Selasa, 15 November 2016

Tidak Sekadar Menjadi Kampiun

Tidak Sekadar Menjadi Kampiun
Enny Sri Hartati  ;   Direktur Institute for Development of Economics and Finance
                                                    KOMPAS, 14 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Di antara negara anggota G-20, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2016 diproyeksi masih berada di urutan tiga besar dunia. Berdasarkan proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF), ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,9 persen, berada di bawah India (7,6 persen) dan Tiongkok (6,6 persen). Sementara negara-negara maju diperkirakan hanya mampu tumbuh di bawah 2 persen, seperti Inggris (1,8 persen), Jerman (1,7 persen), Amerika Serikat (1,6 persen), Perancis (1,3 persen), dan Jepang (0,5 persen). Bahkan, beberapa negara diperkirakan tumbuh negatif, yaitu Rusia (-0,8 persen), Nigeria (-1,7 persen), dan Brasil (-3,3 persen).

Sekalipun menjadi jawara ketiga di G-20, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru relatif tertinggal dibandingkan beberapa negara anggota ASEAN. Asian Development Outlook pada September 2016 memproyeksikan, terdapat lima negara anggota ASEAN yang mampu tumbuh di atas 6 persen pada 2016, di yakni Myanmar (8,4 persen), Kamboja (7 persen), Laos (6,8 persen), Filipina (6,4 persen), dan Vietnam (6 persen). Terdapat empat negara yang ekonominya di bawah Indonesia, yaitu Malaysia (4,1 persen), Thailand (3,2 persen), Singapura (1,8 persen), dan Brunei (1 persen).

Di tengah pelambatan ekonomi global, ada sejumlah negara tetangga yang masih mampu memanfaatkan peluang. Dengan demikian, mengambinghitamkan kondisi ekonomi global justru menghambat upaya memacu produktivitas. Indonesia sebaiknya mengoptimalkan seluruh potensi dalam negeri dengan mendorong dan mempercepat investasi di sektor riil.

Vietnam adalah kompetitor utama Indonesia dalam menarik minat investor. Banyak industri padat karya yang tertarik masuk ke Vietnam daripada Indonesia. Karena itu, kontribusi ekspor industri manufaktur Vietnam pada 2015 sudah mencapai 76,9 persen. Sementara ekspor industri manufaktur Indonesia baru 8,6 persen dari total ekspor karena 79,6 persen berupa ekspor komoditas dan 11,8 persen ekspor jasa.

Kinerja ekspor produk manufaktur tidak saja memiliki porsi yang kecil, tetapi juga menghadapi tekanan defisit neraca perdagangan. Sejak tahun 2007, defisit perdagangan produk manufaktur terus meningkat. Pasar Indonesia terus dibanjiri impor berbagai produk manufaktur, terutama dari Tiongkok. Penetrasi berbagai produk impor barang konsumsi berlangsung secara masif. Impor barang konsumsi pada Januari-September 2016 naik 12 persen selama setahun (yoy). Sementara impor bahan baku/penolong turun 9,8 persen selama setahun dan impor barang modal -12,66 persen.

Akibatnya, industri manufaktur hanya tumbuh 4,56 persen selama triwulan III- 2016, lebih kecil dari pertumbuhan ekonomi. Bahkan, deindustrialisasi tidak mampu dinafikan lagi karena porsi industri manufaktur menurun dan tinggal 19,9 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada triwulan III-2016.

Elastisitas pertumbuhan

Dampak deindustrialisasi sangat nyata mengurangi kualitas pertumbuhan ekonomi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ekonomi masih tumbuh 5,02 persen pada triwulan III-2016, tetapi tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan penciptaan lapangan kerja. Elastisitas pertumbuhan ekonomi terhadap penciptaan lapangan kerja menurun. Setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu menciptakan sekitar 170.000 lapangan kerja. Jika ekonomi hanya tumbuh 5 persen, lapangan kerja baru yang tercipta kurang dari 1 juta. Ini sangat jauh dari pertumbuhan angkatan kerja baru yang hampir mencapai 2 juta per tahun. Jika kondisi ini terus berlangsung, bonus demografi justru akan menciptakan beban pembangunan.

Karena itu, wajar jika penurunan angka pengangguran stagnan dan hanya menurun secara angka statistik pada Agustus 2016. Walaupun angka pengangguran terbuka turun menjadi 5,61 persen, jumlah pengangguran terbuka masih stagnan, yaitu 7,03 juta orang atau hanya turun 530.000 orang selama setahun. Bahkan, angkanya naik sekitar 10.000 orang dibandingkan Februari 2016.

Porsi sektor informal pada Agustus 2016 masih cukup besar, yakni 57,6 persen, sehingga jumlah angka pengangguran terselubung masih sangat tinggi. Jumlah pekerja yang bekerja di bawah 35 jam per minggu masih 32,23 juta orang (27,22 persen). Jika mengacu pada standar Organisasi Buruh Internasional (ILO) yang menyebut pengangguran untuk pekerja yang bekerja di bawah 35 jam per minggu, jumlah angka pengangguran di Indonesia masih 27,22 persen.

Upaya penciptaan lapangan kerja di sektor formal harus konkret dilakukan. Reindustrialisasi merupakan jawaban yang harus segera direalisasikan. Pemerintah sebaiknya tidak cukup hanya mengeluarkan 14 paket kebijakan ekonomi, tetapi juga harus secara konkret memenuhi kebutuhan infrastruktur dasar untuk merealisasikan investasi. Kawasan industri merupakan kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi. Ini terutama untuk pembangunan kawasan industri bagi berbagai hilirisasi industri dan pembangunan industri dasar.