Rabu, 09 November 2016

Manusia dan Satwa

Manusia dan Satwa
Reza Indragiri Amriel  ;   Psikolog Forensik;
Pernah Bekerja di Center for Education, Research and Environmental Strategies
                                              KORAN SINDO, 07 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Hanya dengan melihat gerakan daun dan mendengar siulannya, aku bisa menembak burung yang tak terlihat langsung karena terhalang dedaunan.
Yang paling “fantastis” adalah tatkala aku membedil kelelawar yang menggelantung di ruas daun kelapa di belakang rumah datukku. Hari itu, dengan senapan angin yang sebetulnya masih terlalu berat untukku, peluru yang kutembakkan berhasil melukai kelelawar itu. Beberapa tetes darahnya jatuh tak jauh dari kakiku.

Tapi makhluk mirip tikus terbang itu mampu bertahan di tempat tidurnya. Kutembak lagi, kelelawar itu bergerak, tetapi—lagi-lagi—ia tetap menggelayut kokoh. Tembakan ketiga, blar! Kelelawar jatuh ke tanah. Bak polisi-polisi di film, kuusik kelelawar itu dengan kakiku.

Tak ada tanda-tanda kehidupan. Masih dengan kakiku, kubalik tubuh kelelawar itu, kusibak kedua sayapnya, dan di detik itulah penghargaanku terhadap kehidupan berbalik arah! Mataku menangkap seekor bayi kelelawar bergerak-gerak di perut induknya yang telah terkapar. Kubayangkan bayi kelelawar itu terganggu saat tengah asyik menyusu di tetek ibunya.

Pada detik itulah seolah kudengar ramai jeritan pilu dari balik daun-daun kelapa di atas kepalaku. Ribuan malaikat pun seakan seketika itu pula terkulai di lutut mereka dan, dari atas awan, menumpahkan desah tangis ke dua kelelawar itu sekaligus menyemburkan sumpah serapah ke diriku. Aku terpaku. Tak lama, bayi kelelawar itu akan menyusul induknya terbang ke alam baka. Dan dengan senapan masih di tangan, aku tersentak.

Kesenanganku di siang bolong yang panas itu dalam tempo singkat telah membuat seekor induk kelelawar kehilangan napasnya dan seekor bayi kelelawar menjadi yatim piatu lalu mati pelanpelan karena tak lagi bisa mengisap susu induknya. Di kemudian waktu, kubaca di sebuah buku, salah satu penanda kepribadian psikopat adalah suka menyiksa binatang pada masa kanak-kanak.

Killing for fun, menjadikan aksi mencabut nyawa sebagai sebuah hobi, sungguh tidak ada budi perangai yang lebih biadab daripada itu! *** Bukan sekali dua kaliku berpapasan dengan orang-orang yang menikmati sore sambil menenteng- nenteng senapan angin. Burung-burung yang pulang ke sarang adalah incaran mereka.

Bukan sekali dua kali pula dengan geledek yang sambar-menyambar di kepala, kuhampiri pemburu-pemburu kampungan itu dan kutanya, “Burungnya akan dipelihara?” Mereka menggeleng. “Atau mau dimakan?” Mulut mereka nyengir. “Lantas, kalau bukan untuk dipelihara atau untuk dimakan, akan diapakan? Mati, ditinggal begitu saja?” Para pembunuh itu merupakan gambaran kontras dengan seorang pelacur yang diriwayatkan masuk surga berkat jasanya menampung air dengan terompahnya kemudian memberikannya ke seekor anjing buduk yang kehausan.

Tengoklah bagaimana perempuan hina itu berikhtiar memperpanjang hidup makhluk yang nyaris mati, sedangkan para penembak burung tadi justru mempersingkat hidup makhluk yang sejatinya masih jauh dari mati.

Beberapa bulan silam, ketika jerebu mengurung sekian banyak wilayah di Indonesia, sebuah ajakan kusebar melalui sejumlah aplikasi ponsel cerdas.

Isinya sebatas mengingatkan bahwa akibat bencana asap, binatang- binatang di hutan pun ikut sekarat. Tragisnya, manakala satwa-satwa itu turun ke perkampungan untuk menyelamatkan diri, masyarakat justru panik bukan alang-kepalang. Hewan-hewan yang sesungguhnya tengah mencari pertolongan itu justru ditebas, ditembak hingga mati.

Apa respons yang kuterima? Tidak ada. *** Belum lama keluargaku memutuskan untuk mengadopsi anak orangutan. Sura namanya. Dengan jumlah hampir 7.000 orangutan Sumatera dan 36 ribuan orangutan Kalimantan, Sura menjadi 1 dari 25 jenis satwa yang dilindungi negara. Sura masih berusia empat bulan ketika terpaksa berpisah dari bundanya.

Sang bunda tidak terselamatkan, sementara Sura telah kehilangan tiga jari dan cedera parah ketika dievakuasi Borneo Orangutan Survival Foundation. “Adopsi” benar-benar sebuah pilihan kata yang melambangkan kedekatan relasi antara orangutan dan manusia. Walau diadopsi, Sura tetap tinggal di pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan sana.

Dengan mengadopsi Sura, keluargaku ikut serta membantu pemeliharaan dan—kelak—pelepasliaran Sura kembali ke rumahnya yang sesungguhnya, yaitu rimba belantara. Foto Sura, dengan jari-jarinya yang putus, kutayangkan di media sosial. Kububuhkan tulisan: Sura kini telah menjadi bagian dari keluarga kami.

Ya, keluarga; kesamaan genetika antara Sura dan kami mencapai 98%. Sisanya, 2%, termanifestasi pada rambut dan kemampuan bicara. Sayangilah yang ada di bumi, maka engkau akan dicintai oleh Yang di Langit.

Semoga kian banyak di antara kita yang terobsesi dengan janji Allah SWT itu. Aku membatin, bagaimana mungkin membunuh binatang dijadikan sebagai hobi? Bagaimana mungkin ada manusia-manusia yang seolah terobsesi ingin menghabisi binatang-binatang yang kusebut tadi? Hampir semua orang lupa betapa hukum Indonesia sesungguhnya memuliakan binatang.

Membunuh, menganiaya, menelantarkan binatang secara keji dan semena-mena adalah perkara serius yang diancam sanksi pidana. Bacalah Pasal 302 KUHP dan Pasal 21 UU 5/1990, jika tak percaya! Momen Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang jatuh pada 5 Oktober lalu harusnya bisa menjadi pengingat kita.

Ada sekian banyak peranti hukum lainnya yang hitam di atas putih menjamin kesejahteraan hewan. Tapi apa boleh buat, semua itu laksana macan kertas! Alhasil, persoalan paling mendasar tidak terletak pada peranti hukum.
Pembiaran terhadap para penganiaya hewan berurat berakar pada kesemena-menaan manusia dalam memanfaatkan predikatnya selaku sosok pilihan, khalifah, pemimpin. Akibatnya, binatang direndahkan, hak-haknya diabaikan, tanpa perlindungan, hidup matinya seakan sepenuhnya di tangan majikan. Pedih hati. Allahu alam