Sabtu, 30 Maret 2013

Optimisme dalam Kewaspadaan


Optimisme dalam Kewaspadaan
Mirza Adityaswara ;  Ekonom, Pengurus ISEI Pusat     
KOMPAS, 30 Maret 2013

  
Pasar keuangan sedang bergairah. Per 6 Maret, dibandingkan awal tahun, indeks bursa saham Indonesia mencetak rekor, meningkat 12 persen ke 4.825.
Demikian pula halnya di pasar dunia. Indeks bursa saham New York meningkat 9 persen ke 14.296. Ini artinya telah menembus tingkat tertinggi yang pernah dicapai tahun 2007.
Indeks bursa saham Nikkei Jepang juga naik 15 persen sejak awal tahun ke 11.932. Indeks bursa saham Financial Times London membukukan keuntungan 9 persen ke 6.428 pada periode yang sama.
Apakah ekonomi dunia memang sedemikian cemerlang sehingga investor pasar modal juga menjadi sedemikian optimistis?
Perlu diketahui, harga di pasar modal bergerak karena ada ekspektasi. Pergerakan harga di pasar modal cenderung overshoot (berlebihan), yaitu saat kondisi positif akan optimistis berlebihan dan saat kondisi negatif akan pesimistis berlebihan.
Apakah indeks bursa saham sudah melebihi nilai fundamental ekonomi dan melebihi kinerja fundamental korporasi Indonesia? Sulit menjawabnya.
Masih Wajar
Valuasi saham saat ini dengan metode price to earning ratio (PER) adalah 15 kali. Nilai ini bukan lagi murah, melainkan juga belum sangat mahal. Berhubung momentum laju pertumbuhan ekonomi dan kinerja laba korporasi Indonesia masih menunjukkan angka pertumbuhan lebih tinggi daripada tahun lalu, kenaikan harga saham saat ini tampaknya masih wajar.
Realisasi pertumbuhan ekonomi serta laba korporasi Indonesia pada kuartal IV tahun 2012 serta ekspektasi kinerja pada semester I-2013 masih menunjukkan tren yang mendukung optimisme tersebut. Data ekonomi dunia juga menunjang ekspansi ekonomi di Amerika, Jepang, dan stabilisasi di Eropa.
Di Amerika, jumlah orang yang mendapatkan pekerjaan pada Februari meningkat menjadi 238.000. Padahal, dalam enam bulan terakhir, penambahan tenaga kerja hanya 187.000 per bulan. Angka pengangguran di Amerika terus membaik menjadi 7,7 persen.
Meskipun demikian, kondisi ini masih jauh dibanding kondisi ekonomi Amerika saat booming tahun 2005, dengan angka pengangguran hanya 5,3 persen. Optimisme ini membuat para ekonom memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika tahun ini bisa mencapai 3 persen: jauh lebih tinggi daripada prediksi IMF yang hanya 2 persen.
Data ekonomi Jepang juga menunjukkan penguatan. Pertumbuhan ekonomi Jepang kuartal IV-2012 tumbuh 0,2 persen, padahal sebelumnya diprediksi minus 0,4 persen. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Jepang secara keseluruhan pada 2012 adalah 2,0 persen dan diprediksi tumbuh 2,5 persen tahun 2013. Ini suatu tingkat yang baik untuk ekonomi yang selama dua dekade dilanda resesi.
Pasar keuangan bergairah dengan arah kebijakan Perdana Menteri Jepang yang baru, Shinzo Abe, yang menginginkan kebijakan moneter longgar serta mata uang yen lemah untuk menunjang ekspor Jepang.
Di Eropa tampaknya situasi ekonomi mulai stabil, tetapi masih jauh dari memuaskan. Kepercayaan di Eropa masih bergantung pada injeksi likuiditas bank sentral. Jerman, dengan kondisi ekonomi terbesar di Eropa setelah pertumbuhan negatif 0,6 persen kuartal terakhir tahun 2012, diperkirakan akan mulai pulih dengan tumbuh surplus 0.4 persen pada kuartal pertama tahun ini dan tumbuh 0,9 persen pada keseluruhan tahun 2013.
Adapun Perancis, sebagai ekonomi kedua terbesar di Eropa, diperkirakan mencetak pertumbuhan surplus, tetapi hanya 0,1 persen di kuartal I tahun ini setelah mengalami kontraksi pada kuartal IV tahun lalu.
Masih Berat
Negara dengan krisis ekonomi seperti Yunani masih mengalami periode sangat berat, yaitu pertumbuhan ekonomi negatif 6,4 persen tahun 2012. Ini pun setelah kontraksi ekonomi 7,1 persen tahun 2011. Bahkan, pada tahun 2013, ekonomi Yunani diperkirakan akan mengalami pertumbuhan minus 4,5 persen.
Walaupun ekonomi di Yunani, Portugal, dan Spanyol masih sulit, investor melihat kondisi tidak akan lebih buruk lagi sehingga beberapa investor sudah berani berinvestasi di pasar keuangan. Itu terbukti dengan membaiknya imbal hasil (yield) surat utang jangka 10 tahun Yunani, dari 30 persen pada April 2012 menjadi 11 persen pada Maret 2013. Pembaikan signifikan juga terjadi pada yield obligasi Pemerintah Portugal dan Spanyol.
Negara kita pernah mengalami periode sulit seperti Yunani, yaitu saat krisis ekonomi 1998-1999. Terpuruknya ekonomi Eropa disebabkan oleh pengelolaan ekonomi buruk, yaitu banyak utang, defisit anggaran, dan perbankan yang terlalu agresif. Kita jangan bermain-main dengan pengelolaan stabilitas ekonomi makro karena jika suatu negara tidak dipercaya oleh pasar keuangan, harga yang harus dibayar sangat mahal.
Yunani perlu waktu sekitar 10 tahun agar ekonominya dapat kembali pada kondisi sebelum 2008. Hal yang sama dialami Indonesia setelah krisis ekonomi tahun 1998. Jadi, kita tetap harus waspada.
Kondisi Indonesia
Saat ini ekonomi Indonesia melaju cukup kencang (6,2 persen) meski di semester II tahun lalu terjadi perlambatan kinerja sektor komoditas tambang dan perkebunan. Harga ekspor komoditas tambang dan perkebunan tahun lalu menurun, yang kemudian berakibat pada penurunan penerimaan pajak nonmigas tahun 2012.
Namun, seiring pemulihan ekonomi China, diharapkan permintaan terhadap komoditas tambang dan energi akan meningkat meski sulit kembali cemerlang seperti 2005-2007. Saat itu ekonomi China tumbuh di atas 10 persen per tahun.
Di tengah situasi ekonomi negara maju yang belum optimal dan pemimpin China generasi baru yang tidak ingin menciptakan gelembung ekonomi (bubble), maka ekonomi China diperkirakan cukup nyaman dengan pertumbuhan 8,5-9,5 persen lima tahun ke depan.
Karena sektor komoditas tambang dan perkebunan mengalami moderasi, agar neraca perdagangan tetap surplus, Indonesia harus mendiversifikasi produk ekspor dan menekan impor yang tidak perlu. Impor barang modal diperlukan, impor bahan mentah dan bahan penolong juga masih diperlukan karena kita tidak mampu memproduksi dengan cukup di dalam negeri.
Namun, masalah serius adalah impor minyak. Meningkatnya konsumsi BBM di dalam negeri akibat terlalu murahnya harga BBM bersubsidi telah membuat neraca perdagangan dan neraca barang serta jasa mengalami defisit sehingga menyedot cadangan devisa. Kenaikan signifikan di subsidi BBM telah membuat utang pemerintah meningkat, padahal konsumsi BBM sebagian besar oleh golongan mampu. Tanpa koreksi, pasti akan jadi beban pemerintah pasca-2014.
Untungnya aliran modal asing langsung (PMA) mengalami peningkatan dan aliran modal portofolio tetap mengalir masuk ke Indonesia. Namun, agar kita tidak mengalami krisis ekonomi seperti Yunani, sebaiknya subsidi BBM dikurangi agar defisit di neraca perdagangan dan neraca fiskal dapat segera teratasi.  ●

Jamu sebagai Warisan Budaya


Jamu sebagai Warisan Budaya
Jaya Suprana ;  Pencinta Kebudayaan Indonesia     
KOMPAS, 30 Maret 2013

  
Hati saya berbunga-bunga ketika mendengar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan resmi mempersiapkan jamu untuk diajukan ke UNESCO, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB. Diharapkan, jamu menjadi warisan budaya dunia karya bangsa Indonesia.
Perjuangan mengusung jamu menjadi intangible cultural heritage barulah awal perjalanan panjang untuk meyakinkan panitia penilai UNESCO. Di samping harus menempuh antrean panjang karena setiap tahun UNESCO hanya mengakui maksimal satu warisan kebudayaan tak-benda dari setiap negara anggota, ikhtiar Kemdikbud juga akan sia-sia tanpa dukungan terpadu segenap pelaku dan pemerhati jamu, dari penjaja jamu gendong, peramu jamu, petani tanaman jamu, pengusaha jamu, hingga pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan.
Para pelaku usaha jamu harus mampu meyakinkan UNESCO, jamu benar-benar bagian integral kebudayaan bangsa Indonesia di bidang kesehatan, kecantikan, dan kebahagiaan sehingga layak dinobatkan sebagai salah satu intangible cultural heritage setara dengan keris, batik, angklung, tari saman, dan lain-lainnya. Para penyaji jamu gendong harus benar-benar disiplin menjaga kebersihan dan keamanan produknya. Para pelaku industri jamu harus menjunjung tinggi hak konsumen untuk memperoleh informasi produk yang benar.
Para pelaku industri jamu wajib menghentikan angkara murka memproduksi dan memasarkan produk jamu yang dicampur bahan-bahan farmasi dan kimiawi karena membahayakan konsumen! Segenap perilaku buruk yang mencemarkan citra jamu harus dilenyapkan.
Dokter dan Apoteker
Para dokter dan apoteker Indonesia yang masih antijamu seyogianya menahan diri dalam melecehkan jamu sebagai sesuatu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan ”keilmiahan”-nya. Mereka sebaiknya membuka nurani untuk lebih mau memahami dan menghargai jamu sebagai karsa dan karya kebudayaan bangsa Indonesia.
Para dokter dan apoteker tidak perlu memaksakan diri menggunakan jamu dalam penunaian tugas pelayanan kesehatannya. Cukup tak merendahkan harkat dan martabat jamu sudah sangat membantu. Sama halnya para musisi Indonesia yang dididik secara akademis musik Barat sehingga kadang kurang menghargai para musisi tradisional.
Mahakarya lukisan Raden Saleh, yang sempat menempuh pendidikan seni rupa di Eropa, tidak lebih adiluhung dibandingkan relief-relief di Candi Borobudur ataupun Prambanan. Para antropolog dan ilmuwan kebudayaan masa kini menyadari, di marcapada ini sebenarnya tidak ada kebudayaan suatu bangsa yang bisa dinilai lebih unggul atau lebih rendah ketimbang kebudayaan bangsa lain.
Paham diskriminasi mutu kebudayaan hanya dijabarkan kaum imperialis dan kolonialis demi meruntuhkan ketahanan kebudayaan bangsa yang mereka jajah agar lebih mudah dijajah. Industri farmasi di Indonesia tidak perlu khawatir tersaingi sehingga tidak perlu menghambat pengakuan UNESCO.
Jamu sama sekali bukan ancaman bagi industri farmasi. Seyogianya pembuktian ilmiah terhadap jamu tidak dipaksakan dengan hanya menggunakan kaidah kebudayaan asing, tetapi dengan lebih memperhatikan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan bangsa Indonesia.
Pembuktian ilmiah bisa lebih difokuskan kepada upaya mengeliminasi risiko dan dampak buruk produk jamu dan pengobatan tradisional Indonesia terhadap kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan bisa memosisikan jamu setara dengan farmasi dalam sistem pelayanan kesehatan nasional. Jamu bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dan tak secara langsung dimusnahkan dengan mengganti nama menjadi herbal.
Kebudayaan
Para cendekiawan dan budayawan bisa berperan dalam menjalin kesepakatan mengenai definisi jamu. Memang, jamu akan diajukan ke UNESCO bukan dalam bentuk terpenggal-penggal, misalnya hanya jamu jawa atau jamu bali, tetapi benar-benar dalam satu kenusantaraan.
Mari kita bersama-sama menginventarisasi seluruh jenis jamu dari barat sampai ke timur, mulai dari jamu aceh, jamu padang, jamu palembang, jamu sunda, jamu jawa , jamu madura, jamu bali, dan seterusnya sampai jamu papua.
Perbendaharaan jamu di segenap pelosok Nusantara berpotensi memperkokoh landasan dan pilar kebudayaan yang menopang dan melandasi jamu, seperti semboyan Bhinneka Tunggal Ika, beraneka tetapi bersatu-padu sebagai suatu kesatuan mahakarsa dan mahakarya kebudayaan bangsa Indonesia. Inilah yang dipersembahkan bagi kesehatan, kecantikan, dan kebahagiaan umat manusia sehingga meyakinkan panitia penilai UNESCO.  ●