Selasa, 01 November 2016

Sumpah Kreatif Pemuda

Sumpah Kreatif Pemuda
Sarlito Wirawan Sarwono ;   Guru Besar Psikologi UI, Universitas Pancasila, Universitas Persada Indonesia YAI, dan STIK/PTIK
                                                KORAN SINDO, 30 Oktober 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Malam itu Dinda pulang dengan wajah ceria. Ketika ditanya mamanya, dia bercerita bahwa dia baru pulang dari acara sebuah sekolah (SMA, bukan sekolah Dinda) yang kreatif banget.

Ada band-band dan penyanyi-penyanyi kondang, ada pameran karya-karya seni anak-anak sekolah itu sendiri, panitianya mengenakan pakaian yang didesain asyik banget, semuanya dengan gaya kekinian. Pokoknya Dinda puas banget deh, dari siang sampai malam, bersama teman-temannya (semuanya lepas jilbab, yang di sekolahnya sendiri wajib pakai), menikmati acara demi acara di sekolah yang menurut Dinda dan teman-temannya seru banget itu.

Mamanya kemudian bertanya, “Memangnya di sekolahmu sendiri tidak pernah dibuat acara seperti itu?” “Pernah mau dibikin, sudah dibentuk panitia, tetapi akhirnya gak jadi,” jawab Dinda. “Abis guru-gurunya rese, bukannya mendukung malah mempersulit,” imbuhnya. Contohnya panitia mau bikin koreografi untuk mengiringi penyanyi yang diundang dari luar. Penari-penari latar itu cowok semua, tetapi bercelana pendek ketat, waktu latihan langsung disuruh pakai sarung karena dianggap kurang pantas. Penyanyinya yang kebetulan memakai anting dan bertato disuruh copot anting dan pakai kemeja lengan panjang.

Penyanyi itu menolak, langsung pulang, dan akhirnya pentas dibatalkan, padahal panitia sudah bayar uang muka dari dana yang mereka kumpulkan sendiri. Usulan lain untuk mengadakan acara di car free day juga ditolak karena terlalu jauh dari sekolah. Sulit mengontrolnya. Akhirnya guru-guru mengusulkan kenapa gak bikin acara lomba baca Alquran saja? Kan lebih Islami? Tentu saja Dinda dan teman-temannya di panitia menolak. Apa serunya? Siapa yang mau nonton? Akhirnya panitia membubarkan diri dan angkatan Dinda tidak jadi bikin acara sekolah, deh.

Yang lebih menyebalkan lagi di sekolah itu, menurut Dinda, adalah guru agama yang setiap ngajar, yang dikatakannya tidak lain adalah bahwa Kristen itu kafir karena sudah dinyatakan dalam Alquran, sama seperti bahwa babi itu haram. Bahkan Dinda pernah ditegur oleh seorang bapak gara-gara dia menyeruput kopi Starbucks sambil menunggu lift.

Bapak itu (mungkin pengurus Yayasan, kata Dinda) menyuruh buang minuman yang sedang diseruputnya karena katanya minuman itu pro-gay. Dinda juga bukan orang yang pro-gay, tetapi dia minum karena kepengin saja, tidak ada hubungannya dengan gay. Jadi dia minum saja terus dengan santai sampai lift datang. Bapak itu masuk lift, Dinda nunggu lift yang berikutnya.

Di Indonesia, banyak sekali sekolah (biasanya sekolah-sekolah swasta) yang mempunyai misi tertentu, yang terbanyak memang yang membawa misi agama seperti sekolah Dinda dalam contoh di atas, tetapi juga ada yang membawa misi lain seperti SMA yang bertujuan untuk mencetak calon-calon taruna di akademi-akademi TNI atau kepolisian sehingga cara mendidiknya pun sangat militeristik. Terlepas dari misinya, yang penting adalah jangan sampai sekolah memasung kreativitas murid-muridnya. Dalam dunia yang berubah serbacepat ini, kemampuan berpikir kreatif jauh lebih penting daripada kecerdasan (IQ), apalagi ketaatan tanpa dipikir.

Di militer, ketaatan kepada atasan merupakan hal yang penting, khususnya pada anggota bawahan (pangkat prajurit atau Bintara), tetapi untuk perwira harus lebih banyak dilatih pemikiran yang kreatif untuk bisa memecahkan persoalan yang dihadapi. Kreativitas adalah melihat berbagai kemungkinan solusi atau pengembangan dari satu masalah yang ada. Adapun kecerdasan (IQ) adalah kemampuan untuk menentukan satu jawaban yang benar dari suatu masalah.

Misalnya semua orang yang terpelajar sehingga pandai tahu bahwa untuk menulis di kertas diperlukan bolpoin. Tapi orang yang kreatif bisa menemukan belasan atau bahkan puluhan kegunaan lain dari bolpoin seperti untuk membuka aqua gelas yang tertutup plastik yang sulit dibuka atau untuk mengorek kuping atau mengganjal komputer meja yang kakinya bergoyanggoyang atau isi bolpoin bisa untuk mencutik benda kecil tertentu yang berharga, yang kebetulan jatuh dan terselip di sela-sela meja dan seterusnya.

Dengan perkataan lain, kalau kecerdasan adalah berpikir mengerucut (konvergen), kreativitas adalah berpikir melebar (divergen). Berpikir divergen atau menjajaki berbagai kemungkinan adalah paradigma berpikir yang sekarang harus dikuasai generasi muda untuk menyongsong berbagai soal dan perubahan yang sedang dan masih akan terjadi. Bagaimana menghadapi perubahan iklim yang makin lama makin ekstrem? Bagaimana menemukan BBM alternatif yang makin lama makin berkurang persediaannya di dalam bumi?

Bagaimana menyikapi kemajuan teknologi komunikasi yang membuat anak kecil bisa melihat pornografi dari HPnya dan kaum radikal bisa menyusupkan ideologinya untuk menghilangkan Pancasila? Bagaimana kita mengatasi ledakan kependudukan yang mengancam ketahanan pangan bangsa ini? Dan masih banyak lagi yang semuanya harus dipecahkan dengan kreativitas, bukan dengan ketaatan tanpa alasan yang jelas seperti melarang siswa untuk minum Starbucks.

Dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2016, kita harus menyiapkan lebih banyak generasi muda yang kreatif walaupun tidak terlalu pintar daripada pemuda-pemuda pintar tetapi seperti robot-robot yang hanya mengikuti perintah saja.