Sabtu, 30 April 2011

HARI INI TUJUH BELAS TAHUN YANG LALU


HARI INI TUJUH BELAS TAHUN YANG LALU


HARI YANG AKU NANTI
     KINI TELAH HADIR BERSAMAKU DI SINI
KEDUA TANGANNYA MEMEGANG KEDUA TANGANKU
KEDUA MATANYA MENATAP KEDUA MATAKU
IA TERSENYUM
     LALU MASUK MENEMBUS JANTUNGKU
          SAMBIL BERBISIK “HAPPY BIRTHDAY DYAH AYU”

TIBA-TIBA AKU MERASA SEMUA MATA TERTUJU PADAKU
     MEREKA MENYAPA DAN MENAGIH JANJIKU
     “HAI, PAKABAR DYAH AYU?  AKU RINDU PADA JANJIMU”

SEKETIKA AKU TERJAGA DARI MIMPIKU
MIMPI UNTUK MERAIH CITA-CITAKU
MIMPI UNTUK MEMELIHARA IBADAHKU
MIMPI UNTUK MERAJUT CINTAKU
DAN MIMPI-MIMPI LAIN YANG TERPENDAM DALAM LUBUK HATIKU

MIMPI-MIMPI ITULAH YANG BELAKANGAN INI SELALU MENGGANGGU TIDURKU

ENTAH BERAPA KALI AKU MENCOBA MEMBUNUH MEREKA
     DENGAN BELAJARKU, DENGAN SHOLATKU, DENGAN KETEKUNANKU
TETAPI SEKIAN KALI PULA MEREKA MENERTAWAIKU
     LALU MENCIBIR “PERCUMA SAJA, DYAH AYU”

HARI INI, SEKALI LAGI
     AKU BERJANJI PADA DIRIKU
          MENITI SEBUAH JALAN BARU    
          MENATAP LANGIT MASA DEPAN BARU
“NOW YOU MUST BE THE WINNER, UNLESS YOU WILL BE THE LOSER...FOREVER”

HARI INI TUJUH BELAS TAHUN YANG LALU
     ORANG BILANG AKU KELUAR DARI RAHIM MAMAKU
AKU MENANGIS
     ORANG-ORANG DI SEKITAR GEMPAR MENYAMBUT KEHADIRANKU
ORANG BILANG AKU LAHIR SEBELUM MAMA MEMBAWAKU
     KE SEBUAH RUMAH SAKIT DI KOTAKU 

HARI INI
     AKU INGIN MERENUNG
          MENYAKSIKAN KEMBALI KISAH PERJALANAN HIDUPKU
               YANG BISA MEMBUATKU TERSENYUM
               BISA PULA MEMAKSAKU MENITIKKAN AIR MATA 

HARI INI
     AKU INGIN MELUPAKAN SEMUANYA
     YANG KUINGIN HANYALAH MENRAKTIR KAMU-KAMU
MAU NONTON ATAU MAKAN-MAKAN, ITU UP TO YOU

IJINKANLAH PADA HARI SPESIALKU INI
     AKU MEMBAGI SEPOTONG KUE KEBAHAGIAANKU PADAMU

                                                                                                2011

Senin, 25 April 2011

Mengapa Sih Arifinto Mundur?


Menarik sekali ketika kutukan dan cemoohan publik  kepada Arifinto, karena ketahuan mengakses konten pornografi dalam komputer tabletnya pada saat mengikuti sidang paripurna DPR, kemudian berubah menjadi pujian setelah Arifinto menyatakan bahwa ia akan segera mengundurkan diri sebagai anggota DPR.  Publik mungkin menganggap bahwa mengundurkan diri adalah suatu sikap ksatria yang semestinya dicontoh oleh setiap anggota DPR, dan juga pejabat negara lainnya, yang telah melakukan perbuatan “tidak senonoh”. 

Arifinto memang telah melanggar kode etik Dewan dan sekaligus juga mencoreng nama baik PKS, partai yang gigih memperjuangkan UU Pornografi.  Namun hukuman yang pantas, menurut saya, adalah teguran keras dan permohonan maaf kepada publik dan juga Dewan, serta berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.  Saya tidak yakin kalau Arifinto tidak mundur maka Dewan atau PKS akan memaksanya untuk mundur (baca: memecatnya).  

Saya melihat keputusan Arifinto untuk mundur lebih berdasarkan pada pertimbangan kepentingan partai (PKS) daripada pertimbangan pertanggungjawaban moralitas individunya.  Sebagaimana kita tahu, Arifinto menyatakan pengunduran dirinya setelah malam hari sebelumnya Dewan Syariah Pusat PKS menggelar rapat untuk mengambil sikap terkait dengan kasus Arifinto.  Banyak pengamat politik yang berpendapat bahwa PKS telah mengurbankan sebuah bidaknya untuk memenangkan suara rakyat pada pemilu 2014 nanti.
 
Kalau dugaan politisasi Arifinto tersebut benar, apakah pujian bahwa Arifinto adalah pahlawan atau perintis budaya malu di lingkungan DPR masih berlaku?  Kita lihat saja nanti, bagaimana kerjasama antara PKS dan Arifinto pada pemilu 2014 nanti.  Saya sungguh berharap Arifinto akan memegang prinsip hidupnya sebagai seorang Ksatria, bukan sekadar sebuah Bidak yang dijalankan oleh pecatur politik kita.