Jumat, 04 November 2016

Tiga Kesesatan Warisan PKI

Tiga Kesesatan Warisan PKI
Taufiq Ismail;   Budayawan
                                                  REPUBLIKA, 27 Oktober 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dalam diskusi publik "Gerakan 30 September Hari Ini: Rekonsiliasi dan Sejarah Masa Depan" di kantor Para Syndicate, Jakarta, 30 September 2016, Asvi Warman Adam (peneliti LIPI dan sejarawan) memberi komentar dengan judul "Banyak Buku Sejarah Menyesatkan". Rujukan utama Asvi tentang buku-buku bertema kekerasan, yang mengambinghitamkan golongan komunis sebagai pelaku utamanya disebutkan buku "Ayat-ayat yang Disembelih" (AAYD) karya Taufiq Ismail. Dalam membaca nama penulis di buku itu saja Asvi sudah sesat. Buku AAYD itu, 260 halaman, penerbit Jagat, Oktober 2015, ditulis oleh Anab Afifi dan Thowaf Zuharon, bukan oleh Taufiq Ismail.

Kesesatan Asvi kedua yang lebih besar lagi adalah buku AAYD itu dikesankan cuma mengungkapkan, tragedi berdarah di tiga daerah (Brebes, Tegal, Pemalang) dalam revolusi sosial 1945 dengan seorang tokoh utama Kutil. Padahal, AAYD berupa kesaksian sejarah dengan memuat 42 nama dan peristiwa sepanjang 1945, 1948, sampai 1965, bukan satu nama Kutil saja.

Kesesatan Asvi ketiga adalah kalimat "mengambinghitamkan golongan komunis sebagai pelaku utama kekerasan". Padahal, masalah kekejaman dalam sejarah dunia, golongan komunis bukan kambing hitam yang jinak, melainkan algojo garang yang berlumuran darah.

Penelitian oleh VV Zagladin (1973), Ratanachaya (1996), Rudolph Rummel (1997), Chang dan Halliday (2000), Stephane Courtois (2000), dan Matthew White (2012) melaporkan keganasan Partai Komunis sedunia dengan korban 100 juta - 120 juta manusia mati selama 74 tahun (1917-1991) di 76 negara di dunia.

Penyebab kematian dahsyat itu adalah kelaparan akibat kegagalan program ekonomi negara-negara komunis, kemudian pembantaian terhadap rakyatnya sendiri yang antiideologi komunisme. Selama 74 tahun itu, 3.500 orang mati setiap hari tersebar di 76 negara.

Dalam sejarah dunia, tidak ada penyakit menular atau ideologi politik yang mengorbankan manusia sebanyak itu. Korban pembunuhan oleh Partai Nazi Hitler dan Partai Fasis Mussolini digabung, besarnya hanya seperlima korban pembunuhan oleh Partai Komunis Lenin, Stalin, Mao Tse-tung, dan Pol Pot itu.

Cara partai membunuh bangsanya sendiri ini yang dicontoh oleh Muso (1897-1948) yang dipraktikkannya di Madiun, sesudah dia memproklamasikan Republik Soviet Indonesia, 18 September 1948. Siapa sebenarnya Muso?

Sehabis PKI gagal berontak pada 1926, salah seorang pemimpinnya, Muso, lari ke Moskow 22 tahun lamanya berlindung di bawah Stalin. Di sana, dia saksikan bosnya membunuh 40 juta bangsa Rusia sendiri yang antikomunis. Ini kemudian ditirunya dengan patuh di Madiun, sekembali dia ke Indonesia.

Sebelum kudeta melalui proklamasi itu, bagaimana cara PKI memperkenalkan Muso kepada rakyat Madiun? Disiarkanlah kabar desas-desus bahwa Indonesia akan dipimpin oleh keturunan Nabi Musa, namanya Muso. Rakyat kebanyakan Madiun yang sangat sederhana dan lugu percaya pada kabar angin bohong PKI itu. Datanglah mereka berbondong-bondong ke rapat raksasa sebelum 18 September 1948 itu, melihat "Nabi" Muso berpidato.

Sehari sesudah kudeta dengan proklamasi Republik Soviet Indonesia, PKI menangkapi kiai, pemimpin masyarakat, tokoh-tokoh agama, dan menggiring mereka ke pinggir Kota Madiun. Di sana, sudah siap blumbang atau lubang besar. Tokoh-tokoh itu disembelihi di sana. Kekejaman berdarah dalam bentuk ini, baru pertama kali terjadi dalam sejarah Indonesia, dilaksanakan oleh Muso yang mengimpornya dari kebiadaban Stalin di Rusia.

Penyembelihan ini berlanjut ke 23 kota dan desa di sekitar Madiun. Presiden dan Wakil Presiden Sukarno dan M Hatta marah sekali, dan dalam pidato radionya menyuruh rakyat memilih Sukarno-Hatta atau Muso. Sementara pembantaian berlangsung, rakyat Madiun yang tadinya tertipu, berbalik jadi pro-RI dan melawan PKI.

Kudeta Republik Soviet Indonesia yang berlumuran darah ini berlangsung hampir tiga bulan lamanya, yang berhasil ditumpas Pemerintah RI. Muso dan Amir Syarifudin ditembak mati. Akan tetapi, trauma publik Madiun dan Jawa Timur berlangsung sangat lama. Noda sejarah ini ditutup-tutupi terus oleh pihak KGB (Komunis Gaya Baru) masa kini. Mereka cuci tangan habis-habisan dan gigih berusaha menghapusnya dari ingatan publik.

Belum pernah ada gagasan memperjuangkan hak asasi manusia untuk korban kudeta PKI di Madiun 1948 dan kejahatan pembantaian oleh Westerling di awal revolusi. Asvi dkk akan menjadi terkenal dan tidak tersesat bila dia melakukannya.

Namun, kalau tetap membela-bela KGB, dan tutup mata kepada hasil penelitian tujuh pakar internasional tentang pembantaian 120 juta manusia oleh Partai Komunis sedunia, yang akhirnya bangkrut total, Asvi akan memasuki kesesatan tahap keempat.