Rabu, 13 Mei 2015

Merengek di Zaman yang Serbamudah

Merengek di Zaman yang Serbamudah

AS Laksana  ;  Sastrawan, Pengarang, Kritikus Sastra
yang dikenal aktif menulis di berbagai media cetak nasional di Indonesia
JAWA POS, 10 Mei 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SAYA menyimpan anggapan bahwa sekarang ini segalanya serbamudah jika dibandingkan dengan situasi beberapa tahun lalu. Pengetahuan-pengetahuan yang sulit didapatkan pada waktu lalu sekarang bisa didapatkan dengan gampang. Itu berarti, jika seseorang memiliki minat untuk meningkatkan diri, di bidang apa pun yang dia sukai, dia memiliki kesempatan dan kemudahan untuk melakukannya.

Belajar fotografi beberapa tahun lalu, misalnya, akan memerlukan biaya yang cukup besar. Harga kamera mahal. Anda juga harus sangat berhati-hati menggunakan film dan tidak boleh terlalu boros memotret. Mungkin Anda membatasi diri untuk menghabiskan satu atau dua rol sebulan.

Sekarang, jika mau agak serius mendalami fotografi, Anda bisa mendapatkan kamera dengan harga relatif terjangkau. Atau, kalau sekadar suka memotret dengan kamera saku, tanpa hasrat menjadi fotografer profesional, fasilitas kamera semacam itu sudah melekat di gawai (gadget) Anda. Anda juga tidak harus membeli film, tidak harus membayar biaya cuci film, dan boleh memotret seribu jepretan sehari, kalau Anda mau, tanpa mengeluarkan biaya.

Untuk mendapatkan pengetahuan-pengetahuan dasar tentang fotografi, Anda bisa menemukannya dengan mengoperasikan perangkat mesin pencari di internet. Setidaknya, untuk mendapatkan pengetahuan-pengetahuan dasar dari apa yang Anda minati, Anda nyaris tidak mengeluarkan biaya selain akses internet.

Begitupun dengan hal-hal lain. Jika Anda berniat lebih terampil memainkan gitar untuk menghibur tetangga sebelah, ada banyak bahan yang bisa Anda dapatkan gratis tentang bagaimana cara mencakar senar gitar dan membuat tetangga kiri-kanan Anda menangis sesenggukan oleh rasa haru yang tak tertahankan. Ada banyak teknik dasar yang bisa Anda peroleh gratis tentang bagaimana memainkan kecapi atau beternak keledai atau memikat burung bulbul.

Namun, Anda tahu, hidup kurang menarik jika segalanya terlalu mudah dan kurang ada kejutan. Sampai beberapa hari lalu, dengan latar belakang yang sudah kita bicarakan di atas, tetap ada pertanyaan-pertanyaan yang nyelonong di e-mail maupun di keranjang pesan akun media sosial saya, yang kalau diringkaskan bunyinya akan seperti ini: ''Ajari dong caranya menulis bagus.''

Astaga! Pengin nangis saya. Saya tidak ingin menjawabnya sambil berpura-pura bahwa saya bisa menulis bagus. Saya sudah menulis buku tentang penulisan kreatif dan itu bukan buku terlarang. Saya juga sudah sering menyampaikan pemikiran saya tentang tulis-menulis, baik di ruangan ini maupun di blog pribadi saya, dan itu juga bukan tulisan-tulisan terlarang.

Maka, hal terbaik yang bisa saya lakukan untuk menanggapi pertanyaan semacam itu adalah menirukan cara Bertrand Russell menjawab pertanyaan serupa dalam tulisannya How I Write, yakni menceritakan pengalaman sendiri dalam urusan tulis-menulis. Saya beruntung dalam urusan ini karena hampir setiap hari dikepung bermacam-macam dongeng.

Di kampung masa kecil saya, di Semarang, ada tetangga seorang kakek yang suka mendongeng –umurnya sudah lebih dari seratus pada waktu itu– dan hampir setiap hari selepas magrib kakek itu mengumpulkan anak-anak kecil di rumahnya dan mendongeng. Saya pernah menyebut kakek itu dalam tulisan saya terdahulu, dan menceritakannya kepada beberapa teman, saya yakin karena saya mencintainya.

Dongeng lain yang hampir setiap malam menjejali telinga saya adalah cerita wayang. Saya sering tidur bersama nenek dan dia selalu mendengarkan acara wayang kulit melalui siaran radio. Nenek saya menyukai dalang wayang kulit Ki Narto Sabdho, tetapi pada dasarnya dia mendengarkan semua siaran wayang kulit di radio, siapa pun dalangnya. Saya tidak memahami cerita-cerita wayang yang dia dengarkan, dan baru sedikit paham ketika mulai bisa membaca dan menikmati saduran Mahabharata dan Ramayana.

Sumber-sumber cerita lain yang juga sangat memukau bagi saya adalah para gali yang sering berkumpul di rumah dan mereka selalu memiliki cerita-cerita yang mengasyikkan untuk didengar. Beberapa di antara mereka kemudian menjadi korban penembakan misterius dan mereka tidak pernah bisa lagi berkumpul setelah itu. Saya kehilangan cerita-cerita menarik dari mereka.

Tumbuh di tengah-tengah mereka dan di lingkungan pergaulan kelas bawah, saya diam-diam mengamati sebuah pola yang ajek: semakin rendah tingkat pendidikan orang, dan mungkin juga tingkat kesejahteraan mereka, semakin menakjubkan cerita-cerita dan pengalaman yang mereka tuturkan.

Ada sebuah keluarga besar di kampung sebelah dan nyaris semua penghuni rumah itu buta huruf. Mereka selalu menuturkan pengalaman-pengalaman yang mustahil dialami orang lain dan hampir setiap hari salah seorang di antara mereka menemukan benda-benda sakti, atau berjumpa dengan pelbagai jenis hewan yang memiliki nama-nama ganjil dan tidak pernah ada. Saya memercayai mereka karena mereka sulit dibantah dan saya selalu mendengar cerita-cerita mereka dengan perasaan takjub dan cemburu.

Itu dunia lisan yang melekat selamanya di dalam ingatan. Saya baru memasuki dunia tulisan pada kelas tiga SD, mengikuti cerita silat bersambung di harian Suara Merdeka, dan membaca buku-buku cerita pada kelas empat saat sekolah saya mulai memiliki perpustakaan. Buku pertama yang saya baca adalah Lawa dan Kusya, kisah dua anak Sri Rama yang ditulis ulang oleh Djokolelono, nama yang akan saya jumpai lagi kelak sebagai penerjemah novel-novel Dataran Tortilla, karya John Steinbeck, dan Prajurit Schweik, karya Jaroslav Hasek. Itulah dua di antara empat novel yang pernah saya ketik ulang semasa SMA. Dua yang lain adalah Frankenstein karya Mary Shelley dan Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway.

Saat naik ke kelas enam dan mulai muncul hasrat menulis –saya kira itu efek menyengsarakan dari kegemaran membaca–saya membeli dua buku panduan menulis. Yang satu benar-benar tidak bisa saya ingat apa isinya dan siapa penulisnya dan yang satunya adalah karya Mochtar Lubis berjudul Teknik Mengarang. Saya berpikir akan bisa menulis cerita setelah membaca buku-buku tersebut. Dan saya tetap tidak bisa menulis cerita. Namun, buku Mochtar Lubis itu memperkenalkan kepada saya nama-nama seperti Anton Chekov, William Saroyan, dan Alberto Moravia. Melalui buku itu, untuk kali pertama saya membaca terjemahan cerpen Anton Chekov berjudul Benda Seni.

Pada masa SMP, saya terpukau kepada para detektif, terutama Sherlock Holmes (Sir Arthur Conan Doyle) dan Hercule Poirot (Agatha Christie) serta para pendekar, baik pribumi maupun dari Negeri Tiongkok, lalu terseret untuk menulis cerita-cerita detektif dan cerita silat tanpa pernah berhasil menyelesaikan satu cerita pun. Pada masa itu, penulis Yusi Avianto Pareanom, kawan karib saya sejak SMP, SMA, hingga kuliah di Jogjakarta, mengajak saya ikut kelompok teater sekolah dan saya mengikuti ajakan itu tanpa pernah sekali pun berpentas. Kemudian, saya menamatkan semua seri Petualangan Karl May terbitan Pradnya Paramita dan jika terkejut pada sesuatu saya menjadi Winnetou yang mengeluarkan bunyi: ''Uff! Uff!''

Di luar semua petualangan yang kocar-kacir itu, ada satu pengalaman yang saya anggap sebagai pengalaman terbaik di waktu yang tepat. Suatu hari dalam pelajaran mengarang di SD, guru memberikan tugas untuk menuliskan pengalaman sehari-hari selama seminggu terakhir. Saya sudah membaca buku Teknik Mengarang dan tidak senang menulis karangan seperti yang diminta oleh guru. Maka, dengan risiko dimarahi atau mendapat nilai buruk, saya menulis fiksi tentang seorang ibu yang melakukan pengembaraan ke mana-mana untuk mencari anaknya yang hilang terbawa banjir besar.

Guru tidak menyalahkan karangan itu dan menghukum saya dengan nilai buruk karena melanggar perintah. Dia malah memberi nilai sembilan dan itu membuat saya semakin keranjingan mengarang cerita. Tulisan itu juga sebentuk ucapan terima kasih kepadanya, entah dia membaca atau tidak, entah dia mengingat hal itu atau tidak.

Sejak saat itu, saya rajin mengirimkan karangan, yang saya tulis tangan di atas kertas folio bergaris, ke pelbagai majalah anak-anak. Tidak ada satu pun yang dimuat. Saya pikir, karangan harus diketik rapi agar bisa dimuat.

Baru saat kelas dua SMA, 1986, cerita pendek saya yang berjudul Suara-Suara dimuat di koran lokal Semarang, Kartika. Dua minggu setelah itu, puisi saya dimuat di koran yang sama. Itulah satu di antara dua puisi yang saya kirimkan dan menjadi satu-satunya puisi karya saya yang pernah dimuat di media massa. Cerpen kedua dimuat enam tahun kemudian, 1992, di koran Jawa Pos dan seminggu kemudian cerpen ketiga muncul di Kompas. Saya tidak ingat kedua judul cerpen tersebut.

Setelah itu, urusan mengirimkan cerpen agar dimuat di media massa menjadi agak mudah. Yang tidak pernah mudah adalah bagaimana menghasilkan tulisan yang bagus. Itu seperti urusan mendaki gunung, sebuah perjalanan yang sengsara, namun kita menolak surut dan selalu ingin tiba di puncak. Kemudian, kita mendaki lagi puncak yang lebih tinggi, dan lebih tinggi, dan lebih tinggi.

Selebihnya, saya hanya meyakini bahwa menulis bagus atau menulis buruk adalah soal kebiasaan. Orang yang terbiasa menulis bagus akan sulit dipaksa menulis buruk dan orang yang terbiasa menulis buruk akan susah dipaksa menulis bagus. Orang yang terbiasa membaca karya bagus akan sulit dipaksa membaca karya buruk dan orang yang terbiasa membaca karya buruk sulit dipaksa membaca karya bagus.

Demikian pula dengan kebiasaan orang menonton film. Penonton yang membiasakan diri dengan tontonan-tontonan buruk akan sulit mencerna film-film bagus, dan sebaliknya. Jadi, untuk mendapatkan kecakapan apa pun, Anda hanya perlu membiasakan diri mendapatkan pengetahuannya dan melakukan sesuatu pada level yang Anda inginkan.

Dan sekarang saya merasa sangat beruntung karena mudah sekali mendapatkan bahan-bahan dan pengetahuan untuk meningkatkan kecakapan diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar