Minggu, 30 November 2014

Fung Seng

                                                                Fung Seng

Goenawan Mohamad  ;   Esais, Mantan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo
KOMPAS,  01 Desember 2014

                                                                                                                       


Anthony Salim lebih sering mengenakan baju batik ketimbang baju jenis lain. "Saya pakai batik karena saya suka batik. Ada orang-orang yang menyukai pakai Gucci karena mereka ingin dilihat berbaju merek itu. Biar saja. Bagi saya, saya pakai batik karena nyaman."

Sosok Anthony, putra Liem Sioe Liong yang melanjutkan jaringan bisnis raksasa ayahnya, juga setelah rezim Soeharto yang mendukungnya jatuh, dilukiskan secara hidup dalam buku Liem Sioe Liong's Salim Group yang ditulis Richard Borsuk dan Nancy Chng, yang terbit pada 2014 ini -- agaknya buku terbagus selama 10 tahun terakhir tentang sejarah bisnis di Indonesia.

Anthony, menurut buku ini, "tajam" dalam memandang kesempatan bisnis. Anthony berani ambil risiko. Anthony yang sejak kecil menunjukkan gairah bisnis. Anthony yang dipilih ayahnya, meskipun bungsu, buat jadi pengganti. Anthony yang berbeda dari kakak sulungnya, Albert.

Albert, menurut ayahnya, anak yang "sedikit malas", "gemar main gitar dan mobil balap". Sebaliknya Anthony: tak suka dandan, pakai kacamata model kokok-beluk gaya lama, dan tetap mengenakan kaus merek 777 produksi pabrik tekstil ayahnya di masa lalu.

Sambil setengah bercanda, Anthony menjelaskan apa yang tersirat dari batik. Desain batik yang rumit, katanya, itu mirip cara berbisnis di Indonesia. "Batik berbeda dari desain Burberry yang bergaris-garis sangat jelas, clear-cut, yang kotak dan batasnya segera tampak," katanya. Sementara itu, "Motif batik selalu agak gelap." Batas-batasnya "kabur". Tapi di tengah itu, "Bagaimana juga situasinya, kita akan dapat survive!"

Nama kecilnya Liem Fung Seng. Arti harfiahnya "menemu kehidupan", selamat dan hidup terus dari bencana. Hanya beberapa pekan sebelum ia lahir, pada 1949, ayahnya, pedagang yang waktu itu masih belum makmur, hampir tewas karena kecelakaan mobil. Si bungsu seakan-akan isyarat bahwa hidup bisa menjumpainya lagi. Berpuluh tahun kemudian, setelah krisis ekonomi 1997 mengguncang konglomerasi ayahnya -- disebut "Grup Salim" -- Fung Seng juga yang menemukan hidup kembali bagi usaha keluarga itu.

Riwayat usaha keluarga itu, seperti lazimnya kisah pebisnis di Indonesia --apalagi bila ia keturunan Tionghoa -- memang bukan berlangsung di atas garis-dan-petak ala Burberry. Tapi Liem Sioe Liong memang berhak mengatakan ia mujur. Ia sangat percaya kepada feng shui. Ia tak mau merombak rumahnya yang tak mentereng di Jalan Gunung Sahari, Jakarta. Dengan alasan yang sama, di masa jayanya ia membiarkan makam ayah dan kakeknya yang sangat bersahaja di bukit di Niuazhai, sebuah dusun di Kota Fuqing, di Provinsi Fujian, di pantai Tiongkok sebelah tenggara.

"Saya beruntung," katanya sebagaimana dikutip Borsuk dan Chng. "Saya kerja dan saya berkembang. Kalau misalnya saya hidup di Afrika, Timur Tengah, pegimana saya bisa kerja? Waktu, tempat, dan keberuntungan -- ini yang ndak bisa diubah."

Tapi ia bisa membuat tempatnya berubah: meninggalkan dusun tempat ia dilahirkan.

Di desa itu berlaku ucapan "jiu nian han, yi nian zai" (sembilan tahun kekeringan, satu tahun bencana). Antara gersang dan banjir, antara gunung dan pesisir, tanah pertanian itu nyaris tak bisa ditanami. Orang tua Liem, yang punya 11 anak, bukan peladang yang paling melarat. Tapi hidup tak gampang.

"Kami kebanyakan makan apa yang kami tanam," Liem mengisahkan masa kecilnya. "Jarang ada daging tersedia di meja." Hasil ladang juga tak menentu. Uang cepak. Orang terkadang harus pinjam ke lintah darat.

Liem muda berusaha bertahan. Ia berdagang mi mentah. Tapi pada 1937, ketika musim kering melanda, ayahnya meninggal, setelah pulang memikul ubi. Hidup berubah. Di saat itu juga Jepang mulai menyerbu Tiongkok.

Di umur 21 tahun, Liem meninggalkan dusunnya, mencoba naik kapal menuju Jawa. Ia nyaris gagal, tapi akhirnya ia berhasil mendarat di Surabaya pada 1938 -- dengan kantong uang yang dicopet. Dari Surabaya, ia ke Kudus di Jawa Tengah.

Di kota itu, Liem berdagang pakaian yang dipikulnya berkeliling jalan kaki. Dari sini ia mulai naik. Kudus menyenangkan hatinya. Liem merasa buah kerjanya segera tampak. Penduduk setempat ramah. Makanan juga enak -- terutama soto Kudus.

Tapi baru di Semarang ia meloncat. Kota ini, pada akhir abad ke-19, adalah pusat kerajaan bisnis Oei Tiong Ham, "Raja Gula", saudagar besar pertama kelahiran Jawa yang berhasil membangun emporium internasional.

Liem kemudian menyusul, bahkan melampaui kejayaan itu. Tapi, sementara Oei Tiong Ham tak membangun koneksi bisnis dengan pemerintah Belanda, Liem berbeda: ia praktis ditegakkan kekuasaan Soeharto, jenderal yang dikenalnya sejak 1949 meskipun baru jadi rapat dengannya setelah 1966. Liem, yang selama perang kemerdekaan dari Semarang ikut menyalurkan barang kebutuhan ke wilayah Republik yang diblokade Belanda, dengan gampang menemukan teman di kalangan orang militer ini.

Soeharto menjadikan pebisnis yang jinak dan ulet ini pendukung kekuatannya -- juga jadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Tapi ekonomi yang terbentuk ibarat bangunan besar yang tak stabil, sebab cuma disangga dua tiang: kekuasaan yang otoriter dan bisnis dengan monopoli yang dipaksakan.

Tapi Liem memang beruntung dan penggantinya, Anthony, memang Fung Seng. Soeharto jatuh dan digantikan sebuah sistem di mana monopoli tak berlaku. Tapi Anthony -- bahkan setelah Bank BCA lepas dari tangannya -- bisa memanfaatkan keadaan baru. Dan ia mengakui, "Cara kita berbisnis [kini] lebih terstruktur."

Yang kini dilupakan: pernah ada seorang mujur, yang dengan dukungan kekuasaan yang sewenang-wenang, bisa membuat orang lain tak beruntung. ●

Waktu

                                                                     Waktu

Goenawan Mohamad  ;   Esais, Mantan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo
KOMPAS,  24 November 2014

                                                                                                                       


Ketika bumi kian cepat rusak, ketika kering & panas menjalar membunuh hutan-hutan dan melelehkan es di kutub, dan laut tak sanggup lagi menampung air yang meluap dan kota-kota tenggelam, ketika pada suatu hari ini terjadi, apa yang bisa dilakukan manusia? Rage, rage against the dying of the light, baris sajak Dylan Thomas itu melintas. Marahlah kepada cahaya yang punah. Marahlah.

Dalam film Interstellar, sajak itulah yang tak selesai diucapkan seorang ilmuwan tua, Brand, menjelang mati. Ia telah diam-diam menyiapkan manusia untuk hengkang dari bumi yang makin hancur: manusia harus mencari sebuah planet lain sebagai alternatif. Tapi utopia itu tetap utopia: impian bagus yang tak punya tempat. Empat belas penjelajah diluncurkan, namun tanpa jejak tanpa kepastian.
Tapi cerita ini tak seluruhnya mengusung fatalisme yang muram.

Dengan gemuruh pesawat antarbintang yang menjangkau Lubang Hitam, dengan robot-robot yang pintar berbicara, Interstellar berangkat sebagai sebuah science fiction dalam tradisi Star Trek. Tapi sebenarnya ia sebuah mithos yang tak jauh berbeda dari yang didongengkan orang sejak zaman dulu. Pertama dalam kekuatan bercerita. Kedua dalam kandungannya. Ketiga dalam perspektifnya tentang waktu.

Salah satu kekuatan mithos ialah menunda sikap tak percaya. Kita tak mencegat keajaiban (atau keganjilan?) dalam narasinya dengan tanda tanya besar. Kita sepenuhnya terkesima, kita asyik, dan kita menyimpan kesangsian di depan layar ketika Ki Dalang berkisah tentang Bima yang memasuki tubuh Dewa Ruci yang kecil. Kita juga tak menggugat ketika Interstellar disorotkan, tak bertanya bagaimana mungkin Cooper, pilot itu, dengan sosok yang tetap gagah seperti ketika ia berangkat mengemudikan pesawat Endurance, balik ke kehidupan manusia tapi memasukinya di masa depan, ketika Murph, anaknya, telah jadi perempuan berusia 100 tahun. Bagaimana mungkin juga ayah itu, di ujung perjalanannya, justru tiba di masa lalunya sendiri, memberi isyarat seperti bisikan hantu kepada Murph yang masih kecil? Dan benarkah ada "mereka", makhluk dengan dunia lima dimensi yang berniat menolong manusia?

Interstellar -- sebuah dongeng.

Dan seperti umumnya dongeng, di dalamnya ada yang membuat kita lebih bijaksana, biarpun sedikit, tentang hidup. Film ini menunjukkan bahwa egoisme bukanlah ciri manusia. Ada saat-saat orang sanggup mengorbankan diri agar orang lain selamat.

Cooper, misalnya, bersedia melakukan penjelajahan yang penuh teka-teki itu. Di satu saat bahkan ia melontarkan dirinya dalam pesawat yang nyaris habis energi, agar rekannya, Amelia, bisa sampai di sebuah planet tempat Edmunds, salah satu penjelajah ruang angkasa terdahulu, menemukan ruang hidup.
Jika saya katakan Interstellar sebuah dongeng, ia dongeng yang, katakanlah, pasca-modern: ia mempertanyakan ide "kemajuan" dan agenda besarnya. 

Dengan segala teknologi dan derap modernitas untuk menguasai ruang & waktu, yang terjadi malah bumi yang rusak. Dan lihat Cooper: seperti manusia pertama di angkasa luar dalam sajak Subagio Sastrowardoyo, ia terlontar dari bumi, kesepian, akibat "1.000 rumus ilmu pasti yang penuh janji".

Tapi kutipan yang tepat untuk film ini saya kira bukan dari Subagio Sastrowardoyo atau Dylan Thomas, melainkan dari sebuah lagu yang dinyanyikan dalam suasana sentimental dalam film Casablanca: lagu tentang waktu dan manusia. Sementara waktu berlalu, as time goes by, kata lirik lagu itu, cerita tua yang sama, the same old story, selalu kembali.

Waktu hadir di pusat Interstellar tapi, seperti dalam mithos tentang dewa dan manusia yang menitis, waktu itu tanpa batas yang jelas di antara masa lalu, kini, dan nanti. Dalam film ini, Cooper berada di tiga kurun sekaligus. Dan kita pun jadi bertanya, sambil mencoba memahami teori relativitas Einstein yang muskil itu, apa arti waktu jika demikian, dan benarkah waktu ada dan berlalu atau manusialah yang mengkonstruksikannya demikian.

Para pemikir "korelasionis" akan mengatakan bahwa waktu ada; tapi ia selalu ada dalam korelasi dengan manusia. Pertanyaan klasik para "korelasionis": mungkinkah akan ada warna andai kata tak ada mata manusia? Ataukah sebaliknya: benarkah warna, waktu, dan lain-lain memang pernah ada dan akan ada tanpa kita?

Ilmu menunjukkan bahwa sudah terbentang alam semesta 14 miliar tahun yang lalu, sebelum manusia. Meillassoux menyebutnya "arche-fossil", jejak fenomena "nenek moyang" bahkan sebelum munculnya kehidupan -- yang membuat pendapat "korelasionis" guyah. Tapi sebaliknya: bagaimana waktu bisa ada tanpa subyek yang menyusun "kemarin", "kini", dan "kelak"?

Interstellar, sebagaimana dongeng, tak menjawab, sebab ia bukan sebuah eksplorasi filsafat. Ia pertama-tama sebuah keasyikan. Meskipun tak cuma itu.
Yang membuat penjelajahan Cooper menarik adalah pertautannya yang erat dengan bumi, meskipun bumi itu sedang binasa -- pertautan yang dibentuk cintanya kepada Murph. Bocah itu berumur sepuluh tahun ketika ditinggalkannya berangkat mengarungi alam semesta mencari planet alternatif. Pada suatu saat, dari dalam kokpit Endurance pada jarak sekian ratus tahun cahaya, si ayah menyimak pesan anaknya -- dan melihat bahwa yang berbicara kepadanya adalah Murph, seorang perempuan dewasa. Bapak itu menangis. Seseorang menghitung bahwa sejam di posisi "interstellar" itu sama dengan tujuh tahun di bumi.

Tapi kerinduan seorang tua, cinta seorang anak, kasih yang mungkin tak sampai tapi keras kepala, kasih yang lebih kuat ketimbang pengharapan: semua itu membuat ruang & waktu tak lagi relevan.

Benar, the same old story. Tapi siapa yang akan berkeberatan? ●