|
TI: Korupsi Bukan
Mesin Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Friski Riana : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 12
Juli 2026
|
· François Valérian menyatakan
pemberantasan korupsi mendukung pertumbuhan ekonomi. · Ia menilai Patriot Bond atau Merah
Putih Bond rawan menjadi medium pencucian uang. · Menurut dia, penguasa tak bisa
mereformasi diri sendiri tanpa ada tekanan dari warga negara. TERPILIH
sebagai Chair of Transparency International pada 2023, François
Valérian menghadapi tantangan dalam memimpin sekitar 100 kantor cabang pegiat
antikorupsi itu. Dalam beberapa tahun terakhir, misalnya, dua kantor
organisasi nirlaba tersebut di Rusia dan Venezuela mendapat represi dari
aparat pemerintah setempat. Di
Venezuela, sejumlah staf teknologi informasi meninggalkan negara itu setelah
Nicolás Maduro memenangi pemilihan umum yang diwarnai berbagai kecurangan
pada Juli 2024. Eksodus itu bertujuan menghindari penangkapan oleh penguasa
Venezuela. Rezim Maduro—yang diculik pemerintah Amerika Serikat pada Januari
2026—keras kepada masyarakat sipil. Di Rusia
tak jauh berbeda. “Ada banyak negara yang tidak memiliki ruang bagi
masyarakat sipil,” kata Valérian saat berkunjung ke kantor Tempo di Jakarta
pada Kamis, 25 Juni 2026. Warga negara Prancis itu datang bersama Sekretaris
Jenderal Transparency International Indonesia J. Danang Widoyoko. Dalam
wawancara selama sekitar satu setengah jam dengan tim Tempo, Valérian
mengungkapkan kekhawatirannya terhadap pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK). Tak hanya di Indonesia, lembaga antirasuah di banyak negara turut
kehilangan sumber daya dan independensi mereka. Dia juga
menyampaikan pandangan terhadap kebijakan populis Presiden Prabowo Subianto
dan kritik atas Patriot Bond, obligasi yang akan membuat pembelinya bebas
dari hukuman pidana. Doktor sejarah dari Université Paris Nanterre, Prancis,
itu juga membahas tren pemusatan kekuasaan yang terjadi di banyak negara,
termasuk Indonesia. Transparency
International turut mendorong pembentukan KPK. Anda melihat terjadi pelemahan
KPK? Pelemahan
KPK memang sudah lama menjadi perhatian dan dikritik Transparency
International Indonesia selama bertahun-tahun. Ini juga kekhawatiran kami di
banyak negara. Lembaga antikorupsi kehilangan sumber daya dan
independensinya. Padahal mereka membutuhkan sumber daya manusia dan anggaran
yang memadai serta kebebasan dari campur tangan politik. Salah
satu alasan pelemahan adalah KPK dianggap menghambat investasi dan
pembangunan.... Pemberantasan
korupsi justru baik bagi pertumbuhan ekonomi, bukan sebaliknya. Korupsi bukan
mesin penggerak atau bahan bakar pertumbuhan ekonomi. Jika perekonomian
dibangun di atas praktik korupsi, mungkin akan ada banyak proyek terlaksana.
Tapi proyek tersebut belum tentu bermanfaat untuk masyarakat. Di berbagai
negara, ada banyak proyek infrastruktur yang akhirnya tak memberikan manfaat
untuk rakyat. Pelemahan
lembaga pemberantasan korupsi juga terjadi di negara lain? Dalam
tiga dekade terakhir, kami bersama organisasi masyarakat sipil, media
independen, dan pemerintah yang memiliki niat baik cukup berhasil mendorong
lahirnya berbagai aturan serta lembaga antikorupsi seperti KPK di Indonesia.
Faktanya, di sebagian besar negara di dunia terdapat kesenjangan yang sangat
besar antara aturan dan kenyataan di lapangan. Kini tuntutan kami adalah
semua perangkat tersebut benar-benar berfungsi dengan semestinya. Apa yang
dapat dilakukan masyarakat sipil dengan melemahnya lembaga seperti KPK? Yang
paling penting adalah mobilisasi masyarakat sipil yang damai. Sangat penting
organisasi masyarakat sipil dan media dapat menjalankan tugas mereka,
memberikan informasi kepada publik serta meningkatkan kesadaran soal
pentingnya isu-isu ini dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa kesadaran
masyarakat dan mobilisasi warga untuk menuntut perubahan, perubahan besar tak
akan terjadi. Indeks
Persepsi Korupsi (Corruption Perceptions Index/CPI) Indonesia terus turun.
Gejala apa ini? Kita
keliru kalau memandang Indeks Persepsi Korupsi semata-mata sebagai peringkat
negara. Seolah-olah ada negara berkinerja buruk, ada pula yang paling bersih.
Sebab, ada yang saya sebut sebagai “physics of dirty money”, hasil korupsi
mengalir dari negara dengan skor CPI rendah ke negara yang mendapat skor
tinggi. Pelaku korupsi senang mencuri uang di negara yang institusinya
relatif lemah atau tidak efektif, tapi mereka lebih suka menyimpan dan
menginvestasikan uang tersebut di negara-negara yang memiliki institusi yang
lebih kuat. Bagaimana
cara mencegah physics of dirty money? Semua
negara harus bekerja sama memerangi ekonomi korupsi yang bersifat global.
Setiap tahun sekitar US$ 1 triliun dicuri melalui praktik korupsi, kemudian
mengalir keluar dari sejumlah besar negara, lalu akhirnya diinvestasikan
hanya di segelintir negara. Bagaimana
para pemimpin global melihat persoalan korupsi saat ini? Saat
Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Melawan Korupsi, yang juga dihadiri
pemerintah Indonesia, diselenggarakan pada Desember tahun lalu, para pemimpin
negara berpidato. Ada kesan seolah-olah persoalan korupsi sudah selesai,
menjadi masa lalu, dan langkah mengalahkannya telah dilakukan. Tapi pada
kenyataannya tidak demikian. Yang benar-benar dibutuhkan adalah penegakan
hukum yang efektif. Namun persoalannya bukan hanya penegakan hukum. Lantas
apa? Penegakan
hukum hanya bisa berjalan jika didukung sistem politik yang punya mekanisme
checks and balances (pengawasan dan perimbangan). Konsentrasi kekuasaan tidak
menciptakan kondisi yang memungkinkan penegakan aturan berlangsung efektif
atau mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Anda tidak bisa melawan
penyalahgunaan kekuasaan dengan memusatkan kekuasaan. Saat ini
hampir semua partai merapat ke pemerintah.... Fenomena
ini terjadi di banyak negara di dunia. Ada tren pemusatan kekuasaan, dan itu
jelas tidak baik karena membuat semua sistem lebih rentan terhadap
penyalahgunaan wewenang. Kebebasan
ruang sipil di Indonesia juga menyempit.... Pada
dasarnya, kekuasaan tidak dapat mereformasi dirinya sendiri tanpa ada tekanan
dari warga negara. Itu mustahil. Akan selalu ada godaan menyalahgunakan
kekuasaan. Karena itu, kita membutuhkan ruang sipil yang sehat. Kami prihatin
melihat ruang sipil makin sempit di banyak negara. Apa
penyebab menyempitnya ruang sipil? Sampai
batas tertentu, di banyak negara, lembaga-lembaga dan pemerintahan demokratis
gagal memenuhi janji demokrasi, yaitu kekuasaan berada di tangan rakyat.
Kekuasaan seharusnya dijalankan untuk kepentingan rakyat, bukan buat
kepentingan pemegang kekuasaan. Ketika hal itu terjadi secara sistematis dan
mengakar, masyarakat akan kehilangan kepercayaan kepada institusi mereka.
Kaum muda jadi putus asa. Mereka merasa masa depannya telah dirampas. Bagaimana
dampaknya? Dalam
kondisi seperti itu, masyarakat bisa mulai tertarik pada solusi-solusi yang
bersifat otoriter. Mereka mungkin tertarik kepada tokoh atau politikus yang
mengatakan akan lebih baik dan efisien jika kekuasaan dipusatkan di tangan
segelintir orang atau hanya satu partai. Padahal kita tahu bahwa, dalam
jangka pendek, menengah, panjang, hal itu tidak akan berhasil karena yang
terjadi hanyalah pemusatan penyalahgunaan kekuasaan. Pemerintah
Indonesia menerbitkan Patriot Bond yang memberikan impunitas kepada
pembelinya. Apa risiko skema tersebut? Kita
harus sangat mewaspadai segala sesuatu yang berpotensi menjadi sarana
pencucian uang. Instrumen penting untuk mencegahnya adalah transparansi soal
beneficial owner atau penerima manfaat yang sebenarnya. Dengan begitu, kita
bisa mengetahui siapa di balik badan hukum yang membelinya sehingga obligasi
itu tak mengubah uang hasil kejahatan menjadi uang yang tampak sah.
Pemerintah pun harus mengutamakan transparansi soal utang yang dihimpun serta
menjelaskan proyek apa yang akan dibiayai dengan utang tersebut. Pemerintah
memang memperoleh dana, tapi pada akhirnya rakyat yang harus melunasinya. Transparansi
seperti apa yang perlu diterapkan agar Patriot Bond tidak rentan terhadap
konflik kepentingan? Harus
ada pelaporan keuangan yang memadai mengenai kondisi keuangan dan aktivitas
yang dijalankan entitas-entitas tersebut. Jika entitas-entitas itu terlibat
pengadaan barang dan jasa pemerintah atau ditugasi melakukan investasi publik
di bidang infrastruktur, proses tender harus berlangsung transparan, dengan
aturan yang jelas dan terbuka. Kontrak-kontrak publik yang dihasilkan juga
harus dipublikasikan dan diketahui masyarakat. Apa yang
akan terjadi jika prosesnya tidak transparan? Selalu
ada risiko terjadi pengaturan di balik layar. Orang yang sama pada dasarnya
berada di dua sisi meja, yaitu sebagai pengambil keputusan sekaligus pihak
yang memenangi kontrak. Mereka akan menaikkan harga (overpricing), tapi
memberi hasil yang jauh di bawah yang dijanjikan (underdelivering). Itulah persoalan
mendasar dalam korupsi ataupun konflik kepentingan. Merekalah yang memperoleh
kontrak dan mengambil keuntungan berlebihan dengan menaikkan biaya dan
mengurangi kualitas pekerjaan. Masyarakat menanggung kerugiannya. Program
populis Prabowo, seperti makan bergizi gratis, ditengarai menjadi ajang
korupsi. Apa penilaian Anda? Di Peru
pernah terjadi skandal besar yang berkaitan dengan program makanan gratis
yang terutama didistribusikan ke sekolah dan universitas di perdesaan,
termasuk di wilayah yang dihuni banyak masyarakat adat. Dalam kasus tersebut,
dana program itu dicuri. Korupsi sama sekali bukan kejahatan tanpa korban,
malah menciptakan sangat banyak korban. Yang paling parah terkena dampak
adalah kelompok masyarakat miskin. Yang paling rentan secara sosial adalah
mereka yang paling bergantung pada layanan publik dan penggunaan uang negara. Ada
pandangan bahwa pengawasan yang ketat akan memperlambat pelaksanaan program.
Anda sepakat? Kami
sering mendengar argumen tersebut. Sepuluh atau 20 tahun lalu, argumen bahwa
transparansi menghambat kecepatan mungkin lebih sulit dibantah. Pada era
digital saat ini, transparansi dan kecepatan sepenuhnya dapat berjalan
bersamaan. Dengan berbagai perangkat digital yang memungkinkan informasi
publik disampaikan secara cepat dan efektif, kita bisa tetap transparan
sekaligus efisien. Dengan mengandalkan teknologi informasi, konflik
kepentingan antara pengambil keputusan dan pemenang tender dapat dideteksi. Banyak
kasus korupsi terungkap di Indonesia. Apakah ini berarti penegakan hukum
berjalan baik atau sistem tata kelola pemerintahan masih sangat lemah? Itu
dilema yang selalu muncul ketika ada kasus korupsi besar. Menurut saya, kedua
pandangan tersebut benar. Yang paling penting, korupsi benar-benar ditindak.
Di banyak negara, kasus korupsi besar tak muncul bukan karena tidak ada,
melainkan lantaran masyarakat tak mengetahui korupsi yang terjadi. Karena
itu, selalu menjadi pertanda baik ketika kita melihat ada penyelidikan
terhadap kasus korupsi, terutama jika penyelidikan itu dilakukan secara
efektif. Di
banyak negara, seperti Indonesia dan Nepal, anak muda mulai makin aktif
merespons isu korupsi.... Beberapa
tahun terakhir, terjadi gerakan anak muda yang memicu revolusi. Di Sri Lanka
pada 2022, Bangladesh pada 2024, serta Nepal dan Madagaskar tahun lalu. Kita
bisa melihat bahwa, di negara-negara dengan tingkat korupsi sangat tinggi,
generasi muda merasa masa depan mereka dirampas. Dalam kondisi seperti itu
bisa saja muncul revolusi, meskipun tindakan tersebut bukan hal yang
diserukan Transparency International. Kami menjunjung prinsip non-kekerasan.
Namun jelas ada situasi ketika kaum muda merasa tidak memiliki pilihan selain
turun ke jalan. ● Sumber :
https://www.tempo.co/wawancara/korupsi-pertumbuhan-ekonomi-pembangunan-2275146 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar