Sabtu, 19 November 2016

Kalkulasi Peluang Clinton dan Trump

Kalkulasi Peluang Clinton dan Trump
Ahmad Safril  ;   Pengajar sistem politik Amerika Serikat
pada Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Airlangga Surabaya
                                                  JAWA POS, 09 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PEMILIHAN presiden Amerika Serikat (AS) bakal berlangsung ketat. Indikasinya tampak dari hasil jajak pendapat terbaru yang dirilis sejumlah lembaga survei. Meski Hillary Clinton sempat unggul atas Donald Trump setelah memenangi ketiga debat calon presiden (capres) bulan lalu, jajak pendapat seminggu terakhir menunjukkan bahwa selisih suara mereka kian tipis. Artinya, peluang dua capres tersebut berimbang dan kemenangannya akan ditentukan keperkasaan mereka di swing states seperti Florida dan North Carolina.

Pada 5 November 2016, LA Times/USC Tracking melaporkan hasil surveinya yang mengunggulkan Trump lima poin di atas Hillary. Padahal, seminggu sebelumnya, posisi keduanya seimbang. Dalam survei ABC/The Washington Post (4/11), Trump yang sempat tertinggal enam poin kini merapatkan jarak menjadi dua poin. Walaupun Trump terus mengejar, Financial Times (5/11) tetap memprediksi Clinton terpilih sebagai presiden dengan suara 45 persen dibanding pesaingnya yang meraih 42,9 persen. Semua hasil survei terbaru menunjukkan bahwa posisi Clinton terancam oleh merangkaknya elektabilitas Trump.

Dukungan publik kepada Clinton dan Trump fluktuatif setelah keduanya saling serang atas aneka isu sensitif. Ketika Trump diserang karena komentar vulgarnya yang melecehkan perempuan, Clinton terancam kehilangan dukungan akibat skandal penggunaan server surat elektronik (surel) pribadi untuk kepentingan dinas semasa menjabat menteri luar negeri. Jika dikalkulasi, kendati Clinton memiliki peluang lebih besar, kans Trump tidak berarti tertutup. Di tengah kompetisi yang semakin ketat, segala kemungkinan masih bisa terjadi hingga bilik suara ditutup.

Peluang Clinton

Clinton memiliki peluang lebih besar lantaran kapabilitasnya sebagai pemimpin tidak perlu diragukan lagi. Tidak seperti Trump yang minim pengalaman politik, mantan ibu negara itu pernah menduduki berbagai jabatan bergengsi seperti senator New York (2001-2009) dan menteri luar negeri (2009-2013). Pengalaman panjang di kancah politik membuat politikus perempuan 69 tahun tersebut sangat memahami permasalahan yang dihadapi AS dan strategi mengatasinya. Berbagai tawaran kebijakannya dipandang publik lebih rasional daripada Trump yang cenderung emosional.

Karena itu, wajar jika Clinton panen dukungan. Sejumlah pemimpin berpengaruh seperti Presiden Barack Obama dan Menteri Luar Negeri John Kerry menyokong Clinton secara terbuka dengan terlibat langsung dalam kampanye. Untuk kali pertama dalam sejarah, Foreign Policy dan The Washington Post mendobrak tradisi independensi yang selama ini mereka tegakkan dalam setiap kali pemilu. Dua media terkemuka itu menyatakan keberpihakan mereka kepada Clinton. Dalam editorialnya pada 9 Oktober 2016, Foreign Policy memandang Clinton sebagai “…a quality candidate who is unquestionably well-prepared to lead this country”. Empat hari kemudian, The Washington Post menyatakan, “Hillary Clinton has the potential to be an excellent president of the United States and we endorse her without hesitation.”

Namun, segala kelebihan itu terancam upaya Biro Investigasi Federal (FBI) membuka kembali investigasi atas skandal surel Clinton. Sejak Direktur FBI James Comey mengungkap investigasi tersebut pada 28 Oktober 2016, dukungan kepada Clinton mulai terkikis. Pemilih yang sebelumnya mantap memilih Clinton berpikir ulang dan pemilih yang masih mengambang berpotensi mengarahkan suaranya ke Trump. Karena itu, peluang Clinton menjadi presiden bergantung pada seberapa mampu dirinya mengamankan suara pemilih Partai Demokrat yang cenderung kritis sekaligus meyakinkan pemilih mengambang bahwa dirinya layak memimpin AS.

Peluang Trump

Sikap rasis Trump dan rencana kebijakannya yang keras sebenarnya mengancam masa depan AS. Tetapi, mengapa taipan 70 tahun tersebut justru mampu meraup dukungan signifikan? Jawabannya, karena Trump berhasil memanfaatkan keresahan publik atas kemungkinan rontoknya kedigdayaan AS di panggung global.

Sebagian orang menganggap Obama telah gagal membangkitkan kejayaan AS. Pertumbuhan ekonomi negara itu stagnan di angka 2,9 persen sehingga rentan disalip Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi terbesar dunia yang pertumbuhannya mencapai 7 persen. Pergeseran orientasi kebijakan luar negeri AS ke Asia tidak membuahkan hasil seiring dengan kian dominannya Tiongkok di kawasan tersebut. Kala perhatian difokuskan ke Asia, di Timur Tengah ISIS justru semakin berkembang menjadi ancaman mengkhawatirkan. Dalam kondisi demikian, Trump yang muncul dengan slogan “Make America Great Again” dipandang sebagai jawaban atas kepemimpinan Obama yang lembek.

Setelah kecaman atas ucapan vulgarnya tertutupi isu surel pribadi Clinton, momentum sekarang berpihak kepada Trump. Apabila Trump sukses memanfaatkan skandal yang mengguncang Clinton untuk keuntungannya, suara pemilih mengambang akan mampu dia rebut. Namun, seberapa besar hal itu dapat meningkatkan suara elektoralnya sangat bergantung pada negara bagian mana yang dia menangi. Dalam hal ini, sebagai swing state yang menyumbangkan electoral vote terbesar, Florida bakal jadi penentu siapakah yang melenggang ke Gedung Putih.