Sabtu, 19 November 2016

Catatan Muram dari Amerika Serikat

Catatan Muram dari Amerika Serikat
Airlangga Pribadi Kusman  ;   Pengajar Departemen Politik FISIP Unair;
Direktur Center for Statecraft and Citizenship Studies Unair
                                                  JAWA POS, 15 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dari Iowa City, Amerika Serikat (AS), 9 November 2016, saya menyaksikan awan gelap menyelimuti mentalitas orang-orang yang berlalu-lalang pada pagi hari di tengah sinar matahari yang baru saja terbit dan angin dingin yang menyapa. Saat itu rombongan kami yang terdiri atas tiga perempuan –menggunakan hijab– dan kawan saya seorang laki-laki –mengenakan sarung– tengah menikmati sarapan pagi ketika seorang laki-laki kulit putih tiba-tiba datang dengan simpatik berkata, ”Saya sangat menyesal dan meminta maaf atas hasil pemilihan presiden tadi malam.”

Keprihatinan tersebut muncul dari kampanye presiden terpilih Donald Trump yang cenderung memprovokasi kebencian terhadap kaum berbagai identitas, salah satunya muslim. Kemuraman sepertinya melanda berbagai kota di negara bagian AS setelah kekalahan Hillary Clinton dalam pertarungan memperebutkan kursi presiden AS yang ditunggu-tunggu warga sejagat.

Bagi sebagian besar masyarakat AS, mereka seperti tidak lagi mengenal negara yang mereka cintai dan tinggali untuk saat ini serta ketakutan atas masa depan –setidaknya dalam jangka waktu empat tahun ke depan– tengah melanda.

Pertanyaan yang membuncah di hati mereka saat ini adalah bagaimana mungkin AS yang dikenal warganya sebagai negara yang dengan institusi demokrasi yang terlembagakan dan jejaring ikatan sosialnya mampu membangun kehidupan bernegara yang berkarakter multikultural, melindungi civil right tiap warga negara dari berbagai latar belakang sosial, tiba-tiba memilih seseorang seperti Trump yang mengampanyekan kebencian atas kaum imigran, membelah negerinya atas kaum pemilik AS dan kaum pendatang, serta menjanjikan kebesaran AS yang berdiri di atas ketertutupan dan pembatasan sosial dan ekonomi dalam hubungannya dengan negara-negara lain.

Tentu saja kenyataan pahit itu tidak jatuh begitu saja dari atas langit. Kekecewaan bercampur kecemasan yang saat ini melanda kaum imigran yang berjuang menyambung hidupnya dari komunitas muslim, Latin, Afrika, Arab, dan masyarakat secara umum yang bangga atas warisan kebebasan sipil negaranya memiliki riwayat panjang dan mencapai daya dorongnya semenjak krisis sosial ekonomi yang berlangsung pada 2008.

Sebelum menjelaskan pokok persoalan sosial dari realitas pahit di atas, mari kita membaca sejenak peta kekalahan Clinton kemarin. Kita akan menyaksikan kekalahannya berlangsung di beberapa basis sosial dari Partai Demokrat di negara bagian seperti Wisconsin dan Michigan. Serta di beberapa wilayah battleground negara-negara bagian yang menjadi perebutan keduanya dan pada Pemilu 2012 memilih Presiden Obama seperti Florida, Pennsylvania, dan Ohio, juga dimenangi Trump.

Suara Kelas Pekerja Kulit Putih

Ada apakah gerangan yang dapat kita pelajari dari kekalahan kubu Demokrat di wilayah-wilayah strategis tersebut? Mengapa Clinton gagal mempertahankan supremasi politik Demokrat dalam pilpres kali ini?

Satu kegusaran yang muncul sekitar minggu-minggu terakhir sebelum pemilihan presiden (namun tidak banyak dibicarakan secara terbuka) adalah kecenderungan kalangan kelas pekerja kulit putih untuk beralih dari Clinton kepada Trump. Demokrat yang selama ini telanjur dianggap sebagai partai yang mengusung visi egalitarianisme AS dan rumah kelas pekerja dan kaum marginal lainnya tidak berhasil mempertahankan benteng-benteng politiknya.

Seperti diutarakan jurnalis majalah dwimingguan The New Yorker George Packer pada edisi 31 Oktober 2016 di kolom panjangnya yang berjudul How the Democrats Lost the White Working Class, penyandingan dua istilah menjadi satu, yakni kelas pekerja dan kulit putih, tidak memiliki makna netral, tapi politis. Kaum kulit putih selama ini dianggap sebagai kalangan yang istimewa.

Namun, turbulensi kehidupan sosial yang melanda AS seusai krisis ekonomi telah mengubah gambaran tentang kelas pekerja dari kekuatan sosial yang produktif menjadi kelompok tertinggal dan mengalami pemiskinan sosial. Proses pemiskinan sosial skala masif dari kelompok pekerja kulit putih yang membuat mereka setara dengan kaum-kaum lainnya seperti komunitas masyarakat kulit hitam dan kaum imigran lain terjebak dalam persoalan kriminalitas, narkoba, gizi buruk, dan berbagai masalah sosial lainnya.

Krisis sosial di AS yang berlangsung sejak 2008 dan merambat sampai puncaknya pada 2010 menjadi keadaan yang begitu menyakitkan. Bukan saja bagi warga di pedesaan dan wilayah slum AS, tapi juga bagi kalangan kelas pekerja kulit putih tidak terdidik di sana. Semenjak 2008 banyak warga AS yang kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, dan sandaran pengaman hidup akibat krisis sosial.

Sementara di sisi lain mereka menyaksikan 1 persen dari orang-orang yang sangat kaya dan memiliki kuasa menikmati distribusi kesejahteraan yang berlimpah. Selain itu, distribusi kemakmuran dari lebih kurang 20 persen kelas menengah terbagi di antara kelompok beragam. Baik dari kalangan warga AS maupun imigran berpendidikan tinggi yang mencari kemakmuran ala American Dream.

Dalam keadaan seperti itu, kemiskinan sosial memang menjadi problem yang dihadapi secara merata. Meski demikian, bagi kalangan kelas pekerja kulit putih (tak terdidik) yang selama ini merasa dirinya menjadi pemilik sah AS, kenyataan pemiskinan sosial tersebut tak tertahankan.

Dalam realitas sosial politik sehari-hari, mereka merasa tersisih dan tidak bisa mengakses diskusi-diskusi dalam ruang publik kalangan terdidik yang membutuhkan political correctness terkait isu-isu kesetaraan, pluralisme, dan keadilan sosial. Sementara itu, ketika menoleh kepada partai politik, mereka menyaksikan para politikus tidak lebih menjadi bagian dari established oligarchy yang paling mendapat untung dari keadaan seperti ini.

Tidak mengherankan jika proses pemiskinan sosial membawa orang pada orientasi beragama yang fanatik, kebencian terhadap yang berbeda, dan mudah dimanipulasi tokoh-tokoh yang membakar emosi mereka dan mengalihkannya dari persoalan yang sebenarnya, yaitu keadilan sosial ekonomi. Benarlah titah Rasulillah Muhammad SAW bahwa kemiskinan cenderung pada kekufuran. Kondisi kemiskinan menghasilkan sekelompok besar masyarakat yang tertutup kesadaran nalar dan hatinya dari hikmah dan kebenaran.

Dalam kondisi seperti ini, Pilpres AS 2016 menjadi momen pemberontakan dari orang-orang kalap yang digiring kampanye khas populisme kanan yang mengambinghitamkan persoalan keterpurukan ekonomi pada kebencian atas rasial dan identitas kultural. Problem struktur ekonomi politik dibelokkan menjadi persoalan pengambilan jatah kemakmuran penduduk kulit putih AS oleh kaum imigran.

Dalam kondisi demikian, dari AS kita tengah menyaksikan sebuah masyarakat yang terbelah dan mudah-mudahan mereka dapat segera bangkit serta memperbaiki keadaan. Momen politik di AS kali ini sepertinya dapat menjadi cermin ”kaca benggala” bagi kita semua. Sebab, situasi sosial yang tengah mereka hadapi kali ini tidak asing bagi kondisi politik di Indonesia saat ini.