|
Damai Amerika-Iran Diambang Kegagalan Jannus
TH Siahaan : Doktor
Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. |
KOMPAS.COM, 02 Juli 2026
|
PENANDATANGANAN Memorandum Saling Pengertian (MoU) Islamabad pada
17 Juni 2026, yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran sesungguhnya bukan
fajar baru bagi perdamaian di Timur Tengah. Dokumen yang diteken secara jarak jauh oleh Presiden Donald Trump
dan Presiden Masoud Pezeshkian ini hanyalah sekadar jeda taktis dalam perang
yang dianggap memang sudah melelahkan. Kesepakatan ini lahir di tengah desakan kebutuhan ekonomi yang
mencekik, baik di Iran maupun Ameirka alias bukan dari keinginan tulus untuk
benar-benar menghentikan permusuhan. Konflik yang meletus sejak 28 Februari 2026, telah menyeret
kawasan ke ambang kehancuran. Perang ini dipicu oleh serangan mematikan
AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei serta
negosiator kunci Ali Larijani. Kendati MoU menetapkan gencatan senjata selama 60 hari dan janji pembukaan
Selat Hormuz, realitas di lapangan masih menunjukkan kerapuhan yang sangat
nyata. Kredibilitas kesepakatan terus tergerus oleh siklus kekerasan dan
konflik yang tidak kunjung padam. Eskalasi militer pasca-penandatanganan membuktikan bahwa kedua
belah pihak masih terjebak dalam dilema yang belum terselesaikan. Hanya berselang beberapa hari, drone Iran menghantam kapal kargo
Singapura. Amerika Serikat segera membalas dengan serangan udara terhadap
fasilitas rudal Iran di Pulau Qeshm. Siklus ini terus berulang, menegaskan bahwa perdamaian tak lebih
dari retorika di atas kertas. Puncaknya terjadi pada 28 Juni 2026, ketika Korps Garda Revolusi
Islam (IRGC) meluncurkan serangan rudal balistik ke Pangkalan Armada Kelima
AS di Bahrain dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Serangan tersebut merusak fasilitas perumahan militer dan menjadi
eskalasi terbesar setelah MoU ditandatangani. Meskipun pada 29 Juni 2026, kedua pihak sepakat untuk stand down
menjelang negosiasi di Doha, ketegangan tetap membara. Situasi ini menegaskan bahwa draf awal “MoU Islamabad” gagal
membendung ambisi militer masing-masing pihak. Kawasan Timur Tengah saat ini terperangkap dalam status tidak
perang, tapi juga tidak damai yang masih sangat rentan. Setiap aksi militer sejak awal Juni selalu dibalas dengan
retaliasi yang proporsional. Keadaan ini menciptakan instabilitas
berkepanjangan yang sulit dikendalikan oleh diplomasi tradisional. Kerentanan tersebut berakar pada krisis politik domestik di
Teheran pasca-penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Agung ketiga pada
8 Maret 2026. Mojtaba, yang dikenal sebagai figur bayangan dengan gaya
kepemimpinan intervensionis, mengendalikan seluruh negosiasi melalui
instruksi tertulis yang sangat kaku. Instruksi ini sering kali membuat tim
diplomatik Iran tidak memiliki ruang gerak yang fleksibel. Polarisasi tajam antara faksi pragmatis-moderat dan
ultra-konservatif Front Paydari menciptakan kebuntuan politik di dalam
negeri. Faksi moderat yang dipimpin Presiden Pezeshkian dan Ketua
Parlemen Ghalibaf berusaha menyelamatkan ekonomi melalui diplomasi. Namun, kelompok ultra-konservatif menuduh mereka mengkhianati
garis anti-imperialis yang diwariskan mendiang Ayatollah Khamenei. Perseteruan ini bahkan meluap ke ruang publik dengan cara yang
dramatis. Dokumen rahasia dibocorkan, siaran televisi nasional dibubarkan
paksa, dan ancaman terhadap keselamatan Presiden Pezeshkian pun muncul. Bagi faksi pragmatis, MoU hanyalah alat untuk mencairkan aset
agar sanksi ekonomi tidak melumpuhkan rezim. Posisi mereka kini sangat rentan
oleh ancaman delegitimasi dari kubu garis keras. Jika perundingan di Doha gagal mendatangkan pemulihan ekonomi
instan dalam 60 hari, Mojtaba Khamenei diproyeksikan akan menarik dukungan
dari faksi pragmatis. Hal ini akan membuka jalan bagi dominasi militeris garis keras
untuk kembali mengendalikan negara. Motivasi Iran dalam kesepakatan ini
memang murni bersifat defensif untuk menghindari pemberontakan domestik
akibat krisis likuiditas. Presiden Pezeshkian secara terbuka mengakui bahwa blokade laut AS
membuat Iran tidak mampu mengekspor minyak selama puluhan hari. Pemerintah terpaksa mengalihkan anggaran pembangunan untuk
mendanai IRGC agar militer tetap bisa beroperasi. Kebutuhan utama Iran sangat
spesifik, yakni akses instan ke dana senilai 12 miliar dollar AS di Qatar dan
dispensasi ekspor minyak ke China. Lebih jauh, Iran mengincar dana rekonstruksi sebesar 300 miliar
dollar AS yang dibebankan kepada negara-negara GCC. Iran juga enggan melepaskan kontrol atas Selat Hormuz. Ghalibaf
menyatakan bahwa Iran tetap berhak memungut biaya pelayanan maritim, klaim
yang ditolak mentah-mentah oleh Washington. Sikap melunak Presiden Trump pun bukan karena perubahan hati,
tapi tekanan domestik yang cukup masif. Lonjakan harga minyak global akibat krisis Selat Hormuz telah
memicu inflasi bahan bakar yang mengancam popularitas politiknya. Tekanan
dari Senat AS melalui Resolusi Kekuatan Perang juga mempersempit ruang gerak
Gedung Putih. Pentagon secara doktrinal menyadari bahwa perang darat di Iran
adalah jebakan strategis yang berbahaya. Konsep suzerinitas lepas pantai diadopsi untuk menghindari
keterlibatan panjang di daratan Asia Barat agar konsentrasi tetap pada teater
Indo-Pasifik. Namun, tujuan jangka panjang AS tetap masih konsisten, yakni
denuklirisasi permanen dengan inspeksi tanpa batas waktu. Trump telah memberikan peringatan keras bahwa ia siap
meninggalkan meja negosiasi jika Iran kembali mencoba memeras jalur pelayaran
internasional. Kompleksitas situasi ini diperparah oleh keterlibatan Rusia dan
China yang ingin mengulur waktu. Bagi Beijing, stabilitas pasokan minyak dari
Teluk Persia adalah prioritas utama pertumbuhan ekonomi mereka. Rusia memanfaatkan konflik ini untuk mengalihkan perhatian Barat
dari Ukraina dan memperkuat pengaruh globalnya. Kedua negara memberikan
perlindungan diplomatik kepada Teheran dalam forum internasional. Mereka mendorong Iran tetap kooperatif agar dana cair, yang
nantinya bisa digunakan untuk memperkuat jaringan proksi regional. Faktor destruktif lainnya adalah Kesepakatan Kerangka Kerja
Trilateral antara AS, Israel, dan Lebanon yang ditandatangani pada 26 Juni
2026. Perjanjian ini dirancang untuk melucuti infrastruktur militer
Hezbollah di Lebanon selatan melalui pengerahan Angkatan Bersenjata Lebanon. Iran memandang ini sebagai upaya sistematis untuk menghancurkan
pilar pertahanan terdepan mereka terhadap Israel. Israel, di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menegaskan
tidak akan terikat oleh gencatan senjata MoU Islamabad. Serangan udara IDF terhadap basis logistik Hezbollah terus
berlangsung, menyabotase prospek perdamaian yang coba dibangun. Israel dengan
sengaja berusaha mengisolasi Iran dalam skema keamanan regional yang baru. Hezbollah merespons dengan cukup keras, menyatakan bahwa posisi
mereka tidak akan bergeser. Bagi Teheran, selama Israel tidak menghentikan serangan udara,
negosiasi nuklir di Swiss menjadi tidak relevan. Ketegangan ini menjadi
kerikil tajam yang terus menghambat setiap kemajuan diplomasi. Probabilitas terciptanya perdamaian permanen setelah Memorandum
Islamabad sangatlah rendah. Perjanjian ini pada dasarnya adalah instrumen
manajemen konflik yang dipaksakan oleh keterbatasan ekonomi, bukan peta jalan
menuju stabilitas. Kontradiksi struktural mengenai Selat Hormuz dan nasib Hezbollah
menjadi sumbu bom waktu yang siap meledak. Jadi dunia kemungkinan besar hanya akan melihat pergeseran bentuk
konflik, dari perang terbuka menjadi bentrokan laut yang presisi. Timur Tengah akan tetap terjebak dalam ketidakpastian, di mana
pihak-pihak yang terlibat terus bermain di ambang kehancuran. Perdamaian
hanyalah waktu tunggu bagi masing-masing pihak untuk mengumpulkan tenaga
kembali. Jika perundingan teknis di Doha tidak mampu menghasilkan
terobosan substansial dalam 60 hari, konflik ini akan bertransformasi menjadi
gelombang kekerasan yang lebih destruktif. Memorandum Islamabad sangat berpotensi gagal sebagai solusi
komprehensif bagi kebuntuan geopolitik di kawasan tersebut. Pada akhirnya, kawasan ini tetap menjadi medan laga di mana
perdamaian hanyalah ilusi sementara di tengah kepentingan yang saling silang.
● |
Sumber
: https://www.kompas.com/global/read/2026/07/02/051013170/damai-amerika-iran-diambang-kegagalan?page=all#page2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar