|
Basa-basi Safari Politik Jokowi via PSI Jannus
TH Siahaan : Doktor
Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. |
KOMPAS.COM, 18 Juni 2026
|
RENCANA mantan Presiden Joko Widodo untuk turun gunung dan
berkeliling ke 38 provinsi demi mendongkrak perolehan suara Partai
Solidaritas Indonesia (PSI) mengonfirmasi anomali besar dalam lanskap politik
nasional. Alih-alih menjadi potret konsolidasi yang matang, safari politik
ini lebih menyerupai strategi keputusasaan dari dinasti politik yang sedang
cemas kehilangan jangkar pengaruhnya. Langkah ini sekaligus menelanjangi rapuhnya fondasi institusional
PSI yang sejak awal berdiri gagal menyapih diri dari ketergantungan akut pada
figur tunggal. Ketika partai politik yang mengeklaim diri sebagai wadah kaum
muda dan progresif harus menyandarkan nasibnya pada sisa-sisa daya pikat
seorang pensiunan penguasa, di sanalah kritik atas kegagalan pelembagaan
partai harus dimulai. Bagi PSI, Joko Widodo bukan hanya mentor politik atau kompas
ideologis, tapi episentrum dari seluruh narasi eksistensi partai. Gejala kelangkaan figur internal yang memiliki daya pikat
elektoral organik memaksa partai ini mengambil jalan pintas dengan
mempersonalisasikan struktur kepemimpinannya demi trah biologi sang mantan
presiden. Pengangkatan Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum hanya dalam
hitungan hari setelah bergabung menjadi penanda paling vulgar dari hilangnya
meritokrasi internal. Jargon tegak lurus bersama Jokowi yang terus didengungkan menjadi
bukti bahwa partai ini tidak bertumpu pada kekuatan gagasan, basis kader akar
rumput yang militan, atau program kerja yang membedakannya secara substansial
dari partai lain. PSI terjebak dalam model personalisasi politik ekstrem yang
membuat masa depan organisasinya sangat rentan runtuh begitu figur utama yang
mereka dewa-dewakan tidak lagi berada di puncak kekuasaan. Baca juga: Generasi Muda Mulai Lelah dengan AI Masalah mendasar dari strategi safari nasional ini adalah
pengabaian terhadap hukum penyusutan hasil elektoral setelah seorang pemimpin
melepaskan jabatannya. Peluang untuk mengonversi sisa-sisa suara pendukung fanatik
Jokowi pasca-2024 tergolong sangat berat karena hilangnya instrumen kekuasaan
struktural. Selama sepuluh tahun memimpin, daya pikat elektoral Jokowi
disokong secara masif oleh instrumen negara, mulai dari distribusi bantuan
sosial yang masif, instruksi kepada aparat teritorial, hingga kendali atas
penentuan kebijakan strategis. Ketika semua fasilitas koersif tersebut lepas, kedatangan sang
mantan presiden di daerah-daerah tidak lebih dari sekadar tontonan nostalgia
kultural belahan jiwa masa lalu. Memindahkan basis massa yang nasionalis-tradisional dari
partai-partai besar ke partai gurem membutuhkan lebih dari sekadar lambaian
tangan dan swafoto seorang purnatugas. Realitas pahit ini terpampang jelas jika menengok rekam jejak
elektoral PSI dalam dua pemilu terakhir yang secara konsisten gagal menembus
ambang batas parlemen empat persen. Pada Pemilu 2019, PSI hanya meraup 2,65 juta suara atau sekitar
1,89 persen. Alih-alih berbenah dan membangun akar rumput yang mandiri, PSI
justru melipatgandakan taruhannya pada Pemilu 2024 dengan memasang baliho
raksasa bertuliskan "PSI Partai Jokowi" di seluruh penjuru negeri. Hasilnya tetap berujung pada kegagalan di tingkat nasional, di
mana mereka hanya meraih 4,26 juta suara atau 2,81 persen. Meskipun ada pertumbuhan kursi di tingkat DPRD Provinsi, seperti
lonjakan di wilayah Nusa Tenggara Timur dan Papua, perluasan itu terjadi di
kantong-kantong wilayah yang secara kultural fanatik terhadap Jokowi, bukan
karena keberhasilan penetrasi ideologi partai. Pergeseran ini menegaskan bahwa PSI hanya mampu memanen suara di
tempat di mana bayang-bayang personal Jokowi masih tersisa, sementara di
pusat-pusat pertumbuhan urban yang menjadi modal awal mereka di Jakarta,
perolehan suaranya cenderung stagnan. Kegagalan berulang PSI dalam pemilu legislatif mengonfirmasi
absennya efek ekor jas yang otomatis. Ada perbedaan mencolok antara modal
politik personal Jokowi dan realitas jaringan partai penyokongnya pada
Pilpres 2014 dan 2019. Kemenangan besar Jokowi dalam dua Pilpres tersebut digerakkan
oleh mesin politik raksasa dari partai-partai mapan seperti PDI Perjuangan,
Golkar, dan PKB yang memiliki basis sosiologis yang mengakar kuat. Pemilih di Indonesia mempraktikkan pembelahan pilihan politik
secara tegas, di mana mereka memilih Jokowi sebagai presiden, tapi loyalitas
legislatif mereka tetap kembali ke partai asal masing-masing. Narasi elitis PSI yang pada pemilu-pemilu sebelumnya sering
menyerang partai nasionalis lain justru menciptakan antipati di kalangan
pemilih loyal Jokowi yang berada di partai-partai besar tersebut. Pemilih menyadari bahwa Jokowi secara formal bukanlah kader,
apalagi pemilik sah dari PSI, sehingga seruan untuk mencoblos partai ini
dianggap sebatas angin lalu di bilik suara. Baca juga: Siapa yang Membiarkan Sell Indonesia? Melalui lensa teori pilihan rasional, misalnya, rencana safari ke
38 provinsi ini memikul beban biaya fisik dan psikologis yang sangat tinggi
bagi seorang mantan presiden, sementara manfaat elektoral yang dihasilkan
belum tentu sebanding. Bagi keluarga atau trah politik Jokowi, mengamankan PSI sebagai
sekoci politik mandiri merupakan hal rasional jangka panjang agar tidak terus
didikte atau bergantung pada belas kasihan partai-partai besar di koalisi
pemerintahan baru. Langkah ini patut dibaca sebagai pemenuhan beban moral politik
keluarga untuk menyelamatkan karier politik sang anak bungsu yang telanjur
basah memimpin partai tanpa kepastian lolos ke Senayan. Namun, politik praktis tidak digerakkan oleh ikatan emosional
keluarga semata, melainkan oleh kalkulasi insentif yang nyata dan terukur. Dalam pendekatan klientelisme dan jaringan patronase, misalnya
lagi, efektivitas metode blusukan sangat bergantung pada ketersediaan sumber
daya material. Tanpa adanya otoritas legal untuk memobilisasi birokrasi,
menggerakkan pejabat kepala daerah, atau menyalurkan anggaran negara,
kedatangan Jokowi tidak memiliki daya tawar yang memaksa. Jaringan relawan yang dulu militan terancam mengalami pragmatisme
ketika sang patron tidak lagi berada di puncak kekaisaran birokrasi yang
mampu mendistribusikan keuntungan politik secara langsung. Massa mungkin akan tetap datang berbondong-bondong memenuhi
lapangan untuk melihat sang mantan presiden karena faktor popularitas masa
lalu. Namun, popularitas tersebut tidak akan pernah otomatis bermutasi
menjadi suara di dalam kotak TPS jika PSI tidak mampu menyediakan calon
legislatif lokal yang kuat secara logistik dan sosiologis di daerah pemilihan
masing-masing. Pengenalan figur semata-mata tidak pernah sama dengan keputusan
politik untuk mencoblos. Melihat kalkulasi yang rumit tersebut, masa depan kolaborasi
politik antara Jokowi dan PSI hingga Pemilu 2029, tampaknya akan menghadapi
tembok tebal realitas. Skenario yang paling mungkin terjadi adalah stagnasi dan
pemantapan posisi PSI sebagai partai gurem yang abadi. Jika PSI tetap mengandalkan metode jualan figur tunggal yang
bergerak tanpa dukungan instrumen kekuasaan negara aktif, suara partai ini
diproyeksikan akan kembali tertahan di kisaran dua hingga tiga persen,
menjadikannya penonton di luar Senayan untuk ketiga kalinya. Safari ke puluhan provinsi hanya akan menguras energi logistik
yang sangat besar tanpa hasil maksimal seiring memudarnya magnitudo politik
seorang mantan pemimpin dan munculnya episentrum kekuasaan baru yang memegang
kendali penuh atas arah politik nasional saat ini. Baca juga: Pak Marhaen dan Office Boy Variabel penyelamat PSI sesungguhnya tidak lagi berada di tangan
Jokowi yang sudah purnatugas, tapi sejauh mana Wakil Presiden Gibran
Rakabuming Raka mau dan mampu menyusupkan kepentingan PSI ke dalam struktur
kekuasaan aktif yang dipegangnya. Dalam konteks ini, safari politik Jokowi hanyalah berfungsi
sebagai pembuka pintu aspek kultural yang bernada nostalgia, sementara
eksekusi strukturalnya tetap membutuhkan jejaring kekuasaan aktif yang
memegang otoritas negara. Jika investasi politik melalui safari nasional ini terbukti
merugi dan gagal mendongkrak elektabilitas secara signifikan, trah politik
Jokowi pada akhirnya harus realistis untuk melakukan negosiasi ulang atau
fusi dengan partai nasionalis lain yang lebih mapan demi menyelamatkan
eksistensi politik mereka. Dengan kata lain, rencana keliling Indonesia ini pada akhirnya
akan menjadi ujian akhir apakah pesona personal seorang mantan penguasa masih
memiliki taji di hadapan sistem politik yang kian pragmatis dan
transaksional. ● |
Sumber
: https://nasional.kompas.com/read/2026/06/18/07300061/basa-basi-safari-politik-jokowi-via-psi?page=all#page2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar