|
Siapa Saja Pejabat
dan Elite BGN yang Menikmati Proyek MBG Fajar
Pebrianto : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 05
Juli 2026
|
· Menurut Sony Sonjaya, Kepala BGN Nanik
Sudaryati Deyang terafiliasi dengan yayasan pengelola SPPG di Madiun dan
Depok. · Di Badan Gizi Naisonal ada larangan
tegas pegawai dan staf BGN dilarang punya dapur atau memiliki hubungan dengan
pemilik dapur MBG. · Pencairan anggaran MBG bertambah Rp 1
triliun saat libur sekolah pada Juni 2026. WARGA
Desa Sidorejo, Madiun, Jawa Timur, mengenal kompleks Satuan Pelayanan
Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalilumbu milik Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik
Sudaryati Deyang. Ada empat dapur program makan bergizi gratis (MBG) yang
beroperasi di sana. Tapi dapur itu sedang tak beroperasi karena libur
sekolah. Papan
nama kompleks SPPG itu mencantumkan nomor identitas M0XEMF65. SPPG ini
diresmikan pada 2 Mei 2025. Nanik yang saat itu masih menjabat Wakil Kepala
Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) turut hadir. “Informasi
yang saya dengar, SPPG itu punya Ibu Nanik,” kata Rumiyati, 70 tahun, warga
Dusun Penjalinan, Desa Sidorejo, kepada Tempo pada Selasa, 30 Juni 2026.
Beberapa warga desa yang ditemui Tempo mengatakan hal serupa. Lokasinya
persis berada di belakang rumah Kepala Desa Sidorejo Ana Setyawati. Ada dua
SPPG lain yang juga ditengarai terafiliasi dengan Nanik. Lokasinya persis
berada di samping kantor Balai Desa Sidorejo. Jarak kedua kompleks SPPG itu
sekitar 500 meter. Warga
sekitar mengetahui Kepala Desa Sidorejo merupakan kerabat Nanik. Bila
bertandang ke sana, Nanik pasti singgah di rumah Ana yang juga menjadi rumah
keluarga besar Nanik di Desa Sidorejo. Nanik lahir di Madiun 58 tahun lalu. SPPG
lain yang juga diduga terafiliasi dengan Nanik berada di Kampung Kebayunan,
Tapos, Depok, Jawa Barat. Lokasinya hanya sekitar 3 kilometer dari kompleks
kediaman Nanik yang juga berada di Depok. Papan nama SPPG sudah terpasang di
sana. Tapi papan itu tidak dilengkapi nomor identitas sebagai penanda dapur
di bawah naungan BGN. Serupa
dengan SPPG Kalilumbu, SPPG Kebayunan sementara berhenti beroperasi karena
sedang masa libur sekolah. “Baru masuk lagi 13 Juli,” ujar petugas keamanan
di dapur tersebut pada Rabu, 1 Juli 2026. Meski
terpisah jarak sekitar 660 kilometer, SPPG Kalilumbu dan SPPG Kebayunan punya
satu kesamaan, yaitu pernah berada di bawah naungan Yayasan Gerakan
Solidaritas Nasional (GSN). Yayasan ini didirikan Prabowo Subianto. Nanik
pernah menjabat wakil ketua pengurus. Laporan investigasi Tempo pada 20 April
2025 berjudul “Bancakan Proyek Makan Bergizi Gratis” telah menuliskan soal
keterlibatan Yayasan GSN dan orang-orang dekat Prabowo dalam bisnis dapur
MBG. Dokumen
BGN yang dilihat Tempo mencatat perubahan yayasan yang menaungi empat SPPG
Kalilumbu, Madiun, berlangsung pada Mei dan Agustus 2025. Nama baru pengelola
SPPG itu adalah Yayasan Nusantara Berkembang Indonesia. Sebagai informasi,
Prabowo melantik Nanik menjadi Wakil Kepala BGN pada 17 September 2025. Akta
Yayasan Nusantara Berkembang tertanggal 27 April 2026 menuliskan salah satu
kegiatan mereka adalah pelaksanaan MBG. Namun, meski mengelola SPPG di
Madiun, yayasan itu beralamat di Kampung Kebayunan, lokasi yang sama dengan
dapur SPPG Kebayunan yang juga dekat dengan rumah Nanik di Depok. Ketua
Pengurus Yayasan Nusantara Berkembang Indonesia bernama Novia Ayu Endah
Budiarsi. Novia saat ini menjabat tenaga ahli di BP Taskin. Ditemui terpisah,
dua sumber yang mengetahui rekam jejak Novia mengatakan ia masuk ke BP Taskin
atas rekomendasi Nanik. Novia
tak ikut masuk ke BGN bersama Nanik. Namun keduanya tetap menjalin
komunikasi. Novia masih bertemu dengan Nanik beberapa hari setelah boyongan
ke BGN. Mereka mengabadikan pertemuan di sebuah restoran itu dalam foto yang
sempat dilihat Tempo di media sosial. Selain
di SPPG Kalilumbu, perubahan yayasan terjadi di SPPG Kebayunan, Depok.
Penggantian ini terjadi beberapa hari saja setelah Nanik menjabat Wakil
Kepala BGN. Dari semula Yayasan GSN, pengelola berganti ke Jaringan Merah
Putih (JMP). Dokumen akta
tertanggal 17 Juli 2025 mencatat pendiri JMP bernama Basar Simanjuntak dan
ketua pengurusnya adalah Jhon Mejer Purba. Jhon adalah kolega Glory Harimas
Sihombing, Ketua Yayasan Indonesia Food Security Review yang juga menjadi
tersangka kasus korupsi MBG di Kejaksaan Agung. Lewat
akun media sosialnya, Nanik sempat membagikan kegiatan bersama JMP pada 1
Februari 2025. Dalam salinan putusan perkara hoaks aktivis Ratna Sarumpaet
pada 2019, Nanik juga ditulis sebagai Ketua Jaringan Merah Putih. Di
lembar permintaan lokasi SPPG Kebayunan, dokumen BGN mencatat nama Yayasan
Merah Putih Gotong Royong. Yayasan ini berkantor di kompleks perumahan Nanik
di Depok. Jaraknya hanya terpaut beberapa rumah dari kediamannya. Pendiri
yayasan, Yudi Samhana, adalah Ketua Relawan Prabowo Pembela Petani dalam
pemilihan presiden 2024. Ketua pengawas yayasannya adalah Ana Setyawati.
Uniknya, tiga pengurus lain juga menjabat di Yayasan Nusantara Berkembang
Indonesia, pengelola SPPG Kalilumbu di Madiun. Nama
Yudi pun rupanya dikenal di SPPG Kalilumbu. Petugas keamanan di sana
bercerita bahwa seseorang bernama Yudi pernah datang. “Pada waktu itu datang
untuk menyeleksi calon karyawan dapur,” tuturnya. Ditemui
secara terpisah, empat petinggi BGN dan BP Taskin yang ditemui Tempo
membenarkan kabar bahwa SPPG Kalilumbu dan SPPG Kebayunan sebetulnya
terafiliasi dengan Nanik. Namun pengelolaannya diserahkan kepada yayasan yang
baru. “Tapi yayasan ini tetap diisi orang dekat Nanik,” kata sumber yang
sama. Tempo
sepanjang pekan lalu menghubungi Novia lewat nomor telepon dan surat ke
kantornya di BP Taskin. Namun ia tak merespons hingga Sabtu, 4 Juli 2026.
Sementara itu, Yudi sempat mengangkat panggilan telepon, tapi tak lagi
memberi kabar. “Masih di jalan, nanti saya hubungi lagi,” ujarnya saat
dihubungi pada Senin, 29 Juni 2026. Basar
Simanjuntak, pendiri JMP, mengklaim tidak tahu-menahu soal aktivitas yayasan
di SPPG Kebayunan. Ia memang memiliki dapur MBG di Bogor, Jawa Barat, tapi
lewat yayasan berbeda. “Saya juga hanya mitra, bukan yang mengurusi perizinan
di BGN,” kata Basar. Sepanjang
pekan lalu, Tempo juga berupaya mewawancarai Nanik Sudaryati Deyang. Surat
permohonan wawancara dikirimkan ke kantor BGN di Jalan Kebon Sirih, Jakarta
Pusat, dan lewat akun WhatsApp pribadinya. Tak ada satu pun yang direspons. Dalam
wawancara dengan Tempo pada Jumat, 5 Juni 2026, Nanik membenarkan kabar bahwa
dapur-dapur SPPG tersebut semula berada di bawah Yayasan GSN. Tapi dapur itu
sudah diserahkan kepada sejumlah kelompok pendukung Prabowo lain. Ia
membantah tudingan terhubung dengan yayasan, apalagi dalam kegiatan
operasional SPPG. “Pokoknya sudah diserahkan. Saya tidak tahu siapa
pengurusnya,” tutur Nanik saat itu. ●●● DUDUK di
depan penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung pada
Kamis, 18 Juni 2026, mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sonjaya,
menjelaskan maksud percakapannya dengan Nanik Sudaryati Deyang. Sony tengah
diperiksa karena menjadi tersangka korupsi makan bergizi gratis. Selain Sony,
mantan Kepala BGN, Dadan Hindayana, dan mantan Wakil Kepala BGN lain, Lodewyk
Pusung, menjadi tersangka. Kepada
penyidik, Sony mengklaim Nanik pernah meminta “jatah” enam titik satuan
pelayanan pemenuhan gizi di Kecamatan Kebonsari, Madiun, Jawa Timur, untuk
Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional. Belakangan, setelah dapur beroperasi,
pengelolaan SPPG beralih ke Jaringan Merah Putih. Seorang
pejabat BGN bercerita, sebenarnya ada aturan ketat soal perubahan yayasan
pengelola SPPG. Untuk mengganti yayasan, pemilik dapur mesti mengajukan surat
permohonan kepada tim khusus di BGN. Surat ini harus memuat alasan
penggantian yayasan, usulan calon yayasan pengganti, hingga dokumen bukti
kepemilikan fasilitas SPPG. Sumber
yang sama bercerita bahwa yayasan di SPPG Kalilumbu dan SPPG Kebayunan diduga
melakukan pelanggaran administrasi. “Perubahan ini tidak melewati prosedur
yang ditetapkan,” katanya. Cerita
ini diperkuat oleh kesaksian Sony di hadapan penyidik. Sony mengungkapkan
bahwa Jaringan Merah Putih sebenarnya bukan yayasan. Organisasi ini
sebetulnya salah satu kelompok pendukung Prabowo Subianto dalam pemilihan
presiden 2019. Pada Mei
2026, pengelolaan SPPG baru berganti ke yayasan baru. “Saya tidak tahu nama
yayasan baru ini karena tidak pernah melalui prosedur formal,” ujar Sony saat
diperiksa jaksa. Selain
penggantian yayasan yang diduga tak sesuai dengan prosedur, dokumen BGN yang
dibaca Tempo menunjukkan titik dapur di Kebayunan, Depok, terdiri atas lima
SPPG dengan lima ID atau identitas sekaligus. Masalahnya, hanya satu dapur
yang disetujui beroperasi. Sedangkan permohonan untuk empat dapur ditolak.
Penolakan terjadi karena jumlah dapur sudah melewati batas kuota penerima
manfaat di Kecamatan Tapos. Sebetulnya
tidak ada larangan satu titik ditempati beberapa dapur SPPG sekaligus.
Seorang koordinator wilayah BGN juga membenarkan informasi ini. Jumlah SPPG
diatur mengikuti kuota penerima manfaat di setiap kecamatan. “Yang tidak
boleh itu, satu rumah lalu di atas dan bawah jadi dapur,” tuturnya. Masalahnya,
lima SPPG di Kebayunan diduga tidak sebanding dengan jumlah penerima manfaat
di wilayah tersebut. BGN mengatur bahwa satu SPPG hanya boleh melayani
maksimal 3.000 penerima manfaat. Kelima
SPPG itu diduga tetap beroperasi sehingga rutin menerima insentif dari
pemerintah. Tempo sempat mengikuti acara peresmian SPPG Kebayunan pada
Januari 2025. “Di sini ada lima dapur yang berdiri,” kata salah satu
perwakilan SPPG saat itu. Saat
diperiksa penyidik, Sony pun menceritakan Nanik mendirikan lima SPPG di
Kecamatan Tapos, Depok, dan dua SPPG lain di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Pendirian ini melibatkan salah satu deputi di BGN. “Hal itu tak sesuai dengan
aturan pembatasan jumlah yayasan di setiap provinsi,” ujar Sony kepada penyidik. Saat ini
ada sekitar 29 ribu dapur MBG yang tercatat di BGN. Setelah kasus korupsi MBG
mencuat, BGN memberlakukan moratorium pendirian dapur baru. Masalahnya,
anggaran penyaluran MBG tetap boncos. Seorang pejabat BGN bercerita, total
pencairan anggaran ke yayasan pengelola SPPG pada April dan Mei 2026 tercatat
mencapai Rp 10 triliun dan Rp 11 triliun. Semestinya
jumlah pencairan berkurang karena semua sekolah libur pada Juni. Namun
nilainya justru naik menjadi Rp 12 triliun. “Keuntungan” memiliki dapur MBG adalah
mendapat insentif Rp 6 juta per hari. Pada awal pendirian, dapur juga
ditransfer Rp 500 juta untuk biaya kegiatan operasional awal. Anggaran yang
dikeluarkan BGN besar karena jumlah dapur membengkak. Masalah makin bertumpuk
karena baru-baru ini ditemukan puluhan dapur fiktif tapi ditengarai tetap
menerima kucuran insentif. Kepala
Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Anang Supriatna membenarkan kabar
bahwa, saat diperiksa penyidik, Sony Sonjaya menyebutkan 29 nama yang diduga
terafiliasi dengan dapur MBG dan cawe-cawe dalam pendirian SPPG. Jumlah itu
belakangan bertambah menjadi 41. “Dari sekian banyak nama, yang menjadi
stressing laporan tersangka adalah seseorang berinisial NSD,” tutur Anang. Dari
puluhan nama itu, empat adalah menteri dan wakil menteri di Kabinet Merah
Putih. Sepuluh orang merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat saat ini. Ada
pula tiga penegak hukum. Sisanya orang-orang yang mengaku mengenal pejabat
dan orang dari organisasi tertentu. Untuk
membuktikan omongannya, Sony turut menyertakan tangkapan layar percakapan di
akun WhatsApp miliknya dengan sejumlah pejabat dan penegak hukum. Salah satu
yang muncul dalam pemeriksaan adalah percakapan antara Sony dan Kepala
Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi Komisaris Besar Sumarni pada Oktober
2025. Sumarni saat itu meminta bantuan Sony untuk kelancaran pendirian SPPG
Polri di Pondok Pesantren Buntet di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Direktur
Pengelola SPPG Buntet, Nurudin, mengatakan sejumlah politikus datang ke
pondok untuk menawarkan pembangunan SPPG di kawasan pesantren pada 2025.
Lantaran tak ingin memihak salah satu partai, pengurus pondok kemudian
meminta bantuan Sumarni, yang saat itu menjabat Kepala Polres Kota Cirebon,
untuk membangun SPPG. Sumarni
setuju dan peletakan batu pertama dilakukan Kepala Kepolisian Daerah Jawa
Barat Komisaris Jenderal Rudi Setiawan, yang saat itu berpangkat inspektur
jenderal, pada 29 Desember 2025. Pengurus pondok tidak terlibat dalam
pengurusan izin. Dapur akhirnya rampung dibangun pada awal Juni 2026, tapi
hingga kini belum beroperasi dan pintunya terkunci rapat. Lalu
dari mana uang untuk membangunnya? Nurudin mengklaim tak ada informasi yang
pasti. “Saya tidak tahu siapa, tapi infonya investor dari Kendal,” tuturnya. Sumarni
mengakui pernah berkomunikasi dengan Sony untuk pendirian SPPG di Pondok
Pesantren Buntet. Ia meminta bantuan pendirian SPPG dipermudah. “Tidak ada
bayar-membayar dan saya tidak mendapat keuntungan apa pun,” katanya pada
Kamis, 11 Juni 2026. Pengacara
Lodewyk Pusung, Otto Cornelis Kaligis, mengakui kliennya punya tiga dapur MBG
di kampung halaman Lodewyk di Sulawesi Utara. Dapur berdiri pada Januari
2025. Lodewyk beralasan dapur didirikan atas dasar instruksi Kepala BGN saat
itu, Dadan Hindayana. “Karena memang saat awal belum ada yang mau membangun
dapur,” ujar Kaligis. Jaksa
menjerat Dadan, Sony, dan Lodewyk dengan Pasal 603 Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP) baru tentang pidana korupsi yang merugikan keuangan negara.
Mereka juga dijerat Pasal 604 KUHP baru tentang larangan menguntungkan diri
sendiri dan orang lain dengan menyalahgunakan kewenangan. Selain terlibat
dalam sejumlah proyek bermasalah di BGN, ketiganya dituduh jaksa mendapat
keuntungan dari beberapa yayasan pengelola SPPG. Wakil
Kepala BGN Agustina Arumsari mengatakan semua pegawai BGN tak boleh
terafiliasi dengan yayasan pengelola SPPG. Ini diterapkan agar tak terjadi
konflik kepentingan dengan program MBG. “Pegawai BGN sebagai pengambil
keputusan dan kebijakan tidak boleh punya SPPG,” katanya di gedung Dewan
Perwakilan Rakyat pada Senin, 15 Juni 2026. Program
MBG diduga juga menjadi bancakan para pendukung Prabowo dalam pemilihan
presiden 2024. Di antaranya Glory Harimas Sihombing yang kini berstatus
tersangka korupsi MBG. Kemunculan nama Glory turut menyeret Dirgayuza
Setiawan, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan. Cerita
bermula pada 2021 saat Glory dan Dirgayuza berkecimpung di PT Agro Industri
Nasional atau Agrinas yang berada di bawah yayasan milik Kementerian
Pertahanan. Glory menjabat direktur konservasi, sementara Dirgayuza menjabat
wakil direktur utama. Pada
saat itu Agrinas terlibat dalam pengembangan program food estate atau lumbung
pangan. Laporan investigasi Tempo pada 9 Oktober 2021 pernah mengulas peran
Dirgayuza dalam program ini melalui tulisan berjudul “Ugal-ugalan Lumbung
Pangan”. Saat itu
Dirgayuza menyarankan Glory membentuk Yayasan Indonesia Food Security Review
(IFSR). Fokus yayasan ini salah satunya adalah melahirkan kajian di bidang
ketahanan pangan. Glory sempat membujuk Dirgayuza agar masuk menjadi
pengurus, tapi permintaan itu ditolak. “Saya meminta dia jalan sendiri,”
tutur Dirgayuza. Memasuki
2023, Glory aktif dalam tim pemenangan pasangan Prabowo Subianto dan Gibran
Rakabuming Raka. Di situlah Glory dan Yayasan IFSR terhubung dengan Dadan
Hindayana yang juga aktif dalam tim pemenangan. Kantor IFSR di Jakarta
Selatan turut menjadi salah satu pos koordinasi pemenangan Prabowo. Hubungan
mereka terjalin erat. Sampai akhirnya Dadan hendak meluncurkan proyek pertama
dapur MBG di Kota Sukabumi, Jawa Barat, dengan nama SPPG Warungkiara. Ia
mendaftarkan Yayasan IFSR sebagai pengelola SPPG. Saat ini IFSR sudah
memiliki beberapa dapur MBG. Belakangan,
Dadan diduga turut memberi akses kepada Glory untuk mendapatkan titik dapur.
Titik ini kemudian dikuasai Glory lewat Yayasan IFSR. Masalahnya, ia diduga
menjual titik itu kepada pihak lain yang tertarik berinvestasi dalam dapur
MBG. “Setelah mengatur titik, Glory memberikan sejumlah uang kepada Dadan,”
kata Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Syarief Sulaeman
Nahdi. Jaksa
menetapkan Glory sebagai tersangka pada Kamis, 18 Juni 2026. Dari penelusuran
Tempo, ada delapan yayasan lain yang terafiliasi dengan Glory yang digunakan
dalam praktik jual-beli titik ini. Tempo menghubungi beberapa pengurus
Yayasan IFSR, tapi belum direspons hingga Sabtu, 4 Juli 2026. Dirgayuza
memang terlibat memberi masukan untuk program MBG, khususnya di SPPG Polri.
Namun ia mengklaim tidak terlibat dalam kepengurusan Yayasan IFSR. Itu
sebabnya Dirgayuza mengaku tak mengetahui praktik jual-beli titik yang
dilakukan Glory. Namun ia merasa sedih kawannya masuk penjara. “Kalau dulu
saya lebih terlibat atau mengawasi Yayasan IFSR, mungkin tidak akan seperti
ini,” ujarnya. Tempo
berupaya menghubungi juru bicara sekaligus Wakil Kepala BGN, Agustina
Arumsari, sepanjang pekan lalu untuk meminta konfirmasi soal dugaan jual-beli
titik dapur yang melibatkan banyak pejabat dan orang dekat Prabowo Subianto.
Ia tak kunjung merespons permohonan wawancara itu. Pada
Jumat, 26 Juni 2026, Agustina mengatakan seharusnya tidak ada lagi praktik
jual-beli titik SPPG karena BGN sudah memberlakukan moratorium pendirian
dapur baru. Tapi, kalau ada pejabat BGN yang masih melakukannya, Agustina
meminta nama pejabat itu disebutkan. “Biar saya serahkan kepada jaksa untuk
ikut masuk sel,” tuturnya. ● Sumber :
https://www.tempo.co/hukum/pejabat-bgn-pemilik-dapur-mbg-2273594 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar