Sabtu, 19 November 2016

Spiritualitas Keagamaan dan Kekuasaan

Spiritualitas Keagamaan dan Kekuasaan
Abdul Munir Mulkhan  ;   Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta;
Komisioner Komnas HAM 2007–201; Wasekjen PP Muhammadiyah 2000–2005
                                                  JAWA POS, 13 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake (Jawa) atau menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan (yang dikalahkan) acap melatari sikap politik penguasa Orde Baru. Kata hikmah yang populer pada masa Orde Baru itu sering menjadi rujukan para pihak dalam memahami praktik politik dan kekuasaan. Kalimat penuh nuansa spiritual, luas tanpa batas, tersebut penting dihidupkan kembali saat warga bangsa ini sedang berada dalam labirin turbulensi konflik berbau SARA yang amat sensitif.

Suatu saat, tidak lama sesudah hijrah, ketua kabilah di kawasan Makkah–Madinah, yang selama ini memusuhi Nabi Muhammad SAW, tertangkap tentara Islam ditahan di Madinah. Nabi memperlakukan tahanan itu secara istimewa dengan memberi mereka sarapan dari susu unta sang Rasul.

Setiap Rasul memberi sarapan, tahanan yang dikenal dengan nama Ibn Ustal itu terus menghina dan merendahkan dengan berkata, ”Hai Muhammad, tidak perlu kau bersusah payah berdakwah jika yang kaucari kekuasaan atau kekayaan. Tinggal minta kepadaku, akulah pemilik kekuasaan dan kekayaan sekitar Madinah ini!”

Hingga suatu hari, Rasul memerintahkan tahanan tersebut dibebaskan tanpa syarat. Melihat hal itu, Ibn Ustal terperanjat heran, tidak bisa memahami perlakuan Rasul yang aneh. Bagaimana mungkin, dirinya yang selama ini memusuhi dan terus menghina Rasul dibebaskan tanpa syarat. Ibn Ustal berpikir, Muhammad ini bukan manusia biasa.

Ibn Ustal pun ngeloyor meninggalkan Masjid Nabawi. Tiba di suatu oase, dia bersuci, berbalik kembali ke hadapan Nabi. Ibn Ustal berucap: ”Wahai Muhammad, selama ini tidak ada orang yang paling aku benci di dunia ini, kecuali engkau. Kini aku bersumpah, wallahi, tidak ada orang di dunia ini yang paling aku cintai, kecuali engkau.” Ibnu Ustal lalu membaca dua kalimat syahadat.

Kisah tersebut menjadi pelajaran berharga dalam menghadapi problem politik kebangsaan negeri ini. Perlakuan manusiawi, ngewongke (Jawa: memanusiakan) lebih sering mengubah seseorang secara radikal. Semua terbuka dan menjadi mungkin di hadapan Tuhan Yang Mahagaib.

Tuhan Yang Mahagaib, mengandaikan ketiadaan padanan kata yang bisa menjelaskan hakikat diri-Nya yang selalu dalam misteri (laista kamistlihi syai’un). Perbedaan dan pertentangan melebur menjadi satu saat bersentuhan dengan-Nya. Inilah puncak spiritualitas ketuhanan yang memungkinkan semua hal yang ada dalam alam kehidupan ini menjadi tak bermakna, kecuali diri-Nya sendiri.

Sayang, kita sering terperangkap cara pandang positivis, kehidupan dipahami sebagai wilayah materiil habis bagi. Akibatnya, praktik politik dan keagamaan menjadi beku, gagal memberi ruang para pihak yang berbeda. Klaim kebenaran sekelompok orang membuat tidak ada pihak lain yang boleh atau mendapat bagian dari kebenaran serupa. Praktik kekuasaan dan keagamaan materiil positivis membuat hidup kebangsaan dan keagamaan isolatif, terasing dari dirinya sendiri.

Sementara kehidupan adalah panta rei, bagai air mengalir tanpa putus dalam ranah spiritual tanpa habis bagi. Di sini semua orang tanpa batas bisa menempati wilayah yang sama, tanpa setiap pihak merasa dirugikan, terkurangi, dan tersisihkan.

Ketuhanan universal seharusnya bisa menjadi rumah bagi semua orang dalam beragam cara pandang dan praktik ritual. Tuhan Yang Mahabesar sama sekali tidak terkurangi secuil pun kebesaran-Nya tatkala ada segelintir manusia yang ingkar kepada-Nya. Kekuasaan politik berbasis ketuhanan seharusnya merupakan rumah bagi semua orang dalam beragam keyakinan keagamaan dan ideologi politik.

Kekuasaan politik bukan sekadar wilayah materiil menduduki jabatan presiden, menteri, gubernur, bupati, atau wali kota. Kekuasaan politik memerlukan ranah spiritual sebagai roh, sebagai energi yang membuat kekuasaan politik menjadi dinamis, indah, memiliki vitalitas dan daya hidup, pengikat komunitasnya. Menduduki jabatan bukan untuk membungkam lawan politiknya. Sebaliknya, kekuasaan adalah harmonisasi menyatukan beragam komunitas bagi tujuan kemanusiaan yang lebih besar dari sekadar kepentingan fisik materiil.

Bisakah yang menduduki jabatan politik memberikan tempat bagi siapa pun, ruang untuk berteduh? Bersediakah mereka yang meyakini sebagai calon ahli surga menyebarkan kesejukan surgawi bagi mereka yang ingkar? Melalui kesejukan surgawi itu, mereka yang ingkar bisa tersentuh sanubari kemanusiaannya untuk berubah menuju hidayah-Nya.

Sementara orang memandang pihak lain yang ingkar atau diduga ingkar harus dihukum atas keingkarannya. Namun, perlu disadari, kehidupan adalah wilayah terbuka bagi perubahan karena hanya Tuhan sendiri yang tetap dan abadi. Sejarah selalu bercerita tentang orang-orang yang berubah, misalnya kisah Ibn Ustal. Tidak sedikit sejarah yang mengisahkan orang-orang yang dikenal sebagai pelaku maksiat dan ingkar lalu berubah menjadi saleh. Kisah serupa bisa dibaca dalam dunia politik ketika sekelompok orang berubah menjadi pendukung lawan politiknya atau sebaliknya.

Spiritualitas kekuasaan dan keagamaan tidak hanya menyediakan ruang bagi semua orang untuk terlibat, tapi juga meniscayakan peluang perubahan bagi semua orang melalui proses beragam. Pendekatan dakwah lebih mengedepankan ruang pertobatan dan dialog daripada menempatkan pihak lain sebagai lawan yang harus dihancurkan.

Di sini pertanyaan ”bersediakah kita menyerahkan nasib mereka yang ingkar kepada hidayah Tuhan dengan tetap menjalin hubungan dialogis dengan siapa pun yang berbeda paham keagamaan dan cara pandang politiknya?” patut diajukan.