|
Gerilya Anak-anak
Adopsi Belanda Mencari Orang Tua Indonesia Francisca
Christy Rosana : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 12
Juli 2026
|
· Anak-anak Indonesia yang dulu diadopsi
keluarga Belanda sedang melacak orang tua kandung mereka. · Mereka mengandalkan dokumen adopsi yang
diberikan orang tua angkat. · Ada yang menjalani tes genetik untuk
mencocokkan DNA dengan anggota keluarga. DI
hadapan Joel Heiner, tubuh perempuan berselimut mantel berdiri dengan mata
berkaca-kaca pada Juli 2025. Di tengah udara sejuk Kota Brisbane, Australia,
Joel mendekap dengan hangat perempuan itu. Dialah Meite, ibu kandung Joel. Meite
berkali-kali memohon ampun kepada Joel. Kepala Joel rebah di pundak perempuan
itu. Keduanya lantas menangis dalam pelukan. Itulah pertemuan pertama Joel
dengan ibundanya setelah ia mencari-cari keluarganya selama bertahun-tahun.
“Ibuku meminta maaf dan menyebut keputusan melepaskanku adalah traumanya
seumur hidup,” ujar Joel kepada Tempo pada Maret 2026. Meite
melahirkan Joel di Surabaya, Jawa Timur, ketika kondisi keluarga tengah
terpuruk. Meite berpisah dengan ayah kandung Joel. Situasi yang rumit
mendorong Meite menyerahkan Joel yang baru berusia tiga bulan ke sebuah panti
asuhan di Kota Pahlawan yang kini tak ada jejaknya sama sekali. Panti asuhan
itu rupanya memfasilitasi orang tua dari sejumlah negara untuk mengadopsi
anak-anak dari Indonesia. Melalui
prosedur yang legal, Joel diadopsi sebuah keluarga yang berasal dari Kota
Woerden, Utrecht, Belanda. Joel diboyong famili barunya untuk hidup di
Belanda dan Amerika Serikat karena ayah angkat Joel merupakan evangelis yang
mewartakan Injil ke berbagai negara. Sejak
kecil, Joel menyadari bahwa fisiknya berbeda dengan anggota keluarga yang
lain. Orang tua dan saudara-saudaranya berkulit putih. “Namun mereka sangat
baik dan tidak membiarkan saya mengalami krisis identitas,” kata Joel. Joel
mengetahui bahwa ia merupakan anak adopsi dari sebuah keluarga di Indonesia
ketika tumbuh remaja. Ibu angkatnya memberi tahu bahwa orang tua biologis
Joel berada di sebuah kota di Pulau Jawa. Setelah
Joel menikah, sekitar sepuluh tahun lalu, ia baru mengetahui identitas
aslinya. Orang tua angkat Joel menyerahkan seberkas dokumen. Arsip itu
mencatat identitas asli Joel beserta latar belakang keluarganya. Dari dokumen
itulah Joel mengetahui identitas ibunda dan kota kelahirannya. “Saya
tiba-tiba punya koneksi yang lebih kuat dengan Indonesia,” tutur Joel, 45
tahun. Keinginan
melacak orang tua kandung pun muncul. Joel mulai menabung untuk menempuh
perjalanan ke Surabaya. Ongkos perjalanan dari Belanda ke Indonesia yang tak
murah membuat Joel berulang kali menunda keberangkatan. Namun
suatu hari, sebelum meninggal, orang tua angkat Joel memintanya segera
menyambangi Indonesia. Orang tua angkat itu meninggalkan warisan yang dipakai
Joel sebagai bekal menemui keluarga kandungnya di Surabaya. Pada
Juli 2025, hari yang ditunggu-tunggu tiba. Joel akhirnya menempuh perjalanan
dari Amsterdam ke Jakarta. Ia mengajak istri dan dua anaknya. Sesampai di
Jakarta, Joel bertolak ke Surabaya karena dokumen yang diberikan orang tua
angkatnya menyatakan ia lahir di ibu kota Jawa Timur itu. Joel tak
punya banyak informasi mengenai identitas ibundanya. Berbekal informasi yang
serba terbatas, Joel menyewa pemandu wisata dari agen perjalanan bernama Sama
Sama Tour and Travel. Ia mengelilingi Surabaya ditemani pemandu bernama Reza. Hari
pertama sampai di Surabaya, Joel diantar Reza menyusuri jalan
perkampungan—beberapa kilometer dari pusat kota. Ia tiba di depan sebuah
bangunan tua yang dindingnya berkelir kuning dan dipenuhi tanaman liar.
“Kondisinya seperti sudah lama tak dihuni,” kata Joel. Menurut dokumen adopsi
di tangan Joel, properti itu adalah alamat rumah ibunda Joel. Joel
berdiri termangu selama setengah jam di depan rumah yang pagarnya terkunci
itu. Namun ada orang-orang di dekat rumah tersebut yang mendatangi Joel dan
menanyakan keperluan Joel datang ke rumah itu. Reza, sang pemandu, membantu
menerjemahkan percakapan warga lokal dengan Joel. Joel
melihat orang-orang yang mendatanginya memiliki wajah dan kulit yang sama
dengannya. “Saya merasa nyaman,” ujar Joel. Percakapan penduduk kampung
dengan Joel mengundang orang banyak berkerumun, termasuk pengurus kampung. Pengurus
kampung itu kemudian membawa Joel ke sebuah rumah milik perempuan yang sudah
puluhan tahun tinggal di kampung tersebut. Berdasarkan penuturan perempuan
sepuh itu, kata Joel, Meite dan keluarganya sudah pindah rumah pada 1990-an. Perjalanan
mencari orang tua tak berhenti meski keluarga Joel telah pindah. Pemandu
wisata Joel mempertemukannya dengan Yayasan Ibu Indonesia. Yayasan nirlaba
yang berdiri pada 2019 ini membantu anak-anak Indonesia yang diadopsi orang
Belanda untuk melacak keluarga biologis mereka di Indonesia. Menurut
Joel, Yayasan Ibu Indonesia membantu melacak keberadaan keluarganya serta
memverifikasi data yang tertera dalam dokumen adopsi. Dari pelacakan itu,
Joel mengetahui bahwa ayah kandungnya telah meninggal pada 2018. Informasi
itu saja yang ia peroleh selama lima hari bervakansi di Surabaya. Joel
kemudian terbang ke Lombok, Nusa Tenggara Barat; dan Bali untuk berlibur. Pada
malam terakhir di Indonesia, tatkala berkemas dari Lombok menuju Bali, Joel
menerima panggilan telepon dari Reza, pemandunya selama di Surabaya. “Ada
kabar besar,” tutur Joel menirukan pesan pemandunya. Joel
bercerita, Yayasan Ibu Indonesia memberi kabar kepada pemandu Joel bahwa
Meite, sang ibunda, telah pindah ke Amerika Serikat. Pada 2004, Meite juga
pernah mencari Joel di Belanda, tapi kehilangan jejak. Setelah meninggalkan
Negeri Abang Sam, Meite bermukim di Australia. Klop sudah. Sebelum
mendapat kabar bahwa ibunya menetap di Australia, Joel memang akan bertolak
dari Bali ke Sydney untuk perjalanan bisnis. “Saya seperti tidak percaya
bahwa tujuan saya adalah negeri tempat ibu saya tinggal,” katanya. Joel
dengan segera mengubah tiketnya dari semula rute Denpasar-Sydney menjadi
Denpasar-Brisbane. Di
Brisbane, Joel akhirnya bertemu dengan ibu kandungnya. Membawa sebuah buket
bunga, Joel memeluk erat perempuan di depan mata yang ia cari selama
bertahun-tahun itu. “Setelah sekian lama, akhirnya kita bertemu,” ujar Joel
kepada Meite. Tangis keduanya seketika pecah. Pada
1970-1980, sedikitnya 4.000 anak Indonesia diadopsi orang Belanda. Beberapa
orang bisa melacak lagi keluarga mereka seperti Joel. Namun ada pula yang
belum berhasil bertemu dengan orang tua kandungnya. Salah satunya Harriet
Roebersen. Harriet,
lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 1980-an, diadopsi keluarga Belanda melalui
sebuah panti asuhan di Bandung. Ia kemudian diboyong keluarga barunya ke
Negeri Kincir Angin. Harriet
mulai mempertanyakan dokumen adopsinya ketika kabar pengiriman anak ilegal
dari Indonesia ke Belanda meledak di Belanda pada 2021. Pemerintah Belanda
waktu itu meminta maaf atas praktik adopsi massal yang dilakukan warganya dan
sebagian di antaranya terindikasi sebagai praktik adopsi ilegal. “Saya waktu
itu tak pernah berpikir akan mencari keluarga biologis saya,” tuturnya kepada
Tempo pada akhir Maret 2026. Keinginan
Harriet menelusuri keluarganya baru muncul pada 2023. Ia saat itu sedang
mencari pekerjaan baru sebagai tenaga kesehatan. Pekerjaan itu membawa
Harriet bertemu dengan organisasi nirlaba yang mendampingi anak-anak
Indonesia yang dulu diadopsi orang Belanda. Bergumul
dengan aktivitas organisasi itu beberapa waktu, Harriet mulai mempertanyakan
asal-usul keluarganya di Indonesia. Ia kemudian berjumpa dengan pengurus
Yayasan Ibu Indonesia yang membantunya mengikuti roots journey atau
perjalanan mencari latar belakang. Harriet
sudah pernah menempuh perjalanan ke Indonesia untuk mengenal tempat
kelahirannya pada 2023. Namun perjalanan itu tak membuahkan hasil karena
Harriet gagal menemukan orang tua kandungnya. “Itu adalah pengalaman yang
sangat emosional,” ujarnya. Harriet
tak berhenti mencoba meski gagal berjumpa dengan ibu kandungnya. Pada 2026,
ia menjalani tes asam deoksiribonukleat (DNA). Hasil uji genetik itu
menuntunnya pada informasi yang tersedia dalam bank DNA. Kata
Harriet, ada beberapa orang yang memiliki kecocokan genetik dengannya dalam
bank DNA. Rupanya, pemilik sampel genetik yang cocok dengan Harriet adalah
tante dan kemenakan biologisnya yang kini tinggal di Belanda. “Kami sedang
menjalani tes lanjutan untuk mengetahui DNA ini berasal dari garis ayah atau
ibu,” tuturnya. Upaya
mencari orang tua kandung juga sedang ditempuh Nani Keizer. Lahir di Jakarta
pada 1982, Nani diadopsi sebuah keluarga Belanda yang tinggal di Zwolle,
Overijssel, Belanda. Orang tua angkat Nani mengadopsi dua anak. Selain Nani,
ada seorang anak dari Sri Lanka yang umurnya dua tahun lebih muda dari Nani. Nani
bercerita, ia sempat mengalami krisis identitas karena fisiknya berbeda sama
sekali dengan orang tua angkatnya. Sejak itu, Nani mencari tahu dan mulai
mendapatkan informasi bahwa ia merupakan anak yang diambil dari sebuah
keluarga di Indonesia. Pada
2018, Nani mulai mencari ibu biologisnya. Dia lantas bergabung dengan Yayasan
Ibu Indonesia. Bersama para pekerja di yayasan itu, Nani mulai melacak latar
belakang keluarga dari dokumen yang disimpan orang tua angkatnya. Di
tengah pencarian tersebut, Nani bertemu dengan seorang perempuan yang
memiliki dokumen dengan data yang sama persis dengan arsip di tangannya. Nani
dan perempuan ini kemudian menemui seorang ibu yang menurut dokumen di tangan
mereka diterangkan sebagai orang tua kandung. Ketiganya
menjalani tes DNA. Hasilnya membuat Nani masygul. Mereka tak memiliki
hubungan kekerabatan sama sekali berdasarkan tes genetik itu. Nani menduga
dokumen adopsi yang disimpan orang tuanya dipalsukan. “Satu-satunya data
untuk mengetahui identitas saya rupanya tidak benar,” kata Nani. Toh,
Nani tak hilang semangat. Ia kini mengikuti roots journey sebagaimana yang
dilakukan Harriet. Nani berharap suatu hari nanti dapat menemukan sampel DNA
yang cocok dengannya. Nani
juga aktif bergiat di Yayasan Ibu Indonesia untuk membantu anak-anak
Indonesia yang pernah diadopsi orang Belanda menemukan keluarga asal mereka.
“Saya memberi semangat kepada sesama anak adopsi bahwa diri mereka dibentuk
oleh pengalaman dan perjalanan hidup mereka hari ini,” ujarnya. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/pelacakan-anak-adopsi-orang-tua-belanda-2275203 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar