Selasa, 04 September 2018

Radikalisme: Antara Suriah dan Indonesia

Radikalisme: Antara Suriah dan Indonesia
Benarkah Syrianisasi sedang digulirkan di Indonesia?
M. Najih Arromadoni ;  Alumnus Universitas Ahmad Kuftaro Damaskus; 
Sekjen Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami)
                                                   DETIKNEWS, 31 Agustus 2018



                                                           
Krisis politik dan kemanusiaan yang bermula sejak 2011 telah meluluhlantakkan banyak negara Timur Tengah, seperti Libya, Tunisia, Yaman, dan Suriah. Gerakan propaganda kelompok radikal yang mengatasnamakan revolusi (thaurah) ini sudah berkepanjangan dan gagal memenuhi janji-janji manisnya, berupa keadilan dan kesejahteraan.

Gerakan yang dimotori kelompok-kelompok pro-kekerasan ini memang awalnya memikat, karena dibungkus dan disembunyikan di balik kedok-kedok retorik. Media Barat sampai menyebut gerakan mereka sebagai Musim Semi Arab (Arab Spring/al-Rabi' al-'Arabi), digambarkan sebagai proses demokratisasi, berlawanan dengan kenyataan yang kemudian tampak, yaitu islamisasi versi khilafah atau khilafatisasi. Berdirilah kemudian khilafah di Suriah, Irak, dan Libya. Ikhwanul Muslimin saat itu memenangkan pemilu di Mesir dan Tunisia.

Demi kepentingan sesaat dan ketika sudah terdesak, mereka memang gemar menggunakan slogan-slogan demokrasi, semisal mereka akan mengerek tinggi-tinggi panji kebebasan ketika perbuatan melanggar hukum mereka ditindak, karena yang sedang dilakukan oleh mereka sejatinya adalah membajak demokrasi. Sejak awal mereka meyakini bahwa demokrasi adalah produk kafir, maka kapan saja ada waktu mereka akan menggerusnya.

Keberhasilan kelompok radikal dalam membabakbelurkan Timur Tengah menginspirasi kelompok radikal di berbagai belahan dunia lain. Jejaring mereka semakin aktif di Asia, Eropa, Afrika, Amerika sampai Australia, berusaha memperluas kekacauan ke berbagai wilayah, dengan harapan bisa mewujudkan cita-cita utopis mereka; mendirikan khilafah di seluruh muka bumi.

Wacana syrianisasi kemudian sampai ke Indonesia, semakin ramai disuarakan pada tahun-tahun belakangan, paling tidak mulai 2016. Banyak pihak mensinyalir ada gerakan-gerakan yang berusaha menjadikan Indonesia jatuh ke dalam krisis sebagaimana menimpa Suriah.

Fakta-fakta kemudian bermunculan; banyak pola krisis Suriah yang disalin oleh kelompok radikal, menjadi sebuah gerakan-gerakan di Indonesia. Jaringan-jaringan kelompok radikal di Indonesia juga semakin terang terkoneksi dengan aktor-aktor krisis Suriah. Sebagai contoh Indonesian Humanitarian Relief (IHR), lembaga kemanusiaan yang dipimpin seorang ustaz berinisial BN, yang logistiknya digunakan untuk mendukung Jaysh al-Islam, salah satu kelompok teroris di Suriah.


Pola men-Suriah-kan Indonesia setidaknya tampak dalam beberapa pergerakan berikut; pertama, politisasi agama. Indikasi menguatnya penggunaan kedok agama demi kepentingan kekuasaan, sebagaimana pernah dilakukan di Suriah, terlihat dalam banyak hal, di antaranya adalah penggunaan masjid sebagai markas keberangkatan demonstran. Jika di Damaskus masjid besarnya Jami' Umawi, maka di Jakarta Masjid Istiqlal.

Adakah yang pernah menghitung, berapa kali Masjid Istiqlal diduduki pelaku berangkat demonstrasi? Pelaksanaannya pun kebanyakan di hari Jumat seusai waktu Salat Jumat, didahului dengan hujatan politik di mimbar kotbah, sehingga mengelabui pandangan masyarakat terhadap agama yang sakral dan politik yang profan. Persis dengan apa yang pernah terjadi di Suriah menjelang krisis. Masjid pun berubah menjadi tempat yang tidak nyaman, gerah, dan tidak lagi menjadi tempat 'berteduh'.

Hari Jumat, yang semestinya menjadi hari ibadah mulia, berubah menjadi hari-hari politik dan kecemasan, atas kekhawatiran terjadinya chaos. Muncul kemudian istilah "Jumat Kemarahan" sebagai ajakan meluapkan kemarahan di hari Jumat --bukankah itu hanya terjemahan dari "Jumat al-Ghadab" yang pernah menjadi slogan politik pemberontak Suriah, diserukan oleh Yusuf al-Qardhawi, tokoh Ikhwanul Muslimin?

Kedua, menghilangkan kepercayaan kepada pemerintah. Dilakukan dengan terus-menerus menebar fitnah murahan terhadap pemerintah. Sesekali presiden Suriah Basyar al-Assad dituduh Syiah, sesekali dituduh kafir, dan pembantai Sunni. Kelompok makar bahkan menghembuskan isu bahwa al-Assad mengaku Tuhan, disebarkanlah foto bergambar poster al-Assad dengan beberapa orang sujud di atasnya.

Dalam konteks Indonesia, Anda bisa mengingat-ingat sendiri, presiden Indonesia pernah difitnah apa saja, mulai dari Kristen, Cina, Komunis, anti-Islam, mengkriminalisasi ulama, dan sederet fitnah lainnya. Tidak usah heran dengan fitnah-fitnah tersebut, yang muncul dari kelompok yang merasa paling 'Islam', karena bagi mereka barangkali fitnah adalah bagian dari jihad yang misinya mulia, dan ciri universal pengikut Khawarij adalah mengkafirkan pemerintah.

Ketiga, pembunuhan karakter ulama. Dalam proses menghadapi krisis, ulama yang benar-benar ulama tidak lepas dari panah fitnah, bahkan yang sekaliber Syeikh Sa'id Ramadhan al-Buthi, yang pengajiannya bertebaran di berbagai saluran televisi Timur Tengah, kitabnya mengisi rak-rak perpustakaan kampus-kampus dunia Islam, dan fatwa-fatwanya menjadi rujukan. Begitu berseberangan pandangan politik dengan mereka, seketika dituduh sebagai penjilat istana dan Syiah (padahal beliau adalah pejuang Aswaja yang getol), hingga berujung pada syahidnya beliau bersama sekitar 45 muridnya di masjid al-Iman Damaskus, saat pengajian tafsir. Beliau dibom karena pandangan politik kebangsaannya yang tidak sama dengan kelompok pembom bunuh diri.

Jika demikian yang terjadi di Suriah, kira-kira Anda paham kan dengan apa yang terjadi di Indonesia, kenapa Buya Syafi'i Ma'arif dianggap liberal, KH. Mustofa Bisri juga dianggap liberal, Prof Quraish Syihab dituduh Syiah, Prof Said Aqil Siraj juga dituduh Syiah, bahkan KH. Ma'ruf Amin atau TGB Zainul Majdi yang pernah dijunjung-junjung oleh mereka, kini harus menanggung hujaman-hujaman fitnah dari kelompok yang sama, ketika propaganda politiknya tidak dituruti? Setelah ulama yang hakiki, mempunyai kapasitas keilmuan yang cukup, mereka bunuh karakternya, maka mereka memunculkan ustaz-ustazah dadakan yang punya kapasitas entertainer yang hanya mampu berakting layaknya ulama.

Keempat, meruntuhkan sistem dan pelaksana sistem negara. Misi utama kelompok radikal adalah meruntuhkan sistem yang ada, dan menggantinya dengan sistem yang ideal menurut mereka, yaitu khilafah atau negara yang secara formalitas syariah, meski substansinya tidak menyentuh syariah sama sekali. Khilafah bagi mereka layaknya 'lampu ajaib' yang bisa memberi apa saja dan menyelesaikan masalah apa saja. Tidak sadar bahwa berbagai kelompok saling membunuh dan berperang di Timur Tengah karena sedang berebut mendirikan khilafah, dan ujungnya adalah kebinasaan.

Saat kelompok makar di Suriah berusaha meruntuhkan sistem dan pelaksana negara, mereka mengkampanyekan slogan al-sha'b yurid isqat al-nizam (rakyat menghendaki rezim turun) dan irhal ya Basyar (turunlah Presiden Basyar). Slogan dengan fungsi yang sama di-copy paste oleh jaringan mereka di Indonesia, jadilah gerakan dan tagar '2019 Ganti Presiden'!

Syrianisasi sedang digulirkan di negara kita. Pola-pola yang sama ketika kelompok radikal menghancurkan Suriah sedang disalin untuk menghancurkan negara kita. Bedanya Suriah sudah merasakan penyesalan dan ingin rekonsiliasi, merambah jalan panjang membangun kembali negara mereka. Sedangkan, kita baru saja memulai. Jika kita tidak berusaha keras menghadang upaya mereka, maka arah jalan Indonesia menjadi Suriah kedua hanya persoalan waktu. Semoga itu tidak pernah terjadi. ●

Pencak Silat

Pencak Silat
Putu Setia  ;   Pengarang;  Wartawan Senior Tempo
                                                    TEMPO.CO, 01 Agustus 2018



                                                           
Kata "pencak" dijelaskan dalam kamus sebagai: permainan (keahlian) untuk mempertahankan diri dengan kepandaian menangkis, mengelak, dan sebagainya. Lalu kata "silat" dijelaskan: olahraga (permainan) yang didasarkan pada ketangkasan menyerang dan membela diri, baik dengan menggunakan senjata ataupun tidak.

Jadi, pencak silat ada unsur bertandingnya, menyerang dan membela diri. Arti seperti itulah yang hidup di tengah masyarakat, sejak dulu. Namun di Asian Games 2018, cabang olahraga ini ada yang minus pertandingan. Yang dinilai hanya unsur seni. Penonton sulit tahu siapa pesilat yang menang dan siapa yang kalah karena tanpa ada yang berlaga. Lantaran itu ada yang menuduh nilai yang diberikan juri bisa jadi subyektif. Arah tuduhan menghasilkan kesimpulan bahwa 14 medali emas dari pencak silat belum menunjukkan Indonesia berjaya di dunia olahraga. Apalagi pencak silat baru pertama kalinya dimainkan di Asian Games.

Bukankah ada lagi cabang olahraga yang menang-kalahnya tidak karena bertanding? Artinya tidak saling menjatuhkan dan juga tak ada penilaian kecepatan waktu. Misalnya senam, loncat indah, dan wushu. Yang dinilai adalah kesempurnaan gerak, dan kesempurnaan itu jauh lebih luas dari seni.

Kesempurnaan gerak, itu kuncinya, dan di situ nilai dalam pencak silat. Ada posisi kuda-kuda (posisi tapak kaki memperkokoh tubuh), ada posisi langkah (cara melangkah), posisi kembangan (gerak tangan dan sikap tubuh), dan posisi buah (teknik tendangan dan gerak tangan, siku, dan sebagainya). Ada beberapa posisi lain lagi kalau pencak silat dimainkan dengan sistem bertanding, misalnya posisi sapuan, guntingan, dan kuncian. Jadi memang ada pakem yang terukur untuk penilaian, baik sistem berlaga maupun yang tidak.

Maka tetaplah berbesar hati bahwa peringkat Indonesia melesat naik melampaui target karena jasa pencak silat adalah sebuah prestasi yang sah adanya. Dan terus berjuang agar dalam Asian Games mendatang cabang silat ini tetap dipertandingkan. Jika perlu dipromosikan di Olimpiade, jangan kendor.

Saat ini nyaris hanya pencak silat yang membuat kita bangga jika berbicara soal olahraga. Bulu tangkis di mana dulu kita perkasa, sudah diambil alih negara lain. Janganlah bicara soal sepak bola, wong negeri berpenduduk 260 juta ini kalah prestasinya dengan Kroasia yang hanya berpenghuni 5 juta. Tugas berat menanti tak sekadar membina paguyuban silat yang bertebaran dengan berbagai aliran yang ada di Nusantara, tapi bagaimana memperkenalkan pencak silat ke berbagai negara.

Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di era kepemimpinan Eddie Nalapraya bersama Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam membentuk Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa(Persilat) pada 11 Maret 1980. Pada SEA Games 1987, pencak silat pun dipertandingkan pertama kalinya. Kini banyak negara sudah mengenal pencak silat. Kejuaraan tingkat dunia pun sudah rutin digelar Persilat yang kini dipimpin oleh Ketua Umum IPSI Prabowo Subianto. Kejuaraan terakhir yang ke-17 diselenggarakan di Denpasar pada Desember 2016, diikuti 40 negara. Di situ Prabowo menganugerahkan gelar The Great Warrior of Pencak Silat kepada Presiden Jokowi. Gelar ini dalam dunia silat disebut "pendekar utama", gelar tertinggi setelah pemula, menengah, dan pelatih.

Jadi Prabowo dan Jokowi sudah lama mempopulerkan pencak silat. Momen keduanya berpelukan yang difasilitasi pesilat Hanifan bukanlah hal yang istimewa. Kedua tokoh itu sudah pendekar, pendukungnya saja yang masih pemula dan suka bersilat lidah. ●