|
Sejarah yang Terkuak
dari Restorasi Rumah Raden Saleh Savero Aristia
Wienanto : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 12
Juli 2026
|
· Raden Saleh Syarif Bustaman, pelopor
seni lukis modern Indonesia, mendesain sendiri rumahnya di Cikini, Jakarta
Pusat, pada pertengahan abad ke-19. · Selama lebih dari 150 tahun, bekas
kediaman itu banyak berganti kepemilikan dan penggunaan. · Kini rumah Raden Saleh dipugar dan
dikembalikan sedekat mungkin ke bentuk semula. DARI
balik tembok dan pilar rumah tua di sudut Cikini, Menteng, Jakarta Pusat,
itu, tersimpan jejak pelukis yang membentuk sejarah seni rupa Indonesia. Di
sanalah Raden Saleh Syarif Bustaman (1811-1880) menerjemahkan imajinasinya
bukan hanya di atas kanvas, melainkan juga ke dalam arsitektur. Dulu
rumah seluas 1.200 meter persegi tersebut menjadi bagian dari lahan 10
hektare milik Raden Saleh dan istrinya. Tak jauh dari sana, pernah berdiri
kebun binatang pribadi mereka yang kini menjadi kawasan Taman Ismail Marzuki. Kini
rumah itu sedang dipugar di bawah arahan arsitek Arya Abieta dan Febe Liana.
Akses ke bangunan ditutup sementara. Para pekerja tampak mondar-mandir
menyelesaikan berbagai detail restorasi. Sejak
2017, rumah tersebut ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya tingkat
nasional. Restorasi dilakukan untuk mengembalikan karya paling personal Raden
Saleh, yaitu rumah yang merekam perjalanan hidup, pergaulan lintas budaya,
sekaligus pandangan estetik sang maestro. Menurut
Setyo Priyo Nugroho, dosen seni murni Institut Seni Indonesia Yogyakarta,
Raden Saleh adalah pelopor seni lukis modern Indonesia. Ia menjadi bumiputra
pertama yang menempuh pendidikan seni secara formal di Eropa dan
memperkenalkan teknik melukis Barat ke Nusantara. "Raden Saleh adalah
tokoh yang sangat penting," kata Setyo kepada Tempo pada Selasa, 23 Juni
2026. Namanya
dikenang lewat karya monumental seperti Penangkapan Pangeran Diponegoro,
Perburuan Banteng, dan Kebakaran Hutan. Di Eropa, dia dijuluki Pangeran dari
Jawa dan Sang Pelukis Raja. Warisan
Raden Saleh tidak berhenti pada lukisan. Bagi Setyo, rumah di Cikini itu
merupakan kepanjangan kreativitas sang seniman. Hunian itu menjadi refleksi
kepribadiannya sekaligus memperlihatkan penerjemahan pengalaman hidupnya di
Eropa ke dalam ruang. Arsitek
Febe Liana menyebut rumah Raden Saleh sebagai hunian yang nyaris tak memiliki
padanan di Indonesia. Fasad depannya bergaya Eropa, sementara bagian
belakangnya mengadopsi arsitektur Jawa. Di berbagai sudut rumah juga hadir
pengaruh Timur Tengah dan Tionghoa. "Bangunan ini cukup unik," ujar
Febe ketika ditemui Tempo di kantor Garis Bangun Indonesia, Kebayoran Baru,
Jakarta Selatan, pada Jumat, 19 Juni 2026. Menurut
Febe, Raden Saleh merancang sendiri rumah tersebut dan melibatkan para tukang
dari Jawa dalam pembangunannya. Hasilnya adalah sebuah rumah yang memadukan
identitas Jawa-Arab dengan pengalaman hidup sang pemilik selama puluhan tahun
di Eropa. Pada
masanya, rumah itu menjadi salah satu hunian pribumi termegah di Batavia.
"Sebagai 'Prince of Java' di Eropa, Raden Saleh pulang ke Batavia dengan
kekayaan luar biasa," tutur Febe. Rumah
gedong itu dibangun pada 1852. Setelah beberapa kali berganti pemilik dan
fungsi—dari kediaman pribadi hingga Rumah Sakit Cikini—wajah bangunan itu
perlahan berubah. Berbagai modifikasi dilakukan mengikuti kebutuhan setiap
zaman sehingga banyak detail aslinya hilang. Detail
itulah yang kini hendak dikembalikan tim restorasi. Febe
Liana mengatakan pemugaran rumah Raden Saleh diawali penelitian panjang.
Sejak 2015, Pusat Dokumentasi Arsitektur mendokumentasikan bangunan dan
menelusuri berbagai arsip untuk merekonstruksi bentuk aslinya. Tim juga
memeriksa kondisi struktur dan material, lalu menentukan bagian-bagian yang
memiliki nilai sejarah tertinggi untuk dipertahankan. "Itu dilakukan
sampai ke semua detail di dalam bangunan," kata Febe. Perencanaan
restorasi dimulai pada 2023, sementara pekerjaan di lapangan baru berjalan
pada September 2025. Menurut Febe, memugar bangunan cagar budaya jauh lebih rumit
daripada membangun gedung baru. Arsitek tidak hanya dituntut mengembalikan
rupa bangunan ke bentuk semula, tapi juga menyesuaikannya dengan kebutuhan
masa kini. Penyejuk
udara, misalnya, harus dipasang tanpa mengganggu karakter bangunan. Lift
ditambahkan agar penyandang disabilitas dan kalangan lanjut usia dapat
mengakses semua ruangan. Toilet pun ditambahkan. "Di zaman Raden Saleh,
kamar mandi terpisah dengan bangunan utama," ujar Febe. Adapun
arsitek Arya Abieta mengatakan tantangan tidak hanya terdapat pada aspek
teknis. Sebelum pekerjaan dimulai, tim restorasi harus meyakinkan pengurus
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) sebagai pemilik bangunan dan
melewati enam kali sidang dengan Tim Sidang Pemugaran Dinas Kebudayaan DKI
Jakarta. Rekomendasi restorasi baru terbit pada 2024. Dalam
penelitian, tim menemukan sejumlah jejak yang membantu mereka membaca kembali
sejarah bangunan. Di belakang rumah, misalnya, tersimpan bekas anak tangga
yang lama terkubur. Keramik
lantainya diduga didatangkan dari Belgia, sementara sebagian besar struktur
kayunya menggunakan jati berkualitas tinggi. Bagian-bagian yang telah rusak
akan diganti dengan material yang sedekat mungkin serupa dengan aslinya. Bagi
Arya, rumah Raden Saleh merupakan peninggalan karya arsitektur yang bertahan
melintasi zaman. "Ini satu dari sedikit yang masih tersisa. Nilainya
luar biasa," tuturnya. Segendang
sepenarian, Bambang Eryudhawan, arsitek sekaligus pemerhati cagar budaya,
menilai bangunan cagar budaya ini merupakan rumah tinggal milik pribumi
terpenting yang masih bertahan dari abad ke-19. Nilainya tidak hanya terletak
pada usia bangunan, tapi juga pada sosok yang merancang dan menempatinya. Raden
Saleh, Eryudhawan mengungkapkan, adalah figur yang langka. Bangsawan Jawa
berdarah Arab itu menempuh pendidikan seni di Eropa, meraih ketenaran
internasional, lalu pulang ke Batavia membawa pengalaman dan selera artistik
yang kemudian diwujudkan dalam rumahnya sendiri. "Rumah Raden Saleh
adalah representasi semua hal yang kita kagumi dari sosoknya," katanya
kepada Tempo pada Senin, 22 Juni 2026. Menurut
Eryudhawan, rumah itu dapat disejajarkan dengan kediaman tokoh besar dunia
yang juga dirancang pemiliknya sendiri. Ia mencontohkan Monticello, rumah
Thomas Jefferson—presiden ketiga sekaligus penyusun utama Deklarasi
Kemerdekaan Amerika Serikat—yang menjadi salah satu ikon sejarah arsitektur
Amerika. Dalam
konteks Indonesia, menurut dia, rumah Raden Saleh memiliki makna serupa:
bukan sekadar tempat tinggal, melainkan juga perwujudan gagasan, selera, dan
perjalanan hidup sang tokoh. Dia juga
membandingkannya dengan Rumah Tjong A Fie, saudagar Tionghoa yang ikut
membentuk perkembangan Kota Medan pada akhir abad ke-19. Bedanya, rumah Raden
Saleh lahir dari tangan seorang seniman yang merancang sendiri ruang
hidupnya. Karena
itu, Eryudhawan menilai rumah Raden Saleh tak dapat diukur semata-mata dengan
nilai ekonomi. Tanah, bangunan, atau material penyusunnya memang dapat
ditaksir, tapi nilai sejarah dan kebudayaan yang dikandungnya tak
tergantikan. "Ini adalah aset nasional," tuturnya. Kesadaran
itulah yang mendorong PGI merestorasi rumah tersebut. Ketua Majelis
Pertimbangan PGI Gomar Gultom mengatakan bangunan itu akan difungsikan
sebagai museum seusai pemugaran. Jika tak
ada kendala, museum rumah Raden Saleh ditargetkan diresmikan pada November
2026 dan dibuka untuk umum. Saat ini progres restorasi telah mencapai sekitar
40 persen. "Diharapkan sisanya akan dikebut," ujarnya. Museum
itu, Gomar melanjutkan, tidak hanya menampilkan keindahan arsitektur rumah.
Pengunjung juga akan diajak mengikuti perjalanan bangunan tersebut, dari
bentuk aslinya, perubahan fungsi selama lebih dari satu abad, hingga proses
restorasi yang mengembalikan wajah rumah mendekati rancangan Raden Saleh. Ruang
utama bangunan akan difungsikan sebagai balai riung atau ballroom yang dapat
digunakan untuk pertemuan kenegaraan, pameran seni, konser musik klasik,
ataupun perayaan keagamaan. Di sekelilingnya, PGI juga menyiapkan taman
sebagai ruang hijau yang terhubung dengan rumah sakit, rumah duka, kapel, dan
kawasan pendukung lain. Restorasi
itu diperkirakan menelan biaya kurang-lebih Rp 50 miliar, belum termasuk
pajak dan biaya lain yang mencapai sekitar Rp 10 miliar. Setelah proyek
rampung, biaya perawatan bangunan pun akan menjadi tanggungan pengelola.
"Kami dibebani tanggung jawab memelihara bangunan cagar budaya, tapi
tidak dibantu meringankan biayanya," kata pendeta dari sinode Huria
Kristen Batak Protestan itu. Meski
demikian, pemugaran rumah Raden Saleh tak pernah dimaksudkan sebagai proyek
mengejar keuntungan. Hal yang dipulihkan bukan semata bentuk bangunan,
melainkan juga ingatan akan seniman yang mewariskan jejak penting dalam
sejarah Indonesia. "Ini soal kesadaran demi masa depan yang menghargai
karya putra-putri bangsa," tutur Gomar. ● Sumber :
https://www.tempo.co/teroka/restorasi-rumah-raden-saleh-cikini-2275124 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar