Jumat, 27 April 2018

Promosi Asian Games 2018

Promosi Asian Games 2018
Ridho Marpaung ;  Praktisi Riset Iklan Adstensity
                                                         KOMPAS, 27 April 2018



                                                           
Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo menyampaikan kritik tentang promosi acara Asian Games 2018 yang dinilai oleh Presiden masih belum maksimal. Presiden belum melihat publikasi yang gencar terkait acara ini di media-media nasional dan internasional sebagai bagian promosi acara ini. Padahal, acara ini akan dilaksanakan pada 18 Agustus hingga 2 September 2018 di Jakarta dan Palembang.

Menanggapi kritik Presiden, Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games Indonesia 2018 (Inasgoc) Erick Thohir telah memberikan tanggapan akan menyiapkan strategi khusus untuk mempromosikan Asian Games 2018 ke masyarakat dalam negeri dan internasional. Adapun kendala tentang kurang gencarnya promosi Asian Games 2018 disebutkan lantaran anggaran yang terbatas.

Dari total anggaran Rp 6,6 triliun, 90 persen dialokasikan untuk penyelenggaraan. Karena itu, Inasgoc akan meninjau kembali pos-pos dalam anggaran untuk memaksimalkan promosi.

Ada beberapa masukan dari penulis dalam rangka menggencarkan promosi Asian Games 2018 dengan dua sasaran, yakni masyarakat di dalam negeri dan internasional.

Masyarakat dalam negeri

Pertama, sasaran masyarakat di dalam negeri. Asian Games 2018 merupakan ajang olahraga terbesar di Asia. Yang perlu digencarkan adalah bagaimana menarik perhatian masyarakat dalam menyambut dan memeriahkan berlangsungnya acara ini. Untuk itu, Inasgoc atau pemerintah tidak bisa sendiri dalam promosi. Inasgoc bisa mengajak keterlibatan aparatur pemerintahan dan militer, praktisi kehumasan, tokoh masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh pendidikan, pelaku bisnis, seniman, dan bahkan para atlet. Dengan sinergi tersebut, promosi bisa menjangkau banyak area, mulai dari lingkungan tempat tinggal, sekolah, pesantren, perkantoran, mal, pusat hiburan, dan area publik lainnya.

Sebagai contoh, wilayah Jakarta, Inasgoc bisa memaksimalkan sinergi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan memanfaatkan momen Festival Jakarta Great Sale (FJGS) 2018. FJGS merupakan kegiatan tahunan promosi wisata belanja yang diadakan dalam rangka memperingati ulang tahun Jakarta yang melibatkan mal/pusat belanja, pasar tradisional, hotel dan asosiasi-asosiasi pengusaha. Dari sisi komersial, pemasukan dari FGJS 2017 tercatat mencapai Rp 16,05 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan dengan 2016 yang membukukan pemasukan Rp 15,74 triliun.

Iklan layanan masyarakat melalui media massa dari pusat hingga daerah bisa digencarkan. Inasgoc bisa ”menggandeng” kalangan pers untuk membantu publikasi Asian Games 2018, baik itu melalui iklan maupun pemberitaan-pemberitaan terkait acara ini.

Selain itu, sinergi dengan para pelaku bisnis dalam bentuk promo diskon harga atau reward juga bisa dilakukan untuk mendukung promosi Asian Games 2018. Promo diskon ini bisa meliputi harga tiket pertandingan, suvenir, hotel, tempat makan, dan moda transportasi. Inasgoc bisa juga melibatkan para pebisnis daring (online) di bidang perdagangan (e-commerce), transportasi, kuliner, tiket, dan travel yang marak belakangan ini.

Masyarakat internasional

Kedua, promosi dengan sasaran masyarakat internasional. Promosi untuk media internasional bisa ditautkan dengan tema Asian Games 2018, yakni ”Energy of Asia”. Oleh karena itu, materi promosi yang dipilih bisa mengangkat tentang kekuatan dari keberadaan benua Asia yang memberikan banyak kontribusi positif pada dunia. Selain itu, promosi ini juga bisa mengangkat energi dari persatuan dan kesatuan negara-negara di Asia sehingga momen Asian Games 2018 menjadi momen kebersamaan negara-negara di Asia dalam wujud olahraga.

Promo bisa dibuat dalam bentuk iklan yang melibatkan atlet-atlet dari negara-negara Asia lainnya. Iklan ini bisa ditayangkan di media internasional, termasuk sejumlah negara di Asia. Selain media massa, Inasgoc juga bisa bekerja sama dengan atletatlet tersebut untuk mempromosikan Asian Games 2018 melalui akun media sosial mereka.

Salah satu bentuk lain promosi acara ini bisa juga dilakukan dalam wujud lagu tema acara. Kita mengetahui bahwa lagu tema acara termasuk salah satu cara promo yang dapat menarik perhatian global karena musik adalah bahasa universal.

Beberapa lagu yang terkenal menyemarakkan momen olahraga di antaranya lagu ”Reach” yang dibawakan oleh penyanyi Gloria Estefan pada Olimpiade Atlanta 1996 dan lagu ”Waka Waka (This Time for Africa)” yang populer oleh Shakira sebagai lagu tema Piala Dunia 2010. Untuk itu, Inasgoc bisa mempertimbangkan untuk menciptakan lagu tema Asian Games 2018 yang bisa dibawakan dalam bentuk kolaborasi artis Indonesia dengan artis-artis lain yang mewakili perwakilan dari bagian-bagian kawasan di Asia.

Akhirnya, tanggung jawab dalam penyelenggaraan Asian Games 2018 bukanlah menjadi tanggung jawab tunggal pada pemerintah atau secara khusus Inasgoc. Persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa akan terlihat pada momen ini di mata internasional. Seluruh komponen bangsa mesti menyadari bahwa kesuksesan Asian Games 2018, baik prestasi maupun penyelenggaraannya akan menjadi sukacita seluruh rakyat Indonesia. ●

Pertamina dan Politik Energi Pemerintah

Pertamina dan Politik Energi Pemerintah
Effnu Subiyanto ;  Aktivis dan Peneliti;
Direktur Koalisi Rakyat Indonesia Reformis (Koridor)
                                                         KOMPAS, 26 April 2018



                                                           
Serba singkat jabatan direktur utama pada BUMN raksasa migas Indonesia masih menyisakan pertanyaan besar meskipun mantan Dirut Pertamina Elia Massa Manik menyerukan agar tak dijadikan polemik. Namun, tetap perlu diklarifikasi pemerintah. Faktanya, Pertamina adalah alat politik energi sepanjang negara ini berdiri dan juga misteri pernyataan kerugian BUMN tersebut karena menjalankan perintah penugasan

Justru lantaran ada Pertamina kredibilitas pemerintah terjaga karena harga BBM tidak dinaikkan, distribusi sampai ke pelosok pulau, dan jaminan keamanan energi. Namun, di sisi lain, yang selalu tidak disingkap pemerintah adalah transparansi keuangan BUMN tersebut.

Pernyataan potensi rugi Pertamina seolah selalu tidak dipercaya karena berbagai ­trade- off subsidi APBN dan hak pengelolaan yang ujung-ujungnya adalah pencopotan direktur utama karena dianggap tidak mampu.

Pada pencopotan Elia Massa Manik, terembus tiga sebab utama: gagal dalam mendistribusikan BBM premium dan kenaikan harga BBM pertalite; perkembangan modernisasi kilang yang sangat pelan; dan pencemaran lingkungan di Teluk Balikpapan. Rapor merah itu membuat kepemimpinan Manik disudahi pada RUPSLB 20 April 2018.

Politik energi

BUMN Pertamina pada hakikatnya tidak bisa dilepaskan dengan politik subsidi energi setiap tahun. Dari subsidi energi, Pertamina memiliki porsi terbesar, mencapai 69 persen. Namun, sejak 2015, dominasi penerima subsidi energi terbesar sudah bergeser ke PLN.

Sejak 2015 sampai tahun lalu, proporsi subsidi energi yang diterima Pertamina 45,34 persen, sementara sisanya dinikmati oleh PLN. Pada APBN 2018, kuota subsidi energi Pertamina sedikit lebih tinggi, mencapai 49,63 persen, sementara sisanya PLN.

Jadi, jika Pertamina pada tahun lalu untung Rp 28,83 triliun, padahal menerima subsidi dari APBN Rp 47 triliun, inilah sebetulnya konkret politik energi tersebut. Sudah dapat dipastikan jika subsidi 2017 tidak diterimakan kepada Pertamina, BUMN tersebut sebetulnya rugi Rp 18,17 triliun.

Artinya, nilai kredibilitas pemerintah dalam menjaga politik energi yang merupakan indikator utama elektabilitas pemerintah dijaga oleh Pertamina dengan biaya operasional Rp 18,17 triliun pada tahun lalu.

Namun, bagaimana jika politik energi bersikeras dijalankan pemerintah karena momentum politik, padahal APBN jelas-jelas salah asumsi. Pada tahun ini, ketika harga rata-rata impor minyak mentah mencapai 60 dolar AS per barrel, sementara asumsi masih 44 dolar AS per barrel, hasil penjualan BBM premium dan solar subsidi sudah merugikan Pertamina Rp 3,9 triliun hanya dalam dua bulan.

Disimulasikan setahun, kerugian Pertamina akan mencapai Rp 24 triliun karena terdiferensiasi dengan kewajiban menyediakan tambahan stok BBM 5-7 persen konsumsi rata-rata harian. Ini dengan harga minyak mentah 60 dolar AS per barrel. Jika harga minyak meningkat, potensi kerugian Pertamina akan bertambah secara incremental.

Pada kasus ini, pemerintah menyatakan sudah menyiapkan kebijakan trade-off, yakni hak pengelolaan tambang migas yang terminasi. Dari Blok Mahakam, BUMN migas tersebut akan memperoleh tambahan pendapatan bersih Rp 7 triliun- Rp 8 triliun setiap tahun. Pertamina juga mendapatkan pengelolaan delapan blok baru terminasi dengan potensi tambahan pendapatan Rp 1 triliun-Rp 2 triliun. Perhitungan kasar dengan pemberian hak-hak pengelolaan khusus, maka Pertamina seharusnya mendapatkan tambahan pendapatan minimal Rp 10 triliun.

Jika trade-off masih potensi mendapatkan tambahan pendapatan Rp 10 triliun per tahun, sementara kerugian di depan mata Rp 24 triliun, meskipun hak-hak konsesi migas berlangsung selama 20 tahun, sudah sangat jelas Pertamina akan menjadi tumbal politik energi.

Belum lagi berkaitan dengan kepedulian lingkungan, pemerintah juga tidak konsisten dalam bersikap. Mendekati pelaksanaan Asian Games 2018, pemerintah menugaskan Pertamina untuk menyalurkan BBM Euro 4. Di sisi lain juga keharusan mendistribusikan premium yang notabene BBM kualitas RON 88 yang setara dengan kelas Euro 2.

Politisasi

Jika melihat situasi Pertamina yang demikian kompleks, tak ada yang menghalangi premis bahwa perombakan Direktur Utama Pertamina adalah aksentuasi politisasi dalam tubuh BUMN.

Pada era Dirut Dwi Soetjipto, situasi internal Pertamina meruncing karena dualisme kepemimpinan dan menyebabkan Dwi Soetjipto terpental pada masa singkat. Saat ini, pada era Elia Massa Manik, politik energi menyudahi kepemimpinan Manik.

Maka, saat ini menjadi Direktur Utama Pertamina bak kursi panas yang amat ditakuti. Tugas direktur utama akan sangat berat karena ditekan pemerintah dan Kementerian BUMN, pada sisi lain direktur utama juga ditekan oleh karyawan Pertamina yang notabene pasti menuntut kenaikan tingkat kesejahteraan yang lebih baik.

Melihat tugas Pertamina yang sangat kompleks, sejak produktivitas, penyiapan infrastruktur migas, proyek-proyek strategis, dan kini penyiapan holding BUMN migas, sudah selayaknya pekerja Pertamina menuntut pengharkatan yang lebih baik. Capaian kinerja lifting sampai dengan 94,9 persen (2017) atau lifting 77.500 barrel per hari (bph) dari target 81.600 bph adalah bukti keandalan pekerja Pertamina.

Tekanan pekerja yang merupakan politik hubungan industrial akan berinterseksi dengan politik energi dan akan menyebabkan citra Pertamina sebagai BUMN menjadi sangat dinamis. Siapa pun pengganti Elia Massa Manik ke depan memang akan menyandang tugas sangat berat. ●