Senin, 13 Juli 2026

 

Gerilya Anak-anak Adopsi Belanda Mencari Orang Tua Indonesia

Francisca Christy Rosana :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 12 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Anak-anak Indonesia yang dulu diadopsi keluarga Belanda sedang melacak orang tua kandung mereka.

 

·      Mereka mengandalkan dokumen adopsi yang diberikan orang tua angkat.

 

·      Ada yang menjalani tes genetik untuk mencocokkan DNA dengan anggota keluarga.

 

DI hadapan Joel Heiner, tubuh perempuan berselimut mantel berdiri dengan mata berkaca-kaca pada Juli 2025. Di tengah udara sejuk Kota Brisbane, Australia, Joel mendekap dengan hangat perempuan itu. Dialah Meite, ibu kandung Joel.

 

Meite berkali-kali memohon ampun kepada Joel. Kepala Joel rebah di pundak perempuan itu. Keduanya lantas menangis dalam pelukan. Itulah pertemuan pertama Joel dengan ibundanya setelah ia mencari-cari keluarganya selama bertahun-tahun. “Ibuku meminta maaf dan menyebut keputusan melepaskanku adalah traumanya seumur hidup,” ujar Joel kepada Tempo pada Maret 2026.

 

Meite melahirkan Joel di Surabaya, Jawa Timur, ketika kondisi keluarga tengah terpuruk. Meite berpisah dengan ayah kandung Joel. Situasi yang rumit mendorong Meite menyerahkan Joel yang baru berusia tiga bulan ke sebuah panti asuhan di Kota Pahlawan yang kini tak ada jejaknya sama sekali. Panti asuhan itu rupanya memfasilitasi orang tua dari sejumlah negara untuk mengadopsi anak-anak dari Indonesia.

 

Melalui prosedur yang legal, Joel diadopsi sebuah keluarga yang berasal dari Kota Woerden, Utrecht, Belanda. Joel diboyong famili barunya untuk hidup di Belanda dan Amerika Serikat karena ayah angkat Joel merupakan evangelis yang mewartakan Injil ke berbagai negara.

 

Sejak kecil, Joel menyadari bahwa fisiknya berbeda dengan anggota keluarga yang lain. Orang tua dan saudara-saudaranya berkulit putih. “Namun mereka sangat baik dan tidak membiarkan saya mengalami krisis identitas,” kata Joel.

 

Joel mengetahui bahwa ia merupakan anak adopsi dari sebuah keluarga di Indonesia ketika tumbuh remaja. Ibu angkatnya memberi tahu bahwa orang tua biologis Joel berada di sebuah kota di Pulau Jawa.

 

Setelah Joel menikah, sekitar sepuluh tahun lalu, ia baru mengetahui identitas aslinya. Orang tua angkat Joel menyerahkan seberkas dokumen. Arsip itu mencatat identitas asli Joel beserta latar belakang keluarganya. Dari dokumen itulah Joel mengetahui identitas ibunda dan kota kelahirannya. “Saya tiba-tiba punya koneksi yang lebih kuat dengan Indonesia,” tutur Joel, 45 tahun.

 

Keinginan melacak orang tua kandung pun muncul. Joel mulai menabung untuk menempuh perjalanan ke Surabaya. Ongkos perjalanan dari Belanda ke Indonesia yang tak murah membuat Joel berulang kali menunda keberangkatan.

 

Namun suatu hari, sebelum meninggal, orang tua angkat Joel memintanya segera menyambangi Indonesia. Orang tua angkat itu meninggalkan warisan yang dipakai Joel sebagai bekal menemui keluarga kandungnya di Surabaya.

 

Pada Juli 2025, hari yang ditunggu-tunggu tiba. Joel akhirnya menempuh perjalanan dari Amsterdam ke Jakarta. Ia mengajak istri dan dua anaknya. Sesampai di Jakarta, Joel bertolak ke Surabaya karena dokumen yang diberikan orang tua angkatnya menyatakan ia lahir di ibu kota Jawa Timur itu.

 

Joel tak punya banyak informasi mengenai identitas ibundanya. Berbekal informasi yang serba terbatas, Joel menyewa pemandu wisata dari agen perjalanan bernama Sama Sama Tour and Travel. Ia mengelilingi Surabaya ditemani pemandu bernama Reza.

 

Hari pertama sampai di Surabaya, Joel diantar Reza menyusuri jalan perkampungan—beberapa kilometer dari pusat kota. Ia tiba di depan sebuah bangunan tua yang dindingnya berkelir kuning dan dipenuhi tanaman liar. “Kondisinya seperti sudah lama tak dihuni,” kata Joel. Menurut dokumen adopsi di tangan Joel, properti itu adalah alamat rumah ibunda Joel.

 

Joel berdiri termangu selama setengah jam di depan rumah yang pagarnya terkunci itu. Namun ada orang-orang di dekat rumah tersebut yang mendatangi Joel dan menanyakan keperluan Joel datang ke rumah itu. Reza, sang pemandu, membantu menerjemahkan percakapan warga lokal dengan Joel.

 

Joel melihat orang-orang yang mendatanginya memiliki wajah dan kulit yang sama dengannya. “Saya merasa nyaman,” ujar Joel. Percakapan penduduk kampung dengan Joel mengundang orang banyak berkerumun, termasuk pengurus kampung.

 

Pengurus kampung itu kemudian membawa Joel ke sebuah rumah milik perempuan yang sudah puluhan tahun tinggal di kampung tersebut. Berdasarkan penuturan perempuan sepuh itu, kata Joel, Meite dan keluarganya sudah pindah rumah pada 1990-an.

 

Perjalanan mencari orang tua tak berhenti meski keluarga Joel telah pindah. Pemandu wisata Joel mempertemukannya dengan Yayasan Ibu Indonesia. Yayasan nirlaba yang berdiri pada 2019 ini membantu anak-anak Indonesia yang diadopsi orang Belanda untuk melacak keluarga biologis mereka di Indonesia.

 

Menurut Joel, Yayasan Ibu Indonesia membantu melacak keberadaan keluarganya serta memverifikasi data yang tertera dalam dokumen adopsi. Dari pelacakan itu, Joel mengetahui bahwa ayah kandungnya telah meninggal pada 2018. Informasi itu saja yang ia peroleh selama lima hari bervakansi di Surabaya. Joel kemudian terbang ke Lombok, Nusa Tenggara Barat; dan Bali untuk berlibur.

 

Pada malam terakhir di Indonesia, tatkala berkemas dari Lombok menuju Bali, Joel menerima panggilan telepon dari Reza, pemandunya selama di Surabaya. “Ada kabar besar,” tutur Joel menirukan pesan pemandunya.

 

Joel bercerita, Yayasan Ibu Indonesia memberi kabar kepada pemandu Joel bahwa Meite, sang ibunda, telah pindah ke Amerika Serikat. Pada 2004, Meite juga pernah mencari Joel di Belanda, tapi kehilangan jejak. Setelah meninggalkan Negeri Abang Sam, Meite bermukim di Australia. Klop sudah.

 

Sebelum mendapat kabar bahwa ibunya menetap di Australia, Joel memang akan bertolak dari Bali ke Sydney untuk perjalanan bisnis. “Saya seperti tidak percaya bahwa tujuan saya adalah negeri tempat ibu saya tinggal,” katanya. Joel dengan segera mengubah tiketnya dari semula rute Denpasar-Sydney menjadi Denpasar-Brisbane.

 

Di Brisbane, Joel akhirnya bertemu dengan ibu kandungnya. Membawa sebuah buket bunga, Joel memeluk erat perempuan di depan mata yang ia cari selama bertahun-tahun itu. “Setelah sekian lama, akhirnya kita bertemu,” ujar Joel kepada Meite. Tangis keduanya seketika pecah.

 

Pada 1970-1980, sedikitnya 4.000 anak Indonesia diadopsi orang Belanda. Beberapa orang bisa melacak lagi keluarga mereka seperti Joel. Namun ada pula yang belum berhasil bertemu dengan orang tua kandungnya. Salah satunya Harriet Roebersen.

 

Harriet, lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 1980-an, diadopsi keluarga Belanda melalui sebuah panti asuhan di Bandung. Ia kemudian diboyong keluarga barunya ke Negeri Kincir Angin.

 

Harriet mulai mempertanyakan dokumen adopsinya ketika kabar pengiriman anak ilegal dari Indonesia ke Belanda meledak di Belanda pada 2021. Pemerintah Belanda waktu itu meminta maaf atas praktik adopsi massal yang dilakukan warganya dan sebagian di antaranya terindikasi sebagai praktik adopsi ilegal. “Saya waktu itu tak pernah berpikir akan mencari keluarga biologis saya,” tuturnya kepada Tempo pada akhir Maret 2026.

 

Keinginan Harriet menelusuri keluarganya baru muncul pada 2023. Ia saat itu sedang mencari pekerjaan baru sebagai tenaga kesehatan. Pekerjaan itu membawa Harriet bertemu dengan organisasi nirlaba yang mendampingi anak-anak Indonesia yang dulu diadopsi orang Belanda.

 

Bergumul dengan aktivitas organisasi itu beberapa waktu, Harriet mulai mempertanyakan asal-usul keluarganya di Indonesia. Ia kemudian berjumpa dengan pengurus Yayasan Ibu Indonesia yang membantunya mengikuti roots journey atau perjalanan mencari latar belakang.

 

Harriet sudah pernah menempuh perjalanan ke Indonesia untuk mengenal tempat kelahirannya pada 2023. Namun perjalanan itu tak membuahkan hasil karena Harriet gagal menemukan orang tua kandungnya. “Itu adalah pengalaman yang sangat emosional,” ujarnya.

 

Harriet tak berhenti mencoba meski gagal berjumpa dengan ibu kandungnya. Pada 2026, ia menjalani tes asam deoksiribonukleat (DNA). Hasil uji genetik itu menuntunnya pada informasi yang tersedia dalam bank DNA.

 

Kata Harriet, ada beberapa orang yang memiliki kecocokan genetik dengannya dalam bank DNA. Rupanya, pemilik sampel genetik yang cocok dengan Harriet adalah tante dan kemenakan biologisnya yang kini tinggal di Belanda. “Kami sedang menjalani tes lanjutan untuk mengetahui DNA ini berasal dari garis ayah atau ibu,” tuturnya.

 

Upaya mencari orang tua kandung juga sedang ditempuh Nani Keizer. Lahir di Jakarta pada 1982, Nani diadopsi sebuah keluarga Belanda yang tinggal di Zwolle, Overijssel, Belanda. Orang tua angkat Nani mengadopsi dua anak. Selain Nani, ada seorang anak dari Sri Lanka yang umurnya dua tahun lebih muda dari Nani.

 

Nani bercerita, ia sempat mengalami krisis identitas karena fisiknya berbeda sama sekali dengan orang tua angkatnya. Sejak itu, Nani mencari tahu dan mulai mendapatkan informasi bahwa ia merupakan anak yang diambil dari sebuah keluarga di Indonesia.

 

Pada 2018, Nani mulai mencari ibu biologisnya. Dia lantas bergabung dengan Yayasan Ibu Indonesia. Bersama para pekerja di yayasan itu, Nani mulai melacak latar belakang keluarga dari dokumen yang disimpan orang tua angkatnya.

 

Di tengah pencarian tersebut, Nani bertemu dengan seorang perempuan yang memiliki dokumen dengan data yang sama persis dengan arsip di tangannya. Nani dan perempuan ini kemudian menemui seorang ibu yang menurut dokumen di tangan mereka diterangkan sebagai orang tua kandung.

 

Ketiganya menjalani tes DNA. Hasilnya membuat Nani masygul. Mereka tak memiliki hubungan kekerabatan sama sekali berdasarkan tes genetik itu. Nani menduga dokumen adopsi yang disimpan orang tuanya dipalsukan. “Satu-satunya data untuk mengetahui identitas saya rupanya tidak benar,” kata Nani.

 

Toh, Nani tak hilang semangat. Ia kini mengikuti roots journey sebagaimana yang dilakukan Harriet. Nani berharap suatu hari nanti dapat menemukan sampel DNA yang cocok dengannya.

 

Nani juga aktif bergiat di Yayasan Ibu Indonesia untuk membantu anak-anak Indonesia yang pernah diadopsi orang Belanda menemukan keluarga asal mereka. “Saya memberi semangat kepada sesama anak adopsi bahwa diri mereka dibentuk oleh pengalaman dan perjalanan hidup mereka hari ini,” ujarnya.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/pelacakan-anak-adopsi-orang-tua-belanda-2275203

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar