanan di Indonesia. Fasad depannya bergaya Eropa, sementara bagian belakangnya mengadopsi arsitektur Jawa. Di berbagai sudut rumah juga hadir pengaruh Timur Tengah dan Tionghoa. "Bangunan ini cukup unik," ujar Febe ketika ditemui Tempo di kantor Garis Bangun Indonesia, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Jumat, 19 Juni 2026.

 

Menurut Febe, Raden Saleh merancang sendiri rumah tersebut dan melibatkan para tukang dari Jawa dalam pembangunannya. Hasilnya adalah sebuah rumah yang memadukan identitas Jawa-Arab dengan pengalaman hidup sang pemilik selama puluhan tahun di Eropa.

 

Pada masanya, rumah itu menjadi salah satu hunian pribumi termegah di Batavia. "Sebagai 'Prince of Java' di Eropa, Raden Saleh pulang ke Batavia dengan kekayaan luar biasa," tutur Febe.

 

Rumah gedong itu dibangun pada 1852. Setelah beberapa kali berganti pemilik dan fungsi—dari kediaman pribadi hingga Rumah Sakit Cikini—wajah bangunan itu perlahan berubah. Berbagai modifikasi dilakukan mengikuti kebutuhan setiap zaman sehingga banyak detail aslinya hilang.

 

Detail itulah yang kini hendak dikembalikan tim restorasi.

 

Febe Liana mengatakan pemugaran rumah Raden Saleh diawali penelitian panjang. Sejak 2015, Pusat Dokumentasi Arsitektur mendokumentasikan bangunan dan menelusuri berbagai arsip untuk merekonstruksi bentuk aslinya.

 

Tim juga memeriksa kondisi struktur dan material, lalu menentukan bagian-bagian yang memiliki nilai sejarah tertinggi untuk dipertahankan. "Itu dilakukan sampai ke semua detail di dalam bangunan," kata Febe.

 

Perencanaan restorasi dimulai pada 2023, sementara pekerjaan di lapangan baru berjalan pada September 2025. Menurut Febe, memugar bangunan cagar budaya jauh lebih rumit daripada membangun gedung baru. Arsitek tidak hanya dituntut mengembalikan rupa bangunan ke bentuk semula, tapi juga menyesuaikannya dengan kebutuhan masa kini.

 

Penyejuk udara, misalnya, harus dipasang tanpa mengganggu karakter bangunan. Lift ditambahkan agar penyandang disabilitas dan kalangan lanjut usia dapat mengakses semua ruangan. Toilet pun ditambahkan. "Di zaman Raden Saleh, kamar mandi terpisah dengan bangunan utama," ujar Febe.

 

Adapun arsitek Arya Abieta mengatakan tantangan tidak hanya terdapat pada aspek teknis. Sebelum pekerjaan dimulai, tim restorasi harus meyakinkan pengurus Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) sebagai pemilik bangunan dan melewati enam kali sidang dengan Tim Sidang Pemugaran Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Rekomendasi restorasi baru terbit pada 2024.

 

Dalam penelitian, tim menemukan sejumlah jejak yang membantu mereka membaca kembali sejarah bangunan. Di belakang rumah, misalnya, tersimpan bekas anak tangga yang lama terkubur.

 

Keramik lantainya diduga didatangkan dari Belgia, sementara sebagian besar struktur kayunya menggunakan jati berkualitas tinggi. Bagian-bagian yang telah rusak akan diganti dengan material yang sedekat mungkin serupa dengan aslinya.

 

Bagi Arya, rumah Raden Saleh merupakan peninggalan karya arsitektur yang bertahan melintasi zaman. "Ini satu dari sedikit yang masih tersisa. Nilainya luar biasa," tuturnya.

 

Segendang sepenarian, Bambang Eryudhawan, arsitek sekaligus pemerhati cagar budaya, menilai bangunan cagar budaya ini merupakan rumah tinggal milik pribumi terpenting yang masih bertahan dari abad ke-19. Nilainya tidak hanya terletak pada usia bangunan, tapi juga pada sosok yang merancang dan menempatinya.

 

Raden Saleh, Eryudhawan mengungkapkan, adalah figur yang langka. Bangsawan Jawa berdarah Arab itu menempuh pendidikan seni di Eropa, meraih ketenaran internasional, lalu pulang ke Batavia membawa pengalaman dan selera artistik yang kemudian diwujudkan dalam rumahnya sendiri. "Rumah Raden Saleh adalah representasi semua hal yang kita kagumi dari sosoknya," katanya kepada Tempo pada Senin, 22 Juni 2026.

 

Menurut Eryudhawan, rumah itu dapat disejajarkan dengan kediaman tokoh besar dunia yang juga dirancang pemiliknya sendiri. Ia mencontohkan Monticello, rumah Thomas Jefferson—presiden ketiga sekaligus penyusun utama Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat—yang menjadi salah satu ikon sejarah arsitektur Amerika.

 

Dalam konteks Indonesia, menurut dia, rumah Raden Saleh memiliki makna serupa: bukan sekadar tempat tinggal, melainkan juga perwujudan gagasan, selera, dan perjalanan hidup sang tokoh.

 

Dia juga membandingkannya dengan Rumah Tjong A Fie, saudagar Tionghoa yang ikut membentuk perkembangan Kota Medan pada akhir abad ke-19. Bedanya, rumah Raden Saleh lahir dari tangan seorang seniman yang merancang sendiri ruang hidupnya.

 

Karena itu, Eryudhawan menilai rumah Raden Saleh tak dapat diukur semata-mata dengan nilai ekonomi. Tanah, bangunan, atau material penyusunnya memang dapat ditaksir, tapi nilai sejarah dan kebudayaan yang dikandungnya tak tergantikan. "Ini adalah aset nasional," tuturnya.

 

Kesadaran itulah yang mendorong PGI merestorasi rumah tersebut. Ketua Majelis Pertimbangan PGI Gomar Gultom mengatakan bangunan itu akan difungsikan sebagai museum seusai pemugaran.

 

Jika tak ada kendala, museum rumah Raden Saleh ditargetkan diresmikan pada November 2026 dan dibuka untuk umum. Saat ini progres restorasi telah mencapai sekitar 40 persen. "Diharapkan sisanya akan dikebut," ujarnya.

 

Museum itu, Gomar melanjutkan, tidak hanya menampilkan keindahan arsitektur rumah. Pengunjung juga akan diajak mengikuti perjalanan bangunan tersebut, dari bentuk aslinya, perubahan fungsi selama lebih dari satu abad, hingga proses restorasi yang mengembalikan wajah rumah mendekati rancangan Raden Saleh.

 

Ruang utama bangunan akan difungsikan sebagai balai riung atau ballroom yang dapat digunakan untuk pertemuan kenegaraan, pameran seni, konser musik klasik, ataupun perayaan keagamaan. Di sekelilingnya, PGI juga menyiapkan taman sebagai ruang hijau yang terhubung dengan rumah sakit, rumah duka, kapel, dan kawasan pendukung lain.

 

Restorasi itu diperkirakan menelan biaya kurang-lebih Rp 50 miliar, belum termasuk pajak dan biaya lain yang mencapai sekitar Rp 10 miliar. Setelah proyek rampung, biaya perawatan bangunan pun akan menjadi tanggungan pengelola. "Kami dibebani tanggung jawab memelihara bangunan cagar budaya, tapi tidak dibantu meringankan biayanya," kata pendeta dari sinode Huria Kristen Batak Protestan itu.

 

Meski demikian, pemugaran rumah Raden Saleh tak pernah dimaksudkan sebagai proyek mengejar keuntungan. Hal yang dipulihkan bukan semata bentuk bangunan, melainkan juga ingatan akan seniman yang mewariskan jejak penting dalam sejarah Indonesia. "Ini soal kesadaran demi masa depan yang menghargai karya putra-putri bangsa," tutur Gomar.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/teroka/restorasi-rumah-raden-saleh-cikini-2275124

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar