Senin, 07 November 2016

Busana

Busana
Sarlito Wirawan Sarwono  ;   Guru Besar Psikologi UI, Universitas Pancasila,
Universitas Persada Indonesia YAI, dan STIK/PTIK
                                              KORAN SINDO, 06 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Zaman sekarang jilbab sudah menjadi busana yang makin populer di Indonesia. Istri saya dan anak saya sekarang berjilbab, walaupun awalnya tidak. Cucu saya, yang sekarang kelas 3 SMA, berjilbab di sekolah, tetapi lepas jilbab ketika jalan-jalan di mal, apalagi kalau ikutan party di lingkungan teman-teman sebayanya.

Bahkan sekarang banyak saya lihat anak-anak perempuan yang masih di bawah umur sudah dijilbabi oleh orang tuanya, bahkan termasuk yang balita, padahal di Arab sendiri (yang konon adalah sumbernya busana jilbab ini) saya lihat sendiri, anak-anak perempuan bebas saja ke sana ke mari tanpa jilbab. Saya pun sudah melihat cadar masuk mal di Indonesia.

Disisi lain, perkembangan busana muslim ini berlaku juga bagi pria, yang makin lama makin banyak yang mengenakan celana ngatung, dengan sandal dan berjenggot (kasihanilah cowok-cowok yang tidak bakat berjenggot). Sebagai pengamat sosial saya melihat bahwa perkembangan model busana muslim yang sangat luar biasa ini terjadi sejak 1979, yaitu ketika Ayatullah (gelar ini otomatis berarti: Syiah) Khomeini, memenangkan revolusi di Iran, dan menjatuhkan kaisar yang berkuasa pada waktu itu, Shah Reza Pahlavi.

Walaupun sekarang Syiah dan Sunni bermusuhan dan saling membunuh, pada waktu itu kemenangan Khomeini, dianggap sebagai kebangkitan dan kemenangan Islam atas dominasi Barat. Maka sejak itu Islam pun mulai mencuat di segala bidang, dari bidang politik (beberapa pejabat publik di negara-negara Barat, termasuk Dubes Inggris untuk Indonesia adalah muslim) sampai terorisme, termasuk juga di bidang busana ini.

Sebaliknya, kalau saya mundurkan ingatkan saya ke zaman saya masih sekolah di SMP dan SMA di tahun 1950-an, tidak ada seorang cewek pun yang berjilbab. Tetapi yang berbusana you can see juga tidak ada. Busana standar remaja putri dan ibu-ibu muda pada waktu itu adalah rok panjang sampai ke betis dan busana atasan yang berlengan.

Penari serimpi dan penari Bali, dan pengantin-pengantin Jawa, biasa memakai kemben saja, karena itulah standar busana mereka. Di Makassar baju bodo, yang transparan, yang merupakan baju tradisional, dikenakan di acara-acara resmi atau setengah resmi. Semua itu sah-sah saja pada waktu itu, tidak ada yang protes, apalagi mau mengubah model busana.

Tidak seperti sekarang, di mana penari serimpi dan penari Bali (yang bukan orang Bali, muslimah, tetapi tetap ingin menari Bali) harus berbaju lengan panjang dulu, dan berjilbab, baru deh memakai busana kemben dan aksesori biasanya kepala. Saya yang sejak kecil biasa melihat penari serimpi atau wayang orang, jujur saja, merasa disonan melihat penari Pendet, penari Serimpi, bahkan srikandi wayang orang kok berjilbab.

Tetapi jangan salah. Kembali ke zaman saya SMP dan SMA, perempuan pakai celana (maksud saya celana panjang, bukan celana yanglain loh ) dianggaptabu, tidak sopan. Perempuanpakairok, lakilaki pakai celana, itulah busana yang baku. Kalau sebaliknya, perempuan pakai celana, dan lakilaki pakai rok, dianggap anomali (kelainan). Padahal, yang sekarang terjadi justru yang anomali itulah yang jadi standar.

Sejak tahun 1970-an celana mulai dikenakan wanita Indonesia dan hari ini hampir semua wanita Indonesia mengenakan celana panjang untuk kegiaatan sehari-hari, termasuk yang memakai jilbab pun memakai celana, agar mudah naik-turun kendaraan umum atau membonceng ojek. Anak-anak sekolah yang seragamnya rok panjang, sampai semata kaki, tetap memakai celana panjang di bawah roknya.

Bahkan ibu saya yang selagi muda selalu berkain batik ke mana-mana, di tahun-tahun akhir hayatnya malah pakai celana ke mana-mana. Dunia busana sudah bertukar zaman, apa yang dulu baik, sekarang dianggap tidak baik, sedangkan yang dulu tidak baik, sekarang malah disukai orang. Begitu juga dengan busana pria.

Di Skotlandia (saya pernah sekolah di Edinburgh pada 1972- 1973), pakaian tradisional lakilaki adalah tartan, yaitu sejenis rok, selutut, terbuat dari bahan wol bercorak kotak-kotak (setiap corak menunjukkan klan atau kelas tertentu), dan konon tidak memakai apa-apa di bawahnya (ini mesti dicek kebenarannya, karena saya tidak pernah membuktikannya secara kasatmata), dan busana ini dikenakan misalnya oleh resimen pengawal Ratu Inggris dari Skotlandia, lengkap dengan bag-pipe (seruling-tas)-nya.

Juga pria Arab menggunakan baju gamish, yaitu busana sejenis rok panjang semata kaki, berlengan panjang dan biasanya berwarna putih yang masih dikenakan sampai sekarang, termasuk oleh para bangsawan dan kaum elite di negara-negara Arab. Maka sulitlah kalau mau diterapkan salah satu hadis yang melarang laki-laki berbusana seperti wanita dan wanita berbusana seperti laki-laki.

Dizaman unisex sekarang, laki-laki memakai anting, bukan hanya di telinga, tetapi juga di hidung, di alis, di lidah, bahkan di alat vital, sama dengan perempuan juga. Tetapi ini pun bukan model baru. Kalau kita lihat aksesori suku-suku di Papua atau Indian (Amerika), bisa kita saksikan betapa ramainya anting-anting dicucukkan di wajah mereka. Bahkan ada taring babi hutan yang dicucukkan melintang di hidung ketua suku atau panglima perang suku-suku itu. Makin tinggi kedudukan seorang pria, makin banyak aksesori di wajahnya.

Jadi, busana itu cerminan budaya. Di zaman Boedi Oetomo, semua laki-laki yang mengenakan celana dianggap Belanda dan kafir, karena pribumi yang muslim hanya mengenakan kain dan blangkon (ikat kepala tradisional Jawa).