|
Satuan
Para Penikmat Gizi Anton Septian : Redaktur Eksekutif Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 05 Juli 2026
|
· Dalam hal kebijakan publik, para
Panglossian menganggap pemerintah selalu beriktikad baik sehingga setiap
kebijakan pasti bertujuan baik pula. · Sejak awal, desain program MBG
menyediakan banyak celah untuk korupsi dan pemborosan anggaran. · Presiden Prabowo Subianto sebenarnya
sudah mengetahui bahwa MBG bermasalah, tapi membiarkan dulu sebelum
membenahinya. DALAM
novelnya, Candide, Voltaire memunculkan karakter Profesor Pangloss, filsuf
yang kelewat berprasangka baik. Pangloss berkeras bahwa yang dialami setiap
orang adalah takdir terbaiknya, walaupun orang tersebut menghadapi
penderitaan yang parah. Dalam satu kondisi, optimisme Pangloss mirip dengan
fatalisme yang menyerahkan diri pada nasib yang tak bisa diubah. Dalam
hal kebijakan publik, para Panglossian menganggap pemerintah selalu
beriktikad baik sehingga setiap kebijakan pasti bertujuan baik pula.
Seolah-olah para pengambil kebijakan adalah malaikat yang tak pernah alpa.
Kenyataannya, selain diputuskan oleh makhluk yang daif bernama manusia,
banyak kebijakan lahir dari kondisi yang tidak ideal. Michael
Howlett dan kawan-kawan dalam Bad Public Policy: Malignity, Volatility,
and the Inherent Vices of Policymaking mengkritik studi kebijakan yang
terlalu optimistis seperti keyakinan para Panglossian. Menurut Howlett dan
kawan-kawan, suatu kebijakan disebut buruk bukan semata-mata karena gagal
mencapai target, melainkan juga lantaran desain awal, niat, proses, hingga
hasilnya memang menyimpang dari kepentingan publik. Karena
itu, pernyataan Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Pandjaitan bahwa
makan bergizi gratis (MBG) adalah program yang baik tapi pelaksanaannya saja
yang bermasalah jelas keliru. Sejak awal, desain programnya menyediakan banyak celah untuk
korupsi dan pemborosan anggaran. Penggunaan
yayasan sebagai mitra proyek memunculkan praktik penerima manfaat (beneficial
owner). Nama mantan Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, dan dua
wakilnya, Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya, tak tertera di atas kertas, tapi
merekalah penerima manfaat sesungguhnya. Belakangan,
setelah liputan kami pada Juni 2026 mengungkap kaitan mereka dengan sejumlah
dapur MBG, Kejaksaan Agung mengatakan yayasan yang terafiliasi dengan mereka
mendapatkan insentif miliaran rupiah setiap hari. Lalu
tiadanya indikator kelayakan yang transparan menyebabkan jual-beli titik
dapur MBG marak. Buruknya tata kelola membuat kuota satuan pelayanan
pemenuhan gizi atau SPPG dan sebarannya dengan mudah dibengkakkan dari target
awal 21 ribu menjadi 27.877 titik. Kelebihan
ribuan dapur fiktif ini sengaja dibuat demi menyerap insentif operasional
yang diberikan secara pukul rata, tanpa basis data yang akurat. Menurut
Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan, pemborosan insentif mencapai Rp 1
triliun tiap bulan. Belum
lagi pengadaan nonpangan yang diklaim sebagai sarana pendukung MBG, seperti
ribuan sepeda motor listrik, televisi dan tablet, serta sepatu. Dalam
hal ini, Presiden Prabowo punya andil karena menerbitkan Peraturan Presiden
tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang menjadi landasan bagi
penunjukan langsung dalam pengadaan bernilai besar lantaran merupakan program
prioritas pemerintah dan arahan Presiden. Mekanisme pengadaan di luar
kelaziman inilah yang menyebabkan korupsi dalam proyek MBG rentan terjadi. Menurut
Luhut, pelaksanaan MBG semestinya dilakukan secara bertahap, didahului dengan
proyek rintisan. Berbagai masalah mencuat lantaran proyek dijalankan
terburu-buru. Sekarang, kata Luhut, MBG sudah baik, tinggal dipoles
kanan-kiri. Pernyataan
Luhut mewakili kaum Panglossian. Jika kita berbaik sangka, mereka adalah
orang-orang yang naif, yang menaruh prasangka bahwa program ini memang
bertujuan memperbaiki gizi anak-anak. Tapi jangan lupa ada juga yang
mendukung MBG karena program ini memberikan keuntungan pribadi atau dapat
digunakan untuk mencari muka di depan Prabowo. Dalam
sebuah siniar, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan Presiden
Prabowo Subianto sebenarnya sudah mengetahui bahwa MBG bermasalah, tapi ia
membiarkan dulu sebelum membenahinya. Jika
memang sudah lama mengetahuinya, tak semestinya Presiden membiarkan masalah
dalam proyek itu menggelembung sampai pecah. Makin lama dia membiarkan, makin
banyak duit negara yang lesap. Sampai
di sini kita bisa memahami mengapa MBG merupakan program yang buruk dari
ujung ke ujung. Bahkan untuk memperbaikinya perlu ada korupsi besar-besaran
yang terbongkar lebih dulu. ● Sumber :
https://www.tempo.co/prelude/sampul-tempo-satuan-para-penikmat-gizi-2273676 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar