Selasa, 06 Desember 2022

 

DAFTAR FILE KOMPRESI OPINI YANG BISA DIUNDUH DARI GOOGLE DRIVE

Status per 06 Desember 2022 (06.30)

Mari bergabung di Grup WA-LOD à  https://chat.whatsapp.com/GTWUZic9Kbr5fwvfYN74mH

 

 

2212  in Word   (   142 file)

 

2211  in Word   (   907 file)       UPDATE

 

2210  in Word   (1.058 file)    

 

2209  in Word  (1.236 file)

 

2208  in Word  (1.143 file)

 

2207  in Word  (1.131 file)

 

2206  in Word  ( 948 file)

 

2205  in Word  ( 849 file)

 

2204  in Word  ( 1.109 file)  

 

2203  in Word  ( 934 file)            2203 in Html  (117 file)

 

2202  in Word  ( 797 file)            2202 in Html  ( 113 file)

 

2201  in Word  (790 file)             2201 in Html  (158 file)

 

-------------------------------------------------------- 

 

2112  in Word  (794 file)             2112 in Html  (261 file)

 

2111  in Word  (719 file)                   2111 in Html  (292 file)  

 

2110  in Word  (682 file)          2110 in Html   (370 file)

 

2109  in Word   (654 file)              2109 in Html  (337 file)

   

2108  in Word  (501 file)          2108 in Html   (613 file) 

                              

2107 in Word                            2107 in Html           

  

2106 in Word                            2106 in Html

 

2105 in Word                            2105 in Html

 

2104 in Word                            2104 in Html

 

2103 in Word                            2103 in Html

 

2102 in Word                            2102 in Html  

 

2101 in Word                            2101 in Html  

 


------------------------------------------------------

 

 

2020 in Word                          2020 in Html

 

 

2019 in Word                          2019 in Html

 

 

2018 in Word                          2018 in Html

 

 

2017 in Word n Html

 

 

2016 in Word 

 

 

2015 in Word 

 

 

2014 in Word

 

 

2013 in Word

 

 

2012 in Word

 

Catatan Pinggir

Pencitraan dalam Kapitalisme dan Politik

Goenawan Mohamad  :  Sastrawan, Pendiri Majalah Tempo

MAJALAH TEMPO, 04 Desember 2022

 

 

                                                           

APA yang akan terjadi seandainya Pinokio tak pernah berdusta? Dia akan jadi anak baik. Panjang hidungnya akan normal. Juga  hidupnya: bangun pukul 6 pagi, mandi, gosok gigi, sisiran, sarapan dengan ayahnya yang sabar, Gapeto, lalu berangkat ke sekolah. Ia akan jadi anak yang tertib, dalam belajar dan beribadah. Tak ada kelakuannya yang mengejutkan. Riwayatnya bukan petualangan.  

 

Tentu saja, menjemukan. Carlo Collodi tak akan pernah menuliskannya; pengarang Italia ini  akan lebih memilih terus mengerjakan terjemahan dongeng peri dari Prancis—dan kita akan kehilangan sebuah bacaan yang asyik. Sebab, sebagaimana “semua keluarga bahagia sama saja”—seperti kata novelis Leo Tolstoy dalam Anna Karenina—anak yang baik pun di mana-mana sama saja.

 

Untunglah, Pinokio beda—bukan cuma panjang hidungnya. Tokoh kita ini tak lurus seperti mistar. Dalam satu adegan, ia bertemu seorang peri yang mengatakan “anak baik selalu bicara benar”. Pinokio menjawab: “Dan saya selalu berbohong”.

 

Bohong bisa tak sama dengan “jahat”. Bohong bisa memukau. Pada umumnya, cerita lebih memikat ketimbahg fakta. Dulu ada seorang bangsawan Jerman, bernama Hieronymus Karl Friedrich von Münchhausen yang jadi pesohor karena cerita-cerita “pengalaman” dirinya  yang seru dan sangat tak masuk akal. Dari sini lahir buku tentang kisah tualang sang pambual, disusun seorang pustakawan bernama Rudolf Erich Rasper—sebuah buku termasyhur bahkan pernah disadur ke dalam bahasa Indonesia jadi Pak Bohong. 

 

Bohong tak cuma berbentuk petualangan ajaib. Ada sebuah buku yang ditulis Seth Godin, seorang pengarang Amerika yang berpengalaman dalam dunia pemasaran, berjudul All Marketers are Liars. Dalam teknik pemasaran, promosi yang efektif adalah melalui cerita. Dan, menurut Godin, cerita itu begitu rupa hingga pada akhirnya bersenyawa dengan yang dibangun konsumen sendiri. Stories let us lie to ourselves.

 

Syahdan, sejak 20 tahun yang lalu, dalam bahasa Indonesia ada kosa kata baru, “ngecap”. Artinya sejajar dengan “membual”. Kata ini beredar sejak kita, para calon konsumen, mau menerima bahwa yang melebih-lebihkan diri (dimulai dengan kecap: “Kecap Nomor Satu”) adalah satu bualan—atau kebohongan—yang tak perlu digugat; cukup diragukan dan ditertawakan. 

 

Lajunya kapitalisme  memungkinkan itu. Ada perubahan  drastis sejak “pemasaran” jadi kegiatan pokok perdagangan dan perdagangan merasuki kehidupan. Iklan pun santer membangun branding, identitas   yang membawa kesan yang positif  tentang sebuah produk dan produsennnya. 

 

Adapun yang “postif” itu  dicapai dengan ngecap…  

 

Dahulu,  ketika pemasaran  belum kokoh melembaga, tak ada yang beriklan dengan semangat Kecap-nomor-satu. Pedagang akan menamai restorannya “Sederhana” dan kedainya “Sudi Mampir”—sebuah ekspresi yang rendah hati. Kini sebaliknya. Sebuah kafe atau restoran akan tak rikuh pakai nama, “Grand Cafe” atau “Paradiso”.

 

Sesungguhnya, itulah yang disebut “pencitraan”. 

 

Di kalangan “analis” politik kata ini sering punya konotasi negatif. Pertemuan G20 yang megah meriah di Bali dicemooh hanya sebagai “pencitraan” yang digemari Presiden Jokowi. Para “analis” politik ini umumnya tak akrab dengan getar dunia perdagangan. Mereka tak melihat bahwa “pencitraan”, bagian dari pemasaran, bukan hal baru. Dalam khazanah perdagangan, “pencitraan”—secara sederhana: aktif beriklan — adalah investasi. Ia perlu dan mahal. 

 

Saya kira Pertemuan G20 tak serupa dengan perhelatan megah “Ganefo”, Games of the New Emerging Forces”  yang diselenggarakan Presiden Sukarno di tahun 1963, untuk menyaingi Olimpiade. Acara olahraga internasional yang rekor-rekornya tak diakui itu umumnya dihadiri negara-negara sosialis yang datang tak hendak berdagang.

 

Pencitraan ala “Ganefo” rasanya lebih cocok dengan pencitraan dalam negara-negara “pra-modern” seperti Majapahit dan kerajaan-kerajaan di Bali. Antropolog Clifford Geertz memperkenalkan istilah yang kemudian terkenal: negara sebagai “theatre state”. Kerajaan berjalan bukan melalui administrasi yang efektif ataupun penaklukan, melainkan melalui ”spectacle” yang dipertunjukkan dengan memukau. Pendek kata, pencitraan.

 

Tapi spectacle tak hanya sebuah pesta olahraga internasional. Di hari-hari menjelang pemilihan umum, pencitraan berkembang biak di tiang listrik dan pohon-pohon, di mana terpampang deretan potret wajah yang berpeci atau berjilbab:  para politisi.

 

Tapi jangan  melihat ke mereka saja. Kita sendiri—yang suka mengecam pencitraan—hidup, bergaul,  merayu dan dirayu, dengan Facebook, medan pencitraan, gabungan hasrat narsistis dan keinginan berbagi. Tentu saja dengan “kebenaran” yang diseleksi dan dusta yang menarik dan dimaklumi. Sedikit banyak, kita juga Pinokio. ●

 

Sumber :   https://majalah.tempo.co/read/catatan-pinggir/167585/pencitraan-dalam-kapitalisme-dan-politik